Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Minggu, 09 Juni 2013

CERPEN : Semburat Merah di Atas Sabana Sumba (Part 1)


Semburat  Merah di Atas Sabana Sumba (Part I)
Oleh  Diana Pekulimu
I
Matanya melirik  takut ke kiri dan ke kanan, di antara desau angin senja yang sepi, dia bisa merasakan  kalau dia tidak sendiri di padang itu. Bukan saat ini saja, tapi sejak ia meninggalkan kampungnya. Ia berlari sekuat  yang ia mampu, tak dipedulikannya tajam rumput ilalang kering menusuk kakinya yang tak beralas. Langit di atas padang sabana Sumba berwarna merah tanah seperti warna sarungnya, tak diperdulikannya, ia harus lebih cepat sampai ke kampung.
 
Dia sadar bukan karena suara itu saja sumber dari rasa takutnya. Tapi ia juga takut kemarahan tuannya, Rambu Piras,  akan keterlambatannya. Mereka tak pernah perduli seberapa jauh jarak yang harus ia tempuh atau seberapa lelahnya dia, ia harus tetap kembali  secepat mungkin. Dia memegang erat kalekunya, tas Sumba dari anyaman pandan pemberian neneknya, di dalamnya terbungkus sirih, pinang dan kapur dalam daun jati, kegemaran Rambu Roku, putri kesayangan Rambu Piras, tuannya. 
 
 Sudah dua hari ini mereka kehabisan sirih pinang, daun sirih di pohon-pohon kampungnya tergantung mengering akibat musim kemarau yang panjang. Hanya pinanglah yang masih mereka miliki, tapi dua hari yang lalu,  Reku, adiknya  yang biasa memetik pinang  jatuh dari pohon ketika harus memetik kelapa. Sejak adiknya sakit itulah dia harus memikul lebih banyak tanggung jawab, termasuk harus pergi ke kampung sebelah untuk meminta sirih pinang kegemaran Rambu Roku.
 
Dia terlahir sebagai putri dari keluarga budak di Anakalang Sumba, sejak dari ia mengenal kehidupan, yang diketahuinya hanya bekerja melayani keluarga tuannya. Dalam hidupnya ia tidak mengenal kata tidak, semua kata tuannya adalah perintah, dan ia menganggap sebagai suatu kehormatan bisa melayani keluarga itu. Saat ia masih sangat kecil, ia sudah harus mengurus Rambu Roku, putri tuannya, yang seumur dengannya, tak terhitung air mata iri yang dihapusnya diam-diam karena begitu inginnya ia bermain, tapi semua itu hanya mimpi baginya. Ia tahu sebuah kesalahan akan berbuah lecutan, tak terhitung berapa kali tubuhnya dirajam oleh tali kuda karena itu, semua mimpi dan keinginannya dikuburnya dalam-dalam, dalam jiwanya. Ia hanya harus melayani tuannya, itu saja, dan mengabdi dengan seluruh jiwanya.
 
Dengan cepat ia melangkahkan kakinya yang tak beralas, sakitnya karena irisan ilalang tak tertahankan, sarungnya beberapa kali harus dipasangi lagi karena hampir terlepas dari pinggangnya, rambutnya yang tak terurus berkibar-kibar diterpa angin senja yang mulai menggelap. “Sudah sampai.” Bisiknya lirih pada dirinya sendiri ketika melihat cahaya lampu pelita dari rumah tuannya.
 
Umbu Djati, putra tertua tuannya, muncul tiba-tiba dari depan rumahnya. Wajahnya yang tampan memerah karena marah. Tak urung rasa takutnya menjadi-jadi, ia membayangkan sakitnya lecutan yang akan segera di dapatnya dari Rambu Piras. Tubuhnya bergetar karena takut, Umbu Djati juga bisa melecutinya kalau saja dia mau, walau tak pernah sekalipun dia melakukannya.
 
“Dari mana?”Tanya Umbu Djati dengan  nada marah.
“Dari meminta sirih pinang untuk Rambu Roku, Ubbu.” Jawabnya sambil menunduk, ia tak berani memandangi wajah tuannya. Hanya Umbu Djatilah satu-satunya orang di keluarga tuannya yang tak pernah mengasarinya. Ia anak Rambu Piras yang tertua. Sejak ditinggal oleh ayah mereka, Umbu Djatilah yang menjadi pengganti Ayahnya. Ia sangat bijak sehingga bukan saja menjadi kebanggaan Rambu Piras tapi juga Kampungnya.  Dia selalu menjadi pembicara dalam adat-istiadat di kampung mereka, ia juga sangat tampan, berbeda dari keluarga-keluarga bangsawan lainnya. 
 
Ayahnya pernah bercerita bahwa mereka, para budak, dikaruniai wajah bangsawan tapi para bangsawan dikaruniai wajah budak. Tapi Umbu Djati tidaklah demikian. Ia juga tampan selayaknya seorang bangsawan.  Suara teguran Umbu Djati mengagetkan lamunannya. Inilah pertama kalinya, setelah ia berumur 19 tahun, ia mendengar nada keras itu keluar dari mulut Umbu Djati.
 
“Mungkin ia sudah menyadari apa statusku dan statusnya.” Bisik hatinya perih, merasakan kehilangan harapan bahwa masih akan ada orang yang akan menghargainya.
“Kau membuatku kuatir. Rambu Roku maunya hanya dituruti. Kalau dia mau, kenapa tak dicarinya sendiri saja.” Teriaknya marah.
“Maafkan saya Ubbu, saya tidak bermaksud membuat semua kuatir.” Bisiknya perlahan, meminta maaf, menyembunyikan rasa terkejut  mendengar pembelaan Umbu Djati, apalagi setelah melihat keterkejutan di wajah Umbu Djati menyadari kata-katanya sendiri.
 
Rasa senang namun sekaligus malu tak bisa hilang dari bibirnya bahkan saat ia pergi tidur. Kata-kata Umbu Djati, wajah Umbu Djati yang terkejut dengan ucapannya sendiri memenuhi benaknya. Rasa lelahnya dan sakit akan luka-luka di kakinya tiba-tiba tak terasa lagi.
***
II
Rasa leganya begitu besar saat gadis itu pergi meninggalkannya. Ia tak bisa menahan perasaannya di depan gadis itu, ia sadar itu terlarang. Ia mengenal perasaannya akhir-akhir ini bahwa ia jatuh cinta pada budaknya. Saat mereka kecil, ia selalu berusaha menjahilinya. Ia sering menarik sarung gadis itu sampai gadis itu jatuh. Ia juga sering mengagetkannya dari balik semak-semak, saat dia pulang dari mencari kayu bakar, tapi sekarang dia tidak mengerti apa yang terjadi dengan perasaannya. Semua itu semakin kuat saat dia melihat bahwa dia tumbuh menjadi wanita dewasa dan menjadi sangat cantik. Tubuhnya yang tak mengenal istirahat seolah diukir pemahat, wajahnya yang kadang dipenuhi peluh dan arang dapur seperti dilukis malaikat, hampir semua pemuda di kampungnya selalu menunggu di depan rumah mereka saat pagi hari atau senja hari, saat gadis itu selesai mandi dan lewat sambil menjunjung tempayan air di kepalanya yang basah. Ia hampir tak bercela, namun bukan itu yang diperdulikannya. Yang dicemburuinya adalah para budak laki-laki, tak ada yang melarang mereka jika ingin mengambil gadis itu sebagai istri, sedangkan mereka kaum bangsawan dianggap aib jika mengambil istri atau suami dari kalangan budak. Seumur hidup  mereka harus menanggung aib, keluar dari kaumnya. 
 
Ia tahu apa saja bisa terjadi dengan gadis itu ketika gadis itu pergi. Pria-pria dari kalangan budak yang menyukainya bisa melarikannya ke rumah mereka kapan saja, dan sebagai lelaki yang dituakan, mau tak mau ia yang harus mengurus adatnya, dan ia tak mau itu terjadi.
 
Di Anakalang, kampungnya, mereka memiliki adat  menculik perempuan.  Itu bisa terjadi jika laki-laki tak punya cukup hewan sebagai belis atau pembayaran adat, atau karena sang perempuan menolak padahal keluarganya setuju. Perempuan bisa diculik dan dilarikan ke keluarga lelaki, para utusanlah yang kemudian akan mengabarkan kepada keluarga wanita bahwa perempuan itu telah ada bersama mereka. Gong dan tambur akan dipukul di rumah keluarga lelaki sebagai tanda sukacita mereka karena telah berhasil membawa wanita tersebut.
 
Karena adat itulah, saat gadis itu pergi meminta sirih pinang di Kampung tetangganya, ia mengikutinya dengan diam-diam, dengan kudanya dari jauh. Sudah beberapa hari ini dia mendengar bisikan-bisikan di kalangan para budak bahwa seorang budak laki-laki dari kampung sebelah sudah mulai menyiapkan beberapa kuda sebagai pembayaran adat untuk melarikan gadis itu. Ia beberapa kali hampir turun dari kudanya saat melihat gadis itu hampir jatuh ketika berlari, ia marah pada dirinya sendiri karena begitu takut kehilangan gadis itu. Ia sadar ia tak bisa menjaganya setiap waktu. Orang-orang di Kampungnya pasti akan tahu, jika ia terus mengikuti gadis itu, karena tak ada yang bisa menjadi rahasia di kampungnya. Ia tak ingin gadis itu keluar dari rumahnya, karena itu ia begitu marah begitu tahu gadis itu pergi ke kampung sebelah. Sekarang setelah gadis itu kembali dengan selamat, ia sudah merancang 1001 pekerjaan yang harus dikerjakan gadis itu di rumahnya tanpa perlu dia meninggalkan rumah.
Bersambung....Minggu depan
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD