Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Selasa, 30 Juli 2013

Tengok Kelompok Usaha ini Produksi Tenun Ikat Motif nan Unik

Umbu Titus (kanan) menunjukkan salah satu produk tenun ikatnya

Rinjungu Pahamu adalah salah satu kelompok usaha tenun ikat asal Sumba, NTT, yang bisa memroduksi beragam tenun ikat dengan pola dan motif ‘unik’ sesuai pesanan.

Menghasilkan sebuah produk yang khas dan unik, dengan tetap mempertahankan nilai adat-istiadat dan tradisi, memang bukan perkara mudah. Apalagi, bahan yang digunakan pun adalah bahan ramah lingkungan yang harus diolah sendiri dari alam. Maka tidak heran, produk yang dihasilkan pun bernilai jual tinggi. Inilah yang tengah digeluti oleh kelompok usaha tenun ikat “Rinjungu Pahamu” asal Kelurahan Lambanapu, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, NTT.

Sebagaimana diketahui, tenun ikat Sumba Timur sudah cukup tersohor ke berbagai belahan dunia. Selain masih menggunakan bahan alami, proses pembuatannya pun memakan waktu lama (berbulan-bulan). Pasalnya, pembuatannya harus melibatkan jiwa sepenuhnya, bahkan di beberapa wilayah tertentu harus didahului dengan ritual adat untuk mencari dan menentukan bahan pewarna juga motif yang akan digunakan.

Inilah yang kemudian dapat menghasilkan beragam tenun ikat yang didesain  unik, dan penuh dengan simbol-simbol yang bermakna sosial kemasyarakatan juga keagamaan. Seperti Patola Ratu, Patola India, Patola Bunga, Patola Kamba, Patola Gajah, motif Yesus, dan lainnya. Dan biasanya tenun ikat tersebut digunakan sebagai pakaian adat, belis, membungkus jenazah dan lain sebagainya.

tenun ikat
Salah satu tenun ikat yang terbuat dari kapas (100% bahan alami)

Hingga kini, kebiasaan menenun yang sudah turun-temurun tersebut masih dilakukan di berbagai wilayah di Sumba Timur. Beberapa kampung yang menjadi sentra tenun ikat, antaralain Lambanapu, Mauliru, Pau, Praiyawang, Watu Hadang dan Kaliuda.

Dan hasil tenunan tersebut tidak saja digunakan dalam kegiatan adat, tapi juga sudah diperjual-belikan secara bebas di pasar-pasar, sebagai tambahan penghasilan masyarakat yang mayoritas adalah petani dan peternak.

Ketua Kelompok Rinjungu Pahamu, Titus Nggaba Karanggu Limu, saat ditemui di acara pameran Kampoeng BNI Nusantara 2013 di Jakarta Convention Center (JCC) menuturkan, jika dulu, pekerjaan utamanya adalah sebagai petani, maka kini, bertani adalah pekerjaan sampingan.

“Sekarang banyak pengrajin di Sumba yang lebih mengutamakan pekerjaan menenun daripada bertani. Belakangan ini penghasilan memang lebih banyak yang didapat dari menenun,” terang Titus.

Umbu Titus (umbu: sapaan lelaki Sumba) sudah sejak remaja dikenali pekerjaan menenun. Namun dia baru serius terlibat di sini pada sekitar 1990-an. Tahun 2008, Titus bersama 20 penenun lainnya pernah memecahkan rekor dunia MURI dengan menenun kain tenun ikat sepanjang 50 meter yang dikerjakan selama 6 bulan. Titus kemudian membentuk sebuah kelompok usaha yang belakangan diberi nama, “Rinjungu Pahamu” yang berarti ingin berubah menjadi lebih baik. Usaha ini pun terus berkembang seiring dengan perhatian pemerintah dan instansi terkait akan usaha yang dijalankan tersebut.

Baru pada pertengahan 2013 ini, kelompok usaha tersebut kemudian dihimpun oleh Bank Negara Indonesia (BNI) sebagai usaha binaannya. Rinjungu Pahamu juga mendapatkan aliran modal pinjaman untuk mengembangkan usahanya tersebut. Seiring dengan itu, kelompok yang beranggotakan 6 orang tersebut terus berkembang dengan berbagai produknya yang didesain unik.

“Selalu ada karya-karya baru yang kami tampilkan melalui tenun ikat ini. Ada beberapa motif desain khusus yang belum bisa dijangkau oleh pengrajin lain, sudah bisa kami hadirkan. Dan inilah yang membedakan produk usaha kami dengan lainnya,” terang dia.

Adapun produk-produk tersebut antaralain berupa selimut; selendang, dan sarung; serta tenun ikat yang seluruhnya terbuat dari bahan kapas. Produk ini tersedia dalam berbagai pola, motif, ukuran dan warna yang berbeda-beda. Dan kemudian, kain-kain ini bisa dijadikan sebagai bahan untuk pakaian, ataupun hiasan dinding.

Unik dan Tak Mudah Ditiru
tenun ikat

Beberapa Produk Tenun Ikat khas Sumba Timur yang diproduksi oleh Rinjungu Pahamu
Disadari, persaingan antar para pengrajin pun cukup kompetitif. Untuk itu, setiap kelompok terus berusaha untuk memroduksi beragai produk yang unik dan memiliki ciri sendiri, serta tak mudah untuk ditiru.

Rinjungu Pahamu meletakkan Titus sebagai nahkoda dalam berbagai hal, termasuk menentukan pola dan mendesain motif-motif yang sekiranya masih sulit dilakukan oleh pengrajian lainnya. Bahkan, Titus pun bisa mengerjakan pesanan motif dari pelanggan, seperti gambar/wajah sebuah keluarga, hewan, simbol-simbol adat, dan lainnya.

“Motif yang umum di Sumba adalah berupa hewan dan tumbuhan. Kami juga memroduksi motif ini, tapi ada beberapa yang khusus, seperti malam perjamuan terakhir Yesus, ataupun motif pesanan,” jelas Titus.

Adapun proses pembuatannya, sebut Titus membutuhkan waktu yang cukup lama, dan dengan ketelitian yang tinggi. Untuk ini, pekerja harus sabar, telaten dan ulet untuk menyelesaikan sebuah produk tenunan. Ukuran tenun bisa disesuaikan dengan pesanan. Tapi pada umumnya antaralain 3m x 1,2m, 2m x 1m, dan ada juga yang luas 2,5m, 2,8m, dan lainnya.

“Kain seperti ini bisa kami hasilkan antara 4-6 bulan, dan kurun waktu tersebut bisa kami hasilkan lima hingga belasan lembar tenunan,” terang Titus.
Sementara bahan yang digunakan adalah benang yang dibeli di toko namun pewarnanya menggunakan pewarna alami. Bahan pewarna tersebut, seperti mengkudu untuk menghasilkan warna merah, atau sari nila untuk warna biru.

Namun, ada juga jenis kain tenun ikat yang seluruhnya terbuat dari bahan alami, yakni dari kapas. Dari kapas kemudian dipintal/diuntai sendiri jadi benang dan baru kemudian ditenun menjadi lembaran kain. Tenunan seperti ini memakan waktu pengerjaan hingga 1 tahun lebih, dan itupun hanya bisa mendapatkan 2-3 lembar saja dengan ukuran sekitar 3m x 1,2m.

“Tidak semua pekerja bisa menenun menggunakan bahan kapas, sebab ini membutuhkan waktu dan ketelitian serta perhatian lebih. Jarang pengrajin mendapatkan hasil yang sempurna, karena dengan bahan kapas, pengerjaan lebih sulit,” ungkapnya.

Meski hasil tenunan dari kapas terlihat lebih kasar dan tebal, namun harganya jauh lebih mahal dari tenunan lainnya. Jika tenun ikat pada umumnya dihargai sekitar Rp 1-Rp5 juta lebih, maka tenun ikat kapas dijual mulai Rp 10an juta ke atas. Apalagi yang memiliki pola dan motif yang lebih rumit, seperti tenunan yang warna dasarnya merah dengan motif bunga-bunga (tumbuhan) kecil.

“Dari keseluruhan tenunan, yang paling sulit adalah tenunan dengan motif Patola asal India, Patola Bunga, Patola Kamba, Patola Gajah, dan Patola Ratu, serta tenunan yang warna dasarnya adalah putih dan merah,” sebutnya.

Kurun waktu pengerjaan sekitar 4-6 bulan, kelompok usaha ini bisa menghasilkan sebanyak 10-20an lembar tenun ikat. Ini belum termasuk tenun ikat yang berukuran kecil, seperti selendang, atau sarung, dan lainnya.

Kini, Umbu Titus semakin optimis akan usaha yang ia jalankan tersebut. Ini lantaran semakin besar pula perhatian dari berbagai pihak, terutama BNI yang telah memberikan pinjaman modal dan memfasilitasi kegiatan pameran.

Bahkan, dengan berbagai motif yang unik seperti lukisan wajah Yesus atau publik figur lainnya, tenun ikat Umbu Titus ini berhasil menarik perhatian pembeli dari luar daerah, bahkan luar negeri.

tenun ikat
Umbu Titus sedang melayani pengunjung di stand pamerannya

“Ada orang Barat yang langsung ke Sumba untuk membeli produk kami ini. Ada juga orang Jepang yang pernah memesan motif gambar tertentu yang sudah saya kerjakan juga,” ujarnya.

Selain di Sumba dan NTT, Rinjungu Pahamu juga memasarkan tenun ikatnya ke beberapa daerah lain, seperti salah satunya adalah ke beberapa toko di Bali. Dari sini, penghasilannya pun terus bertambah hingga menyentuh belasan juta rupiah per bulan, meski tidak menentu.

“Kadang dalam 1-2 bulan tidak ada pemasukan, tapi bulan berikutnya bisa sampai Rp 10an juta,” ceritanya. [Pius Klobor]


Sumber: indotrading.com
Comments
1 Comments

1 komentar:

Rambu U Joka-Pura Woha mengatakan...

Maju terus Tenun Ikat Sumba Timur..salah satu warisan budaya bangsa yang tidak ternilai harganya...semoga kedepannya bisa disiapkan generasi penerus sehingga keindahan Tenun dan kualitas Tenun Ikat yang khas bisa tetap terjaga serta bisa dimodifikasi ke bentuk lain dengan harga yang lebih terjangkau....Proviciat untuk BNI yang terus mendukung kelestarian Budaya Bangsa....

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD