Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Kamis, 20 Maret 2014

Walikota Kupang Pertemukan Paguyuban Alor dan Sumba

Walikota Kupang Jonas Salean, SH, M. Si didampingi Assisten I Setda Kota Kupang, Wakapolres Kupang AKP Julian Perdana, perwakilan Kajari Kupang dan Perwakilan Dandim 1604 Kupang melakukan pertemuan dengan para tokoh masyarakat Sumba dan Alor untuk bersama-sama mencari solusi penyelesaian tawuran antar mahasiswa di Kelurahan Oesapa.
Kupang - Keluarga Sumba (IKAS) dan Paguyuban Keluarga Alor bertemu Walikota Kupang Jonas Salean, SH, M. Si untuk bersama-sama mencarikan solusi penyelesaian atas tawuran antara sejumlah oknum mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang berdomisili di Kelurahan Oesapa tanggal 7 Maret 2014 lalu. 


Pertemuan yang bernuansa kekeluargaan itu berhasil menyekapati beberapa point yang segera ditindaklanjuti guna menghindari kejadian serupa terulang lagi. Para Tomas dari kedua pihak juga sepakat untuk bersama-sama meredam situasi yang berkembang di kalangan mahasiswa sehingga tercipta kembali kondisi harmonis di Kelurahan Oesapa. 

Dari kalangan Sumba, hadir Ketua IKAS Prof. Umbu Data, Eduard Gana, Mantan Ketua KNPI NTT Daud Amarato dan perwakilan mahasiswa asal Sumba. Dari tokoh Alor, hadir Alex Ena dan beberapa tokoh lainnya serta perwakilan mahasiswa. Alex hadir mewakili tokoh masyarakat Alor karena sejumlah pengurus paguyuban Alor menghadiri pelantikan Bupati Alor Senin kemarin. 


Walikota Kupang didampingi Assisten I Yos Rera Beka, Wakapolres Kupang AKP Julian Perdana, perwakilan Kejari Kupang dan perwakilan Dandim 1604 Kupang. Hadir juga Camat Kelapa Lima dan Lurah Oesapa.

Ketua Ikatan Keluarga Asal Sumba di Kupang, Frans Umbu Datta pada kesempatan itu, mengaku merasa malu karena dicap sebagai pembuat onar.

Padahal, katanya, yang melakukan kekacauan ini hanya ulah satu dua oknum yang kebetulan berasal dari Sumba.

"Karena itu kami orangtua asal Sumba sepakat untuk tidak mengurus lagi jika terjadi lagi masalah yang dibuat oleh anak-anak kami. Silakan diurus secara hukum yang berlaku kalau salah silakan ditindak sesuai prosedur. Bila perlu Pak Walikota pulangkan saja mereka kembali ke Sumba karena sudah tidak bisa kita bina lagi," tegas Umbu Datta

Umbu Datta juga meminta walikota untuk menindak keras pemilik kos yang hanya membangun kos tanpa adanya pengawasan terhadap penghuninya. Ia mengatakan, anak-anak kos bebas sesuka hati melakukan apapun, minum mabuk, berkelahi, suka-suka mereka, tanpa ada pengawasan.

"Pak Wali tolong tertibkan pendatang di Oesapa yang tidak memiliki KTP atau pun belum melaporkan dirinya pada RT setempat. Jangan ada lagi kos Sumba atau kos Alor. Semua harus membaur untuk menghilangkan stigma permusuhan yang selama ini ada antara orang Sumba dan Alor. Kami tidak ada masalah dengan orang Alor begitu pula dengan orang Alor tidak ada masalah dengan orang Sumba. Hubungan kami baik-baik saja," ujar Frans.

Tokoh Alor di Kupang, Jhoni Lumba, berharap pemerintah harus segera menertibkan kos-kosan di wilayah Oesapa.

"Kadang ketika kami mengajar di Unkris merasa sangat terganggu dengan suara musik yang diputar ole aank-anak mahasiswa yang kos di Oesapa. Ini membuktikan bahwa tidak ada pengawasan yang dilakukan oleh tuan kos sehingga mereka bebas memutar musik sesuka hati walaupun itu mengganggu orang lain," ujar Jhoni.

Pertemuan yang dimulai sekitar pukul 09.00 Wita ini berlangsung dalam suasana santai. Semua tokoh nampak sangat akrab. Semua masukan dalam pertemuan ini diterima dan akan ditindaklanjuti oleh walikota guna menciptakan suasana yang aman di Oesapa.

Sumber: timex/tribunnews
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD