Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Senin, 09 September 2013

Masyarakat di Perbatasan Balaghar - Gaura



Tulisan : Frans W. Hebi

DESA Karang Indah terletak di Kecamatan Kodi Balaghar setelah mekar dari Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Berbatasan dengan Desa Waitana, Kecamatan Kambu Karudi, Lamboya, Kabupaten Sumbba Barat. Desa Waitana terletak di Gaura yang mirip dengan dialek Lamboya. 
Desa Karang Indah kini berpenduduk 812 jiwa (222 KK), dengan keluasan 132 km2. Mata pencaharian penduduk umumnya bertani dan sebagian kecil nelayan tradisional.

Dulu zaman swapraja, Gaura, seperti halnya dengan Ede masuk wilayah Swapraja Kodi Bangedo. Kodi waktu itu terbagi dua swapraja, Kodi Bokjol dan Kodi Bangedo. Swapraja Kodi Bokol berturut-turut diperintah oleh Raja Rato Loghe Kandua dan Raja Dera Wulla. Swapraja Kodi Bangedo oleh Raja Rato Hemba dan Raja Rangga Kura. Sesudah itu Kodi bergabung jadi satu di bawah pemerintahan Raja H. R. Horo. Ede kini masuk wilayah Waijewa Selatan.

Pada masa Raja Rangga Kura dan Raja Dera Wulla terjadi pemisahan wilayah. Ede masuk Swapraja Rara/Tanamaringi dengan Raja Yosef Malo. Gaura masuk Swapraja Lamboya dengan Raja Eda Maga.

Alasan mendasar Gaura masuk wilayah Swapraja Lamboya, karena untuk ke ibu kota Swapraja Kodi Bangedo harus menyeberangi Sungai Polapare, sungai terbesar kedua setelah Sungai Kambaniru di Waingapu, Sumba Timur. Sungai Polapare sangat berbahaya waktu itu. Selain banjir pada musin hujan, juga banyak buaya yang seringkali menelan korban manusia. Alasan kedua, Gaura berbeda bahasa dengan Kodi, tapi ada kemiripan dialek dengan Lamboya. Sama halnya dengan Ede yang bergabung dengan Rara ada kesamaan dialek.

Pemisahan dan pengesahan perbatasan wilayah antara Kodi dengan Gaura menurut catatan Kristian D. Honggu yang mengutip cerita Dita Horo dan Martinus Maru Mahemba yang ikut dalam kegiatan itu, terjadi pada 15 Juli 1935 era pemerintahan kolonial Belanda. Kegiatan ini berentetan dengan penetapan tapal batas wilayah Kodi Bangedo dengan Ede, Kodi Karendi dengan Waijewa, Waimangura, Kodi Bukambero dengan Laura.

Team terdiri dari:

1. Kontorleur Rikerk, Kepala Pemerintahan Onderafdeling Sumba Barat, orang Belanda (Ketua).

2. Seorang Letnan Belanda (Anggota).

3. Dua Prajurit Indonesia (Anggota).

Rombongan terdiri dari:

Kodi Bokol: Raja Dera Wlla, Nawar Lota, Gheru Biri, Deta Tabu, Winyo Mali, Yingo Deta, Dita Horo.

Kodi Bangedo: Rehi Pati, Muda Mbayo, Loghe Wora, Radu Leko, Mone Tebe, Tari Loghe, dan Rangga Woleka.

Lamboya: Djewu Garra, Eda Bora, Matti, Kabba.

Gaura: Rato Boroko, Rato Horro, Winyo Kaboloho, dan Tende Rowa.

Pada hari itu, 15 Juli 1935, pertemuan yang mengambil tempat di Loko Beikawata yang nantinya menjadi tapal batas Swapraja Kodi Bangedo (kini Kecamatan Kodi Balaghar) dipimpin Rikerk dengan membentuk perwakilan dari Lamboya dan Kodi. Hebu Winyo Kaboloho, perwakilan Lamboya, dan Marthinus Maru Mahemba perwakilan Kodi.

Wakil Gaura/Lamboya menjelaskan, tapal batas wilayah mereka berada di Hangga Ropo, kira-kira 11 km melewati Loko Beikawata. Wakil Kodi membantah. Batas yang benar berada di Loko Beikawata tempat diadakan rapat. Berturut-turut dalam rangkaian setelah Loko Beikawata yang jadi tapal batas, Baraho Komdjaj (di sini seorang Komandan Tentara Belanda beristirahat di bawah pohon baraho), berikut Kanjelu, Parona Maghamba dan Rica.

Seandainya penjelasan Lamboya diterima, Hangga Ropo sebagai tapal batas, 8 kampung besar tempat tinggal masyarakat Karang (kini nama Desa Karang Indah) yang adalah bagian Kodi Bangedo (kini Kodi Balaghar) akan dimasukkan ke wilayah Lamboya. Atau paling tidak warga Karang yang berbahasa Kodi itu akan digusur ke seberang Sungai Polapare

Sebenarnya terdapat 14 kampung besar (parona) di wilayah Karang. Kini tinggal 8, yang lainnya sudah tenggelam ke laut ketika terjadi tzunami pada masa lalu yang tidak diketahui kapan. Hanya dalam cerita lisan turun-temurun dikisahkan tentang terjadinya tzunami, dan semua orang Kodi tahu ceritanya. Bahwa banyak orang Kodi yang lari ke Gunung Yawila di Waijewa. Hingga kini masih ada bekas perkampungan orang Kodi di Yawila yang disebut kampung Bondo Kodi.

Kampung-kampung yang tenggelam adalah, Lete Engge, Karendi, Tanungo, Ranggambaki, Wainyangga Deta, dan Waikanabu. Kampung-kampung ini masih dilihat bekas-bekas batu kubur kalau air laut lagi surut. Sedangkan kampung-kampung yang masih ada hingga kini, Hondi Anandara, Katikunjara, Bondopollo, Hondirara, Aliparona, Kalembu Haghogho, Radamara, dan Linja.

Kampung besar (parona) merupakan tempat persekutuan suku Kodi yang kini berpenduduk di atas 60.000 jiwa. Satu parona kurang lebih 15 rumah joglo (uma pangemba), dan satu rumah joglo dihuni 20 – 30 kk. Biasanya mereka tidak tinggal di parona, tetapi mereka menyebar dan membuat kampung kecil/dusun untuk berkebun. Yang menghuni rumah joglo cukup satu kk, dan biasanya yang sudah lanjut usia. Hanya kalau ada perhalatan seperti woleka, nale (tahun baru orang Kodi) semua anggota keluarga berkumpul.

Dalam peta tapal batas wilayah administratif Kecamatan Kodi dan Kecamatan Pembantu Kodi Bangedo seperti dikutip Kristian D. Honggu, mantan Penilik Kebudayaan Kecamatan Kodi, masih nampak jelas batas antara Gaura/Lamboya dengan Kodi Bangedo (kini Kodi Balaghar). Tapal batas itu masih seperti yang disepakati pada zaman Belanda yang melintasi, Loko Beikawata, Baraho Komdjaj, Kanjelu, Parona Maghamba, dan Rica. Dengan demikian sengketa perbatasan antara Desa Waitana dengan Desa Karang Indah sudah menyangkut batas wilayah kekuasaan yang melibatkan dua kabupaten, Sumba Barat dan SBD.

PADA tanggal 23 Maret 2013, hari Sabtu, terjadi tragedi kemanusiaan yang memprihatinkan. Sebagaimana biasanya tiap hari Sabtu, warga Desa Karang Indah, demikian juga warga RT Lamabaha (yang terkena musibah) pergi ke pasar Wai Ha, Desa Wai Ha sekitar 10 km dari lokasi. Satu-satunya pasar yang bisa dijangkau masyarakat terpencil ini secara rutin mereka datang berbelanja atau menjual hasil kebun guna menopang hidup. Karena pasar cukup jauh kebanyakan laki-laki yang ke sana. Yang menjaga rumah wanita dan anak-anak. Sebagian laki-laki bekerja di kebun dan ada juga yang bekerja di PT. Mitrayaga, 0.5 km dari lokasi.

Sekitar jam 0,9.00 pagi datang gerombolan, diperkirakan 20 orang laki-laki ke dusun Karang. Serta-merta mereka membakar 30 rumah induk dan 2 rumah dapur setelah menjarah barang-barang. Para wanita dan anak-anak hanya menagis, tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka berhamburan ke luar mencari tempat persembunyian. Sebenarnya ada anggota Brimob yang menjaga PT. Mitrayaga. Tapi rupanya mereka tidak tahu atau tidak melihat asap api raksasa yang mengepul ke udara.

Kepala Desa Karang Indah, Yonatan Pati Loghe mau melapor ke Polsek Walandimu, Kecamatan Kodi Bangedo karena di sini belum ada Pos Polisi. Tapi jauh dan lambat mendapat ojek sehingga lambat mendapat bantuan. Badan keamanan tiba di TKP, rumah-rumah sudah hangus. Demikian juga para pemilik rumah yang pulang dari pasar.

Tanggal 15 Mei 2013 terjadi lagi kebakaran di lokasi yang sama, rumah milik Raya Maru. Kejadiannya malam hari. Tidak diketahui apakah pelaku yang sama atau tidak. Menurut Bora Kandi (65), Ghadi Rangga (48) dan Petrus Dara Pitu (28) yang mengalami musibah pertama, sejak peristiwa itu hampir tiap malam ada gangguan di TKP. Disinyalir mereka pelaku yang sama.

Sumber yang sama juga mengungkapkan, para pelaku kebakaran pertama dikenal karena kejadiannya siang. Mereka berasal dari Desa Waitana, Gaura/Lamboya, Kecamatan Kambu Karudi, Kabupaten Sumba Barat. Di antaranya, Honga, Wawo, Leha Pati, Matti (sudah ditangkap), dll.

Kecuali Matti, para pelaku yang nama-namanya sudah diserahkan ke Polsek Walandimu, sampai hari ini belum ditangkap. Waktu itu alasan Pilgub. Kini Pilgub sudah usai, diharap aparat keamanan sudah bisa menjalankan tugas sehingga para korban masih punya pengharapan dan kepercayaan kepada badan keamanan.

Motif para pelaku belum diketahui dengan pasti. Menurut sumber yang sudah disebutkan, sejak lama ada kecemburuan sosial dari oknum-oknum warga Desa Waitana melihat mereka punya tanah luas dan punya hasil tanaman umur panjang yang cukup melimpah. Seringkali oknum-oknum Desa Waitana mengklaim wilayah itu milik mereka sampai batas Sungai Polapare tanpa mengindahkan tapal batas yang sudah ditetapkan dan disepakati sejak zaman Belanda hingga era kemerdekaan.

Kini ke-31 warga Desa Karang Indah hidup penuh tekanan di bawah tenda bantuan Depsos, SBD, berikut beras 44 kg, seng 50 lembar, semen 18 sak, per kk serta alat dapur bantuan PT. Mitrayaga. Beberapa waktu lalu Bupati SBD, Kornelis Kodi Mete memberikan santunan Rp 200.000 per kk untuk biaya alat-alat sekolah anak-anak mereka.

Semuanya ini jauh dari memadai. Bersama anak-isteri, anak-cucu hidup berhimpit di bawah tenda, makan seadanya, dengan pakaian lekat di badan tanpa diganti sejak musibah terjadi.

Inilah tragika manusia dalam menghadapi keterbatasan. Hidup terpencil jauh dari komunikasi, lagi pula hidup di daerah perbatasan yang rawan konflik. Hingga kisah kemanusiaan ini diturunkan (15-6-2013) mereka sungguh mengharapkan uluran tangan sesama yang punya rasa empati dan simpati.

Melihat situasi demikian, sudah sangat mendesak perlunya Pos Polisi di Desa Karang Indah (desa perbatasan) untuk mengantisipasi berulangnya tragedi di bulan Maret lalu.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD