Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Minggu, 13 Januari 2013

Kodi – The wild wild west Sumba

Tak saya sangka, ternyata berlayar dari Sumbawa (Sape) ke Sumba (Waikelo) memerlukan waktu semalaman.  Ongkosnya Rp. 38.500 , untuk kelas VIP-AC harus menambah Rp.15.000 lagi.   Jam 8 malam kami berlayar mengarungi Selat Sumba, dan merapat jam 6 pagi di dermaga Waikelo (Kab. Sumba Barat Daya).  Untung saja malam ini ada kapal , katanya jadwalnya tidak tentu.
 



Dari kota pelabuhan Waikelo, saya ngojek (Rp.10.000) ke Waitabula yang merupakan ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya.  Di sini terdapat Bandar Udara Tambolaka. Tambolaka menjadi terkenal, karena peristiwa mendaratnya pesawat Adam Air yang salah navigasi,  kesalahan pilot dan pengatur lalulintas penerbangan yang kurang cermat memantau rute penerbangan .

Saya ke Sumba Barat Daya ini karena ingin bertualang ke desa-desa tradisionalnya.  Tujuan pertama saya adalah Kampung Pero di Kecamatan Kodi.  Dari Kota Waitabula, angkutan umum (elf dan bis kecil) jurusan Bondokodi (ibukota Kecamatan Kodi) terbilang banyak serta murah (Rp. 8000, 2 jam).  

Suasana tradisional memang sudah terasa  disepanjang jalan, bangunan-bangunan rumah tradisional yang masih beratap daun rumbia/alang-alang banyak terlihat disana sini, lengkap dengan kudanya yang sedang merumput.  Dihalaman depannya selalu terdapat suatu bangunan segiempat terbuat dari tembok, kadang berukuran kecil kadang besar.  Tadinya saya pikir itu adalah tempat sampah, tapi ternyata saya salah besar.  Setelah mengunjungi kampung-kampung tradisionalnya, barulah saya tahu bahwa bangunan tersebut adalah kuburan !!!

Bangunan tembok segi empat di sebelah kiri itu adalah kuburan model baru, pada zaman dulu dibuat dari batu besar yang dipahat / dilubangi dan ditutup batu lainnya lagi

Untuk dapat menjelajahi kampung-kampung tradisional di sekitar Kodi ini, saya memilih Desa Pero sebagai “homebase” karena lokasinya dekat dengan kampung-kampung yang ingin saya tuju, dan kampung ini adalah satu-satunya kampung muslim di Kecamatan Kodi serta memiliki satu-satunya homestay/penginapan di Kecamatan Kodi.

Letak Kampung Pero ini persis di tepi Samudra Hindia yang menggelora.  Pantainya yang berpasir putih membentang tiada ujung.  Penduduk kampung kebanyakan berprofesi sebagai nelayan.  Mayoritas dari mereka adalah pendatang dari Ende (Flores) dan beragama Islam.   Bentuk rumah-rumah yang ada disini umum dan beratap seng berbeda dengan “rumah-rumah tradisional Sumba”.  Bentuk kuburan juga seperti kuburan-kuburan muslim lainnya.

Permainan sore hari anak-anak di Desa Pero

Homestay Story merupakan satu-satunya penginapan yang ada di kampung ini juga milik seorang muslim, Bapak Mega demikian panggilannya, disesuaikan dengan nama anak tertuanya, Mega.  Pada musim upacara adat Perang Pasola di bulan Februari-Maret, penginapan sederhana ini penuh dengan turis asing, kebanyakan dari Jepang, Eropa dan Amerika, seperti dapat dibaca pada buku tamunya.  Turis lokalnya hanya beberapa saja.  

Pada musim sepi turis seperti sekarang, penginapan ini kosong melompong.  Sewa kamarnya Rp. 125rb per kamar per malam, sudah termasuk sarapan, makan siang, dan makan malam.

Saya beruntung karena Bapak Mega juga bersedia menjadi guide, mengantar-antar saya mengunjungi kampung-kampung adat yang tersebar di area Kodi ini, seperti Kampung Tosi, Kampung Ratenggaro, Paronbaroro, dan kampung-kampung kecil lainnya yang ada di rute perjalanan kami.  

Setiap akan ke suatu kampung, saya tidak lupa membawa sirih pinang yang sepaketnya cuma seharga Rp.1000 , sebagai oleh-oleh bagi penduduk setempat yang saya kunjungi rumahnya – terutama bagi ibu-ibunya, sedangkan rokok murah meriah saya bawa bagi kaum laki-lakinya, dan tak lupa permen, makanan kecil, pinsil untuk anak-anak.

Mereka semua sangat ramah dan bersahaja.  Bercerita tentang kehidupan sehari-hari, tentang malaria yang sudah menjadi penyakit tetap di daerah ini, tentang kebakaran yang telah menghanguskan hampir 5 rumah, dan tentang anak-anak mereka yang kebanyakan hanya tamat SD.  Juga tentang tata cara “penguburan jenazah” yang sangat unik.  Dan tak lupa pula tentang tata cara adat perkawinan dan kelahiran.

Pasar Kodi

Kuburan batu di Desa Ratenggaro

Di Sumba sendiri, wilayah Kodi ini terkenal sebagai wilayah “keras”, bahkan salah satu situs travelling asing yang cukup terkenal menyebutnya sebagai “The wild-wild west of Sumba” dan ada “travel warning” untuk wilayah ini.  

.
Kuburan Raja Horo

Saya sebagai pelintas yang cuma sempat singgah selama 2 hari 1 malam di sini, hanya merasakan keramahan dari seluruh penduduk.  Setiap anak-anak kecil yang kebetulan melihat saya atau berpapasan dengan saya selalu menyapa “Haloooo….” sambil tersenyum lebar dan mata yang berbinar-binar penuh keinginan tahuan yang polos.  Demikian juga halnya dengan orang-orang dewasanya.   




Sumber : dians999.wordpress
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD