Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Rabu, 20 Maret 2013

Inilah Kisah Tersembunyi di Balik Salah Satu Puisi Taufiq Ismail

Taufiq Ismail
Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu. Aneh, aku jadi ingat pada Umbu. Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka. Di mana matahari membusur api di atas sana. Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka. Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga.


Begitu Taufiq Ismail membuka puisi "Beri Daku Sumba" yang ditulisnya tahun 1970.

Salah satu misteri dan kisah tersembunyi di balik puisi itu adalah: ketika menuliskannya, Taufiq Ismail belum sekali pun menginjakkan kaki di pulau seluas 10.710 kilometer persegi yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu.

Puisi yang terdiri dari enam bait itu tercipta dari hasil obrolan santai Taufiq dengan seorang warga asli Sumba yang juga seniman plus wartawan bernama Umbu Landu Paranggi. Obrolan santai itu terjadi di awal 1969.

Kepada Taufiq, Umbu menceritakan bagaimana dahsyatnya alam Sumba; padang rumputnya, pantai dan lautnya serta peternakan kudanya. Cerita tentang kuda Sumba, khususnya, sangat menarik perhatian Taufiq yang juga berprofesi sebagai dokter hewan.

Umbu juga bercerita bagaimana matahari terbit dan terbenam di Sumba. Sementara warga Sumba kerap menghabiskan malam berkumpul dengan sesama mereka, makan dan bernyanyi diiringi petikan gitar.

Cerita itu, ujar Taufiq dalam perbincangan dengan Rakyat Merdeka Online begitu mempesona dirinya.

Setahun setelah pertemuan dengan Umbu, Taufiq diundang ke Uni Soviet. Dari Moscow, Taufiq berkesempatan mengunjungi Uzbekistan.

"Di Uzbekistan itulah saya teringat cerita Umbu tentang Sumba. Masya Allah, apa yang saya lihat di Uzbekistan seakan persis dengan gambaran yang ada di benak saya tentang Sumba. Maka saya tulislah puisi Beri Daku Sumba."

***

Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput. Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala. Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut. Dan angin zat asam panas dikipas dari sana.

***

Setelah tigapuluh tahun berlalu, dan setelah puisi Beri Daku Sumba semakin sering dibaca dan dinikmati para penggemar puisi Tauqi Ismail, barulah sang penyair mempunyai kesempatan mengunjungi Sumba.

Ketika itu tahun 2003 dan Taufiq Ismail sudah berusia 68 tahun. Bersama beberapa sastrawan, termasuk diantaranya adalah Putu Wijaya dan Hamid Jabbar, ia berangkat menuju Waingapu di Sumba Timur.

Kunjungan ini dilakukan atas undangan Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) yang juga membawa dirinya berkunjung ke 240 sekolah se-Indonesia. Taufiq dan rombongannya berada di Sumba selama tiga hari.

Di dalam pesawat terbang keberadaan Taufiq mengundang perhatian penumpang terutama yang memang berasal dari Sumba.

Salah seorang di antaranya seorang dokter umum asli Sumba yang antusias dengan puisi Beri Daku Sumba. Sang dokter mengundang Taufiq Ismail duduk di sebelahnya.

Sebentar saja Taufiq dan sang dokter pun larut dalam cerita-cerita tentang Sumba. Di saat itulah Taufiq pun sadar bahwa puisinya itu sudah lama dikenal warga Sumba.

***

Beri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hari. Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kuda. Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari. Beri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya Sumba.

***

Di sebuah SMA Negeri di Waingapu, Taufiq kembali mendapat kejutan. Banyak siswa di sekolah itu yang hafal dan bahkan bisa membawakan puisi Beri Daku Sumba dengan sempurna.

Setelah berkenalan dengan guru dan siswa di sekolah, Taufiq Ismail dibawa berkeliling kota Waingapu. Ia juga dibawa ke luar kota yang sederhana namun indah itu.

Di sebuah padang rumput ia turun dari mobil yang ditumpanginya dan mendekati beberapa kuda yang sedang makan rumput.

Beberapa kuda berhenti dan menatap Taufiq.

"Saya kembali tatap mata kuda itu dan yang saya rasakan seakan-akan kuda itu mengatakan: selamat datang di Sumba. Itu imajinasi saya saat itu. Saya sangat puas akhirnya bisa menikmati langsung apa yang tertuang di dalam puisi saya," demikian Taufiq.

***

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda. Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh. Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua. Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh.

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka. Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh. Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda. Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.

***

Taufiq Ismail akan kembali membacakan puisi Beri Daku Sumba pada acara Malam Budaya Rakyat Merdeka 2013 Rabu malam, 20 Maret 2013, di Hotel Sari Pan Pacific, di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Di dalam acara Malam Budaya bertema "Beri Daku Sumba" itu Ketua Cita Tenun Indonesia Oktiniwati Ulfadariah Okke Hatta Rajasa akan memberikan orasi budaya mengenai kekayaan seni tenun ikat Sumba.

Acara ini juga dimeriahkan oleh Komunitas Sahabat Sumba yang akan menampilkan tarian Kataga, pameran foto dan lukisan alam Sumba. 


Sumber : m.rmol.co
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD