Member Of

Member Of

Like Untuk Bergabung

Rabu, 12 Juni 2013

MAMOLI DARI PERHIASAN SAMPAI MOTIF KAIN

Tak banyak yang mengenal keberadaan mamoli, termasuk penduduk Nusa Tenggara Timur sendiri. Kita lebih banyak mengenal simbol kebudayaan lokal yang telah populer dibandingkan dengan beberapa kebudayaan yang belum terangkat dalam pusaran pengenalan kebudayaan daerah. Penduduk Nusa Tenggara Timur boleh berbangga dengan dikenal luasnya produk kebudayaan lokal seperti sasando, tii langga dan kain tenun daerah. Namun ada serpihan kebudayaan lain yang belum diulas, salahsatunya adalah mamoli. 


Ornamen telinga dari abad ke-19 yang berasal dari Kecamatan Kanatangu Kabupaten Sumba Timur. Terbuat dari emas dengan ukuran 33/4 inci (9,5 cm).


Mamoli adalah perhiasaan khas dari Pulau Sumba yang berbentuk anting-anting telinga yang ukurannya agak besar dengan tambahan hiasan ornamen pelengkap. Selama ini kita telah mengenal perhiasan dari Nusa Tenggara Timur seperti pena bola (tusuk konde), bula molik (hiasan kepala berbentuk bulan sabit), gelang, giring-giring, anting-anting, kalung habas, kalung muti sala dan cincin. Sebagaimana perhiasan adalah salah satu bentuk peradaban manusia maka mamoli diyakini sebagai lambang jati diri sebagai perhiasan yang digunakan oleh masyarakat Sumba. Bentuk dasar Perhiasan mmamoli menyerupai bentuk rahim atau kelamin perempuan, sebagai simbol kewanitaan dan perlambangan kesuburan, yang tentunya dimaksudkan menghormati kedudukan perempuan.
Ada pertanda bagi para perempuan Sumba yang menggunakan mamoli sebagai anting di sebelah kanan, yang berarti belum atau tidak menikah. Tidak hanya digunakan oleh perempuan, mamoli juga digunakan oleh laki-laki sebagai bentuk penghormatan yang digunakan pada saat menari dan pergelaran upacara-upacara adat. Walaupun mamoli sebagai perlambagan perempuan (feminim), namun dianggap mengandung nilai maskulinitas berdasarkan karakteristik sekunder dari ornamen yang ada. Seperti pada gambar berikut memperlihatkan oranamen tambahan prajurit membawa tombak dan perisai (maskulin) sebagai konsep perlindungan dan saling melengkapi, perlu juga diketahui bahwa logam emas bagi masyarakat adat Sumba merupakan simbolisme laki-laki.



Saat ini mamoli jarang lagi digunakan sebagai perhiasan telinga, dahulunya digunakan sebagai anting-anting dengan cara memperbesar lubang pada telinga untuk disematkan anting-anting mamoli. Namun kini telah dimodifikasi dengan kaitan untuk disematkan tanpa memperbesar lubang pada telinga. Selain dijadikan anting-anting, fungsi mamoli juga bertambah karena ukurannya yang besar digunakan sebagai kalung liontin (pendant) yang biasa dipakai dalam pergelaran tarian adat. mamoli juga dapat dilekatkan pada pakaian sebagai bros.

Perhiasaan berbentuk Omega (Ω) ini terbuat dari emas yang bahan dasarnya berasal dari logam emas yang di berikan Belanda kepada keluarga dari raja-raja yang bersekutu dengan Belanda. Sebelumnya kedudukan logam emas sangat sentral dalam kehidupan Marapu (agama asli Pulau Sumba). Dalam kepercayaan setempat logam mulia berasal dari langit. Matahari terbuat dari emas dan bulan bintang terbuat dari perak. Kemudian sebagian emas dari matahari jatuh kebumi saat matahari terbenam dan juga perak jatuh ke bumi melalui bintang jatuh (meteorit). Baik logam emas dan perak dijadikan sebagai kekayaan dari kemurahan Tuhan yang disimpan menjadi relik suci oleh klan-klan di Sumba.
Salah satu bentuk atau motif mamuli pada kain tenun Sumba


Secara adat mamoli dijadikan sebagai mas kawin, digunakan dalam ritual adat, menjadi bekal kubur selain perhiasan lainnya dan juga bagi keluarga bangsawan, mamoli merupakan salah satu benda pusaka yang disimpan secara khusus karena memliki pertalian dengan para luluhur. Selain itu bentuk mamoli banyak ditemukan dalam motif kain tenun Sumba. 

Tidak seperti di Sumba Timur, motif kain tenun di wilayah Sumba Barat umumnya kecil-kecil dan sedikit abstrak. Pada kain laki-laki motif seringkali berupa garis, titik-titik, dan mamoli di tepinya. Sementara motif yang terdapat pada kain wanita aslinya berupa belah ketupat (mata kerbau) dan segi tiga (ekor kuda). Menurut Janet Hoskins motif-motif tersebut diadopsi dari benda-benda yang diberi pihak laki-laki sewaktu meminang seorang gadis (belis). Sementara benda-benda yang diberikan pihak perempuan seperti babi atau gading dianggap tabu. Mamoli yang merefliksakan seksualitas wanita digambar pada kain laki-laki, sementara mata kerbau dan ekor kuda yang merupakan simbol-simbol maskulin di gambar pada kain perempuan. Pada acara-acara adat kedua kain ini selalu hadir berpasangan sebagai gambaran transaksi yang seimbang.

Dewasa ini motif kain tenun tidak lagi mengikuti pakem tradisional. Misalnya mamoli, kini banyak muncul pada kain perempuan, ada pula motif kepiting yang merupakan simbol kebangsawanan. Bahkan motif paling baru berupa burung di kolam air mancur yang banyak muncul belakangan ini tidak memiliki makna apa pun, sekedar hiasan dekoratif yang dicontoh sang penenun dari buku-buku bergambar. Namun halhal yang dianggap tabu tetap tak berbah, hingga hari ini tidak pernah ada yang mengaplikasikan belis balasan pihak wanita sebagai motif kain tenun.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD