Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Minggu, 23 Juni 2013

Cerpen: Semburat Merah di Atas Sabana Sumba (End)


Semburat  Merah di Atas Sabana Sumba
 
        Oleh  Diana Pekulimu*)



BAB V




Ia terkejut beberapa tua adat yang dikenalnya dari kampung sebelah duduk di *talora rumahnya saat ia kembali dari melihat sawahnya. Mereka  sedang makan sirih dengan Ibunya. Wajah Ibunya yang tersenyum membuat ia berpikir pasti para tua-tua adat mengundangnya lagi untuk menyelesaikan masalah. Sempat didengarnya sayup-sayup bunyi tetabuhan gong dari sawah, itu mungkin karena ada dukacita atau juga sukacita. Jika ada hal yang terjadi di kampungnya orang-orang akan menabuh gong sebagai tanda, sehingga orang-orang dari kejauhan akan datang. Ibunya sangat bangga dengan undangan dari para tua- tua, tak mudah memang bagi seorang pemuda sepertinya untuk duduk di tikar adat.
“Sudah datang rupanya, kami menunggu sejak tadi.” Ucap seorang tua adat menyambutnya sambil memberikan kalekunya yang berisi sirih pinang.
“Ada berita apa,  jauh-jauh datang kemari.” Tanyanya setelah cukup lama berbasa-basi.
“Kami datang untuk hal yang baik. Anak kami sudah memetik sekuntum mawar dari rumah ini. Kami datang untuk memberi tahu kami siap untuk mengurus adat.”  Ucap mereka dalam pantun adat memulai pembicaraan membuatnya tersenyum mengingat adiknya Rambu Roku. Tak dibayangkan si anak manja itu dibawa lari pemuda.
“Rambu Roku adalah mawar yang kami jaga dengan baik. Anak siapakah pemuda yang telah membawanya? Jawabnya dalam balasan pantun adat.
“Bukanlah Rambu Roku, tapi Aya, Umbu.” Jawab Ibunya tiba-tiba, menyesakkan jiwa dan napasnya. 
Mendengar ucapan Ibunya, tanpa ditahan-tahannya, bersegera ia berlari ke belakang rumahnya, tak diperdulikannya ibunya dan para tua-tua yang terheran-heran  menatapnya. Diambilnya kuda terbaiknya, parangnya sudah tergantung di pinggangnya, jika mereka menyentuh Ayanya berarti mereka minta mati, teriaknya dalam hati, kemarahannya tak bisa di tahannya.
“Ubbu, Ubbu…” Sebuah teriakan dari semak-semak menghentikannya dalam perjalanan memasuki kampung tetangganya. Tiba-tiba saja gadis yang dicarinya keluar dari semak -semak dengan bercucuran air mata. Ia tampak sangat ketakutan.
 “Apa yang terjadi denganmu?’’ Teriaknya hampir tak tertahankan sambil melompat dari kuda.
“Mereka melarikan saya saat saya mau ke sungai Ubbu. Ubbu biarkanlah saya pergi sekarang. Mereka tidak tahu kalau saya berhasil pergi. Saya tidak ingin kembali ke sana, jangan Ubbu mengawinkan saya dengan mereka.”
“Hanya bila aku mati baru kau kulepaskan, kau dengar?  Cepat kau ke gereja sekarang!”  Perintahnya. “ Aku akan pergi ke kampung laki-laki itu. Janganlah kau ke mana-mana. Sekarang aku akan menyelesaikan tugasku dengan budak yang melarikanmu itu, bahwa aku telah mengambilmu kembali. Jika dia tidak bersedia akan kubakar rumah tuannya atau akan kubakar kampungnya, lihat saja.” Teriaknya marah.
“Tapi Ubbu,”
“Tidak, Aya, pergilah ke gereja sekarang, dan tunggu aku di sana.”
Di kampung adat ia segera menuju rumah yang sedang ramai dipenuhi orang, yang berpesta karena telah berhasil membawa lari seorang gadis. Orang-orang tak tahu kalau wanita yang mereka larikan sudah lama pergi. Gong ditabuh makin keras, mengundang orang-orang untuk datang. Sirih pinang diedarkan pada para tamu yang telah datang. Kedatangannya mengejutkan mereka, itu pertanda tak baik, karena para penatua adat belum juga kembali tapi Umbu Djatti sudah datang terlebih dahulu. Gong segera dihentikan,  mereka, cepat-cepat memberikan sirih pinang untuk menyambutnya, tapi segera ditampiknya. 
“Saya datang untuk menyampaikan bahwa saya sudah membawa Aya kembali.” Ucapnya tegas membuat beberapa perempuan berlari-lari memeriksa kamar yang didapati mereka sudah kosong melompong.
Keriuhan pun terjadi saat mereka tahu bahwa gadis yang mereka larikan itu sudah tidak ada lagi. Pemuda yang melarikan Aya, hanya seorang budak karena itu tak sedikit pun dia berani mengangkat kepalanya. Hanya tuannyalah yang berbicara. 
“Duduklah dulu Umbu Djati, dan terimalah sekapur sirih dari kami. Jika Umbu tak mengijinkan kami mengambil *alas kaki Umbu, tidaklah kami akan mengambilnya, jadi tak perlulah Umbu marah, terimalah dua lembar kain dan seekor kuda dari kami sebagai permintaan maaf kami jika memang demikian, tapi ijinkanlah kami mengetahui alasan Umbu datang untuk mengambilnya kembali, apakah sudah ada pemuda lain yang telah lebih dulu mengikatnya?” Tanya tuan rumah itu yang mengenal Umbu Djatti dengan baik, sebab mereka sering bertemu dalam beberapa kali pertemuan adat.
“Ya, akulah pemuda itu.” Ucapnya tegas.
Jawabannya membuat keriuhan di antara orang -orang, namun tidak ada yang berani berbicara sampai setelah ia membalikkan kudanya meninggalkan keriuhan itu.
Ia tahu sekarang, apinya sudah mulai menyala. Sebentar lagi semua orang akan tahu, Ibunya, keluarganya, kampungnya, semuanya. Ia memacu kudanya kencang-kencang ke gereja. Ia harus mengambil Aya sebagai istrinya, ia akan menyampaikan pada ibunya, ia takkan mundur.
Ia berhenti saat melihat pdt. Vandeerhart di jalan yang akan dilaluinya.
“Pendeta, apakah Aya ada di gereja? saya menyuruhnya ke sana.” Tanyanya sambil turun dari kuda.
“Kita akan ke gereja dan membicarakan ini Umbu.” Jawabnya sambil melangkah ke gereja.
Saat tiba, dilihatnya gereja kecil itu kosong, sekosong hatinya. Tanpa menunggu penjelasan pendeta, dia menuju ke pastori tempat pendeta, tapi tak dilihatnya juga Aya di sana. Ia mengelilingi gereja itu, tapi tak dilihatnya gadis itu.
Tatapan sedih dari biru mata pendeta Belanda itu seolah-olah mengiris hatinya. Ia tidak punya cukup kekuatan untuk bertanya, ia hanya terduduk di kursi kayu gereja mendengarkan pendeta Vandeerhart bercerita.
”Aya datang padaku dan bercerita segalanya padaku. Tak kubayangkan akan seperti ini.  Aku berdoa untuknya dan memintanya untuk tinggal sampai kau datang, tapi beberapa waktu sebelum kau datang, ibunya datang menjemputnya di sini. Ibunya tak bilang akan pergi ke mana, tapi mereka membawa kuda, sepertinya untuk perjalanan jauh. Aku tak bisa menahan mereka jadi kulepaskan mereka.”
Penjelasan pendeta Belanda itu mematahkan hatinya. Aya belum tahu bahwa ia menaruh hatinya pada gadis itu, dan sekarang saat ia hendak mempersuntingnya, gadis itu dibawa pergi kedua kalinya dari hidupnya.
Sepanjang hari itu dipacunya kudanya, ia mengelilingi padang-padang sejauh yang diketahuinya, tapi padang yang kering dan panas menelan jejak gadisnya tanpa sayang. Saat kembali ke kampung, didapatinya Ibunya yang marah dan menangis,  malu karena pengakuannya di kampung sebelah dan marah karena perginya Aya dan keluarganya tanpa pamit.






BAB VI


Detak dan gerak kaki kuda membangunkannya. Hari sudah terang. Matahari berkilau di atas  embun, pekatnya kabut pagi membasahi tubuhnya. Rupanya kelelahan membuatnya tertidur di punggung kudanya. Ibunya dan adiknya di atas kuda mereka masing-masing hanya memandang ke depan tanpa suara.
“Mama, kita di mana?” Tanyanya ingin tahu.
“Kita di Lewa sekarang. sedikit lagi kita berhenti, kita akan makan dan melanjutkan perjalanan.” Jawab ibunya nampak lelah.
“Kita akan kemana, mama?”
“Kita akan ke Waingapu. Di sana ada Om Njara yang sudah menunggu. Kita akan aman di sana.” Jawab adiknya.
“Tidak Reku, kita tidak akan menemui siapapun, termasuk Ommu. Kita akan pergi mencari tanah baru dan hidup baru, jauh dari orang-orang yang kita kenal. Kau dan Aya harus meninggalkan hidup lama. Ingat pendeta Belanda itu bilang, bahwa Mori Jesus di atas sana beserta kita. Kita harus mulai hidup baru. Aku membawa cukup banyak barang yang bisa ditukar. Kuda inipun kita akan tukar untuk dapat membeli tanah.” Jawab Ibunya mengagetkan mereka berdua.
“Kita berhenti di sini, perintah ibunya sambil turun dari kuda saat melihat tanah yang rata, setelah seharian perjalanan yang melelahkan.
“Ini sudah di Waingapu. Sepertinya ini kebun orang. Kita akan mencari siapa pemiliknya. Rumah mereka pasti tidak terlalu jauh dari sini.
“Apakah itu benar, maMa? Saya senang sekali. Saya ingin bersekolah, Mama. Pendeta bilang di Waingapu sudah ada sekolah  yang mereka dirikan, mungkin kalau mereka tidak tahu kalau kita hanya hamba, mereka akan membiarkan kita sekolah.” Serunya senang, membayangkan bisa bersekolah, seperti cerita yang sering didengarnya dari pendeta Belanda mereka.
“Tentu saja, Aya, kau akan bersekolah. Kita tidak akan pernah kembali. Mulai hari ini kau jadi Rambu Ery dan Reku, kau akan jadi Umbu Tokung.” Kata Ibu mereka tak mau dibantah


.



BAB VII
           


Matahari Waingapu bersinar terik di atas kepalanya. Bau amis ikan bercampur bau kuda menjemputnya saat ia memasuki kawasan pelabuhan yang sudah diakrabinya selama beberapa tahun ini. Tahun 1928 pelabuhan Waingapu sedang berada di pusat keramaian. Kapal-kapal dari tanah Jawa dan dari pulau-pulau asing datang membeli Kuda Sumba. Menir-menir Belanda juga tak kalah banyaknya memasuki Waingapu, sudah 8 tahun sejak ia meninggalkan Anakalang. Ia membawah sirih pinang di pelabuhan untuk ditukar dengan ikan dan sayur mayur. 
“Eri, apa kau bawa sirih pinang hari ini?” Tanya Tuan Abu Bakar pemilik kapal ikan terbesar di pelabuhan itu. Semua orang tahu bahwa Abu Bakar telah menaruh hati pada Eri selama ini, namun tak ada sedikit pun tampak melihat bahwa gadis itu akan menerima pinangan Abu Bakar. Banyak pria lain juga menyukainya tapi tak berani mendekatinya. Mereka tahu dia bersekolah di sekolah Menir Van Hart.
 “Ia Abu, saya hendak menukarnya dengan ikan, saya membawa cukup banyak hari ini.”
“Oh, tentu saja Eri, Kau boleh mengambil ikan sebanyak yang kau mau.”
“Terima kasih Abu.” Ucapnya terburu-buru sambil mengambil beberapa ekor ikan dan memberikan beberapa kumpul sirih yang telah diikatnya dalam daun kepada Abu. Pandangan Abu menakutinya. Sudah beberapa kali saat ke pelabuhan laki-laki itu mengikutinya. Tak sedikit ia memberikan pemberian kepada Ibunya, karena itu setelah ia menerima ikan ia segera berlari pulang. Sore hari ia akan mengajar di sekolah Menir Van Harrt, setelah 3 tahun ia bersekolah. 
Sekolah mereka beratap alang-alang dan berdinding daun-daun ilalang. Walaupun Menir Van Harrt sudah menyampaikan beberapa kali bahwa dia sudah selesai sekolah dan bisa bekerja di gereja, tetapi Ery tetaplah ke sekolah. Ia membantu menir Van Hart untuk membersihkan kelas dan menaruh tikar. Kadang jika Menir berhalangan hadir dia jugalah yang akan mengajar.
Tak sedikit yang menasehatinya karena tak juga menikah, tetapi perasaannya ditutupinya sebaik mungkin. Ia tahu membuka kenangannya hanya akan melukai hati ibu dan adiknya, banyak orang yang menghormatinya. Ibu dan adiknya pun demikian, memperoleh penghormatan yang sama. Di mana saja ia pergi orang-orang memanggilnya  nona guru.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD