Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Jumat, 22 Mei 2015

Berjuang Sejahterakan Masyarakat SBD

Bupati Sumba Barat Daya, Markus Dairo Talu, SH
Bupati Sumba Barat Daya periode 2014 – 2019, Markus Dairo Talu, SH, adalah putra satu-satunya dari pasangan  Bapak Lede Umbu Ndegu (Alm) dan Ibu Naomi N. Moto yang lahir di Sumba Barat pada 31 Desember 1961. Tumbuh dan besar bersama kakak yang menjadi saudari tunggalnya, Martha M. Moto, hidup dalam keprihatinan. Sang ayah hanyalah seorang petani yang terus bersusah payah membesarkan kedua anaknya dan mencukupkan kebutuhan keluarga. Namun kehidupan berkata lain ketika putra tunggalnya baru berumur 2 (dua) bulan, beliau berpulang ke pangkuan Sang Khalik. 


Kisah yang mengharukan ketika putra semata wayangnya tidak pernah mengenal wajah ayahnya. Menghidupi kedua anaknya yang masih kecil, Ibu Naomi N. Moto hanya mengandalkan hasil dari kebun sebagai petani. Kebiasaan orang Sumba pada umumnya untuk memiliki istri lebih dari satu (poligami), terjadi juga dalam keluarga Pak Markus. Status ibunya yang istri kedua cukup menyulitkan dalam interaksi dengan keluarga sang ayah.  

Pahitnya hidup tidak serta merta menenggelamkan pria bertubuh tegap berkulit terang ini untuk larut dalam keprihatinan. Bersama ibu yang mengasihinya, satu demi satu tahap jenjang pendidikan ditapaki dengan penuh perjuangan. Dimulai dari SDM Redambolo di Desa Kalembu Weri, kemudian melanjutkan ke SMP Kristen Waimangura. Disinilah kisah pilu kembali dihadapi, karena ketidakmampuan sang ibu untuk membiayai sekolahnya maka beliau tidak melanjutkan lagi ke jenjang berikut atau SMA. Melihat keadaan anaknya yang memiliki semangat sekolah, sang ibu berusaha untuk mengkomunikasikan kepada keluarga besar. Keputusan untuk kembali kepada keluarga asalnya harus diambil sang ibu demi masa depan anaknya. Saudara laki-laki Ibu Naomi, Bapak D. B. Deta (alm) bersedia untuk menjamin keponakannya dan tinggal bersama mereka. Dialah ayah yang dikenalnya hingga kini. Keberuntungan yang telah menjadi bagiannyapun berpihak, tantenya yang bekerja di Surabaya kemudian mengajaknya untuk merantau. Berbekal semangat, beliau mengikuti kursus montir di Jawa Timur. 

Menguji keberuntungan dengan mengikuti tes tentara dan akhirnya lulus kemudian harus menempuh pendidikannya di Jakarta. Ketika menempuh pendidikan SECATAM dan SUSJURTA TNI AD – 1981, beliau melanjutkan pendidikan formalnya di SMA LPPU Jakarta Pusat. Keadaan hidup yang terbatas selama masih kecil memotivasinya untuk tetap melanjutkan studi, maka sambil menempuh pendidikan  SUSJURTA PAS PAMPRES dan SECABA REG POM tahun 1990 – 1991, beliau kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta.

Berada ditanah rantau dan tergolong sukses tidak membuatnya lupa akan tanah kelahirannya, rasa cintanya ditunjukkan dengan selalu memberi tumpangan kepada putra putri asal sumba yang ingin melanjutkan pendidikan atau mencari kerja ke Jakarta. Dari situlah juga bibit kebaikkan yang tidak terlupakan telah beliau tanamkan. Berbagai sukses dalam pekerjaan di Ibu Kota Negara telah beliau raih, sekilas riwayat karier beliau, 

-          ANGGOTA TNI – AD (POLISI MILITER) DI POMDAM JAYA JAKARTA

-          AJUDAN PANGDAM JAYA 1991 – 1993

-          STAFF IRJEN BANG, BINA GRAHA JAKARTA 1993 – 1998

-          STAF PRESDIR TEX MACO 1999 – 2005

-          STAF POMDAM JAYA 2005 – 2009

-          2009 – PENSIUN DINI DARI TNI
Dalam perjalanan kariernya, beliau pernah meraih penghargaan SATYA LENCANA untuk pengabdian beliau setelah 18 tahun. Tentu tidak mudah untuk menjalani semuanya itu dengan tingkat persaingan diperantauan, namun dengan motto hidup “BEKERJA DENGAN TULUS IKHLAS, SELALU BERSYUKUR DALAM SEGALA HAL”, membawa beliau sebagai salah satu putra sumba yang sukses di Jakarta. Maka kepercayaan untuk menjadi Ketua Ikatan Keluarga Besar Sumba juga selalu dipercayakan padanya. 

Dalam keluarga yang telah mendampinginya untuk meraih satu demi satu impian, ayah 8 orang putri dan suami dari Ny. Ratu Ngadu B. Wulla, ST selalu berprinsip menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik dan tuntas dan tidak menunda-nunda. Putri-putri yang cantik dianugrahi Tuhan baginya, mereka adalah Marsyane Angel Sari Talu, Akriana Agustin Talu, Novita Lusyana Talu, Teresia Abriana Talu, Corazon Naomi S. Talu, Candy Antoneta Talu, Catlyn Phaskalia Talu, Cleopatra Katrina Talu. Hobinya untuk bekerja seperti berkebun dan tidak pernah lalai berolahraga menjadi rutinitas yangb tidak pernah ditinggalkan. Waktu bersama keluarga menjadi waktu pelepas lelah tersendiri bagi beliau ditengah kesibukan yang demikian padat.

Sumba tetap menjadi bagian yang tak lekang oleh waktu dan hingar bingar kota Jakarta. Panggilan mengabdi di tanah kelahiran terus mengusik batin putra Redambolo Desa Kalembu Weri Kecamatan Wewewa Barat ini. Dengan kepiawaiannya dalam berpolitik, beberapa kali beliau ikut mencalonkan diri dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Selain itu, nama beliau yng cukup dikenal luas di sumba, khususnya Sumba Barat dan Sumba Barat Daya, membuatnya dilirik oleh calon kepala daerah untuk dijadikan pasangan. Tahun 2004 Pilkada Kabupaten Sumba Barat, digandeng oleh Jubilate Pandango sebagai wakilnya. Namun gagal untuk duduk dikursi nomor dua kabupaten tersebut. Sedangkan pada tahun 2009, mencalonkan diri sebagai Bupati di Kabupaten baru mekar dari Kabupaten Sumba Barat yakni Sumba Barat Daya berpasangan dengan Bapak Heri Holo. Namun dalam masa verifikasi di KPU, duet mereka ternyata tidak lolos yang membuat kecewa ribuan pendukungnya yang tersebar di Sumba Barat Daya. Kegigihan beliau dibuktikan kembali dalam percaturan politik, ketika Pilkada Sumba Barat Daya pada tahun 2013, dengan lebih matang mempersiapkan diri, beliau akhirnya sukses menempuh perjuangan panjang bersama pasangannya, Drs. Ndara Tanggu Kaha yang dikenal dengan paket MDT - DT. 

Menjabat sebagai orang nomor 1 (satu) di Sumba Barat Daya, tidak lantas membuat beliau dan keluarga bermegah, namun disadari penuh bahwa pekerjaan berat dan tanggung jawab besar sedang berada dipundaknya. Mengusung semangat Revolusi Pertanian, beliau merindukan terwujudnya pembangunan pertanian yang cepat dengan hasil yang besar. Masyarakat sumba yang pada umumnya petani membutuhkan teknologi pertanian agar dapat mencapai perubahan hidup yang lebih cepat sehingga masyarakat dapat mengenyam pendidikan yang bermutu, layanan kesehatan yang berkualitas dan infrasturktur yang memadai. Masa kecil yang begitu sulit baginya menjadi pemacu untuk memperjuangkan taraf hidup masyarakat Sumba Barat Daya menjadi lebih baik. Masa sekolahnya ketika di sumba begitu segar mengingatkannya ketika hanya ada satu pasang seragam sekolah yang dipakai dari kelas III – IV SD. Bertelanjang kaki ke sekolah dengan menempuh jarak 5 (lima) km dari rumah. Sepulang dari sekolah menjadi rutinitas untuk membantu ibunya dikebun dengan hanya mengandalkan kaneka (cangkul kecil khas sumba untuk membersihkan rumput). Dalam sejarah hidupnya, pernah merasakan kelaparan selama sebulan dan hanya mengkonsumsi umbi pisang pada tahun 1971 ketika hama belalang melanda sumba dan menyebabkan gagal panen. Sumba yang begitu kering sehingga menyulitkan masyarakat untuk memperoleh air, sudah dirasakannya dari kecil, harus menempuh jarak 3 (tiga) km untuk mencapai mata air. 

Semua itu membawanya untuk berjuang bersama masyarakat SBD. Dengan meneguhkan tekad dalam Visi besar “ Membangun Masyarakat Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) yang Sejahtera, Mandiri dan Aman “.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD