Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Senin, 03 Juni 2013

Perawan Sumba Kalenarongo

Di balik alam yang kering dan watak penduduknya yang keras, Pulau Sumba ternyata menyimpan keindahan alam perawan yang luar biasa. Potensi pariwisata yang tak kalah dengan Bali dan Lombok.


Pantai Mandorak, Sumba.

Semak-semak dan ilalang setinggi dua meter itu hampir menyu­rutkan langkahku mencari surga kecil di bumi Kalenarongo, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Terdorong rasa penasaran yang tinggi, kami tetap melanjutkan langkah. Usai menyibak semak, tiga ekor anjing rotweiller kom­pak menyalak lantang menyambut kedatanganku. Entah suka atau tidak, yang jelas ketiga mamalia berbulu hitam itu tahu kami tamu asing yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Pantai Mandorak.


Untunglah mereka tidak menggigit. Hanya dengan lemparan kerikil-kerikil kecil, mereka akhirnya mengalah. Menurut penduduk setempat, tiga ekor anjing itu merupakan milik seorang warga Prancis. Mereka ditugaskan untuk menjaga rumah khas adat Sumba yang dididirikan oleh warga Prancis tersebut. Rumah adat ini berdiri menghadap lautan. Warga biasa menye­butnya rumah alang. Rumah inilah satu-satunya bangunan di Pantai Mandorak.
Kendati sepi dari bangu­nan, pengunjung dan bahkan tersembunyi, namun tak membuat Pantai Mandorak, yang terletak di Desa Kalena-rongo, kehilangan pesonanya. Justru inilah daya pikatnya, memburu pantai yang masih dirawat alam semesta. Menu­rut penduduk setempat, pantai perawan ini jarang dikunjungi. Selain jauh, akses transportasinya pun hampir tak ada.


Danau Weekuri, Sumba.

Dari bandara Tambolaka, wisatawan hanya punya dua pilihan transportasi: menyewa ojek motor atau mobil. Jika berkunjung bersama rombongan 4 hingga 5 orang, lebih baik menyewa mobil. Sebab, biayanya menjadi lebih murah per orang. Tarif menyewa mobil dari bandara menuju Pantai Mandorak sekitar Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu. Sedang­kan untuk ojek motor, tarifnya Rp100 ribu hingga Rp 150 ribu. Tarif ini tidak tetap, tergantung kemampuan wisatawan mena­war.

Dibandingkan tempat wisata di daerah lain, tarif ini memang terbilang mahal. Namun wajar, mengingat jarak tempuh yang sangat jauh, yakni memakan waktu hampir tiga jam. Apalagi kondisi jalan masih buruk. Jalan utama dari Bandara Tambolaka ke Desa Kalenarongo memang sudah diaspal, meskipun banyak bagian yang rusak. Namun akses dari jalan utama menuju pantai, belum tersentuh pem­bangunan sama sekali.

Jalanannya sempit, hanya sekitar 1,5 meter, dipenuhi kerikil dan bebatuan. Tak hanya itu, reliefnya menanjak dan menurun. Perlu kehati-hatian untuk melewati jalan ini jika tidak ingin kendaraan rusak atau tergelincir, terutama untuk sepeda motor. Selain itu seba­gian jalan ditutupi tanaman liar yang tumbuh tinggi.

Meskipun perlu pengorbanan mencapai tempat wisata alam ini, namun wisatawan tidak akan kecewa. Hamparan laut dari ketinggian menjadi pemandangan utama pantai ini. Batuan karang yang menjorok ke laut, pasir putih, air yang bening laksana kristal, membuat pantai ini begitu molek bak perawan yang belum tersentuh riak kehidupan.


Rumah khas adat Sumba yang dididirikan oleh warga Prancis, warga menyebutnya rumah alang di Pantai Mandorak.

Suasana yang sepi dan hening, menawarkan kepada wisa­tawan untuk menikmati alam secara eksklusif.

Begitu memasuki area pan­tai, kita akan melihat bibir pan­tai seluas 20 meter. Buih-buih putih yang terbawa gelombang terdampar di hamparan pasir putih. Sekilas, pantai ini tak berbeda dengan pantai perawan lainnya di Indonesia. Untuk mendapatkan suguhan alam yang istimewa, wisatawan perlu menjelajah lebih jauh, menaiki batuan karang yang berada di kiri pantai. Disinilah keunikan­nya.

Berdiri di atas hamparan batu karang yang berselimut pasir putih, kita akan menyak­sikan pemandangan alam yang luar biasa. Laksana berdiri di atas sebuah pulau, dengan jelas kita akan bisa membedakan batas antara daratan dan lautan. Melirik ke kanan, kita akan disuguhkan pemandangan bibir pantai yang menyambut para tamu saat baru tiba di Man­dorak. Rupanya daratan yang berdiri berhadapan, menjadi pintu masuk air laut ke pantai. Melirik ke kiri, kita akan disu­guhkan pemandangan berupa barisan-barisan karang yang menjorok ke laut. Tak heran jika warga Prancis pemilik tiga anjing itu, mendirikan rumah di tepi pantai ini.

Selesai menikmati keindahan Mandorak, kita bisa mencicipi damainya Danau Weekuri. Danau ini terletak 2 hingga 3 kilometer dari Pantai Man­dorak. Hanya perlu menelusuri lagi jalan kecil yang tadi dilewati untuk menuju pantai, kita sudah bisa menyapa Danau Weekuri. Letaknya persis diujung jalan itu.

Tak mau kalah dengan Mandorak, danau yang airnya asin ini pun sangat mempesona. Dari kejauhan, kita bahkan dapat melihat dasar da­nau karena airnya yang sangat jernih. Dikelilingi pepohonan rimbun, Danau Weekuri seperti putri yang sedang tidur, dijaga oleh para dayangnya. Begitu berja­lan menembus lebatnya pepohonan dan menu­runi batuan karang, kita akan melihat paras sang putri yang begitu elok.

Air jernih yang biru kehijauan, tampak membentuk gelom­bang-gelombang kecil karena dibelai angin. Dari bibir danau, kita bisa mengintip dasar danau yang berupa batuan-batuan karang berwarna abu. Jika kesana, jangan lupa membawa pakaian ganti untuk mencicipi kesegaran air danau. Tak perlu khawatir tenggelam, karena arus danau ini tak deras dan tingginya hanya sekitar 1 meter.

Sebaiknya hindari datang pada musim hujan. Sebab kalau musim hujan, air danau akan menjadi lebih tinggi. Menurut penduduk sekitar, danau ini ramai dikunjungi setiap akhir minggu. Para penduduk yang bermukim tak jauh dari Desa Kalenarongo, akan menyempat­kan diri mandi di danau ini pagi hari.


Danau Weekuri, Sumba.

Satu hal lagi, jika ingin berkunjung ke dua tujuan wisata ini, sebaiknya mengambil waktu pagi hingga sore hari. Penduduk Sumba terkenal beradat keras. Mereka sering berkelahi hanya karena hal-hal kecil. Selain itu, pencurian dan pembunuhan juga kerap terjadi. Karena itu, penduduk setempat melarang wisatawan asing bepergian pada malam hari. Namun tak perlu khawatir, asalkan bisa bersahabat dengan masyarakat setempat, mereka akan menyambut baik.

Begitu banyak keindahan alam yang masih tersembu­nyi di Pulau Sumba. Sayang, pembangunan belum menyen­tuh wilayah-wilayah itu. Selain sarana transportasi yang belum memadai, juga tidak ada fasilitas lain seperti penginapan atau warung yang menjual makanan. Padahal jika dikelola dengan baik, wisata alam Pulau Sumba tidak akan kalah dengan prima­dona wisata Indonesia seperti Bali dan Lombok.



Sumber : prioritasnews.com
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD