Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Minggu, 19 Januari 2014

Sumba, Sebuah Kepolosan Yang Penuh Makna


Kisah perjalanan Abeng Sagara ke Pulau Sumba

Seingatku perjalanan terakhirku itu pergi ke pulau sumba. Bukan sekedar berwisata, namun juga melakukan pengambilan data untuk survey kesehatan dan pendidikan dari UGM. Sekitar dua bulan aku berada di Pulau Sumba, lebih tepatnya Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Sebuah kabupaten yang baru mekar dari Kabupaten Sumba Barat beberapa tahun lalu. Disini hampir semua kecamatan dan seluruh pelosok kabupaten aku sambangi. Suka-duka cerita mereka hampir selalu setiap hari aku dengar. Ya, bermodalkan baju lapangan, sepatu boots, co-card, serta quesioner, penduduk mengira aku orang dari pusat yang hendak membawa sebongkah bantuan kepada mereka. Segala pertanyaan dan keluh kesah mereka sampaikan kepadaku yang tidak tau apa-apa.
 
Memang daerah timur Indonesia masih sangatlah jauh dari kata maju. Di Kabupaten Sumba Barat daya, pusat kotanya tidak lebih besar dan lebih maju dari pusat kecamatan yang ada di Purbalingga (tempat kelahiran penulis -red) apalagi dibandingkan dengan pusat kecamatan yang ada di Jogja, seperti Sleman, Bantul, dsk. Ketertinggalan ini tentunya bukan tanpa sebab, banyak sekali sebab-sebab yang harus dijabarkan satu-persatu seperti aksesibilitas antar provinsi, antar kabupaten, sampai antar daerah terkecil masih sangatlah jauh dari kata memadai. Baru pertama kali disini saya mendengar kata "jalan pengerasan", sebuah jalan tanah yang dikeraskan dengan batu-batu kapur, Mungkin perbandingan antara jala pengerasan dan jalan aspal di SBD ini kurang lebih 80 : 20. Saya tidak tau apa jadinya kalau kabupaten ini tidak jadi mekar dan masih berada di bawah pemerintahan Kabupaten Sumba barat. Mungkin hampir 99% masih jalan pengerasan.

Ama Yohanis, sang suhu pemberi parang. Teimakasih banyak Ama
Keadaan geografis SBD hampir sama dengan keadaan geografis Kabupaten Gunung Kidul. Tanahnya dominan batu kapur dan karang sebagai bukti bahwa dahulu kala pulau Sumba merupakan hasil dari pengangkatan bawah laut. Kondisi tanah gersang dan kering, hanya bisa ditumbuhi umbi-umbian, kecuali didaerah Wewewa yang merupakan dataran tinggi dengan tanah subur dan iklim basah. Pertama mendengar kata Wewewa saya tersenyum sendiri, namanya begitu aneh, kalau dibaca jadi Wejewa (Wewewa - red).

Pertama kali menginjakan kaki di pulau Sumba saya langsung terkagum-kagum dengan orang-orang yang membawa parang kemana-mana. Hampir semua laki-laki di Sumba pasti membawa parang jika keluar rumah. Alasan utama adalah karena adat-istiadat yang mengharuskannya begitu. Yang kedua adalah untuk bekerja. Orang Sumba hampir mayoritas sebagai pekerja ladang/kebun, jadi parang merupakan suatu keharusan. Yang ketiga adalah sebagai sarana jaga diri terutama bila memasuki kawasan Kodi. Saya bahkan diberi parang oleh salah satu responden saya, bapak tua yang bernama Ama Yohanis Lodwig Mete gara-gara saya menanyakan berapa harga parang dipasar, malah dia menawarkan parang bergagang tanduk miliknya untuk saya.

Titik tertinggi di Wewewa Selatan, setelah gunung Yawila
Kain tenun juga tidak lepas dari keseharian orang Sumba, dimanapun pada acara apapun pasti mereka mengenakan kain tenun. Untuk laki-laki mengenakan kain ikat dan selendang. Kain ikat gunanya untuk dililitkan di pinggang sementara kain selendang sebagai ikat kepala. Untuk yang perempuan mereka mengenakan kain sarung. Kain adat sumba rata-rata berwarna cerah. Masing-masing daerah berbeda motifnya, namun menurut saya untuk seluruh sumba yang paling keren motifnya itu punya Sumba Timur. SBD kain yang paling keren itu dari daerah Kodi, motifnya bagus, kalau daerah SBD lainnya motifnya terlalu sederhana. Kalau mau belanja kain disini tidak ada pilihan tempat khusus karena baik dipasar maupun ditoko harganya hampir sama. Namun kalau mau yang agak murah bisa pergi langsung ke penenunnya. Saya dan teman-teman beberapa hari sebelum pulang juga menghabiskan waktu seharian penuh untuk berburu kain tenun ini. Penenun hampir semua rumahan dan sangat mudah ditemukan. Biasanya mereka menenun di depan rumah. Harga kain selendang (ikat kepala) berkisar antara Rp. 30.000 - Rp. 100.000 , tergantung warna dan kerumitan motifnya. Untuk kain bahan mulai dari Rp. 150.000 sampai jutaan.Oya, kain tenun khas Sumba juga pernah menjadi kain favorit pada pameran internasional di Prancis beberapa tahun lalu.

Entah berapa kali saya mendapatkan keluh kesah dari para penduduk disini. Mulai dari masalah kesehatan dimana pelayanan kesehatannya tidak memadai, jauh, dan kekurangan tenaga ahli. Kemudian Permasalahan mengenai pendidikannya yang juga kurang, gedung sekolah yang bobrok, guru-guru yang jarang berangkat, fasilitas sekolah yang jauh dari kata layak, dsb. Namun menurut saya masalah yang paling krusial di SBD dan mungkin seluruh Pulau Sumba adalah masalah tentang terikatnya mereka terhadap adat-istiadat budaya mereka. Bayankan, untuk kematian anggota keluarga mereka bisa menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta untuk penyembelihan hewan ternak macam babi, kerbau. Untuk pernikahan mereka juga harus menyiapkan bilis ( mas kawin) yang tidak murah harganya. Tidak heran bila setiap rumah tangga disini punya hutang berjuta-juta kepada kerabat mereka. Pada setiap kematian, selain anggota keluarga yang ditinggal mati, para kerabat juga datang membawa hewan-hewan ternak untuk disumbangkan. Semakin banyak hewan ternak yang ada pada upacara kematian tersebut maka semakin naik harga diri / prestige mereka. Sumbangan tersebut bukan gratis,  melainkan hutang yang harus dibayar.Sebenarnya sudah banyak orang Sumba yang sadar akan bom waktu adat istiadat mereka, namun mereka tidak bisa melakukan apa apa. Banyak dari orang Sumba yang menikah dengan orang diluar Sumba hanya untuk menghindari adat macam ini. Bupati Sumba Barat dulu juga pernah menerapkan peraturan minimal hewan ternak yang harus di korbankan, namun gagal karena adat yang begitu ketat disini. Bayangkan, kubur mereka bahkan jauh lebih bagus daripada rumah tempat tinggalnya.

Salah satu pantai "perawan" yang belum ada namanya di Kecamatan Loura. Tidak ada wisatawan kecuali saya dan tiga orang teman serta beberapa nelayan.

Untuk daerah wisata yang ada di SBD cukup banyak yang belum terjamah, alias masih perawan. Kalau mau dibilang jujur, Sumba merupakan daerah yang sangat eksotis. Pantai-pantai berkarangnya yang indah, padang savana yang luas bak di afrika, kalau naik keatas sedikit maka hutan tropis yang lebat menanti kita dengan flora-fauna endemiknya. Banyak pantai, banyak air terjun, banyak wisata budaya, banyak sungai-sungai indah, namun sayang sekali lagi pengelolaannya yang belum maksimal. Untuk pantai, kecamatan Kodi adalah surganya dengan pantai Pero, Mandorak, Bondokawango, Ratenggaro, Danau Weekuri, dll. Untuk wisata dataran tinggi, Wewewa adalah rajanya.


Sebenarnya masih banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan selama dua bulan di Sumba, mungkin lain kali akan saya jabarkan satu persatu , berhubung sudah buntu jadi saya sudahi saja, ciayo...


oiya satu kesan yang begitu mendalam bagi saya adalah, jangan tertipu wajah garang mereka, karena sebenarnya mereka sangat-sangatlah ramah, polos dan apa adanya. Walaupun adat-istiadat mengekang dan menerpurukan mereka, itulah pengorbanan mereka dalam melestarikan budaya leluhur. Suka, duka, mereka tetap tersenyum. Mungkin dari semua jenis orang yang pernah saya temui, orang Sumba adalah yang paling ramah :)




Memang kebahagiaan itu relatif...




Sumber: idiotraveler.blogspot
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD