Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Kamis, 06 Juni 2013

Menelusuri Sejarah Sumba (Versi I)


      
Karena tidak mengenal tulisan, sangat sulit menelusuri jejak sejarah Sumba, termasuk asal usul nenek moyang suku sumba. Kisah-kisah yang ada lebih banyak berupa hikayat yang diceritakan secara turun temurun, dari generasi ke generasi, sehingga fakta dan mitos pun bercampur menjadi satu.


Asal-usul suku Sumba, sebagaimana halnya suku-suku lain di Indonesia, tampaknya tidak terlepas dari teori satuan budaya yang dikemukakan oleh Robert Von Heine Geldern pada tahun 1945, dimana bangsa Indonesia dengan budaya neolitik (batu baru) serta budaya megalitiknya (batu besar) dikatakan berasal dari daratan Asia, yang kemudian menyebar ke berbagai daerah dan pulau-pulau untuk selanjutnya berkembang sendiri secara lokal. Hal ini sejalan dengan beberapa syair-adat adat tentang asal usul nenek moyang yang sebagian baitnya berkisah tentang rute perjalanan mereka:


...Malaka-Tana Bara, Hapa Riu-Ndua Riu, Hapa Njawa-Ndua Njawa Ruhuku-Mbali, Ndima makaharu, Endi-Ambarai, Enda Ndau, Haba Rai Njua...
...Semenanjung Malaka, Singapura, Riau, Jawa, Bali, Bima, Makassar, Ende, Manggarai, Rote Ndao, Sabu Raejua...


Dari penggalangan syair di atas dapat disimpulkan bahwa nenek moyang orang Sumba datang dari arah barat, yang jika dikaitkan dengan teori difusi Heine Geldern tentunya berasal dari daratan Asia. Petunjuk lain yang menandai kesamaan budaya antara Indonesia, Malaysia dan negara-negara di daratan Asia adalah tinggalan megalitiknya.

Nicolas Wunga, seorang tokoh adat Kampung Tambera, juga berpendapat serupa. Menurut beliau beberapa kalimat dalam Pitutur adat yang didaraskan pada saat Wulla Poddu menguatkan teori di atas. Pitutur sepanjang 42 bait tersebut pada intinya berkisah tentang pengembaraan nenek moyang orang Loli. Dan pada bait-bait awal yang merangkum perjalanan mereka sebelum tiba di pulau Sumba, ada kata-kata seperti liangu lir’ra ngadu ngara, yang secara harafiah bisa diartikan sebagai celah sempit yang menjulang, dan ditafsirkan Wunga sebagai celah Chyber di perbatasan Afganistan dan Pakistan; reisi tana toko atau tanah yang teramat tinggi, ditafsirkan sebagai pegunungan himalaya; do kangali ate atau pagar maha besar ditafsirkan sebagai tembok cina; sementara nayidodi kalendi pare dan rita ganya guru gaja yang menyinggung tentang tanah subur penghasil beras dan gajah, ditafsirkan beliau sebagai negeri gajah putih atau Thailand. 

Memang hanya berupa penafsiran pribadi yang kebenarannya tentu sulit dibuktikan, tapi paling tidak memberikan sedikit gambaran mengenai keyakinan sebagian orang Sumba tentang asal usul leluhur mereka. Bait-bait selanjutnya yang bercerita tentang perjalanan nenek moyang saat berkeliling Sumba untuk mencari tempat menetap penafsirannya lebih mudah dibuktikan, karena pada kenyataannya tempat-tempat tersebut memang ada di sumba dan memiliki landasan sejarah yang cukup kuat.

Dalam sebuah hikayat tentang Ubu Palabang, salah satu nenek moyang orang Wanokaka yang pertama tiba di pulau Sumba, dikisahkan bahwa pada zaman dahulu pendiri kampung Weigalli itu datang ke Sumba bersama sekolompok teman-temannya dengan menyeberangi sebuah jembatan batu (lendi watu) yang menghubungkan Bima di Pulau Sumbawa, Manggarai di Pulau Flores dan Tanjung Sasar di Pulau Sumba. Sekelompok

         
      Sahabat yang terkenal dengan istilah pitu moni bani, walu mawine rato (tujuh pemuda gagah, delapan wanita kharismatik) itu mendarat di Tanjung Sasar lalu menyebar dan mejelajah seluruh pulau Sumba untuk mencari tempat menetap masing-masing. Hikayat lain bercerita tentang Rato Haharu dan Rato Takka, cikal bakal kehidupan yang turun dari khayangan. Mereka mendarat di sebuah tanjung yang tertutup hutan belukar lalu mendiami gua-gua dan meramu hasil hutan sebagai makanan. Untuk mengenangnya tanjung tersebut kemudian diberi nama Tanjung Hahar, dengan ungkapan yang legendaris: Sasara Malangu - Kataka Liendi Watu.

Ada pula hikayat tentang asal usul manusia sebagai percampuran keringat langit dan bumi. Tatkala langit dan bumi berpisah, tercipta sebuah gua yang didalamnya terdapat dua tetes air. Satu mentes dalam botol (analogi kelamin lelaki) yang dipercaya sebagai cikal bakal kaum pria, satunya lagi menetes di piring ceper (analogi kelamin wanita) yang merupakan asal mula kaum hawa. 

Percampuran kedua tetes air tersebut menghasilkan sepasang manusia bernama Lamura Winne dan Lamura Mane, yang akhirnya berkembangbiak dan mengembara di muka bumi. Di kemudian hari anak turunan mereka berpencar-pencar dan sebagian tiba di Tanjung Sasar. Yang tiba di Sasar ini pun berpencar-pencar lagi, berkeliling pulau Sumba mencari tempat menetap.

Masih banyak cerita-cerita lain yang berkisah tentang asal-usul nenek moyang, namun dari beberapa hikayat diatas dapat disimpulkan bahwa leluhur orang Sumba Barat datang dari seberang, mendarat di Tanjung Sasar lalu menyebar mencari tempat bermukim yang dirasa cocok dengan pribadi masing-masing kelompok.

Adapun catatan tertulis pertama tentang Sumba muncul sebagi klaim wilayah taklukan Majapahit. Hal ini tertera dalam buku Nagara Kertagama karangan Empu Prapanca yang mengatakan bahwa:

...Di sebelah timur pulau Jawa, semua kepulauan Makassar serta Buton, Banggawa kemu, Galia serta Salaya, Sumba, Solor, Muar, Timor beserta berbagai pulau yang penting, adalah tanah jajahan Majapahit... 
Namun hampir tak ada pengaruh Majapahit yang terasa di pulau ini. Catatan kedua masih berupa klaim kekuasaan. Kali ini dikatakan sebagai daerah taklukan kesultanan Bima pada Abad ke 15. Seperti Majapahit, pengaruh kesultanan Bima tak banyak berdampak pada kehidupan penduduk asli Sumba. Jejak-jejak pertautan keduanya hanya sebatas penggunaan istilah-istilah kebangsawanan seperti Hanggula (Sang Kula) dan Hangaji (Sang Aji) di Sumba Timur. 

Juga pada legenda masyarakat Kodi tentang asal-usul Nyale yang katanya merupakan pemberian Sultan Bima. Catatan selanjutnya berasal dari orang-orang Eropa abad ke 16 yang datang ke Sumba untuk membeli cendana, kuda serta budak yang dibarter dengan barang-barang semacam gading, manik-manik, pisau, parang, porselin, senjata api dan mesiu (Purawoha: 2008). Bermula dengan kedatangan Portugis lalu Inggris, kemudian Belanda di abad ke-18 (VOC) dan akhir abad 19 (Pemerintah Kolonial)


Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD