Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Sabtu, 21 Desember 2013

Rumah Adat Sumba Menjaga Kebersamaan

PERESMIAN RUMAH ADAT - Direktur Pembinaan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Gendro Nurhadi (tengah), berjalan dengan memegang ikatan alang-alang, didampingi tarian para pria dari Komunitas Adat Ratenggaro di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Kamis (12/12).

Kodi - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), melalui Direktorat Pembinaan Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, melakukan revitalisasi tiga kampung adat di Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT); Kampung Rate Nggaro, Kampung Bondo Kodi, dan Kampung Wainyapu.


Hari masih pagi saat kendaraan kami mengarah ke jalan berbatu di punggung bukit menuju pantai. Di sebelah kiri berjajar bangunan persegi menyerupai meja dari batu, yang nyata memiliki akar jauh ke zaman Megalitik. Suasana menjadi terasa magis sekaligus ramah.

Di hadapan kami muncullah sosok-sosok pria menyandang parang dan mengenakan kain dengan ikat kepala. Mereka menunggang kuda, dari cara berkudanya terlihat mereka adalah para penunggang yang mahir. Seketika mereka berbalik dan berkuda di depan. Rupanya kelompok berkuda itu menyambut kedatangan tamu.

Tiba-tiba jalan menikung tajam ke kiri, terus menanjak hingga pantai berada di belakang kami. Di depan terkuak pemandangan menakjubkan. Di puncak terbentang tembok batu membentang hingga ke kedalaman pepohonan hutan.

Di balik pohon bermunculan bentuk-bentuk segitiga menjulang setinggi sekitar 20 meter. Para penunggang kuda terus masuk dan menghilang ke dalam gerbang batu. Kami telah tiba di Rate Nggaro.

Suara gong dan bunyi-bunyian instrumen musik tradisional mengalun hingga ke luar gerbang. Dari balik tembok terdengar suara lengkingan khas Sumba yang bersahut-sahutan. Warga Rate Nggaro bersiap menyambut para tamu dari Direkorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, dan Kebudayaan yang berkunjung dalam rangka peresmian Revitalisasi Desa Adat, didampingi Bupati Sumba Barat Daya Kornelius Kodi Mete dan Wakil Bupati Jacob Malo Bulu. Mereka ingin menyaksikan hasil bantuan Direktorat Jenderal Kebudayaan terhadap pembangunan rumah-rumah adat.

Rate Nggaro Membangun

Dari sembilan desa adat yang mendapat bantuan Rp 500 juta setiap desa, Rate Nggaro adalah satu dari tiga kampung adat di Pulau Sumba, tepatnya di wilayah Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur yang memperoleh dana bantuan pemerintah untuk membangun kembali atau merenovasi rumah-rumah adat setempat.

Dua kampung adat lainnya juga bertetangga dengan Rate Nggaro, Kampung Bondo Kodi dan Kampung Wainyapu.

Ketiga kampung adat ini merupakan bagian dari sembilan desa adat di seluruh Indonesia yang mendapat bantuan yang sama pada 2013. Keenam desa adat lainnya tersebar masing-masing satu desa di Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Bali. Di NTT, satu lokasi lainnya yang mendapat bantuan adalah Kampung Adat Wae Rebo di Manggarai.

Ketua Komunitas Adat Rate Nggaro, Paulus Katoda Mada, Kamis (12/12) mengungkapkan, sebenarnya Kampung Rate Nggaro memiliki 28 rumah adat, namun habis terbakar pada Desember 1964. Setelah itu, warga Rate Nggaro perlahan membangun kembali sehingga mampu mendirikan 13 rumah. Hanya saja, pada Juni 2004, 13 rumah itu juga habis terbakar.

Dengan empat rumah bantuan pemerintah itu, kini sudah ada 12 rumah adat di Rate Nggaro. Tujuh rumah dibangun para pemilik rumah dan satu rumah adat, Umma Katoda Katakku, dibangun dengan bantuan LSM Ibu Tirto Rp 135 juta.

Di balik keberhasilan revitalisasi lima rumah adat ini, sebenarnya tidak sedikit peran dan pengorbanan Direktur Rumah Budaya Sumba, Pater Robert Ra Mone CssR. Pater Robert memediasi semua upaya revitalisasi rumah adat di Rate Nggaro, termasuk di Kampung Bondo Kodi dan Wainyapu.

Paulus Katoda Mada menjelaskan, sekilas kelihatan bahan bangunan rumah adat Sumba tidak terlalu mahal. Semua terbuat dari kayu, bambu, dan alang. Namun, pembuatan rumah adat melalui berbagai proses ritual adat.

Bukan cuma itu, untuk mendapatkan empat tiang utama rumah adat Sumba dibutuhkan biaya yang tidak sedikit karena tiang utama itu harus menggunakan satu jenis kayu yang dikenal dengan nama lokal “Kadimbil”. Tiang utama itu terdiri dari empat batang, jadi setidaknya membutuhkan empat pohon “Kadimbil”.

Gendro Nurhadi yang mewakili Dirjen Kebudayaan menyampaikan apresiasi kepada masyarakat. Meski pemerintah hanya memberikan dana untuk dua rumah adat, masyarakat Rate Nggaro berhasil membangun empat rumah. “Itu adalah prestasi masyarakat Rate Nggaro terhadap keinginan melestarikan tradisinya,” kata Gendro.

Gendro menambahkan, Direktorat Kebudayaan berharap rumah adat yang ada tetap dijaga sehingga berumur panjang. Menurutnya, kalau rumah didiami maka bahan bangunan akan awet karena selalu diasapi. “Kalau selalu ada asap, rumah akan semakin awet,” ia menjelaskan.

Gendro juga berharap, rumah adat yang merupakan identitas orang Sumba dapat dijadikan tempat menjaga kebersamaan dan bermusyawarah, seperti warisan para leluhur. “Dengan adanya rumah adat ini, tentunya tradisi-tradisi leluhur yang dulu begitu kuat dipertahankan, saat ini pun saya harapkan masyarakat Rate Nggaro bisa tetap melestarikan ini,” kata Gendro.

Identitas

Jika mendalami budaya Sumba, terlihat jelas keterkaitan erat antara manusia dengan Tuhan yang pada akhirnya terwujud dalam bentuk maupun fungsi rumah adat. Bagi mereka, salah satu anugerah Tuhan adalah tradisi berkumpul dan bermusyawarah. Jadi, rumah juga bukan sekadar tempat bernaung, melainkan menjadi titik berangkat masyarakat setempat untuk berkehidupan.

Seluruh gerak langkah dalam kegiatan ekonomi dan sosial berangkat dari keputusan yang diambil di rumah adat. Jadi, rumah adat adalah bagian proses membangun masyarakat.

Bupati Sumba Barat Daya, Kornelius Kodi Mete mengingatkan hal tersebut. Berdasarkan tradisi, katanya, membangun rumah adat tidak dimulai dari langkah membangun rumah, tapi berawal dari kebun.

Setelah rumah terbangun, tidak berarti selesai. Namun, itu menjadi saat melanjutkan dengan persoalan yang lebih rumit, seperti bagaimana mengentaskan kemiskinan, pengembangan sumber daya manusia, dan sebagainya.

Belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya di masyarakat, Kornelius berharap kegiatan berkumpul dan bermusyawarah di rumah adat nantinya tidak lagi membahas hal-hal yang kurang membangun yang tidak direstui Tuhan. “Kalau boleh, hari ini kami berkomitmen, rumah adat dibangun kami jadikan wadah untuk kita berkumpul, berkomunikasi, membangun hal-hal yang positif,” ia menegaskan.

Kornelius mencontohkan pembahasan persoalan tanah yang dibahas di rumah adat, harusnya bukan menghasilkan keputusan yang menciptakan konflik sebagai luapan emosi. Persoalan tanah harus dibahas untuk mendapatkan jalan keluar yang bermanfaat positif bagi masyarakat.

“Kalau misalnya ada masalah tanah, jangan semangat untuk menyakiti yang kita kembangkan, tetapi semangat berdialog yang kita kembangkan, dan akhirnya tidak ada lagi musuh dalam selimut,” katanya.

Rumah adat di setiap kampung biasanya merupakan rumah utama dari setiap klan dan merupakan pusat dari berbagai upacara adat. Dalam setiap upacara adat atau keluarga ini, semua keturunan dari rumah itu akan berkumpul membicarakan berbagai persoalan.

“Mulai perencanaan keluarga besar, ritual adat, perkawinan, meninggal, dan sebagainya dilakukan di rumah adat. Selain rumah adat, ada juga rumah untuk berkebun atau berladang,” ujar warga Rate Nggaro, Daud Milla Ate.

Kini, pemerintah telah memberikan rangsangan untuk melestarikan rumah adat, namun hampir mustahil bagi pemerintah untuk membiayai semua rumah adat. Tiada cara lain kecuali memperbaiki kualitas sumber daya manusia dan ekonomi, sehingga memiliki kekuatan melestarikan rumah adat.


Sumber : Sinar Harapan
Comments
1 Comments

1 komentar:

Anonim mengatakan...

semoga kerukunan di SBD yg menjadi cerminan nilai" Budaya lokal tetap terjaga untuk kelangsungan hidup yang harmonis

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD