Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Minggu, 09 Juni 2013

Mengapa Kain Sumba Mahal? Ini Jawabannya

Aktivitas menenun perempuan Sumba
Nama kain ikat semakin berkibar sebagai karya cipta asli Indonesia. Berbagai kalangan pun berlomba-lomba berburu kain unik ini. Tapi, masih banyak orang yang menganggap harga kain ikat ini mahal. Padahal, harga ini sesuai dengan cara pembuatannya yang rumit dan memakan waktu lama.

Sebenarnya, bagaimana sih, proses membuat kain ikat Sumba, sehingga terkesan demikian sulitnya?

Kapas Pohon Jacaranda

Pembuatan kain ikat khas Sumba, benar-benar dilakukan dari nol. Tahap awal adalah pembuatan benang. Benang  dibuat dari kapas-kapas yang berasal dari pohon Jacaranda. Kapas-kapas itu dipilin hingga tipis, untuk mendapatkan hasil benang yang kuat. Proses pembuatan benang ini menggunakan alat pemilin yang bisa berputar.

Benang Menjadi Kain

Setelah terkumpul hingga menjadi cukup untuk sehelai kain, benang-benang itu disusun sepanjang dan selebar kain yang diinginkan. Benang ini akan ditenun menjadi selembar kain. Lebar kain ini biasanya sekitar 80-90 cm, yaitu selebar bentangan tangan ketika menenun. Inilah sebabnya kain tenun yang asli buatan tangan, tidak terlalu lebar.

Mengikat Kain

Ketika benang selesai dibentangkan, dimulailah proses mengikat. Benang-benang tersebut diikat menggunakan tali rafia, sesuai dengan motif yang diingankan. Bagian-bagian yang diikat itu sengaja dihindari dari celupan air pada proses pewarnaan, dan akan membentuk pola-pola motif yang telah ditentukan. Dahulu, alat yang digunakan untuk mengikat benang ini adalah daun yang kedap air.

Semakin Rumit, Semakin Mahal

Dalam membuat kain ikat, semakin rumit motifnya, atau semakin kecil ukuran motifnya, semakin lama waktu yang dibutuhkan. Hal ini berdampak pada harga jual kain ikat. Semakin banyak motif pada kain ikat, harganya pun semakin mahal.

Proses Pewarnaan yang Butuh Ketekunan

Proses pemberian warna pada kain ikat juga memerlukan ketekunan dan kesabaran. Banyak jenis kain ikat yang memiliki beberapa warna dalam satu helai kain. Itu berarti proses pewarnaannya pun lebih lama, karena dilakukan setahap demi setahap sesuai jumlah warnanya. Pewarnaan ini dilakukan dengan cara mencelup kain yang sudah diikat, ke dalam cairan pewarna.

Pengeringan Selama Seminggu

Pengeringan kain setelah diwarnai, semakin membuat proses pembuatan kain ikat semakin lama. Sebab, sekali mencelup warna, pengeringannya harus dilakukan selama seminggu. Bayangkan, jika kain ikat itu terdiri atas banyak warna!

 
Kain tenun ikat Sumba tidak lepas dari teknik pembuatan ikat. beberapa wilayah di Sumba memiliki tekniknya sendiri. Selain teknik diatas ada juga yang Inti prosesnya ada pada pengikatan benang lusi (dikenal juga dengan benang lungsin).

Dalam proses menenun memang dikenal benang lusi sebagai benang yang dipasang memanjang di atas alat tenun sesuai lebar kain yang diinginkan. Kedua ujungnya diikat dan berfungsi sebagai penyangga. Kemudian akan dimasukkan benang pakan secara menyilang dengan benang lusi.

Pada tenun ikat ganda, benang pakan dan benang lusi diikat oleh bahan kedap air sebelum dicelup untuk pewarnaan. Proses ini diulang-ulang, bergantung pada berapa banyak warna dibuat.

Benang lusi diikat untuk memperoleh desain gambar ketika benang itu dicelup warna. Pertama kali kita harus menata benang pada bingkai kayu atau bambu untuk pengikatan yang sesuai dengan gambar yang diinginkan. Gambar dibentuk dengan cara mengikat benang yang telah dibentang sedikit demi sedikit sesuai desain dengan menggunakan tali gewang (kalita) atau tali plastik.

Setelah dicelup dengan warna pertama, kain dikeringkan, dilanjutkan dengan membuka kalita (ikatan) pada pola yang diharapkan akan ditimpa warna berikutnya.  Karena proses mengikatkan terjadi pada saat pencelupan, larutan pewarna meresap sampai ke pinggir benang yang terikat dan membuat warna menjadi sedikit membaur. “Cacat” inilah yang justru menjadi ciri khas ikat.
 
Orang Sumba mampu membuktikan bahwa warisan nenek moyang berupa kemampuan menenun mampu menghasilkan tenun ikat yang sangat agung.
Itulah proses pembuatan kain ikat yang rumit. Total waktu yang diperlukan untuk membuat kain ikat Sumba bisa mencapai delapan bulan. Dari sana, pantaslah jika para perajin itu mendapatkan harga tinggi untuk hasil karyanya. Jadi, harga kain ikat Sumba yang ditawarkan ke pembeli, tidak tepat jika dianggap terlalu tinggi.


Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD