Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Senin, 10 Juni 2013

Makna dan Kisah Dibalik Kain Tenun Sumba Timur

Salah satu bentuk seni kerajinan yang dihasilkan kaum perempuan Sumba (Nusa Tenggara Timur) adalah kain tenun yang dikenal dengan sebutan “Kain Sumba”. Kerajinan tenun itu berupa sehelai kain yang penuh hiasan dekoratif yang indah, dengan disain menarik, komposisi harmonis, dan bentuk-bentuk ragam hiasnya mempunyai karakteristik tersendiri. Demikian pula dalam proses pembuatannya, baik dalam pengadaan bahan, teknik pembuatan ragam hias, pemakaian warna, cara menenun, dan juga fungsi kain itu dalam kehidupan masyarakat Sumba dapat menimbulkan kekaguman.



Berdasarkan penelitian etnografis, menunjukkan bahwa di balik bentuk-bentuk komposisional yang indah itu terdapat prinsip-prinsip struktural yang sejalan dengan prinsip-prinsip formal yang mengatur segala aspek kehidupan masyarakat Sumba. Sehingga sehelai kain itu tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk melindungi tubuh dari pengaruh alam atau untuk memperindah diri saja, akan tetapi merupakan benda budaya yang mempunyai “isi” yang mengekspresikan nilai-nilai tertentu dan merupakan kekayaan budaya suatu bangsa. 
Pola perkampungan berbentuk segi empat dan mem punyai empat pintu utama. Rumah-rumah didirikan berjajar yang terdiri dari dua jajar yang saling berhadapan. Rumah-rumah itu berbentuk empat persegi panjang, serta terdapat dua macam bentuk rumah, yaitu dan . Setiap rumah penting yang menjadi rumah pusat suatu dibangun di atas empat tiang utama (), dan jumlah seluruh tiang ada 36 tiang (4 tiang utama ditambah 4 x 8 tiang penunjang).


ASPEK-ASPEK STRUKTURAL

Kaum perempuan di Sumba Timur umumnya memp unyai keahlian membuat kain tenun. Keahlian itu mereka peroleh melalui pendidikan praktis di lingkungan keluarganya secara turun-temurun, dengan masa belajar bertahun-tahun, penuh kesungguhan dan ketekunan. Selain itu, untuk menghasilkan sehelai kain yang bermutu mereka harus memiliki daya imajinasi dan intuisi yang kuat. Hal itu disebabkan seluruh pola dan disain dari kain itu hanya direkam dalam ingatan saja.
Proses pembuatan sehelai kain memerlukan waktu yang cukup lama, antara dua sampai enam bulan dengan masa kerja sekitar empat jam setiap harinya. Bahkan untuk kain berkualitas prima ada kalanya diperlukan waktu bertahun-tahun. Proses tersebut dilakukan secara bertahap, dimulai dan tahap pengadaan bahan baku, pengaturan lungsi, pembuatan ragam hias, pemberian warna dan menenun. Jenis kain tenun yang dib uat adalah hinggi (selimut), lau (sarung), tiara (ikat kepala), dan tamelingu (tudung kepala). Adapun jenis kain yang dikemukakan dalam tulisan ini ialah kain hinggi yang lebih dikenal dengan sebutan “Kain Sumba” itu.

Pada dasarnya proses pembuatan berbagai jenis kain tenun tersebut di atas sama saja. Perbedaannya dalam teknik pembuatan ragam hias. Pada kain hinggi digunakan teknik pembuatan ragam hias yang disebut teknik “ikat”, yaitu suatu teknik memberi warna pada benang-benang tenun dengan cara mengikatnya sebelum ditenun. Teknik ikat diduga berasal dan daerah Uzbekistan. Dari tempat itu teknik ikat ini dibawa oleh suku-suku bangsa yang berasal dan Kaukasia, Danube, dan Rusia Selatan pada zaman kebudayaan Dong-Son. Mereka bermigrasi ke arah timur dan juga ke kepulauan Nusantara melalui Szechwan, Yunnan, dan Indocina pada abad ketujuh sebelum Masehi (Loring, 1978:120).

Ada bermacam-macam ragam hias yang dibuat pada kain hinggi, tergantung pada kemahiran wanita pembuatnya. Motif ragam hias yang umu m digambarkan pada kedua bidang akhir hinggi ialah motif binatang, manusia dan andungu (pohon tengkorak). Sedangkan untuk bidang tengah ialah motif tumbuh-tumbuhan, motif geometris, dan motif skematis. Kain hinggi diberi nama menurut ragam hias yang menjadi hiasan utama dalam kain itu, misalnya hinggi tau (kain manusia), hinggi andungu (kain pohon tengkorak), hinggi kurangu (kain udang), hinggi ruha (kain rusa) dan sebagainya.
Kain hinggi terbagi atas dua nai (lirang, separuh kain) yang dijahit menjadi sehelai kain. Tiap lirang ditenun tersendiri. Menenun hinggi dapat dibedakan atas dua cara tenun , yaitu hinggi panda paingu dan hinggi paingu. Hinggi panda paingu ialah kain hinggi yang ditenun dari benang yang tidak diikat. Ada yang polos (hinggi patinu mbulungu) dan ada pula yang terbuat dari beraneka warna benang (hinggi papabetin gu). Sedangkan hinggi paingu ialah kain hinggi yang ditenun dari benang yang diikat, dan terdiri dari dua macam yaitu hinggi kawuru (kain biru) dan hinggi kombu (kain merah).
Kain tenun yang dibuat kaum perempuan Sumba Timur dirancang dengan baik dan setiap bidang dihiasi ragam hias yang diatur dalam komposisi yang harmonis. Dalam mengatur komposisi, garis merupakan unsur penting karena dapat menentukan bidang dan bentuk. Garis-garis itu merupakan garis horizontal dan membagi kain itu menjadi beberapa jalur. Setiap jalur merupakan bidang-bidang yang dihiasi dengan berbagai motif ragam hias. Jalur melintang di bagian tengah kain merupakan bidang pusat (padua). Jalur-jalur lainnya, sebelah-menyebelah merupakan bidang akhir (kiku). G aris-garis pada kain tenun dapat berupa garis lurus, lengkung, patah-patah, atau titik-titik.

Untuk mendapat keserasian dalam menempatkan motif-motif ragam hias yang akan digambarkan, komposisinya diatur secara simetris. Dalam komposisi simetris ini, ragam hias yang berbentuk sama pada salah satu bidang akhir digambarkan pula pada bidang akhir lainnya secara berlawanan. Komposisi ragam hias pada kedua bidang akhir umumnya menampilkan bentuk imajiner segi tiga, sedangkan pada bidang pusat menampilkan bentuk imajiner segi empat.
Ketika membuat disain kain tenun ada beberapa prinsip yang secara tetap menunjukkan suatu keseluruhan yang terstruktur. Prinsip-prinsip ini sejalan dengan prinsip-prinsip formal yang juga mengatur segala aspek kehidupan masyarakat Sumba Timur.

Prinsip pertama ialah pengaturan komposisi yang membagi permukaan kain tenun menjadi tiga bidang, yaitu satu bidang pusat dan dua bidang akhir (atas dan bawah) yang berisikan rancangan sama tetapi terletak pada arah berlawanan secara simet ris. Apabila kain itu digantung pada bagian tengahnya, maka kedua bidang akhir masing-masing menghadap ke satu arah, sedangkan bidang pusat menghadap kedua arah. Dapat dikatakan bahwa dalam sehelai kain terdapat satu pasangan yang berlawanan tapi serupa pada bidang akhir, dan ditambah satu bidang pusat yang bersifat “bermuka dua’ (netral, ambivalen). Sifat ambivalen itu menunjukkan bahwa bidang pusat mempunyai hubungan yang sama dengan bidang-bidang lainnya.

Prinsip tersebut di atas dapat dijumpai pula dalam kehidupan masyarakat Sumba Timur, misalnya di Paraingu Umalulu pada masa lalu. Perkampungan besar yang disebut Paraingu Umalulu pada dasarnya dibagi menjadi tiga wilayah yang masing.masing dikuasai oleh satu kabihu (klen, marga) utama. Pada bagian kambata (udik) dikuasai kabihu Palai Malamba sebagai golongan maramba (raja, bangsawan) dan empat kabihu bawahannya; bagian kani- padua (pusat, pertengahan) dikuasai empat kabihu ratu (klen pendeta) yang dibantu empat paratu (pembantu pendeta) dalam melaksanakan tugasnya melayani kedua habihu maramba secara sama dalam seluruh masalah keagamaan dan menengahi perselisihan di antara keduanya; dan bagian kiku (hilir) dikuasai kabihu Watu Pelitu serta empat kabihu bawahannya.

Pada sistem perkawinan, prinsip itu dapat dikemukakan sebagai berikut ; kabihu A memberi wanita kepada kabihu B, dan menerima wanita dari kabihu C, karena pertukaran wanita di antara dua kabihu tidak dibenarkan. Kedudukan, hak, dan kewajiban kabihu penerima wanita berbeda dengan kabihu pemberi wanita. Kabihu penerima wanita selalu lebih rendah kedudukannya daripada kabihu pemberi wanita. Hal itu dapat dilihat misalnya pada kewajiban yang harus dipenuhi oleh kabihu penerima wanita untuk memperhatikan segala sesuatu yang dibutuhkan kabihu pemberi wanita. Dalam hubungan ini pula, kabihu pemberi wanita menjalankan hak pengawasan terhadap segala persoahan dan kepentingan kabihu penerima wanita dan bila perlu turut campur tangan langsung.

Dalam sistem perkawinan antar kabihu itu, setiap kabihu berfungsi sesuai dengan kedudukannya, yaitu sebagai kabihu pemberi wanita yang mempunyai kedudukan lebih tinggi, atau sebagai kabihu penerima wanita yang mempu nyai kedudukan lebih rendah, dan sebagai kabihu tengah yang dalam hal ini bisa disebut mempunyai kedudukan netral. Setiap kabihu dapat berperan sebagai kabihu tengah dan merupakan sebuah persekutuan hidup tersendiri, karena setiap kabihu selalu mengetahui kepada kabihu mana harus memberi wanita dan dari kabihu mana mendapat wanita. Maka untuk dapat berfungsinya sistem ini dengan sempurna, diperlukan tiga kabihu yang merupakan tiga trio dalam satu kesatuan. Dalam setiap trio, kedua kabihu samping berperan sebagai dua fratri terhadap kabihu tengah, yang satu sebagai kabihu pemberi wanita (lebih tinggi) dan lainnya sebagai kabihu pernerima wanita (lebih rendah). Sedangkan kabihu tengah sekaligus mencakup ked ua peran itu, yaitu sebagai pemberi dan penerima wanita. Kabihu tengah melambangkan suatu totalitas yang mencakup d ua hal yang berlawanan (pemberi dan penerima wanita) dengan dua kedudukan berbeda (lebih tinggi dan lebih rendah).
Sistem perkawinan antar kabihu merupakan bagian dari lalu-lintas tukar menukar yang teratur dan bersifat religius serta ekonomis, di sini kabihu tengah secara tetap menyerahkan wanita bersama benda-benda yang disebut kamba wei (kain dan babi, harta milik wanita) kepada kabihu penerima wanita di satu pihak, dan di lain pihak menerima laki-laki beserta benda-benda yang disebut banda wili (benda nilai, harta milik lak i-laki). Sedangkan dengan pasangannya yang lain, yaitu kabihu pemberi wanita, kabihu tengah berada dalam posisi lalu-lintas tukar menukar yang berlawanan. Apabila dilihat lebih lanjut tentang sistem pertukaran manusia dan benda ini, maka secara ekonomis dalam sistem itu terdapat barang-barang tertentu yang setalu beredar dalam seluruh masyarakat itu dan arah sirkulasinya berlawanan sesuai dengan sifatnya sebagai benda-benda wanita atau benda-benda laki-laki. Menurut masyarakat Sumba Timur, kedudukan kedua kelompok yang saling bertukaran dan nilai benda-benda yang dipertukarkan adalah sama (pahamatimbangu) karena selalu berputar dengan seimbang.

Apabila pertukaran benda-benda itu karena satu dan lain hal tidak dapat dilangsungkan, masyarakat Sumba Timur mempunyai suatu pengaturan lain yang disebut pahamburungu (mengatur pertemuan). Pengaturan ini digunakan untuk mempertemukan orang-orang atau kelompok-kelompok dari daerah berlainan di suatu daerah yang merupakan pertengahan antara daerah-daerah yang berlainan itu. Orang-orang di suatu daerah bergabung serta berunding untuk mengadakan pertemuan di suatu daerah ten gah di mana mereka dapat mempertukarkan barang-barang dengan orang-orang dari daerah lain. Setelah melalui proses perundingan dan telah disetujui oleh masing-masing pihak, maka pada hari yang telah ditentukan mereka bertemu di daerah tengah (netral) dan secara resmi mereka saling menukarkan barang-barang yang dibutuhkan dengan nilai yang seimbang. Pengaturan pertemuan itu digunakan pula dalam mendisain kain tenun, dan istilah pahambururgu dipakai untuk menunjukkan bidang-bidang pada kain yang mempunyai karakterlstik sama (simetris). Dalam mendisain sehelai kain, mula-mula hanya separuh bagian saja yang didisain, kemudian dikerjakan separuh lagi dengan pola yang sama. Setelah itu barulah kedua bagian itu dipertemukan di bagian tengah.

Contoh lain kedinamisan muka dua pada kelompok tiga bidang itu ialah dalam perilaku kelompok-kelompok yang sedang mengadakan suatu perundingan secara resmi. Seluruh kelompok yang ambil bagian dalam perundingan itu (misalnya pada saat perkawinan, kematian, atau kunjungan resmi lainnya) dipimpin oleh juru-juru bicara yang bertindak sebagai wunangu (penengah, perantara). Di rumah tempat perundingan itu dilakukan, kelompok tuan rumah dan kelompok tamu duduk di bangga hanamba (balai-balai muka) secara berlawanan. Di antara kedua kelompok itu, para wunangu dari masing-masing kelompok (setiap kelompok diwakili oleh dua orang wunangu) duduk berhadapan satu sama lain. Segala sesuatu yang dibicarakan salah satu kelompok selalu diketahui para wunangu, kemudian wunangu akan menyampaikan pesan-pesan yang dibicarakan salah satu kelomp ok kepada kelompok lainnya, demikian seterusnya hingga dicapai suatu kesepakatan yang disetujui bersama. Dalam hal ini para wunangu berlaku sebagai orang-orang bermuka dua, tetapi juga sebagai penengah di antara dua kelompok yang berlawanan. Dalam hal menenun kain, istilah wunangu digunakan untuk menyebut sebatang kayu yang juga berfungsi sebagai penengah di antara dua lapisan benang yang akan ditenun. Walaupun belum ada istilah khusus untuk menyebut prinsip pertama ini dalam bahasa Sumba, tetapi di dalam aspek-aspek kehidupan masyarakat Sumba Timur akan dijumpai suatu prinsip pengorganisasian antar-relasi kelompok-kelompok yang berlawanan dan secara formal dihubungkan oleh suatu unsur yang bertindak sebagai penengah (bersifat ambivalen).

Prinsip kedua dalam pengaturan komposisi pada kain tenun ialah prinsip bayangan dalam cermin (mirror image). Untuk busana resmi, khususnya bagi laki-laki, ada dua helai kain yang dikenakan, yaitu yang dikenakan secara horizontal di pinggang, dan yang dikenakan secara vertikal di pundak. Setiap kain akan mempunyai dua muka yang identik, yaitu pada bagian kiri dan kanan. Baik bagian atas maupun bagian bawah akan membentuk setengah lingkaran atau lekukan pada bidang tengahnya, sedangkan disain pada bidang-bidang akhir akan saling berhadapan. Sehingga kedua kain itu, walaupun berbeda cara pemakainnya, tetapi mempunyai karakteristik yang sama. Hal itulah yang dimaksud dengan prinsip bayangan dalam cermin.

Prinsip bayangan dalam cermin merupakan konsep utama suatu komunitas dalam hubungannya dengan alam supranatural (alam gaib). Suatu komunitas diorganisasikan menurut nyanyian-nyanyian ritual, seperti Na mauna la mara - Na ninuna la wai (pantulan pada tanah kering dan bayangan dalam air). Dapat dikatakan bahwa kehidupan di dunia nyata merupakan bayangan dari kehidupan di dunia gaib yang dianggap lebih tinggi. Prinsip bayangan dalam cermin ini tergambarkan pula dalam bahasa upacara yang disebut luluku. Bahasa upacara merupakan kalimat kiasan berpasangan (paralel) yang berbait-bait untuk menyampaikan pengertian yang lebih luas. Setiap bait terdiri dan dua kalimat yang mempunyai arti yang hampir sama atau berlawanan. Misalnya, Na Mawulu Tau - Na Majii Tau (Yang Membentuk Manusia dan Yang Membuat Manusia), dan Ina Mangu Tanangu - Am a Mangu Lukungu (Ibu yang punya tanah dan Bapak yang punya sungai). Ekspresi paralelisme dalam bahasa upacara merupakan suatu aturan yang berlaku pula pada aspek lainnya dalam kehidupan masyarakat Sumba Timur.

Gambaran lain dan prinsip bayangan dalam cermin ini ialah pada cara para maramba (bangsawan) memperlakukan hamba-hamba mereka, khususnya bagi hamba-hamba yang disebut ata ndai (hamba pusaka). Ata ndai ialah hamba-hamba yang turun-temurun tetap bersama majikannya. Oleh karena itu, golongan ini biasa disebut juga ata ranja maramba (hamba yang setingkat dengan bangsawan). Merek a merupakan hamba-hamba yang dihormati dan disegani. Dari golongan inilah terdapat orang-orang yang disebut ata bokulu (hamba besar), yaitu orang-orang yang berpengaruh serta menjadi kepercayaan para bangsawan yang bersangkutan. Di mana majikannya kawin, di sana pulalah ia kawin. Mereka itulah yang dijadikan ngara hunga (gelar nyata) dari majikannya. Biasanya para raja atau bangsawan lebih suka bila namanya tidak disebut-sebut, tetapi menggunakan nama hambanya, misalnya Umbuna i Ndilu (Tuan si Ndilu) dan sebagainya. Dalam upacara perkawinan bangsawan, nama hamba pengantin wanita yang didandani dengan pakaian dan perhiasan indah (ana mamoha) digunakan sebagai pengganti nama pengantin wanita. Nama ana mamoha itu dipakai terus selama upacara perkawinan berlangsung oleh pihak keluarga pengantin laki-laki. Pada upacara penguburan seorang raja atau bangsawan, salah seorang hamba kepercayaannya dikenakan pakaian dan perhiasan yang serba indah dan menunggang kuda kesayangan raja itu ke tempat pemakaman. Pada saat itu ia mewakili arwah majikannya yang sedang menuju alam gaib, dan ia mendapat penghormatan serta pelayanan yang layak dilakukan kepada seorang raja.

Dalam kehidupan sosial, suatu konsep yang dianggap penting diekspresikan oleh kata papa (pasangan, seperti tangan sebelah kiri dengan sebelah kanan). Kedua belah tangan dapat dipandang sebagai satu pasangan yang sama, tetapi dapat pula sebagai pasangan yang berlawanan. Hal itu dimisalkan seperti orang yang seda ng memanjat di antara dua batang pohon lontar yang berdekatan. Ketika naik atau turun, orientasi dari setiap tangan berbeda, tetapi membentuk suatu kerja sama yang serasi. Masyarakat Sumba Timur menggunakan situasi itu sebagai simbol dalam suatu perundingan, dan disebut dengan istilah pamerangu la lima (menyamakan tangan-tangan). Para wunangu yang menjadi mediator dan juga memimpin suatu perundingan mengemukakan hal itu dengan bahasa kiasan Ka da pahamangu la ngaru - ka da pamerangu la lima (maka mulut-mulut itu akan menjadi sekata dan tangan-tangan itu menjadi sama). Demikianlah kata papa menunjukkan dua peran yang saling berlawanan, tetapi juga saling melengkapi, misalnya pamau papa (menaungi pasangan, jodoh), hapapa kadu (pasangan tanduk), papa ngaru (pasangan mulut, kawan berbicara).

Prinsip ketiga dalam pengaturan komposisi pada kain tenun ialah penggunaan angka-angka yang paling disukai masyarakat dalam mengklasifikasikan atau menilai sesuatu. Angka-angka atau hilangan-bilangan itu ialah 2, 4, 8, dan 16 (2 x 8). Bilangan dua mempunyai arti penting dalam konsep bayangan dalam cermin, bilangan empat mempunyai arti penting dalam pengaturan kehidupan sosial, bilangan delapan merupakan bilangan yang dianggap sempurna, terutama segala sesuatu yang berhubungan dengan upacara-upacara keagamaan, dan bilangan enam belas menandakan pada hal-hal yang sangat istimewa (biasanya yang bersangkutan dengan keagamaan, raja, dan alam gaib). Masyarakat Sumba Timur percaya bahwa segala aturan yang mengatur kehidupan mereka ditetapkan oleh delapan marapu (arwah nenek moyang yang didewakan) yang kini dipuja di delapan rumah pe mujaan yang tersebar di berbagai daerah di Sumba Timur. Konsepsi masyarakat Sumba Timur mangenai alam semesta menunjukkan hubungan bilangan antara dua kali delapan. Menurut pandangan mereka, langit (alam atas) terdiri dari delapan tingkat yang disebut Awangu walu-ndani, bumi dan laut (alam bawah) terdiri dari delapan lapis yang disebut Tana walu ndawa, sedangkan tanah yang ditempati manusia (alam tengah) merupakan pusat yang disebut Ina tanangu - Ama lukungu.

Bilangan-bilangan yang terdapat dalam kain tenun ialah pada disain yang berpasangan, yaitu pada dua panil yang merupakan bayangan dalam cermin, dan pada empat sudut yang membentuk bidang pada setiap helai kain. Bilangan de lapan berhubungan dengan jalur-jalur dan bidang-bidang dari setiap disain. Secara umum, dalam separuh kain hinggi terdapat empat bagian (empat jalur) yang dihiasi ragam hias, yaitu padua (bagian tengah), talaba dita (bagian atas), tau (badan), dan talaba wawa (bagian bawah). Bila ternyata terdapat lebih dari empat jalur, mereka tetap berpendirian bahwa dalam separuh kain itu terdapat empat jalur saja. Jalur-jalur selebihnya dianggap sebagai bagian padua atau talaba dita. Ragam hias yang digambarkan pada bagian tau merupakan ragam hias utama yang menentukan nama dari kain itu. Bagian talaba dita dan talaba wawa merupakan jalur-jalur pengapit bagian tau. Sedangkan bagian padua merupakan bagian yang terpenting karena mempunyai disain yang ada hubungannya dengan status sosial tertentu atau hal-hal yang dianggap sakral. Bagian padua ini disebut juga kundu duku (bahu pemikul).

Masyarakat Sumba Timur mengatur perkampungan mereka berdasarkan bilangan-bilangan yang tersusun secara bertingkat. Untuk mendapatkan status sebagai paraingu (desa), maka penduduk pada sebuah paraingu paling sedikit harus terdiri dari dua kabihu utama yang dipertuan di dalam wilayah itu. Biasanya dalam suatu paraingu terdapat empat kabihu, karena menurut pandangan mereka dalam satu paraingu itu terdapat empat siku yang membentuk paraingu itu, dan setiap siku didiami oleh s atu kabihu. Empat kabihu itulah permegang tanggung jawab dalam wilayahnya. Di dalam pertemuan-pertemuan resmi atau musyawarah -musyawarah adat, nama-nama dari keempat kabihu itu selalu diucapkan serangkai, misalnya Palai Malamba - Watu Pelitu, Lamuru - Lukuwalu. Sedangkan untuk mendapat status sebagai paraingu bokulu (perkampungan besar) harus terdiri dari delapan (2 x 4) kabihu atau enam belas (2x8) kabihu.



uma mbatunguuma kamudungu kabihu (uma bokulu)kambaniru lundungu
Masyarakat Sumba Timur membagi kelompok kekerabatannya menjadi empat kelompok, yaitu biliku, ukuruma, uma, dan kabihu. Demikian pula dalam pergaulan antar individunya terdapat pembedaan kedudukan dan derajat yang terdiri dar i empat lapis, yaitu ratu, maramba, kabihu, dan ata. Dalam perkawinan, jumlah harta yang diberikan oleh pihak laki-laki dan harta yang diterima dari pihak wanita selalu dihubungkan dengan bilangan yang diinginkan dan status sosial dari kedua belah pihak, misalnya mas kawin yang berbentuk perhiasan biasanya terdiri dari empat mamuli mas, dua kanataru atau lakululungu dan dua lulu amahu (jumlah seluruhnya ada delapan buah), dan yang berbentuk hewan terdiri dari empat ekor kuda (dua jantan, dua betina). Untuk perkawinan pada kalangan bangsawan, jumlah itu dapat bertambah dua kali lipat, empat kali lipat, atau delapan kali lipat.

Urutan pelaksanaan upacara-upacara keagamaan direncanakan pada suatu skala yang bertingkat dari dua, empat (2 x 2), delapan (2 x 4), dan enam belas (2 x 8) hari atau tahun tergantung dari penting tidaknya upacara itu. Suatu peristiwa dapat saja berjarak lebih lama, tetapi pada prinsipnya hanya hari atau tahun resmi saja yang dihitung. Bila suatu pesta atau upacara tidak dapat dilaksanakan tepat pada waktunya, sebenarnya upacara itu ditunda selama dua hari atau dua tahun. Adapun lamanya upacara itu dilaksanakan diukur pula menurut bilangan-bilangan yang diinginkan berdasarkan tahapan-tahapan yang disebut na rehi dambu (dua kali), na rehi patu (empat kali) dan na rehi walu (delapan kali)



Makalah yang disampaikan dalam acara pameran dan diskusi bertema Tradisi Kain Tenun dalam Kebudayaan Sumba” yang diselenggarakan oleh Forum Kajian Antropologi Indonesia dan Bentara Budaya Jakarta pada 12 April 2006 di Jakarta.
Sumber: ethnica-ventura
Comments
3 Comments

3 komentar:

toko tenun mengatakan...

artikel yang bagus gan , makasih infonya

tenuntradisionaljepara mengatakan...

keren artikelnya , sangat bermanfaat

Arti Nama Anak Bayi mengatakan...

Artikel yang sangat bagus, menambah wawasan kita semua.

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD