Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Jumat, 01 April 2016

Yakin Sumba Punya Keunikan, LIPI Akan Eksplorasi Sumba

Ekspedisi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ke pulau terdepan Indonesia berlanjut. Tahun ini, Pulau Sumba di Provinsi Nusa Tenggara Timur sasaran eksplorasi kekayaan hayati, kajian kebumian, dan sosial kemasyarakatan.
 
Pulau Sumba sangat tua, yang diyakini menyimpan banyak misteri alam yang belum terungkap. Bahkan, bisa menjadi bukti teori baru tentang evolusi organisme di pulau samudra tua.

"Pulau Sumba berbentuk pulau terpisah dari Pangaea pada akhir masa Mesozoikum, sebelum Pangaea pecah menjadi Laurasia dan Gondwana," kata peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Ary P Keim, dihubungi hari Minggu (27/3), di Jakarta. 

Berdasar teori, Pangaea yang adalah kumpulan daratan dari benua- benua saat ini terbentuk 300 juta tahun silam dan terpecah-pecah mulai 200 juta tahun lalu.

Laurasia terdiri dari Amerika Utara dan Eurasia (Eropa dan Asia), sedangkan Gondwana terdiri dari Amerika Selatan, Afrika, India, Australia, dan Antartika. Namun, Pulau Sumba tidak tergabung dengan Pangaea.

Itu membuat peneliti LIPI yakin Sumba punya keunikan keanekaragaman hayati. Luwak sumba, misalnya, saat ini subspesies Paradoxurus hermaphroditus, tetapi bisa saja melalui kajian asam deoksiribonukleat, luwak sumba itu spesies tersendiri.

Berbagai dugaan itu butuh jawaban ilmiah sehingga LIPI tahun ini mengadakan Ekspedisi Widya Nusantara ke Sumba. Tahun lalu diadakan di Enggano, Provinsi Bengkulu.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati mengatakan, LIPI awalnya akan ke Pulau Wetar, Provinsi Maluku. Namun, karena ketiadaan kapal logistik merapat ke Wetar, dicari pulau alternatif. "Harus dapat lebih banyak dibandingkan sebelumnya," ujarnya.

Teori baru

Ary menambahkan, selain mencari spesies-spesies baru, tim peneliti juga akan mencari tahu karakteristik organisme di pulau samudra. Ekspedisi di pulau samudra bisa menghasilkan teori baru evolusi organisme. Tim mengajukan dua postulat (dugaan ilmiah), satu di antaranya perkawinan sekerabat (inbreeding) di pulau-pulau kecil dan terisolasi akan memunculkan sifat-sifat leluhur. Itu lebih cepat di pulau samudra dibandingkan dengan pulau benua (Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Papua).

Dugaan terjadi pada kuda sumba (Equus ferus caballus), turunan langsung kuda mongol yang dibawa dari Jawa. Leluhurnya diyakini kuda przewalski (Equus ferus przewalskii), kuda liar di padang stepa Asia Tengah, khususnya Mongolia.

Sifat liar kuda przewalski diyakini muncul lagi pada kuda sumba karena kuda liar sumba punya garis hitam dari punggung hingga pantat. (JOG)

Sumber : Kompas
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD