Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Rabu, 19 Juni 2013

Sumba, Pulau Unik

Sumba dikenal sebagai Pulau Cendana karena menghasilkan cendana dan gaharu terbesar. Namun, akhir-akhir ini jenis kayu-kayu itu sudah mulai punah.


Bersama Flores dan Timor, Sumba termasuk Provinsi Nusa Teng­gara Timur (NTT). Sumba merupakan pulau paling selatan dalam gugusan kepulauan di NTT itu.

Luas Pulau Sumba sekitar 11.400 km2 dan dihuni oleh kurang lebih 611.000 orang. Dengan luas pulau seperti itu, Sumba kemudian dibagi menjadi empat kabupaten agar pelayanan pemerintahan semakin optimal. Sebagian besar penduduk (bisa mencapai 70%) berada di bawah garis kemiskinan.

Sebagian besar pulau ini berupa pegunungan bebatuan kapur, tandus, dan gersang. Keadaan tanah macam ini, apalagi dengan curah hujan yang sangat minum, membuat masyarakat hidup bertani dengan sistem ladang.

Di samping bertani, umumnya masyarakat juga suka beternak. Sumba dikenal sebagai penghasil kuda, kerbau dan sapi. Kuda sandlewood adalah jenis kuda dari Pulau Sumba.

Alat perdagangan
Kita tidak punya bukti sejarah yang otentik dari mana sebenarnya asal orang Sumba. Menurut teori umum, Sumba sudah mulai dikenal publik sejak Abad III SM karena adanya penemuan guci-guci, periuk, pahat-pahat batu bersegi empat panjang di Melolo dan sekitarnya yang merupakan alat-alat perdagangan dan gambaran tentang peradaban pada abad itu.

Guci dipakai untuk menyimpan tulang-belulang, mirip gambaran tentang orang Cina dengan kebudayaan Tao? Apalagi ada peninggalan di kubur-kubur di Sumba Timur dengan situs purbakala yang membuat kubur berbentuk dolmen (dengan kepala naga atau singa?) di mana kubur itu dibuat semacam tenda dengan empat tiang batu. Di dalam kubur itu tersimpan periuk yang berisikan tulang-belulang.

Ada teori lain yang mengemuka. Orang Sumba berasal dari Jawa yang sudah terpengaruh agama Hindu masuk ke Sumba (lewat Bima atau dari Bima sendiri) pada abad V atau VI.

Yang jelas, Sumba dan orang Sumba sudah mulai dikenal di pentas dunia pada abad XIV-XV karena kayu cendana dan kuda sandle­wood-nya. Sejak dikenal dengan dua komoditas ini, Sumba masuk dalam jalur tata perniagaan dunia zaman dulu sehingga orang Portugis dan orang Inggris sampai ke Sumba. Mereka disebut Tau Marenggi. Nama lain mereka adalah Tau Marihu karena me­reka berasal dari Pulau Mauritius. Mereka membeli kuda atau kayu dengan poundsterling atau dengan pedang, gading, manik-manik, pisau, parang, piring, dsb.

Beberapa keunikan Sumba: tiap suku mempunyai bahasanya sendiri, mempunyai kepercayaan Marapu (yakni, penyembahan kepada Tuhan lewat arwah para leluhur). Tidak ada ke­kuasaan yang sentral melainkan raja-raja ke­cil (suku) berkuasa atas sukunya. Masalah sosial yang sering terjadi adalah pencurian, pe­rang antarsuku dan judi.

Misi Gereja
Tahun 1881, ketika kontrolir dipegang oleh A. Mellink, Sumba berkenalan dengan pe­nginjilan Protestan yang mengutus J.J. van Alphen di bawah payung De Nederlandsche Ge­reformeerde Zendingsvereenniging (NGZV), yang merupakan cikal bakal GKS.

Dalam catatan sejarah, rupanya Sumba sudah berkenalan lebih dulu dengan Gereja Katolik. Pastor Miguel Rangel OP mengadakan kunjungan pada 1614-1618. Tahun 1633, ia diangkat menjadi uskup di Cochin, India Selatan. Dalam sebuah laporannya, ia menulis tentang Stasi Sumba (dengan nama Iumba). Kemungkinan besar Iumba itu Sumba, karena dalam catatan kaki Mgr Visser menyebut Iumba sebagai Sumba.

Ikhtiar untuk membuka misi di Sumba dicetuskan oleh Mgr Claessens, Vikaris Apostolik Batavia yang pada 20 Januari 1878 me­minta Pemerintah Belanda agar mengizinkan pembukaan misi di Sumba. Sepuluh tahun kemudian, permintaan itu diizinkan de­ngan besluit GG No III tertanggal 17 Juli 1888.

Pada 21 April 1889, mendaratlah Pastor Bernhard Schweitz SJ dan Bruder Wilhem Busch SJ di Sumba (Memboro). Mereka me­mulai misinya di Pakamandara, yang sekarang menjadi tempat ziarah. Tanggal inilah yang dipakai sampai sekarang sebagai tanggal berdirinya Gereja Katolik di Sumba.

Pembukaan misi baru dilakukan dengan mendirikan dan mengunjungi stasi-stasi, mendirikan sekolah-sekolah, mengajar beternak. Sebelumnya, Bruder Busch bertugas di Koting (Maumere). Dia juga membawa be­berapa pemuda Flores dari pertukangannya untuk membangun di Sumba. Kemudian, misi ini dibantu oleh Pastor Arnold J.H. van den Velden (17 Juni 1893), Pastor W.J.H. Mulder (Oktober 1894), dan Pastor Eduardus Engbers (teman Van Lith) (November 1896).

Sepuluh tahun kemudian, para misionaris Ye­suit ini angkat kaki dari Sumba karena mengalami kesulitan-kesulitan dalam pewartaan, dan Yesuit mau berkonsentrasi pada pe­nginjilan di Jawa. Kesulitan-kesulitannya adalah hubungan dengan dunia luar sangat terbatas (laut ganas sehingga tidak ada kapal yang berani berlayar begitu saja ke Sumba), transportasi di Sumba cukup sulit (hanya de­ngan kuda), rumah pastoran yang sangat se­derhana (rumah alang-alang), bahasa (tiap suku mempunyai bahasa sendiri), poligami, kepercayaan Marapu, iklim yang terlalu panas, pastoran di Pakamandara dibakar atau terbakar, serta pencurian.

Menurut laporan Pastor Schweitz ke Roma (1893), ia telah membaptis 800 orang, namun laporannya ke uskup ia catat 700 orang. Tahun 1895, Pastor V.d. Velden mencatat ada 926 orang Katolik dan 100 orang se­dang mengikuti pelajaran agama. Pada 29 November 1898, Sumba ditinggalkan oleh Se­rikat Yesus. Dari sinilah terbetik berita tentang Serikat Yesus yang kebas kaki, sebagai bentuk kutuk terhadap Sumba.

Setelah kepergian para Yesuit, Sumba tidak mendapat pelayanan rohani. Atas usaha Pastor Piet Noyen SVD, Sumba boleh mendapat pelayanan rohani secara rutin yang dilayani dari Flores. Pelayanan rutin itu terlaksana sejak tahun 1921. Tahun 1929, Gubernur Jenderal memberi izin untuk misionaris tinggal di Sumba demi pelayanan rohani. Tahun itu, Pastor Heinrich Limbrock SVD menetap di Sumba dan memulai pelayanan rohaninya. Sejak itu, mulailah pelayanan misi di Sumba oleh para imam SVD.

Pelayanan rohani itu ditopang pula oleh pe­layanan sosial, khususnya dengan membangun persekolahan, pertukangan, dan pertanian. Nama-nama misionaris SVD seperti Pastor de Rechter, Pastor de Zwart, Pastor Me­zenberg, Pastor Wolter, Pastor van Vessem, Pastor Krol, Pastor Kale Bale, Pastor Donkers, Pastor van Stokkum, Pastor Kühne, dan Bruder Arnold selalu ada dalam kenangan umat di Sumba sampai sekarang.

Makin banyak
Karena tuaian makin banyak dan medan pe­layanan yang luas, dibutuhkan tenaga-tenaga misionaris yang baru. Sementara itu, SVD sedang memusatkan perhatian pada misinya di Flores dan Timor yang juga berkembang sangat pesat. Pencarian tenaga baru sebenarnya sudah dimulai pada 1948. Akhirnya, tahun 1957, pelayanan rohani di Pulau Sumba dan Sumbawa diserahkan kepada Re­demptoris (CSsR).

Pada 16 Januari 1957, datanglah lima misionaris dan disusul oleh lima misionaris lagi pada 16 Mei 1957. Tenaga misionaris yang baru ini meneruskan seluruh pelayanan rohani yang telah ditinggalkan oleh misionaris SVD.

Seiring waktu dan umat yang terus berkembang, pada 20 Oktober 1959 Dekanat Sumba-Sumbawa ditingkatkan status gerejaninya menjadi Prefektur Apostolik dan Mgr G. Le­geland CSsR diangkat sebagai Prefek. Se­puluh tahun kemudian, tepatnya 6 Februari 1969, status itu ditingkatkan lagi menjadi ke­uskupan dan Pastor W. Wagener CSsR ditunjuk sebagai Administrator Apostolik.

Peningkaan yang sama juga terjadi dalam tubuh Redemptoris. Pada 28 November 1960, daerah misi di Sumba ditingkatkan menjadi Viceprovinsi sendiri dan berhak mengatur dirinya sendiri tanpa tergantung pada provinsi induk di Köln. Pada 1 Agustus 2002, status Viceprovinsi ditingkatkan menjadi Provinsi dan mempunyai hak otonomi untuk mengurus dirinya sendiri.

Peningkatan status keuskupan dan status provinsi tentu berimplikasi terhadap pelayanan rohani. Gereja berusaha memajukan ke­hidupan iman umat dan memberi pendalaman iman karena umat Katolik Sumba adalah umat yang masih baru. Kemajuan itu terlihat dari jumlah umat yang terus meningkat. Saat ini, jumlah umat Katolik 130.000 orang.

Mungkin yang harus diperhatikan saat ini adalah pelayanan di bidang kategorial. Yakni, pendampingan para petani, nelayan, pe­ternak, dan pendidikan. Sudah saatnya kita memberi para imam tidak hanya melayani meja altar pada hari Minggu, melainkan juga meja altar kehidupan umat sehari-hari, yakni dalam pekerjaan rutinnya di ladang, di padang, di pantai, dan di sekolah.
Sumber: hidupkatolik.com
Sumba dikenal sebagai Pulau Cendana karena menghasilkan cendana dan gaharu terbesar. Namun, akhir-akhir ini jenis kayu-kayu itu sudah mulai punah.

Bersama Flores dan Timor, Sumba termasuk Provinsi Nusa Teng­gara Timur (NTT). Sumba merupakan pulau paling selatan dalam gugusan kepulauan di NTT itu.

Luas Pulau Sumba sekitar 11.400 km2 dan dihuni oleh kurang lebih 611.000 orang. Dengan luas pulau seperti itu, Sumba kemudian dibagi menjadi empat kabupaten agar pelayanan pemerintahan semakin optimal. Sebagian besar penduduk (bisa mencapai 70%) berada di bawah garis kemiskinan.

Sebagian besar pulau ini berupa pegunungan bebatuan kapur, tandus, dan gersang. Keadaan tanah macam ini, apalagi dengan curah hujan yang sangat minum, membuat masyarakat hidup bertani dengan sistem ladang.

Di samping bertani, umumnya masyarakat juga suka beternak. Sumba dikenal sebagai penghasil kuda, kerbau dan sapi. Kuda sandlewood adalah jenis kuda dari Pulau Sumba.

Alat perdagangan
Kita tidak punya bukti sejarah yang otentik dari mana sebenarnya asal orang Sumba. Menurut teori umum, Sumba sudah mulai dikenal publik sejak Abad III SM karena adanya penemuan guci-guci, periuk, pahat-pahat batu bersegi empat panjang di Melolo dan sekitarnya yang merupakan alat-alat perdagangan dan gambaran tentang peradaban pada abad itu.

Guci dipakai untuk menyimpan tulang-belulang, mirip gambaran tentang orang Cina dengan kebudayaan Tao? Apalagi ada peninggalan di kubur-kubur di Sumba Timur dengan situs purbakala yang membuat kubur berbentuk dolmen (dengan kepala naga atau singa?) di mana kubur itu dibuat semacam tenda dengan empat tiang batu. Di dalam kubur itu tersimpan periuk yang berisikan tulang-belulang.

Ada teori lain yang mengemuka. Orang Sumba berasal dari Jawa yang sudah terpengaruh agama Hindu masuk ke Sumba (lewat Bima atau dari Bima sendiri) pada abad V atau VI.

Yang jelas, Sumba dan orang Sumba sudah mulai dikenal di pentas dunia pada abad XIV-XV karena kayu cendana dan kuda sandle­wood-nya. Sejak dikenal dengan dua komoditas ini, Sumba masuk dalam jalur tata perniagaan dunia zaman dulu sehingga orang Portugis dan orang Inggris sampai ke Sumba. Mereka disebut Tau Marenggi. Nama lain mereka adalah Tau Marihu karena me­reka berasal dari Pulau Mauritius. Mereka membeli kuda atau kayu dengan poundsterling atau dengan pedang, gading, manik-manik, pisau, parang, piring, dsb.

Beberapa keunikan Sumba: tiap suku mempunyai bahasanya sendiri, mempunyai kepercayaan Marapu (yakni, penyembahan kepada Tuhan lewat arwah para leluhur). Tidak ada ke­kuasaan yang sentral melainkan raja-raja ke­cil (suku) berkuasa atas sukunya. Masalah sosial yang sering terjadi adalah pencurian, pe­rang antarsuku dan judi.

Misi Gereja
Tahun 1881, ketika kontrolir dipegang oleh A. Mellink, Sumba berkenalan dengan pe­nginjilan Protestan yang mengutus J.J. van Alphen di bawah payung De Nederlandsche Ge­reformeerde Zendingsvereenniging (NGZV), yang merupakan cikal bakal GKS.

Dalam catatan sejarah, rupanya Sumba sudah berkenalan lebih dulu dengan Gereja Katolik. Pastor Miguel Rangel OP mengadakan kunjungan pada 1614-1618. Tahun 1633, ia diangkat menjadi uskup di Cochin, India Selatan. Dalam sebuah laporannya, ia menulis tentang Stasi Sumba (dengan nama Iumba). Kemungkinan besar Iumba itu Sumba, karena dalam catatan kaki Mgr Visser menyebut Iumba sebagai Sumba.

Ikhtiar untuk membuka misi di Sumba dicetuskan oleh Mgr Claessens, Vikaris Apostolik Batavia yang pada 20 Januari 1878 me­minta Pemerintah Belanda agar mengizinkan pembukaan misi di Sumba. Sepuluh tahun kemudian, permintaan itu diizinkan de­ngan besluit GG No III tertanggal 17 Juli 1888.

Pada 21 April 1889, mendaratlah Pastor Bernhard Schweitz SJ dan Bruder Wilhem Busch SJ di Sumba (Memboro). Mereka me­mulai misinya di Pakamandara, yang sekarang menjadi tempat ziarah. Tanggal inilah yang dipakai sampai sekarang sebagai tanggal berdirinya Gereja Katolik di Sumba.

Pembukaan misi baru dilakukan dengan mendirikan dan mengunjungi stasi-stasi, mendirikan sekolah-sekolah, mengajar beternak. Sebelumnya, Bruder Busch bertugas di Koting (Maumere). Dia juga membawa be­berapa pemuda Flores dari pertukangannya untuk membangun di Sumba. Kemudian, misi ini dibantu oleh Pastor Arnold J.H. van den Velden (17 Juni 1893), Pastor W.J.H. Mulder (Oktober 1894), dan Pastor Eduardus Engbers (teman Van Lith) (November 1896).

Sepuluh tahun kemudian, para misionaris Ye­suit ini angkat kaki dari Sumba karena mengalami kesulitan-kesulitan dalam pewartaan, dan Yesuit mau berkonsentrasi pada pe­nginjilan di Jawa. Kesulitan-kesulitannya adalah hubungan dengan dunia luar sangat terbatas (laut ganas sehingga tidak ada kapal yang berani berlayar begitu saja ke Sumba), transportasi di Sumba cukup sulit (hanya de­ngan kuda), rumah pastoran yang sangat se­derhana (rumah alang-alang), bahasa (tiap suku mempunyai bahasa sendiri), poligami, kepercayaan Marapu, iklim yang terlalu panas, pastoran di Pakamandara dibakar atau terbakar, serta pencurian.

Menurut laporan Pastor Schweitz ke Roma (1893), ia telah membaptis 800 orang, namun laporannya ke uskup ia catat 700 orang. Tahun 1895, Pastor V.d. Velden mencatat ada 926 orang Katolik dan 100 orang se­dang mengikuti pelajaran agama. Pada 29 November 1898, Sumba ditinggalkan oleh Se­rikat Yesus. Dari sinilah terbetik berita tentang Serikat Yesus yang kebas kaki, sebagai bentuk kutuk terhadap Sumba.

Setelah kepergian para Yesuit, Sumba tidak mendapat pelayanan rohani. Atas usaha Pastor Piet Noyen SVD, Sumba boleh mendapat pelayanan rohani secara rutin yang dilayani dari Flores. Pelayanan rutin itu terlaksana sejak tahun 1921. Tahun 1929, Gubernur Jenderal memberi izin untuk misionaris tinggal di Sumba demi pelayanan rohani. Tahun itu, Pastor Heinrich Limbrock SVD menetap di Sumba dan memulai pelayanan rohaninya. Sejak itu, mulailah pelayanan misi di Sumba oleh para imam SVD.

Pelayanan rohani itu ditopang pula oleh pe­layanan sosial, khususnya dengan membangun persekolahan, pertukangan, dan pertanian. Nama-nama misionaris SVD seperti Pastor de Rechter, Pastor de Zwart, Pastor Me­zenberg, Pastor Wolter, Pastor van Vessem, Pastor Krol, Pastor Kale Bale, Pastor Donkers, Pastor van Stokkum, Pastor Kühne, dan Bruder Arnold selalu ada dalam kenangan umat di Sumba sampai sekarang.

Makin banyak
Karena tuaian makin banyak dan medan pe­layanan yang luas, dibutuhkan tenaga-tenaga misionaris yang baru. Sementara itu, SVD sedang memusatkan perhatian pada misinya di Flores dan Timor yang juga berkembang sangat pesat. Pencarian tenaga baru sebenarnya sudah dimulai pada 1948. Akhirnya, tahun 1957, pelayanan rohani di Pulau Sumba dan Sumbawa diserahkan kepada Re­demptoris (CSsR).

Pada 16 Januari 1957, datanglah lima misionaris dan disusul oleh lima misionaris lagi pada 16 Mei 1957. Tenaga misionaris yang baru ini meneruskan seluruh pelayanan rohani yang telah ditinggalkan oleh misionaris SVD.

Seiring waktu dan umat yang terus berkembang, pada 20 Oktober 1959 Dekanat Sumba-Sumbawa ditingkatkan status gerejaninya menjadi Prefektur Apostolik dan Mgr G. Le­geland CSsR diangkat sebagai Prefek. Se­puluh tahun kemudian, tepatnya 6 Februari 1969, status itu ditingkatkan lagi menjadi ke­uskupan dan Pastor W. Wagener CSsR ditunjuk sebagai Administrator Apostolik.

Peningkaan yang sama juga terjadi dalam tubuh Redemptoris. Pada 28 November 1960, daerah misi di Sumba ditingkatkan menjadi Viceprovinsi sendiri dan berhak mengatur dirinya sendiri tanpa tergantung pada provinsi induk di Köln. Pada 1 Agustus 2002, status Viceprovinsi ditingkatkan menjadi Provinsi dan mempunyai hak otonomi untuk mengurus dirinya sendiri.

Peningkatan status keuskupan dan status provinsi tentu berimplikasi terhadap pelayanan rohani. Gereja berusaha memajukan ke­hidupan iman umat dan memberi pendalaman iman karena umat Katolik Sumba adalah umat yang masih baru. Kemajuan itu terlihat dari jumlah umat yang terus meningkat. Saat ini, jumlah umat Katolik 130.000 orang.

Mungkin yang harus diperhatikan saat ini adalah pelayanan di bidang kategorial. Yakni, pendampingan para petani, nelayan, pe­ternak, dan pendidikan. Sudah saatnya kita memberi para imam tidak hanya melayani meja altar pada hari Minggu, melainkan juga meja altar kehidupan umat sehari-hari, yakni dalam pekerjaan rutinnya di ladang, di padang, di pantai, dan di sekolah. - See more at: http://www.hidupkatolik.com/2012/11/28/sumba-pulau-unik#sthash.Nw0vwSph.dpuf
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD