Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Rabu, 22 Januari 2014

Keunikan Pola Perkampungan Di Sumba



Pola ruang permukiman yang sangat unik dapat di temukan pada suku sumba. Pola permukiman suku sumba juga biasanya mengikuti keadaan alam. Permukiman suku sumba bisa di temukan pada daerah pinggiran sungai dengan mempunyai arti religius atau kepercayaan tersendiri. Suku sumba yang biasa bermukim di sepanjang sungai di sebut penduduk umalulu. Penduduk ini masih mempercayai roh-roh nenek moyang mereka. Kebanyakan dari penduduk umalulu bermukim di pedalaman pulau sumba.
 
Selain itu keterbatasan pola susunan terhadap keamanan dan persatuan, bahan dan teknologi, mobilitas, serta struktur sosial yang kaku mempengaruhi luasan kampung adat. Tradisi dan budaya sangat mempengaruhi suasana kampung yang diekspresikan secara religius simbolik. Simbol tersebut digunakan untuk mengkomunikasikan makna dan susunan yang mencerminkan hubungan antar penghuni rumah adat, serta hubungan masyarakat dengan leluhurnya.



Pola kampung adat di Sumba berbentuk cluster atau tertutup dengan hanya mempunyai satu gerbang yang menjadi akses keluar-masuk ke dalam kampung adat. Dengan hanya memiliki satu akses ini dipercaya akan menjadi suatu faktor keamanan dan pertahanan yang handal. Faktor ini dianggap penting karena pada masa lalu, bahkan sampai saat inipun konflik antar suku atau kabisu sangat sering terjadi. Pola ini melambangkan bahwa kampung adat merupakan pusat bagi kegiatan dan kehidupan masyarakat Sumba, sejak awal (lahir) hingga akhir (meninggal). Oleh sebab itu setiap pribadi masyarakat Sumba meskipun telah merantau keluar dari pulau Sumba, selalu berharap bila kelak tutup usia akan dimakamkan di kampung adatnya.

Masyarakat Sumba dalam budaya bermukimnya mengenal atau memiliki (tiga) jenis rumah, yaitu sebagai berikut: 1. Rumah Adat (Uma) yang berfungsi sebagai pusat dan awal kehidupan, sehingga disinilah semua kegiatan ritual kepercayaannya berlangsung; 2. Rumah Dusun sebagai tempat tinggal sehar-hari; dan 3. Rumah Kebun sebagai tempat tinggal saat berkebun atau bercocok-tanam. Kampung adat pada masyarakat Sumba pada umumnya berbentuk persegi atau lonjong (ellips atau oval) yang dikelilingi oleh suatu tembok batu yang cukup tebal dan tinggi, yang berfungsi sebagai batas sekaligus benteng pertahanan bagi kabisu dari serangan kabisu yang lain. Bentuk dasar ini memang menjadi salah satu ciri dari masyarakat prasejarah. Namun demikian, bentuk ini masih sangat tergantung pada konteks alami lokasi (seperti kontur lahan ataupun faktor alami lainnya) maupun terkait jumlah kabisu yang menghuni dan jumlah rumahnya.



Pola kampung adat pada umumnya berorientasi ke arah utara – selatan, dengan arah selatan sebagai arah utama. Oleh sebab itu rumah adat (uma) kepala kampung (kepala kabisu) terletak di selatan menghadap ke utara, atau yang disebut sebagai uma katoda, rumah wakil kampung adat (anak laki tertua dari kepala kabisu) atau disebut uma kere terletak di sebelah utara (menghadap selatan), sedangkan deretan rumah adat sebelah barat adalah bagi anak nomor urut genap dan deretan rumah adat sebelah timur adalah bagi anak dengan nomor ganjil. Seluruh bangunan rumah adat tersebut mengelilingi dan menghadap atau berorientasi pada natar yang menjadi pusatnya. Apabila dalam satu permukiman kampung adat terdapat lebih dari satu kabisu, maka itu akan tercermin pada jumlah natarnya, karena setiap kabisu pasti mempunyai sebuah natar.



Arah selatan merupakan arah datangnya angin laut dan musim yang mendatangkan kesuburan dan hasil laut yang melimpah bagi masyarakat. Untuk menghormati anugerah alam, maka arah selatan memperoleh penghargaan tinggi dan dijadikan sumbu utama dalam mewujudkan permukiman kampung adat masyarakat Sumba. Pola orientasi kampung adat utara – selatan tersebut ternyata tidak berlaku di semua lokasi kampung adat karena beberapa diantaranya telah berganti orientasi ke arah timur – barat, seperti pada kampung adat Kabonduk maupun Pasunga. Hal tersebut terjadi karena pengaruh dan tekanan dari penjajah Belanda ketika menguasai Pulau Sumba. Di tengah kumpulan bangunan rumah adat di dalam permukiman terdapat natar yang menjadi pusat orientasi. Natar menjadi penting karena di dalam natar inilah semua ritual kepercayaan Marapu dilakukan termasuk menjadi tempat bagi batu kubur dan muricana
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD