Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Kamis, 18 Februari 2016

Dugaan Korupsi Proyek BLBU, 2 Mantan Kadis dan 2 Kabid Ditahan

Kupang - Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT malam tadi, sekira pukul 20.00, Senin (15/2), menahan lagi empat tersangka kasus dugaan korupsi proyek Bantuan Langsung Bibit Unggul (BLBU) oleh Kementerian Pertanian RI di Provinsi NTT tahun 2011. Adapun para tersangka itu  adalah Ir. Jakobus Bulu (mantan Kadis Pertanian Kabupaten Sumba Barat Daya), Dominggus Nandu Nggalihama (Kabid Pertanian, Dinas Perkebunan dan Pertanian Sumba Timur), Ir. Josis Djawa Gigy (mantan Kadis Pertanian Kabupaten Sumba Timur) dan Yoel Kamuri (Kabid Pertanian Dinas Perkebunan dan Pertanian Sumba Barat Daya). Kedua Kabid yang menjadi  tersangka dalam kasus ini berperan sebagai panitia pemeriksa barang.

Penahanan dilakukan setelah para tersangka menjalani pemeriksaan dari pukul 10.00-17.00, dan masing-masing dicecar dengan 20-an pertanyaan terkait peran dan keterlibatan dalam proyek dimaksud.

Terpantau, para tersangka diperiksa terpisah. Josis Djawa Gigy diperiksa oleh penyidik Hendrik Tip, didampingi penasihat hukum (PH) Lukas Mbulang. Sedangkan Jakobus Bulu diperiksa penyidik Max Jeferson Mokola didampingi PH Lorens Mega Man dan Isak Lalangsir.

Sedangkan, Dominggus Nandu Nggalihama diperiksa penyidik Hery Franklin didampingi PH Niko Ke Lomi dan Yoel Kamuri diperiksa penyidik Devi Muskita didampingi PH Mel Ndaumanu. Usai pemeriksaan dan penandatangan berita acara pemeriksaan, para tersangka kemudian disodorkan surat penahanan yang sudah ditandatangani oleh Kajati NTT, John W. Purba.

Setelah penandatangan surat penahanan, satu per satu tersangka lalu digiring menuju mobil tahanan untuk dibawa ke rumah sakit guna pemeriksaan kesehatan dan selanjutnya ditahan di Rutan Klas 2B Kupang.

Kasi Penkum dan Humas Kejati NTT, Ridwan Angsar, kepada wartawan mengatakan, setelah penahanan ini, para tersangka masih akan menjalani pemeriksaan tambahan.

"Pemeriksaan tambahan untuk rampungkan penyidikan sehingga cepat dilimpahkan ke pengadilan untuk disidangkan," kata Ridwan. Menurut Ridwan, penahanan dilakukan berhubung adanya keadaan yang menimbulkan kekuatiran bahwa tersangka akan melarikan diri, merusak  atau menghilangkan barang bukti, dan atau mengulangi tindak pidana.

Terpisah, Lorens Mega Man, selaku PH tersangka Jacobus Bulu, mengatakan dalam pemeriksaan kliennya dicecar 32 pertanyaan. Pihaknya, jelas pria yang akrab dipanggil LMM itu, juga segera mengajukan penangguhan/pengalihan penahanan kepada Kajati NTT. "Klien saya sudah bekerja sesuai juknis. Saya berharap jaksa segera merampungkan berkas biar ada kepastian hUkum bagi tersangka dan keluarga,"tandas LMM.

Lukas Mbulang, selaku PH Josis Djawa Gigy juga menyatakan pihaknya menghormati proses hukum yang dilakukan penyidik Kejati NTT. "Kita hormati proses hukum dan akan selalu koperatif. Terkait penahanan, bagi saya ini merupakan kewenangan subyektif penyidik. Kita  berharap proses hukum berjalan lancar sehingga cepat ada kepastian hukum," ujar Lukas.

Lukas lanjutkan, kliennya juga tidak pernah menandatangani berita acara penyerahan tahap dua bibit unggul sebanyak 9 ton pada bulan September 2011. "Klien saya hanya tandatangan berita acara penyerahan tahap pertama sebanyak 30 ton pada bulan juli. Bagi kami berita acara penyerahan tahap dua murni rekayasa. Klien saya tidak pernah tandatangan," tandas Lukas.

Terkait dugaan rekayasa dokumen dan berita acara penyerahan bibit unggul tahap dua, Lukas katakan pihaknya segera melaporkan kasus itu ke Polda NTT. "Yang menjadi runut klien saya adalah juknis, dan sudah dilakukan secara baik. Bagi saya klien kami tidak bersalah, karena kegiatan ini murni tanggungjawab pihak PT Pertani dan PT PT. Sang Hyang Sri (SHS) selaku rekanan pelaksana. Apalagi berita acara penyerahan uang juga tidak dilakukan kepala dinas di kabupaten, melainkan kepala dinas di provinsi," tandas Lukas.

Sekadar tahu, dengan penahanan empat tersangka ini, jumlah tersangka yang ditahan dalam kasus dugaan korupsi proyek BLBU jenis palawija, yakni, bibit padi, jagung, dan kacang kedelai senilai Rp 600 miliar menjadi tujuh orang. Tiga tersangka sebelumnya adalah I Made Suprapta selaku karyawan PT. Sang Hyang Sri (SHS), I Made Juana (Manager Pemasaran PT. Pertani) dan I Made Swanendra (Manager PT. SHS).

Perkara tiga tersangka ini segera dilimpahkan pihak Kejati NTT ke Pengadilan Tipikor Kupang untuk disidangkan. Dalam proyek ini, penyidik Kejati NTT menemukan sebagian besar bibit palawija yang diadakan tidak bersertifikasi, termasuk dugaan adanya  kelompok tani penerima yang fiktif. Bahkan sesuai hasil pemeriksaan laboratorium BPIB Noelbaki, diketahui daya cambah bibit yang diadakan dalam proyek ini, di bawah standar dan tidak sesuai kontrak. (joo/boy)

Sumber: timorexpress.com
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD