Blogger Themes

Rabu, 14 Agustus 2013

Siprianus Muda Hondo, S.Fil : “SMAK St.Dominikus Tambolaka, Sebagai Respons Terhadap PP No. 55 Thn 2007’’

Siprianus Muda Hondo, S.Fil
Tambolaka – Siprianus Muda Hondo, S.Fil, ketika ditemui di sela – sela kesibukannya sebagai Kepala Seksi Bimas Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Barat Daya mengungkapkan bahwa kehadiran SMAK St. Dominikus- Tambolaka, merupakan buah dari diskusi kelompok guru agama.
 
Menurut Siprianus, SMAK St. Dominikus- Tambolaka yang diresmikan, Jumad,19 Juli 2013 oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Wetabula, Pater Mateus Selan, CSsR, terinspirasi dari produk hukum PP No. 55 Tahun 2007, khusus pasal 31-37 tentang penyelenggaraan pendidikan agama dan keagamaan. Melihat peluang ini, Seksi Bimas Katolik Kementerian Agama Kabupaten Sumba Barat Daya mengadakan pertemuan di Wisma Kolping Weetabula pada tangga 23-25 Agustus 2012 untuk membicarakan secara khusus Pendirian Lembaga Pendidikan Menengah Atas yang berciri khas katolik. Pertemuan ini dihadiri oleh para guru agama dari Dinas PPO dan guru Agama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Barat Daya. Hadir sebagai nara sumber dalam pertemuan tersebut adalah Kakanmenag Kabupaten Sumba Tengah Drs. Sarman Marselinus, Kakanmenag Sumba Barat Daya Drs Julius David Kalumbang, Rm. Marsel Pingge Lamunde selaku Ketua Badan Pengurus Yapnusda serta P. Drs. Emanuel Sangu, SVD, M. Ed sebagai Ketua Badan Pengurus Yayasan Santo Arnoldus Jannsen Tambolaka.

Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk membentuk Panitia Pelaksanaan Pendirian Sekolah Menengah Keagamaan Kekatoilk (SMAK) di kabupaten Sumba Barat Daya, yang diketuai oleh Drs.Julius David Kalumbang sebagai Kepala Kantor dan Sekretaris, Siprianus M. Hondo,S.Fil, selaku Kepala Seksi Bimas Katolik kantor Kementerian Agama Kab.Sumba Barat Daya.

Muda Hondo mengungkapkan, di Indonesia ini sudah ada 10 Sekolah Menengah Agama Katolik. dan di NTT hanya dua yaitu di Kabupaten Ende dan di Sumba Barat Daya. Menurutnya, untuk membangun SMAK ini, kita harus mempunyai persepsi yang sama dan membangun komitmen dengan baik dengan elemen-elemen terkait.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa di NTT sudah ada sekolah tinggi yang berciri khas Katolik (STIPAS,STIPAR,STIPAK). Maka harus ada sekolah pendukung di tingkat menengah, walaupun sekolah ini tidak dikhususkan untuk melanjutkan ke lembaga pendidikan tinggi yang bercirikan katolik, tuturnya.

Muda Hondo juga menjelaskan pentingnya kehadiran SMAK di Keuskupan Weetabula tepatnya di Kabupaten Sumba Barat Daya. Menurutnya, Keuskupan Weetebula terbagi atas 3 Dekenat yakni Dekenat Weetabula 14 Paroki,Dekenat Waikabubak 6 paroki dan Dekenat Waingapu 6 Paroki dengan total 24 wilayah Paroki, sesuai data tahun 2013. Bila dibandingkan dengan ketersediaan tenaga imam nampaknya tidak cukup. Karena itu ketersediaan fungsionaris pastoral terbaptis yang berkualitas dan profesional merupakan tuntutan yang tidak terelakkan demi perkembangan gereja di keuskupan Weetabula.

“Walaupun nanti tamatan SMAK bukan semata-mata untuk menjadi guru agama, tetapi pengetahuan agama yang mereka miliki menjadi modal untuk memberi kesaksian dan pencerahan kepada umat,’’ ungkap Alumni STFK Ledalero – Maumere mengakhiri keterangannya

Sumber: ntt.kemenag.go.id
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD