Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Sabtu, 07 Maret 2015

IKSS, Dari Semarang Untuk Sumba

Ikatan Keluarga Sumba Semarang (IKSS) saat Kegiatan seminar “Kekuatan Lokal Sebagai Roh Pembangunan di Sumba”
Semarang - Kenangan dan pulang adalah kata yang dahsyat bagi perantau. Dan kedua ungkapan itu berujung pada kampung halaman. Tapi menjangkau kampung halaman bagi perantau adalah hal susah. Sementara rindu itu semakin besar. Ingin pulang, tapi tugas di tanah rantau belum usai.

Kegelisahan itu yang mendasari Umbu Puda, perantau asal Sumba yang menginjakan kaki di Kota Semarang pada rentan waktu 1980an. Bermodal kangen yang tidak terbantah itu, Umbu Puda berbincang pada beberapa kawan sedaerah. Ternyata, bukan hanya dirinya yang merasa demikian. Semua memliki hasrat kerinduan kampung halaman, rindu tanah Sumba.

Dari perkumpulan kecil itu terbentuklah ‘Ikatan Keluarga Sumba Semarang’ (IKSS). Nuansa Sumba benar-benar dihadirkan. Tidak heran jika banyak kegiatan dilaksanakan, dari ibadah bersama, arisan keluarga serta beragam momentum relijius lain, seperti Paskah dan Natal. Semakin banyak acara yang diadakan bukannya menyurutkan semangat, justru membuat kelompok ini makin diminati para perantau Sumba yang lain. Bahkan IKSS menjadi rujukan bagi para perantau pemula sedaerah.

Hal itu karena IKSS sangat membuka tangan bagi siapapun terutama perantau dari Sumba yang ke Semarang. Beragam informasi juga telah disediakan IKSS, dari informasi pendidikan, tempat tinggal dan tempat ibadah, wisata sampai kuliner.

Partisipasi IKS Semarang dalam refleksi nusantara bersama Forum PERANTARA (Persaudaraan Antar Etnis Nusantara) april 2014
Gaung jalinan yang cukup erat itu ternyata terdengar di perantauan Sumba di daerah lain. Bukan hanya di Jawa Tengah, bahkan se-Pulau Jawa dan Bali mendengar hal itu. Maka tidak butuh waktu lama untuk Umbu Puda mengumpulkan saudara Sumba, dan mengikrarkan ‘Persatuan Keluarga Sumba se Jawa dan Bali’. Waktu itu, rasanya Tanah Sumba bukan hanya di NusaTenggara Timur, tapi di Jawa dan Bali juga ada. Intensitas berkomunikasi dan berkumpul yang tinggi, berhasil menciptakan nuansa Sumba dimanapun. Bisa di bilang pada masa itu adalah generasi pertama “IKSS”. Dalam perkembanganya, dengan berbagai pertemuan yang diadakan dan juga banyaknya masyarakat Sumba yang tinggal Di pulau Jawa dan pulau Bali maka komunitas ini cakupan wilayahnya lebih luas.

Redup, Menuju Bangkit
Seperti hal yang wajar pasang surut dalam suatu komunitas, kondisi yang serupa juga sempat menghampiri “IKSS” di tahun 2005 sampai 2010. Bisa dibilang pada masa itu adalah transisi pertama “IKSS” menuju generasi Mulai menurunya eksistensi para sosok-sosok yang menjadi magnet di tambah dengan faktor komunikasi tidak berjalan seperti awalnya menciptakan celah antara golongan muda sesepuh di “IKSS”. “Berbekal yakni rindu kampung halaman, menyimpan kenangan masa kecil kami berkumpul. Bercanda dalam Sumba,” kata Kresna Umbu Haingu, salah satu pengurus IKSS, Kresna Umbu Haingu. 

Hal ini berimbas pada vakumnya kegiatan yang sudah berjalan sebelumnya. Kondisi ini yang dirasakan betul oleh Kresna Umbu yang membuatnya tidak bisa berdiam diri. Merasa sebagai “produk” dan generasi penerus dari “IKSS” maka timbul motivasi dari salah satu golongan muda ini untuk tetap mempertahankan dan terus membangun “IKSS”. Upaya agar “IKSS” kembali eksis segera di wacanakan, salah satunya dengan menghimpun warga Sumba yang ada di kota Semarang. 

Delegasi Ikatan Keluarga Sumba Semarang dalam kegiatan Pertemuan Warga Sumba Se Jawa-Bali di Kota Malang.
Lebih lanjut Kresna Umbu mengungkapkan “Ketika itu saya mengacu pada anak-anak muda dari daerah Sumba yang merantau di kota Semarang, dan tentu saja mereka punya kerinduan yang sama akan kampung halaman kami, karena masyarakat Sumba yang ada di Semarang bukan hanya dari mereka saja yang sudah berkeluarga tapi banyak dari mereka yang kost di Semarang untuk kuliah atau bekerja, dan saya pikir mereka juga harus di libatkan untuk membangun kembali “IKSS”. Walaupun tidak mudah, tahap awal ini membuahkan hasil yang tidak mengecewakan. 

“Setelah saya berhasil contact anak-anak , selanjutnya kami membentuk tim penggagas,untuk sowan ke sesepuh “IKSS” demi menyampaikan keinginan kami agar “IKSS” tetap eksis, dan tentu saja kedatangan kami mendapat respon yang positif untuk bersama merapatkan barisan dalam “IKSS”. Lebih lanjut dengan komunikasi yang sudah terjalin di golongan muda khususnya mahasiswa asal Sumba yang tinggal di Semarang, maka di tunjuk pula kordinator mahasiswa asal Sumba yang di percayakan kepada Melfi  Lulu. Sejak saat itu “IKSS” sudah mulai menggeliat, berjalannya waktu banyak agenda yang terealisasi dan sampai sekarang kembali melaksanakan berbagai kegiatan,salah satunya adalah kegiatan rutin futsal bersama yang diadakan setiap hari kamis sore. 

Dalam perkembanganya kegiatan “IKSS” sendiri tidak terpatok pada komunitas internal saja tetapi bagaimana  cara kami untuk bisa menjalin persahabatan dengan berbagai komponen yang ada di  kota Semarang, diantaranya adalah dengan berperan aktif dalam "Forum Persaudaraan Antar Etnis Nusantara” Jawa Tengah. Lebih jauh lagi Kresna Umbu mengungkapkan masih banyak yang menjadi harapan dan tujuan kami sebagai organisasi kedaerahan yang lahir di kota Semarang, bahwa “IKSS” mempunyai peran aktif dalam membangun kota Semarang tempat dimana kami tinggal sekarang dengan berbagai kegiatan rutin kami seperti kegiatan keagamaan sampai kegiatan sosial yang kami selenggarakan, dan tentu saja membangun daerah asal kami yaitu Sumba. (snd)
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD