Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Sabtu, 27 Juli 2013

Baktikan Diri untuk Koperasi NTT

Drs. Petrus Umbu
Setia dan tekun terhadap sebuah panggilan hidup bukanlah perjalanan yang mudah. Menjadi bijak karena pengalaman yang matang dalam membina masyarakat merupakan simbol betapa seseorang menghargai hakekatnya sebagai pengemban misi dari sang pencipta. 


Memanfaatkan anugrah yang ia peroleh lewat hati yang terasah dan intelektualitas agar orang lain pun merasakan harapan hidup yang lebih baik merupakan bagian dari panggilan jiwa. Demikianlah gambaran kehidupan yang begitu melekat dalam diri Petrus Umbu. Salah satu tokoh koperasi NTT ini nyaris tak terkenal seperti halnya anggota DPR lain.

Namun, ketekunannya membina masyarakat menuju sejahtera lewat koperasi tak layak untuk diragukan. Sejak tahun 80-an, Petrus sudah terjun ke bidang perkoperasian usai menamatkan kuliahnya.

Ia merasa terpanggil dengan semangat koperasi untuk menyentuh cara hidup masyarakat kecil yang sederhana namun mampu hidup lebih baik dalam prinsip kebersamaan koperasi. Lahir dari keluarga sederhana memampukan Petrus mengalamai bagaimana mulai berproses dari titik nol untuk meraih hidup yang lebih baik.

Hingga saat ini, Petrus tercatat telah menggagas, memfasilitasi, dan menjadi penasehat untuk lebih dari 100 koperasi di berbagai daerah di NTT termasuk puluhan KUD yang ia bina melalui PUSKUD NTT. Sebagai salah satu pengurus PUSKUD NTT dan Ketua Dewan Koperasi Indonesia Wilayah NTT, Petrus mengakui banyak kemajuan di bidang perkoperasian termasuk di NTT.

Petrus mengaku dari 137 koperasi unit desa (KUD) yang tersebar di 21 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur yang dibentuk pemerintah di orde baru hanya sekitar 40 persen KUD yang aktif. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor misalnya kemampuan sumber daya manusia yang terbatas, minimnya modal koperasi, ketimpangan manajemen, dan pemasaran. 

Setelah orde baru, menurutnya saat ini koperasi bisa dibentuk dengan lebih mudah oleh minimal 20 orang yang mau bekerjasama membuka koperasi sehingga banyak koperasi baru mulai bertumbuh dan KUD mulai merosot seiring berkembangnya kebijakan baru tentang perkoperasian.
“Kalau dulu orang hanya kenal koperasi desa, makanya semua ramai-ramai bergabung di KUD, tapi sekarang 20 orang saja sudah bisa bentuk koperasi baru jadi KUD mulai hilang pamor sehingga KUD hanya sedikit saja yang aktif,” katanya.

Pembentukan koperasi yang lebih modern bukanlah sebuah keniscayaan namun ia mengatakan pemerintah perlu melakukan revitalisasi KUD secara serius lewat membangun kembali kesadaran masyarakat untuk berkoperasi karena KUD memiliki aset baik fasilitas maupun permodalan yang masih bisa dibangun kembali.

Puskud NTT masih terus berjuang memberikan kesempatan kepada masyarakat di pedesaan untuk bisa mendapatkan kesejahteraan melalui pembentukan koperasi di desa.

Sejak tahun 2003, pihaknya mulai memfasilitasi pembentukan koperasi ternak (kopnak) di daratan Timor yang melingkupi wilayah Kupang sampai Atambua. Manajemen Kopnak tidak jauh berbeda dengan koperasi unit desa (KUD), tetapi nama KUD sengaja tidak dipakai lagi karena selain kopnak merupakan koperasi baru, masyarakat rupanya tidak terlalu merasa nyaman dengan nama KUD.

"Mereka agak trauma dengan sebutan KUD di masa orde baru, sehingga kami benar-benar membentuk koperasi baru dengan nama yang berbeda," katanya.

Ia menjelaskan saat ini ada 46 kopnak yang menjadi anggota puskud dengan jumlah anggota lebih dari 3.000 kepala keluarga. Pembagian keuntungan penjualan ternak yang difasilitasi puskud NTT yang disepakati antara petani dan puskud adalah 70 % untuk petani dan 30% untuk biaya operasional puskud NTT.

Sampai dengan Juni tahun ini, lanjut Petrus dana hasil peternakan yang dinikmati peternak di pulau Timor mencapai Rp 35 miliar.

Puskud NTT memberikan bibit ternak, biaya perawatan termasuk obat-obatan sedangkan para peternak murni memelihara memberikan makan sehingga setelah satu tahun sudah bisa mendapatkan hasilnya. Puskud NTT juga memiliki 15 petugas pendamping lapangan dan satu orang dokter hewan untuk membantu para peternak jika mengalami kesulitan.
Dalam penjualan hasil ternak, puskud NTT juga melibatkan peternak sehingga hasilnya transparan.

Petrus menjelaskan perkembangan koperasi kredit di NTT terbilang maju pesat tinggal membina koperasi lain seperti koperasi konsumsi, koperasi jasa, dan koperasi produksi seperti kerja KUD yang mengumpulkan hasil produksi pertanian dan peternakan dari anggota.

Ia mengatakan untuk koperasi konsumsi, sudah ada 6 coopmart yakni 4 di Kupang, 1 di Flotim dan 1 di Nagekeo. Ia berharapa ke depan setiap kabupaten bisa memiliki satu coopmart agar bisa menjadi supplier bagi koperasi di daerah dalam membantu memenuhi kebutuhan harian anggota koperasi.

"Ada 3 provinsi yang terapkan coopmart. Di Aceh, NTT, dan NTB. Namun NTT paling pesat perkembangannya dan jadi contoh untuk provinsi lain," ujarnya.

Meskipun KUD tidak dibubarkan namun potensi KUD sebagai koperasi produksi perlu direvitalisasi semaksimal mungkin. Pemerintah di tingkat provinsi hingga kabupaten harus memiliki komitmen yang sama membangun koperasi yang baik dan berkualitas. Tidak hanya meresmikan sebanyak-banyak koperasi tanpa memikirkan manfaat dan kualitasnya.

Masyarakat juga diharapkan lebih bijak agar pembentukan koperasi didasarkan pada pemahaman yang baik akan koperasi dan tidak asal membentuk untuk mendapatkan kucuran dana dari pemerintah atau pihak swasta.

Petrus mengatakan pembinaan bagi koperasi merupakan pembinaan terhadap manusia yang memegang kenadali dari modal dan manajemen koperasi karena itu penempatan pegawai pengawas dan pembina khususnya di Dinas Koperasi dan UMKM pun harus diperhatikan agar pembinaannya bisa berkelanjutan dan tidak terputus bahkan mengalami penurunan akibat pergantian pegawai yang tidak paham soal koperasi.

Terkait pro kontra akan Undang-Undang Koperasi Nomor 17 Tahun 2013 menurutnya memang terjadi namun banyak sosialisasi yang sudah dilakukan hingga 3 tahun mendatang sebelum UU ini benar-benar diterapkan.

"Masih ada 10 PP dan 5 kepmen yang masih akan dibuat dengan penjabaran yang sesuai. Koperasi diberi kesempatan untuk memberikan saran. Lagipula UU ini sudah disiapkan 10 tahun sebelum disahkan. Ada banyak pertimbangan. Kita tinggal sesuaikan saja," ungkapnya.

Dalam rutinitasnya sebagai pembina, pengawas, dan penggagas pembentukan koperasi ia menyadari bahwa koperasi bukanlah satu-satunya solusi bagi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meskipun demikian, ia menilai meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berkoperasi mampu menyatukan dan mendukung masyarakat satu dengan yang lain dalam payung hukum yang terkendali sistem agar dapat membangun prinsip saling membantu antar sesama anggota. Bila koperasi dibentuk melalui kesadaran dan pemahaman yang baik akan manfaat koperasi bagi anggota didukung dengan SDM yang berkualitas, sistem dan manajemen yang teratur akan memberikan kontribusi dan pengaruh dalam kemajuan sebuah koperasi. Tujuan koperasi untuk mensejahterakan anggotanya agara menjadi anggota yang produktif juga bisa tercapai.
 
Mari membangun masyarakat sejahtera lewat koperasi.(Verly R. Yaku)

BIODATA
Nama   : Drs. Petrus Umbu
TTL.    : Kalembuweri/Sumba, 1 Juni 1953
Pendidikan : Sarjana Ekonomi Universitas Gajah Mada Yogyakarta
Pekerjaan : Pengurus Pusat Koperasi Unit Desa (PUSKUD) NTT dan Ketua Dewan Koperasi Indonesia Wilayah NTT
Istri : Maria Bernadethe Tukan
Anak : dr. Theofila Yulia Tamo Ina
         drh. Emilius Meliano Umbu Raza
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD