Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Minggu, 17 Agustus 2014

Utang Na Anamun, Tabungan Pendidikan Masyarakat Sumba.

Salah satu lahan "Utang Na Anamu" di Sumba Timur dipenuhi pohon-pohon yang ditanam warga.
Waingapu - Masyarakat di Sumba Timur mulai menyiapkan dana tabungan untuk anak-anak mereka melalui "tabungan pohon". Mereka menanam sejumlah jenis tumbuhan mahal yang kelak bisa dijual dan uangnya digunakan untuk biaya pendidikan.

Masyarakat secara bersama-sama menanam pohon mahoni, jati emas, gamalia, dan sukun di lahan desa, yang mereka sebut sebagai demonstration plot (demplot). Dan secara khusus, lahan demplot tersebut diberi nama "Utang Na Anamu", yang artinya hutan anakmu.

"Kegiatan ini sudah dimulai sejak 2011. Masyarakat diajak untuk mulai memikirkan dana pendidikan anak-anak mereka. Kami mengajak mereka menanam pohon yang di usia 10 tahun mendatang bisa digunakan sebagai dana pendidikan anak-anak mereka kelak," jelas Abner Sembong, Koordinator Monitoring, Evaluasi dan Pendidikan Wahana Visi Indonesia, Waingapu, baru-baru ini.

Wahana Visi Indonesia fokus pada masalah-masalah kesejahteraan anak di Sumba Timur, dimana lembaga ini mulai melakukan sejumlah kegiatan untuk peningkatan kesejahteraan anak di Sumba Timur sejak 10 tahun terakhir.

Menurut Abner, masyarakat Sumba Timur sudah terbiasa tidak memperhatikan kesejahteraan anak-anak mereka sejak zaman nenek moyang. Kekayaan mereka hanya habis untuk pesta-pesta adat, seperti kematian anggota keluarga, yang mampu menyedot seluruh kekayaan mereka.

"Setiap ada kematian anggota keluarga, maka mereka akan potong banyak binatang ternak, seperti kerbau dan sapi untuk menguburkan kerabat mereka. Jika mereka miskin, maka mereka akan berutang untuk bisa menyembelih binatang-binatang ini. Akhirnya banyak warga yang terbelit utang karena pesta adat seperti ini dan anak-anak akan terbengkalai. Kemiskinan akan semakin terasa bagi warga yang saat ini kondisinya pun sudah memprihatinkan," ujarnya.

Penduduk Sumba Timur kemudian diajarkan Wahana Visi Indonesia untuk menanam pohon-pohon mahal tersebut dan didampingi untuk terus merawatnya. Mereka biasanya datang ke lahan demplot dan memangkas cabang-cabang kecil secara berkala bersama-sama. Diharapkan dalam 5-10 tahun mendatang, pohon-pohon itu sudah bisa dipanen dan dijual. Pohon gamalia, dengan diameter 40 cm bisa dijual dengan harga Rp 1 juta.

Tidak ada batasan jumlah pohon yang ditanam, setiap keluarga bisa menanam sebanyak mereka mau. Bahkan ada keluarga yang mampu menanam hingga 100 pohon dalam lahan demplot.

Hal ini sempat diapresiasi Yohanis H Wunu, Kepala Dinas Kehutanan Sumba Timur. Ia menyatakan dukungannya atas investasi ini.

"Dulu sangat sulit kami meminta mereka menanam, tapi sekarang, setelah tahu manfaatnya mereka berbondong-bondong menanam. Dan keluarga yang dulu malas menanam jadi menyesal sekarang," katanya.

Di Sumba Timur sudah ada 7 desa yang melakukan penanaman di demplot. Setiap desa rata-rata terdiri dari 15 kepala keluarga, dimana setiap kepala keluarga memiliki 6-12 anak.


Sumber: beritasatu.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD