Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Selasa, 21 Januari 2014

Eksplorasi Eksotika Gua di Sumba

Persiapan masuk gua Kanabuwulang
Pulau Sumba merupakan Pulau terluas pada bagian selatan Kepulauan Indonesia. Terletak di wilayah perairan Nusa Tenggara Timur (NTT) Pulau sumba memiliki potensi alam yang eksotis dan unik.

Salahsatu kekayaan Pulau Sumba adalah kawasan daratan batu kapur (Batugamping) yang telah mengalami proses-proses alamiah dalam batasan ruang dan waktu geologi. Produk dari dinamika bumi yang berlangsung dari masa lalu hingga saat ini telah menghasilkan suatu fenomena alam yang unik.


Survey gua-gua di kawasan Karst Pulau Sumba Pertama sekali dilakukan pada tahun 1985 oleh British Cave Research Association (BCRA)-Inggris. Pada tahun 2002 ekspedisi pendataan gua-gua dilakukan oleh Acintyacunyata Speleological Cub (ASC)-Yogyakarta, kemudian tahun 2008 ekspedisi pendataan dan eksplorasi gua-gua dilakukan oleh ASC dari hasil di tahun 2008 tersebut ternyata belum menyentuh secara keseluruhan seluruh potensi gua-gua di kawasan Kars Pulau Sumba, untuk itu pada tanggal 6 Juli – 10 Agstus 2010, tim ASC kembali melakukan ekspedisi Sumba 2010 dengan 6 orang penelusur gua dari yogyakarta  di  Desa Kambatawundut (Kec. Lewa), Desa Watumbelar (Kec. Lewa Tidahu), Desa Lombu (Kec. Wewewa Timur), dan Desa Wee Paboba (Kec. Wawewa Utara) guna menambah data-data potensi gua di kawasan Kars Pulau Sumba.

Tim berangkat dari yogyakarta pada hari senin 06 Juli 2010 dan tiba di pulau sumba pada tanggal 08 juli 2010. Perjalanan ke pulau sumba menggunakan Bus dari yogyakarta sampai denpasar dengan memakan waktu kurang lebih 18 jam perjalanan, dan diteruskan dari denpasar menggunakan pesawat terbang ke Tambolaka, Sumba Barat Daya memakan waktu 1 jam perjalanan. Dari tambolaka kami meneruskan perjalanan ke base camp induk waikabubak (Ibukota kabupaten Sumba Barat) dengan menggunakan mobil sewa dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam perjalanan.

Hari pertama di basecamp induk kami mulai menyusun rencana kegiatan diantaranya menentukan daerah-daerah yang akan dituju serta lamanya waktu di lapangan dan menyiapkan barang barang yang akan dibawa ke lokasi. Dari hasil briefing di hari pertama, lokasi pertama yang akan dituju yaitu Desa Kambatawundut, Kecamatan Lewa, Sumba timur dimana untuk waktu survey dan eksplorasi menghabiskan waktu 10 hari. Desa kambatawundut merupakan salah satu desa yang masuk dalam kawasan taman nasional manupeu tanadaru (TNMT) sehingga sebelum ke lapangan kami menyempatkan mampir ke Balai taman nasional manupeu tanadaru mengurus surat ijin masuk kawasan (SIMAKSI).  Akses ke desa kambatawundut dapat ditempuh dengan menggunakan mobil sekitar 3 jam perjalanan dari waikabubak ke arah timur. Desa ini belum tersedia listrik dan masih sulitnya akses komunikasi. Base camp yang kami tempati di desa kambatawundut yaitu rumah Bapak Yusuf (Bapak KMPH/ Kelompok Masyarakat Pemerhati Hutan).

Kegiatan Survey Mulut Gua

Selama dilapangan kami memetakan 10 gua dari 14 gua yang kami data. Adapun gua-gua yang dapat dipetakan diantaranya Gua Kanabu Wulang, Liang Manggarai, Lai Miarang, Lai Tay, Lai Ngongu, Gua Hong paraeng, Lai Lawa, Gua Wutu Aho, Liag Pahuruk, dan Liang Auhu. Setelah menghabiskan waktu selama 10 hari untuk mengsurvey dan mengeksplore gua-gua yang berada di Desa Kambatawundut, Tim kembali ke Basecamp induk untuk mempersiapkan logistik, mengolah data dan melengkapi yang dirasa kurang.
Salah Satu Ornamen Gua Laimiarang

Setelah semua persiapan di rasa sudah cukup, tim memutuskan untuk lokasi survey dan eksplorasi gua berikutnya adalah di Desa Watumbelar, Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur. Desa Watumbelar ini lebih jauh dari pada Desa Kambatawundut, Lama perjalanan sampai kelokasi yaitu kurang lebih 4 jam. Setelah sampai ke desa, rumah yang kami tuju terlebih dahulu adalah rumah bapak KMPH Desa Watumbelar dimana Tim meminta izin terlebih dahulu dan  menyampaikan maksud dan tujuan survey di desa tersebut. ada yang aneh dengan budaya setempat yaitu setiap berkunjung di tempat yang baru, jika ingin meminta izin haruslah membawa sirih dan pinang yang nantinya diberikan kepada tuan rumah. Jika Sirih Pinang tersebut diterima oleh tuan rumah dan memberikan sirih pinang tuan rumah kepada kita berarti itu tandanya kita diterima di rumah tersebut. Untuk berbaur dengan masyarakat setempat, kami memgikuti budaya setempat yaitu makan sirih dan pinang bersama-sama sambil berbincang-bincang. Setelah kami mengutarakan semua maksud dan tujuan kami, bapak KMPH mengusulkan tim untuk Flying Camp dikarenakan akses gua-gua di desa tersebut masih sangat jauh.

Statik pool Gua Kanabuwulang

Kegiatan survey dan eksplorasi gua di Desa Watumbelar menghabiskan waktu selama seminggu. Selama di desa tersebut kami ditemani 3 guide lokal (Bapak Andre, Bapak Jhoni dan yang satunya lagi lupa)  dikarenakan tim nantinya dibagi menjadi 2 tim dimana 2 guide menemani tim dan 1 guide menjaga barang-barang pada lokasi flying camp.

Foto Bersama di Desa Watumbelar

Selama di desa ini kami memetakan 12 gua dari 18 gua yang kami data. untuk survey dan eksplorasi gua tiap hari kami membagi menjadi 2 tim dimana setiap tim yaitu 3 anggota tim ekspedisi dan 1 guide lokal. kegiatan survey dan eksplorasi gua dimulai dari jam 07.00 – 17.00 dan toleransi jam 19.00. Waktu eksplorasi gua perhari sangatlah pendek dimana akses menuju ke gua sendiri menghabiskan hampir 1-2  jam perjalanan kaki sehingga waktu yang tersedia untuk mengeksplore gua hanya 6 jam an. Dampak dari waktu yang pendek ini mengakibatkan ada gua yang tidak selesai di petakan.


 Sumber: kelingkingkanan.blog
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD