Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Minggu, 16 Juni 2013

Cerpen : Semburat Merah di Atas Sabana Sumba (Part 2)


Semburat  Merah di Atas Sabana Sumba (Part 2)
Oleh  Diana Pekulimu
***
III

Kokok ayam jantan dari kandang di samping dinding kamarnya membuatnya terbangun. Dinginnya pagi  bulan Juni menerobos belahan-belahan bambu bulat dinding kamarnya. Ia masih ingin tidur. Semalam tidurnya tak cukup nyenyak padahal  tubuhnya sudah sangat lelah. Ia tak bisa menghilangkan ingatan tentang sikap Umbu Djati yang membelanya.
“Aya, bangun. Hari ini Umbu minta kopinya harus lebih pagi. Cepatlah ambil kayunya di luar.”
Nama itu membuat ia cepat-cepat turun dari tempat tidurnya. Langit masih gelap, suara kokok ayam dan suara-suara kesibukan dari dapur saja yang menandakan bahwa hari sudahlah pagi. Ia berlari-lari ke bawah dapur mencari kayu-kayu yang sudah dikumpulkannya beberapa hari yang lalu, namun saat ia mengangkat  kepalanya, di *anakajaka bangku di depan rumah, dekat pelita yang hampir-hampir padam diterpa angin pagi,  ia melihat Umbu Djati duduk sambil memandanginya dengan mata penuh kesedihan. Ia tak bisa bergerak dalam tatapan itu. Ia tersadar saat mendengar suara ibunya meminta kayu bakar, tapi saat dia membalikkan badan dia masih merasakan pandangan Umbu Djati padanya. Ia merasa sesuatu seperti merobek hatinya. “Apakah Umbu Djati tidak tidur?” Tanyanya dalam hati saat ia meniup kayu yang mulai terbakar. 
“Aya, ayo bawa kopi ini untuk Umbu Djati, sejak semalam ia belumlah tidur, entah masalah apa yang di pikirnya.” Perintah ibunya, tak memperhatikan keterkejutannya akan cerita ibunya.
Ia berdiri cukup lama di belakang umbu Djati, ingin sekali memandang figurnya lebih lama, tapi kopinya akan keburu dingin. Ia meletakkan kopi itu di samping Umbu Djati perlahan-lahan, tidak ingin membangunkan lamunan Umbu Djati, namun saat dia berbalik, suara Umbu Djati menghentikan langkahnya. ”Kau tidak boleh kemana-mana, Aya, hanya jika aku yang menyuruh barulah kau boleh pergi. Beberapa minggu ini aku ingin kau bekerja di rumah saja. Jika kau ingin keluar, kau harus meminta izin dariku, kau dengar itu Aya?” Ucapan tegas tak ingin dibantah mengagetkannya.
“Ia Ubbu.” Jawabnya sambil beranjak walaupun hatinya dipenuhi  banyak pertanyaan. Ini pertama kalinya Umbu Djati memerintahnya demikian dan ia tahu tak akan  ada seorangpun yang akan berani membantah perintahnya, bahkan ibunya sendiri, Rambu Piras. Pekerjaannya lalu hampir tak ada habisnya.  Selama dua minggu kemudian, Umbu Djati memberinya begitu banyak pekerjaan di rumah. Namun itu semua tak diperdulikannya.
 Yang diherankannya tak sekejappun Umbu Djati  meninggalkan rumah. Padahal sudah menjadi kebiasaan tuannya untuk  setiap sore hari, sekembalinya dari pekerjaannya mengawasi budak-budak yang lain bekerja di sawah dan ladangnya, dia akan mengunjungi  teman-temannya atau para tetua di kampungnya. Namun sudah dua minggu ini ia hanya tinggal di rumah, mengasah parangnya, tak diperdulikannya undangan adat dari tetangga mereka. 
Ibunya Rambu Piras tak urung kuatir, tapi tak ada yang berani menanyakan kenapa. Mereka semua berusaha membuatnya senang berada di rumah. Apalagi dia, dia senang Umbu Djati tak ke mana-mana, ia tahu semua wanita bangsawan selalu menunggu-nunggu kedatangan Umbu Djati. Mereka selalu berusaha menarik perhatiannya. 
Dulu, saat ia ke pesta bersama rambu Piras karena harus menjunjung nasi dalam bola nasi, anyaman pandan tempat nasi,  bawaan mereka untuk tuan pesta, ia melihat wanita-wanita itu dengan sarung ikat yang cantik, mamuli emas yang berkilau tergantung di  kalung anahida, mereka memandang Umbu Djati dengan malu-malu. Tak sedikit ia mendengar bahasa dari para orang tua yang ingin anak mereka dinikahkan dengan Umbu Djati, apalagi semua orang tahu berapa banyak hewan di kandang keluarga Rambu Piras. Kuda, kerbau, babi dan sapinya tak terhitung banyaknya. Tak sulit buat Umbu Djati dengan kekayaannya untuk membayar biaya belis adat jika ingin mengambil wanita bangsawan.
“Aya, bawakan aku air dalam tempayan, parang ini harus di bersihkan lagi.” Teriak Umbu Djati  yang sedang  membersihkan parangnya, menghentikan lamunannya.
“Ia Ubbu, saya akan ke sumur sebentar untuk mengambil airnya. Air dalam tempayan habis untuk memasak pagi ini.” Ujarnya terburu-buru sambil mengambil tempayan.
“Tidak!” Pegangan tangan yang begitu kuat, tiba-tiba mencengkram  lengannya membuatnya meringis. “Sudah kukatakan kau tidak boleh kemana-mana, bahkan kalau airnya habis. Suruh Reku mengambilnya untukku, kau tinggal saja di rumah, bekerja.” Perintahnya sambil melepaskan tangannya.
“Ia Ubbu.” Jawabnya sambil cepat beranjak ke dapur menyuruh  Reku, adiknya.
“Mama, Umbu tak mengizinkan saya ke mana-mana, diapun tak pergi ke mana-mana. Ini sudah hampir tiga minggu tapi dia hanya di rumah saja, dia pun tak ke sawah memeriksa padi yang hampir dituai, padahal tak pernah sekalipun dia tak pergi ke sawah selama ini.” Lapornya pada Ibunya, sambil menyentuh tangannya yang dipegangi Umbu Djati. Tidak ingin rasa itu pergi cepat.
“Aya, jangan pikirkan hal yang bukan urusanmu. Kerjakan saja apa yang jadi tugasmu, mungkin dia sedang ingin bersenang-senang karena tahun ini lumbungnya  penuh,  hewan-hewan di kandangnya pun beranak pinak dengan banyaknya.”  Jawab ibunya menghalau kekuatirannya.
 Ia takut  pada apa yang dilihatnya dalam mata Umbu Djati ketika memandang  anaknya Aya, mata laki-laki yang ingin memiliki anaknya, ia sangat takut jika Rambu Piras juga menangkap pandangan Umbu Djati itu, sebagai Ibu, ia tahu hal itu, bukan sekali dua kali dilihatnya tatapan Umbu Djati yang begitu kuat pada Aya. Ia juga tahu alasan Umbu Djati melarang Aya keluar, ia takut para pemuda budak akan melarikan Aya, dia sedih melihat kesedihan dalam mata Umbu Djati, ia sudah membesarkan Umbu Djati sejak masa kecilnya, sebagai budak, ia mengasihi Umbu Djati seperti Anaknya sendiri. Kesedihan Umbu Djati adalah kesedihannya juga, namun yang tak pernah dibayangkannya bahwa Umbu Djati akan menaruh hati pada Aya, anak perempuannya sendiri. 
Ia tahu bahwa jika Umbu Djati tak bisa menahan perasaannya maka masalah akan menimpa keluarganya. Ia dan keluarganya pasti akan diusir dari rumah itu, sedangkan mereka tidak punya apa-apa untuk bertahan hidup. Ditutupnya matanya, berdoa semoga Mori Jesus, Tuhan yang diajarkan pendeta Belanda itu akan menolong keluarganya.
BAB IV



Langit berwarna jingga, burung-burung beterbangan pulang ke sarang, sudah mulai gelap saat Umbu Djati tertatih-tatih pulang ke rumah. Kakinya terkena bambu tajam saat ia terjatuh di jurang saat berburu babi hutan. Darahnya tak berhenti menetes. 
Ia hampir pingsan saat tubuhnya mencapai rumah. Rambu Piras sedang pergi dengan Rambu Roku ke keluarga mereka di kampung lain. Ia tak sadar berhari-hari lamanya, saat ia terbangun, dilihatnya Aya tertidur di tikar di bawah tempat tidurnya. Wajahnya yang pulas tergambar begitu indah, ia ingin membangunkannya, namun  hatinya berkata lain. Dengan berat dia mengangkat tubuhnya. Ia turun ke lantai. Bunyi derik lantai bambu rumahnya seperti melawannya.  Ia melawan perintah otaknya.
“Oh Ubbu?” Seru Aya terbangun, menyadari  Umbu Djati sudah sadar.
“Jangan bangun,  Aya, aku tidak apa-apa. Istirahatlah.”  Perintahnya menahan hatinya.
 “Oh, Ubbu, maafkan saya, Ubbu, saya akan mengambil sesuatu untuk Ubbu. Mungkin Ubbu haus, Ubbu mau makan?” Tanyanya bertubi-tubi  menyadari kekhilafannya.
“Ya, aku haus, Aya.” Jawabnya lemah karena kepahitan hatinya.
Setelah meminum air ia merasa tubuhnya pulih.
“Saya akan akan mengambil makanan untuk Ubbu. Sudah beberapa hari Ubbu tidak makan.” Ujarnya setelah melihat wajah Umbu Djati perlahan-lahan mulai membaik.
“Tidak, kau di sini saja. Tunggulah sampai besok pagi, saya ingin tidur saja.” Perintahnya dan jatuh tertidur kembali karena sakitnya. 
Ia bangun dengan segar beberapa hari berikutnya. Aya merawatnya dengan penuh kasih. Sekarang dia bahkan sudah bisa berjalan walaupun masih tertatih-tatih.
“Di mana Aya, Ina? Tanyanya menjenguk Ibu Aya yang sedang memasak di dapur.
“Sudah dari tadi dia ke sungai untuk mandi tapi belum juga kembali. Kalau Ubbu ingin sesuatu biarlah saya ambilkan.” Jawabnya pada Umbu Djati.
“Tidak Inna, tapi matahari sudah tinggi sekarang. Bukankah dia seharusnya sudah pulang.” Ucapnya kuatir.
“Oh, itu dia Umbu, sudah datang.” Jawab ibu Aya sambil menunjuk ke ujung jalan.
Setelah Aya menyimpan tempayannya di dapur,  ditariknya gadis itu ke dalam rumah.
 “Kalau kau ingin pergi keluar beritahu padaku. Aku tidak ingin membiarkan ada seseorang pun  yang mengganggumu, aku akan membunuh mereka. Jika ada yang menyentuh kulitmu.”  Ucapnya marah, tanpa sadar mengagetkan Aya dan mengagetkannya sendiri karena ia terlepas bicara.
“Maafkan saya, Ubbu, saya masih harus mencuci baju. Saya tidak ingin mengganggu tidur Ubbu tadi.” Ucapnya malu dengan perhatian dan kasih yang didapatnya.
Hampir sebulan kini. Dan memandang Aya saja ia sudah merasa puas. Yang dipikirkannya sekarang adalah membicarakannya dengan ibunya untuk mengambil Aya sebagai istri.  Ia tak mampu lagi menahan perasaannya terhadap Aya. Ia tahu bahwa Ia harus sudah siap melangkah ke atas api, bukan hanya ibunya akan menjadi lawannya tapi kaumnya. Sudah dibicarakannya hal ini dengan pendeta belanda di gerejanya siang ini, dan Mr. Veernaant bahkan berjanji akan mendoakan keinginannya.
Bersambung.....Minggu Depan
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD