Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Kamis, 06 Juni 2013

Kain Sumba Bukan Kain Tenun Biasa

Tujuan utama dari pembuatan kain, Sumba, ialah untuk dipakai oleh pria atau wanita sebagai alat untuk menahan pengaruh dari sekitaran alam. Akan tetapi, kain Sumba bukan kain tenun biasa karena masih ada lagi fungsi lain yang penting artinya bagi kehidupan masyarakat Sumba, yaitu sebagai busana adat, tanda hubungan kekeluargaan, pembungkus jenazah dan bekal kubur, harta benda, alat tukar menukar dan barang hadiah.



1. Busana Adat

 
Adapun yang dimaksud dengan busana adat ialah pakaian yang dikenakan menurut aturan-aturan tertentu dan telah dilakukan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Menurut ketentuan adat, kelengkapan pakaian pria terdiri dari tiara (ikat kepala) atau disebut juga kambala ; dua helai hinggi, sehelai dililitkan di pinggang dan disebut kalambungu, sehelai digantungkan di pundak dan disebut paduku ; ruhu banggi (ikat pinggang) yang merupakan lilitan tali, ikat pinggang kulit atau kain tenun ; kabiala (parang) yang diselipkan di sebelah kiri pinggang; kalumbutu (tempat sirih pinang) yang digantungkan di sebelah kanan pundak. Sebagai perlengkapan tambahan pada ruhu banggi diikatkan sebuah tuangalu, yaitu sebuah kotak kayu tempat menyimpan mamuli (perhiasan mas, perak).

Pakaian yang biasa dipakai sehari-hari ialah hinggi patinu mbulungu, hinggi papabetingu, atau hinggi kawuru. Sedangkan hinggi kombu tidak dipakai sehari-hari, melainkan bila ada peristiwa-peristiwa penting atau upacara. Apabila dipakai juga hinggi kombu sebagai pakaian sehari-hari, biasanya hinggi kombu yang sudah tidak baik atau kumal yang disebut katari hinggi (selimut usang). Tapi sangat disayangk an bahwa kini kain-kain tenun tradisional sudah jarang dipakai oleh orang Sumba Timur. Mereka lebih menyukai kain buatan pabrik (hinggi tiara), karena lebih murah dan mudah didapat di toko-toko. Bagus tidaknya atau bermutu tidaknya bahan kain itu tergantung kepada kesanggupan membeli dari orang yang bersangkutan.

Pakaian yang dikenakan pada peristiwa-peristiwa penting, seperti pada pesta-pesta atau upacara-upacara religius, harus pakaian yang baik dan bersih. Pakaian yang terbaik ialah hinggi kawuru atau hinggi kombu. Pada umumnya tidak ada perbedaan antara pakaian yang dikenakan oleh ratu atau maramba dengan pakaian yang dikenakan oleh kabihu dan ata. Bila ada, hal itu hanya menyangkut kualitas saja dan kain yang mempunyai motif ragam hias tertentu, seperti motif ruu patola yang disebut juga patola ratu. Kain tenun yang mempunyai motif patola ratu ini hanya boleh dikenakan oleh para ratu dan maramba saja.

Perlengkapan pakaian wanita hanya terdiri dari lau saja. Cara mengenakan lau ialah dengan mengepitnya di ketiak sebelah kiri, disangkutkan di pundak kiri, atau dilipat di pinggang, Kini selain lau, para wanita mengenakan juga kebaya atau pakaian atas lainnya. Dahulu sebelum dikenal pemakaian kebaya atau pakaian atas lainnya, mereka hanya memakai lau saja dengan bertelanjang dada. Kain sarung yang dipakai sehari-hari ialah lau patinu mbulungu atau lau papabetingu dan lau tiara. Bila hendak beper gian atau pada pesta dan upacara mereka mengenakan lau ruukadama, lau kawau, atau lau kombu. Akan tetapi, karena sarung-sarung itu terasa agak berat bila dipakai, maka lebih disukai sarung yang dibuat dari kain yang dibeli dari toko. Kain sarung semacam itu disebut lau tiara hatingu (sarung kain satin) atau lau tiara hutaru (sarung kain sutera). Agar menjadi bagus, sarung-sarung itu mereka hiasi dengan sulaman dari berbagai motif ragam hias seperti ayam, burung-burung, bunga-bunga dan sebagainya. Kain sarung yang dihiasi sulaman ini disebut lau pabunga (sarung yang dihiasi) atau lau pakambuli (sarung yang disulam).


Para wanita bangsawan atau hartawan ada yang menghiasi sarung-sarung mereka dengan uang logam Belanda terbuat dari perak bernilai dua setengah gulden atau uang emas Inggris (poundsterling), sarung demikian disebut lau utu amahu (sarung jahitan emas atau perak). Ada pula kain sarung yang dihiasi dengan manik-manik (lau utu hada) dan sejenis kerang kecil (lau wihi kau}. Selain kain-kain sarung tersebut di atas, pada pesta dan upacara dapat pula dikenakan lau pahikungu atau lau pahudu. Perlengkapan lain yang harus dibawa ialah buala hapa (tempat sirih pinang untuk wanita), sebagai perhiasan biasanya mereka memakai sisir yang terbuat dan kulit penyu (hai) di sanggulnya, kalung dan gelang manik-manik (muti ana hida) serta anting-anting mas.


2. Tanda Hubungan Kekeluargaan

Menurut pandangan masyarakat Sumba Timur, hidup berkerabat atau payiara-palayiangu merupakan ngia parengga la handuka (tujuan tercepat dalam susah), artinya bila dalam kesusahan kepada kerabatlah tempat kita dengan segera meminta pertolongan. Memberi sesuatu kepada kaum keluarga tidak dinilai menurut barang yang akan diberikan atau menurut barang yang akan diterima. Paling utama memenuhi apa yang dibutuhkan dan tidak ada tawar-menawar seperti yang dilakukan terhadap orang bukan keluarga. Lalu-lintas barang-barang atau hewan selalu diperhatikan arahnya. Suatu aturan tetap ialah bila arahnya kepada pihak yiara (keluarga wanita), maka harus berupa mas perak, kuda, dan kerbau. Sebaliknya bila arahnya kepada pihak layia (keluarga laki-laki), harus berupa hinggi (kain selimut), lau (sarung), tiara (ikat kepala), hada (manik-manik), nggedingu (gading) dan wei (babi).

Dalam hal perkawinan, pihak layia akan memberi mas kawin berupa barang-barang mas perak dan hewan. Sebagai balasannya pihak yiara memberi hinggi, lau dan sebagainya yang banyaknya tergantung kepada kesanggupan dan kemampuan keluarga yang bersangkutan. Ada kalanya sebelum perkawinan dilaksanakan, untuk mengikat persetujuan kedua keluarga, mereka saling memberi kawuku (tanda bukti). Dari pihak keluarga wanita memberi hinggi, lau dan tiara kepada pihak keluarga laki-laki, dan dari pihak keluarga laki-laki akan memberi dua mamuli, dua lulu amahu serta dua ekor kuda.

Pada saat kematian, bila yang meninggal dari pihak yiara, maka pihak layia harus membawa emas perak, kuda atau kerbau. Bila yang meninggal dan pihak layia, pihak yiara harus membawa hinggi (kalau yang meninggal laki-laki) atau lau (kalau yang meninggal wanita). Demikian pula dalam mandara (mencari bahan makanan). Bila hendak meminta padi atau jagung ke pihak yiara, maka harus membawa emas perak. Sebaliknya bila ke pihak layia harus membawa hinggi atau lau, Demikianlah, bukan saja dalam urusan perkawinan atau kematian, tanda perhubungan ini nyata pula dalam hubungan kekeluargaan sehari-hari. Kedua pihak itu selalu saling memberi dan menerima. Bila pihak layia membutuhkan hinggi atau lau, maka dapat memintanya pada pihak yiara, sebaliknya bila pihak yiara membutuhkan mamuli atau hewan, mereka dapat memintanya kepada pihak layia. Tujuan barang-barang dan hewan itu selalu tetap dan tidak dapat ditukar arahnya.

Selain dapat memelihara hubungan kekeluargaan, kain tenun dapat pula digunakan untuk memelihara hubungan baik dengan yang bukan keluarga. Misalnya dalam suatu pesta atau keramaian, tuan rumah ketika membagi sirih pinang atau dalam melayani makan minum para tamu hendaknya memperhatikan kedudukan seseorang dalam masyarakat, yaitu harus disesuikan dengan tingkatan derajat dan tingkatan usia. Apabila terjadi kekeliruan, dan orang yang bersangkutan merasa dihina atau dipermalukan, maka ia akan menuntut atau meninggalkan pesta itu. Untuk memperbaiki kembali keadaan itu, tuan rumah harus ndoku (mengaku salah) dengan memberi sejumlah kain kepada orang yang bersangkutan dan memotong seekor kerbau atau babi. Bila ia tidak melakukan hal itu maka hubungan akan menjadi tidak baik, bahkan dapat putus sama sekali atau mungkin saja ia akan diperlakukan dengan cara yang sama.


3. Pembungkus Jenazah dan Bekal Kubur


Kain tenun selain dikenakan oleh orang yang masih hidup, dikenakan juga pada orang yang sudah mati sebagai pembungkus jenazahnya. Pembungkus jenazah pria terdiri dari kain-kain selimut yang dibawa oleh kaum kerabatnya, sedangkan untuk wanita terdiri dari kain-kain sarung. Kain-kain pembungkus jenazah disebut yubuhu, dibedakan menjadi dua bagian, yaitu yubuhu la tana (kain jenazah di tanah) dan yubuhu la kaheli (kain jenazah di balai). Yubuhu la tana dibawa oleh si mati ke dalam kubur, sedangkan yubuhu la kaheli disumbangkan kepada keluarga si mati. Yubuhu dikenakan pada jenazah ketika dilakukan upacara Pahadangu (membangunkan), yaitu ketika jenazah dimasukkan ke dalam keranda secara duduk dengan lutut ditekuk dan bertopang dagu. Pada saat itulah segala kain yang dibawa kaum kerabat si mati dikenakan dan diselubungkan pada jenazah. Hal tersebut dilakukan karena menurut pandangan orang Sumba Timur, kehidupan di alam akhirat identik dengan kehidupan di alam nyata. Oleh karena itu, agar arwah si mati tidak hidup sengsara di alam akhirat, maka perlu diberi bekal secukupnya antara lain berupa dangangu ihi ngaru, yaitu mas perak serta hewan korban, dan yubuhu-karandi yang terdiri dari kain-kain selimut atau sarung serta ikat kepala. Jadi selain sebagai pembungkus jenazah, kain tenun berfungsi pula sebagai bekal kubur.

Masih berhubungan dengan hal kematian, kain tenun dapat digunakan pula sebagai lambang kehadiran arwah seseorang yang telah mati. Orang yang mati karena kemalangan atau kecelakaan (meti manjurangu), mayatnya tidak boleh dibawa masuk ke dalam rumah dan harus segera dikuburkan. Penguburan itu merupakan penguburan sementara, dan arwah si mati dianggap masih berada di tempat kecelakaan itu terjadi. Oleh karena itu, sebelum upacara penguburan dilaksanakan, maka terlebih dahulu dilakukan upacara Lua papiti hamangu, yaitu upacara untuk menjemput arwah di tempat terjadinya kecelakaan dengan maksud agar arwah si mati dapat berkumpul dahulu dengan keluarganya dan tidak menjadi arwah penasaran. Arwah yang dijemput itu dilambangkan dengan sehelai kain. Bila orang yang mati itu laki-laki maka kain yang digunakan adalah kain selimut, dan bila wanita digunakan kain sarung. Setelah itu dilakukan penggalian untuk mengambil mayat atau tulang belulang si mati yang kemudian dibungkus oleh kain itu dan dibawa ke dalam rumah. Sesudah wai maringu (pemberi berkat) mendinginkan mayat atau tulang belulang dengan percikan air mantera, barulah dilakukan upacara penguburan seperti yang lazim dilakukan pada kematian biasa.

Kain tenun, khususnya hinggi, dapat pula melambangkan orang yang masih hidup. Hal itu dapat dilihat pada saat kelahiran seorang anak. Apabila ada seorang ibu hendak melahirkan dan suaminya tidak dapat hadir karena sedang bepergian atau hal lainnya, maka kehadiran si suami dapat diwakili oleh kain selimutnya. Hal itu dianggap penting sekali, karena menurut anggapan mereka si bayi akan sulit keluar dari rahim ibu bila tidak ditunggui oleh ayahnya. Dengan adanya kain selimut itu, si bayi diharapkan dapat lahir dengan selamat. Cara seperti tersebut disebut rambangu hinggi.


4. Harta Benda

Masyarakat Sumba Timur menilai kain-kain selimut dan sarung sama dengan benda-benda yang terbuat dari emas dan perak serta hewan-hewan ternak, yaitu sebagai harta benda. Harta benda yang berupa kain merupakan kekayaan pihak wanita dan juga merupakan lambang kewanitaan. Sedangkan harta benda yang berupa emas perak dan hewan ternak merupakan kekayaan pihak laki-laki dan juga sebagai lambang kelaki-lakian. Seorang gadis yang mempunyai banyak simpanan kain selimut dan sarung akan menjadi idam-idaman para pemuda, apalagi bila kain-kain simpanannya itu adalah hasil karyanya sendiri. Demikian pula halnya dengan seorang istri, ia akan menjadi kebanggaan suaminya.

Kaum wanita dalam masyarakat Sumba Timur berperan sebagai tungu pani manu - tungu uhu wei (pemelihara ayam dan babi), yaitu sebagai pengurus rumah tangga, maka harus pula pingu patinungu (pandai menenun), pingu papaingu (pandai mengikat kain) dan pingu pahikungu (pandai menyungkit sarung). Seorang wanita yang memiliki salah satu kepandaian itu, sudah tentu mendapat perhatian pria bila dibandingkan dengan wanita yang sama sekali tidak tahu apa-apa. Apalagi bila wanita itu dapat menguasai seluruh kepandaian itu. Itulah sebabnya para orang tua Sumba Timur mendidik dan melatih puteri-puteri mereka sejak masa kanak-kanak, sehingga pada masa dewasa mereka sudah cakap menggunakan kepandaiannya itu dan menjadi kebanggaan keluarga.


5. Alat Tukar Menukar

Telah dikemukakan hahwa bila pihak layia membutuhkan sesuatu, mereka dapat memintanya kepada pihak yiara dengan membawa barang-barang yang sudah ditentukan sebagai tukarannya, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi, apa yang dibutuhkan tidak selamanya ada pada kaum kerabat. Karenanya harus diusahakan pula dari orang lain. Misalnya bila seseorang membutuhkan kain maka ia dapat pergi kepada orang yang mempunyai kain dengan tukaran ternak atau benda mas perak. Sebaliknya bila membutuhkan hewan ternak atau emas perak, maka ia pergi kepada orang yang mempunyainya dengan tukaran kain. Nilai barang-barang yang ditukarkan biasanya tergantung pada kualitas barang-barang itu dan didasarkan pada kesepakatan bersama antara orang-orang yang hendak tukar menukar.


6. Barang Hadiah

Memberi hadiah, baik kepada orang-orang yang masih ada hubungan kerabat maupun kepada orang-orang yang bukan kerabat, merupakan suatu hal yang biasa dilakukan orang Sumba Timur. Barang-barang yang dihadiahkan umumnya berupa kain selimut atau kain sarung, ada kalanya pula berupa benda-benda mas perak atau hewan ternak. Kain-kain tenun dihadiahkan bukan pada setiap saat, melainkan bila ada peristiwa-peristiwa penting seperti pada kelahiran seorang anak, perkawinan, kematian, atau dihadiahkan kepada orang-orang yang dianggap berjasa dan kepada tamu-tamu yang dihormati. Untuk pria dihadiahkan kain selimut, sedangkan untuk wanita dihadiahkan kain sarung.

KESIMPULAN

Setelah mengkaji simbol-simbol dalam disain kain tenun dan menghubungkannya dengan aspek-aspek kehidupan masyarakat Sumba Tirnur, maka dapat disimpulkan bahwa keduanya menunjukkan suatu pola dasar yang sama, atau mempunyai prinsip-prinsip struktural yang sama. Prinsip-prinsip itu meliputi tiga aspek, yaitu pembagian dua tiga (dyadic-triadic), bayangan dalam cermin (mirror image), dan pemakaian bilangan-bilangan favorit dalam menilai atau mengklasifikasikan sesuatu (2,4,8,16), Ketiga prinsip itu memperlihatkan ciri antagonisme kosmologis yang bertepatan dengan klasifikasi kosmos yang membedakan adanya alam atas, alam tengah, dan alam bawah, atau klasifikasi atam atas dan kombinasi antara alam tengah dengan alam bawah. Sistem klasifikasi itu, bagi alam atas dihubungkan dengan lingkungan pria yang sakral, dan bagi alam bawah dihubungkan dengan lingkungan wanita yang profan. Sedangkan alam tengah bersifat ambivalen karena memperlihatkan baik ciri-ciri pria maupun wanita. Klasifikasi ke dalam dua kategori seperti bersifat pria dan bersifat wanita, sakral dan profan, alam atas dan alam bawah, memberikan pengertian bahwa kedua kategori itu saling bergantungan dan saling mengisi. Adanya pertentangan dalam kedua kategori itu merupakan keharusan untuk membentuk suatu totalitas. Totalitas ini dalam disain kain tenun dilambangkan oleh bidang pusat (padua) yang memenuhi fungsi perantara atau penengah di antara dua bidang samping. Selain selalu dicari keseimbangan antara lingkungan pria dengan lingkungan wanita, yang sifat berlawanannya itu dipertautkan oleh lingkungan dua-muka (ambivalen) dan dengan demikian membentuk suatu kesatuan, maka dalam perilaku kehidupan orang Sumba Timur serta kebudayaannya dapat ditelusuri suatu kesatuan lain yang disebut pahamburungu (pertemuan).

Proses-proses inversi sering terjadi dalam arti adanya perpindahan kategori ke dalam lingkungan yang berlawanan. Misalnya pada pemakaian hinggi yang dapat dikenakan baik secara vertikal maupun secara horizontal; bidang atas dapat pula dilihat sebagai bidang bawah; suatu kabihu dalam hubungannya dengan kabihu lain, dapat saja berperan sebagai klen pemberi wanita yang kedudukannya lebih tinggi, tetapi di lain pihak kabihu tersebut berperan sebagai klen penerima wanita yang kedudukannya lebih rendah; atau pada cara memperlakukan para hamba pada upacara penguburan seorang raja. Proses inversi ini dapat ditafsirkan sebagai pengolahan lingkungan-lingkungan yang berlawanan oleh kebudayaan masyarakat Sumba Timur yang tidak dapat menerima pertentangan-pertentangan tajam. Melalui inversi maka tercakuplah lingkungan yang satu ke dalam lingkungan yang lain, dan ambivalensi alam tengah mempunyai fungsi sosial yang merupakan sumber serta gagasan keseimbangan yang bersifat kompromistis.

Ketiga prinsip yang telah dikemukakan nampaknya cenderung membentuk nilai estetika masyarakat Sumba Timur. Estetis dalam konteks ini tidak hanya menunjukkan pada ukuran keindahan saja, melainkan mengikuti pula bentuk-bentuk khusus, yaitu kesetiaan pada prinsip-prinsip yang merupakan nilai-nilai dasar serta orientasiorientasi dasar yang berfungsi sebagai pedoman tertinggi dalam mengatur dan mengorganisasikan segala aspek kehidupan dari masyarakat yang bersangkutan. Nilai-nilai dasar serta orientasi-orientasi dasar itu terdapat di dalam proses pemikiran sebagaimana diungkapkan oleh simbol-simbol dalam mitos-mitos, struktur sosial dan kebudayaan materi (dalam hal ini kain tenun) dari masyarakat itu. Dengan demikian pola kebudayaan masyarakat Sumba Timur dapat dikenal dan difahami dengan jalan mengkaji simbol-simbol yang terdapat dalam disain kain tenun yang mereka buat, karena simbol-simbol itu bukan saja mengungkapkan ekspresi pikiran dan perasaan individu para penenun, tetapi mengungkapkan pula aturan-aturan yang menjadi dasar dari perilaku budaya yang berlaku dan diterima oleh masyarakat bersangkutan. Dalam hal ini kain tenun merupakan suatu alat atau wadah untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan masyarakat Sumba Timur dalam menanggapi alam sekelilingnya serta mengungkapkan prinsip-prinsip struktural yang tersirat. Ekspresi tersebut dinyatakan dalam disain kain beserta ragam hiasnya, dan sekaligus berfungsi sebagai hiasan dari kain tenun itu sendiri.

Bila dihubungkan dengan kategori karakter dualisme, kain tenun dapat digolongkan ke dalam lingkungan wanita yang secara khas berlawanan dengan benda-benda logam dari lingkungan pria. Kain tenun merupakan lambang kewanitaan dan juga berfungsi sebagai media yang menghubungkan antara lingkungan wanita dengan lingkungan pria. Selain fungsi tersebut di atas, kain tenun mempunyai fungsi lain yang penting artinya dalam kehidupan masyarakat Sumba Timur. Fungsi-fungsi itu meliputi bidang religius, sosial dan ekonomi, yang antara lain digunakan sebagai busana adat, pembungkus jenazah, bekal kubur, tanda hubungan kekeluargaan, harta benda, alat tukar menukar, dan barang hadiah. ****


Makalah yang disampaikan dalam acara pameran dan diskusi bertema Tradisi Kain Tenun dalam Kebudayaan Sumba” yang diselenggarakan oleh Forum Kajian Antropologi Indonesia dan Bentara Budaya Jakarta pada 12 April 2006 di Jakarta.
Sumber: ethnica-ventura



Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD