Blogger Themes

Minggu, 21 Juli 2013

Pastor Yang Setia Menjaga Budaya Sumba

P. Robert Ramone CSsR

LANGIT sudah gelap saat mobil penumpang yang digunakan rombongan trip budaya dari perusahaan Gelar memasuki jalur masuk Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba di Weetebula, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), beberapa waktu lalu.

Pelataran berlantai batu dengan selingan rumput nan elok terhampar sebagai penyambut. Di dua sisi pelataran, menjulang dua bangunan berarsitektur tradisional Sumba yang saling berhadapan.

Persis di pusat pelataran terpasang huruf C pada lantainya. “Itu dari bahasa Latin, cor, artinya ‘hati’,” jelas Pastor Robert Ramone CSsR (50), pendiri Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba.

Dalam tradisi Sumba, pada posisi huruf C itu berdiri pohon yang menandakan sahnya kampung. “C itu bisa berarti center, culture. Cobalah Anda berdiri persis di situ sambil menghadap depan (jalur masuk kendaraan). Kita harapkan semua yang datang membawa cinta, pergi, lalu datang lagi juga dengan membawa cinta,” kata Robert dengan ramah.

Di salah satu kamar pada satu dari dua rumah yang berhadapan itu, Robert tinggal. Bangunan di seberangnya difungsikan sebagai museum yang berisi berbagai peninggalan tradisi Sumba, berupa totem, menhir, perhiasan, peralatan masak, dan seterusnya, termasuk foto-foto alam dan ritual Sumba karya Robert, yang dikenal pula sebagai fotografer.

Bangunan satu lagi, selain kamar tempat Robert tinggal dan bekerja, difungsikan sebagai ruang bertemu. Tataannya tak beda jauh dari ruang tamu dan ruang makan sebuah rumah tinggal. Di situlah rombongan trip disuguhi makan malam dan bersantai sembari berbincang-bincang dengan Robert.

Prihatin

Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba dibuka pada 22 Oktober 2011. Selain museum, berbagai kegiatan juga dihelat di sana. “Pada tanggal 10 setiap bulan, kami gelar pementasan seni atau diskusi tentang budaya, supaya orang mencintai budaya sendiri,” jelas Robert.

Budaya Sumba, tambah Robert, tidak terlepas dari Marapu, kepercayaan asli warga setempat yang mengagungkan arwah leluhur. Kepercayaan itu di antaranya masih bisa dilihat dari penempatan kuburan batu di muka rumah sebagai penghormatan kepada leluhur, juga beberapa ritual seperti ‘membaca’ petunjuk dari hati ayam atau babi yang dilakukan pemuka Marapu guna menyelesaikan konflik.  “Marapu memengaruhi segala sisi dan nilai kehidupan masyarakat Sumba,” tegas Robert.

Robert lalu berkisah. Beberapa waktu silam, di Sumba Selatan, masyarakat mendirikan rumah-rumah kampung yang difungsikan sebagai penginapan buat pelancong. Robert ingat, pengunjung memang berdatangan. “Tidak sampai setengah tahun, itu dibongkar sama aparat keamanan, kongkalikong dengan yang modal besar,” ucapnya.

Inti persoalan pariwisata di Sumba, kata Robert, ialah, “Orangnya, pemimpinnya.” Pariwisata, menurut dia, jika dikelola dengan tepat apalagi tanpa birokrasi, idealnya semua akan berujung pada kesejahteraan rakyat.

Anggaran pariwisata dari pemerintah, sepengetahuan Robert yang setahun lalu ditunjuk sebagai Ketua Forum Pariwisata, sebenarnya ada. “Rp 800 ratus juta itu untuk jalan setapak, tiang listrik. Orang tidak tahu menggunakan uang. Orang simpan saja itu uang, lalu diberikan kembali ke pemerintah,” kata Robert.

Lantas Robert berandai-andai. “Kalau saya jadi kepala dinas (pariwisata), saya akan undang itu fotografer seluruh dunia. Foto-foto Sumba supaya beredar di seluruh dunia, juga ditulis koran,” ucapnya.

P Robert Ramone CSsR saat menerima Trofi dan penghargaan dari Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan Republik Indonesia kategori pelestari budaya, 2011
Biodata:

Nama                    :  P Robert Ramone CSsR

TTL                       : Sumba Barat Daya, 29 Agustus 1962

Kegiatan                : –Menggagas dan mendirikan Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba –Berkecimpung dalam dunia fotografi selama 20 tahun, termasuk mengadakan beberapa pameran foto di Jakarta, Denpasar, Kupang, dan Sumba

                                –Menerbitkan buku Sumba, Forgotten Island

Penghargaan           : –Trofi dan penghargaan dari Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan Republik Indonesia kategori pelestari budaya, 2011

                                –NTT Academia Award 2010, pelestarian budaya lewat fotografi

                               –Trofi dari La Tofi School of Corporate Social Responsibility bidang pelestari budaya.





Sumber:  victorynews-media.com
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD