Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Selasa, 12 Maret 2013

Wanita SBD Serukan Stop Kekerasan Terhadap Perempuan

Memperingati Hari Perempuan Internasional, Forum Lintas Aktor (FLA) melakukan aksi di depan Keuskupan Weetabula-Sumba Barat Daya, Sabtu (9/3/2013
TAMBOLAKA -- Sekelompok perempuan dan laki-laki, jumlahnya sekitar 50 orang, melakukan long march, orasi dan teatrikal di Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Sabtu (9/3/2013) pagi. Mereka menyerukan stop kekerasan terhadap perempuan.


Kegiatan yang diinisiasi Forum Lintas Aktor (FLA) Kabupaten SBD ini dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional, 8 Maret. Terlibat dalam aksi, mahasiswi, pegawai Kantor Badan Pemberdayaan Perempuan dan KB, Dharma Wanita, PKK serta bidan dan perawat. Aksi dimulai di depan Keusukupan Weetabula. Mereka membawa spanduk yang di antaranya bertuliskan: Stop!!! Kekerasan Terhadap Perempuan. Perempuan Rahim Semesta.

Romo Mikael Sene, Pr yang mewakili Uskup Weetabula, Mgr. Edmund Woga, CSsR berpesan agar perempuan di SBD mengikuti jejak RA Kartini. "RA Kartini menginspirasi kesetaraan gender, meningkatkan harkat dan martabat perempuan. Kalau mau maju, perempuan harus berpendidikan.

Adagium lama, sekolah tinggi tapi kembali ke dapur harus dihilangkan," katanya. Uskup juga berpesan agar ibu-ibu terlibat memperjuangkan ekonomi rumah tangga. Meski demikian, jangan lupa tanggungjawab kepada anak dan keluarga.

Dari Keuskupan, peserta aksi bergeser dan berhenti di depan Pasar Radamata. Selain orasi, pada perehentian kedua ini diisi dengan monolog oleh Martha Hebi, yang pesannya menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. Aksi ini mendapat perhatian dari masyarakat umum.

Selanjutnya melakukan long march dan berhenti di depan Gereja Kristen Sumba (GKS) Sumba. Peserta diterima Pdt. Irene, Sth. Perhentian keempat di depan Rumah Sakit Caritas. Di sini dipentaskan teatrikal dengan tema keselamatan ibu melahirkan. Pesannya, meminta agar tenaga medis memberi pelayanan lebih maksimal agar ibu melahirkan selamat.

"Agar ibu melahirkan tidak mati karena terlambat pertolongan," teriak seorang orator.

Dokter Oka yang menerima peserta aksi, mengatakan, akan berupaya maksimal untuk menekan kematian ibu saat melahirkan.

Dari RS Carita, peserta bergeser dan berhenti di depan Gereja Katedral Weetabula. Sama seperti perhentian-perhentian sebelumnya, mereka menyerukan stop kekerasan terhadap perempuan. Selanjutnya, perhentian keenam atau yang terakhir di depan Polsektif Loura. Di sini, mereka membacakan pernyataan sikap, di antaranya mendesak polisi serius menangani kasus kekerasan terhadap perempuan.

Secara khusus, FLA  meminta agar mengusut tuntas kasus pemerkosaan ayah terhadap anak kandung yang terjadi di Kodi dan di Wewewa beberapa waktu lalu. Setelah membacakan pernyataan sikapnya, peserta aksi membubarkan diri.

Kordinator Lapangan, Markus Kamping, mengatakan, aksi damai ini diharapkan dapat mengingatkan serta menumbuhkan kesadaran masyarakat agar tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan dalam bentuk apapun.

"Di SBD kasus kekerasan terhadap perempuan tergolong tinggi. Semoga dengan aksi ini tumbuh kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan kekerasan lagi terhadap perempuan," katanya.




Sumber : Pos Kupang
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD