Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Selasa, 25 Desember 2012

Kisah Seorang Dokter Yang Merayakan Natal Pertamanya di Sumba

dr. Hafiidhaturrahmah (Avis)
Kisah Natal Tahun 2011

Semangat Natal Untuk Semua Umat Beragama

Ini natal pertama dimana saya benar-benar berada di komunitas orang yang merayakan dan saya satu-satunya muslim. Rasanya luar biasa. Bila sebelumnya saya tidak terlalu mengerti perayaan natal maka di desa terpencil ini yang saya kira perayaan akan sama dengan taburan pohon natal, terasa berbeda. 



Hidup hanya di rumah alang dan masih tergolong perekonomian rendah biasanya membuat mereka merayakan natal dengan sederhana. Lilin dipasang menerangi beberapa kubur batu tempat nenek atau keluarga mereka yang sudah meninggal bersemayam. Beberapa potong kue natal biasanya ada bagi yang mampu membeli sementara di perkotaan biasanya tiap rumah akan memasak kue natal seperti layaknya kue kering saat lebaran tiba.

Kebetulan sehari menjelang natal jatuh pada hari Sabtu dimana termasuk hari pasar tradisional. Keramaian di pasar meningkat sepuluh kali lipat. Sekadar info, pasar di desa saya hanya ada pada Rabu dan Sabtu saja. Terkadang banyak yang ke pasar tidak untuk belanja tapi hanya main-main saja seperti anak muda datang ke mall. Saya pun ikut ke pasar membeli perlengkapan dapur dan bahan untuk membuat kue. Saya ingin anak-anak di desa yang sudah menemani keseharian saya selama empat bulan ini merasakan bagaimana “suasana natal”.

Sesampainya di klinik, beberapa anak malu-malu mengintip apa yang saya kerjakan. Memang, beberapa hal baru yang tidak pernah mereka temui akan disambut malu-malu awalnya walau sudah saling kenal sekali pun. Pembuatan kue berjalan sangat mengasyikkan. Saya biarkan saja ketika tangan-tangan kecil itu menekan cetakan dan membentuk pola di kue mereka. Betapa pun hancurnya cetakan mereka, kue berbentuk cinta, pohon natal dan kelinci buatan mereka terasa sempurna. Tidak butuh waktu lama untuk tangan-tangan kecil itu mencetak kue yang sempurna padahal ini kali pertamanya mereka membuat kue. Bahkan saya juga sudah menyiapkan beberapa camilan jajanan ringan untuk membuat pohon natal makanan.

Sorenya, saya keluarkan sebungkus “spageti” kiriman dari Jakarta. Jangankan anak-anak kecil ini, orang dewasa di desa ini pun belum pernah melihat apa itu spageti apalagi memakannya. Hasilnya, anak-anak makan dengan penuh ketakutan karena mereka melihat bentuknya seperti cacing yang keseharian keluar dari perut mereka. Namun ketika saya bilang ini makanan “bergizi”, mereka perlahan melahapnya dan mulai menikmati taburan keju serta saosnya. Saya janji akan membuatkan pizza suatu hari nanti seperti sebelumnya beberapa makanan tradisional yang kami buat.

Selesai menikmati spageti, kita melanjutkan pembuatan kue. Sementara anak lainnya masih sibuk memasang jajanan di pohon natal. Berulang kali tempelan isolasi yang tidak kuat membuat jajanan kecil yang sudah terpasang itu jatuh. Berulang kali pula mereka mengulangnya dengan sedikit kesal layaknya anak kecil yang gagal merakit mainan barunya.
Ah ibu, kenapa sudah tidak langsung dikasih saja besok ini makanan” gadis kecil itu mengeluh juga.
Ah ini kan pohon natal kalian jadi harus bersabar merakitnya penuh kasih seperti Bapa Yesus bukan” dan dia pun kembali bersemangat.

Jujur, ini kali pertamanya saya benar-benar seperti merayakan natal. Sebelumnya dengan latar belakang agama yang saya percaya, selama SMA hingga selesai bangku kuliah saya jarang sekali mengucapkan selamat natal. Lain dengan hari ini dimana saya menyadari keimanan hati dibanding hanya sekadar lisan ternyata berbeda. Bagi saya, ini malah menambah keimanan saya di kala banyak rekan saya terkejut saat saya membuat pohon dan kue natal. Mungkin sebagian isi kepala mereka masih membayangkan pohon natal dipenuhi gemerlap lampu dan hiasan padahal yang saya buat hanya pohon biasa dihiasi makanan untuk anak-anak.

Saya hanya ingin berbagi, ingin menunjukkan bahwa natal tidak perlu harus puluhan polisi dikerahkan karena sebenarnya natal adalah kedamaian dimana setiap orang, suku, agama dapat menempatkan dirinya menghormati orang lain. Jika lebaran dapat berlangsung khidmat tanpa pengawalan polisi (coba Anda ingat apa pernah merayakan lebaran dalam penjagaan polisi) maka saya berharap perayaan natal pun akan sama.

Hingga malam, pembuatan kue masih belum usai. Ada ratusan kue kering dan semoga semua warga di sekitar saya dapat menikmati sukacita natal.

Ketika pagi menjelang dan natal benar-benar tiba, saya merapikan ulang pohon natal buatan anak-anak dan memidahkannya di halaman depan. Sementara warga masih menjalankan kebaktian natal di sebuah gereja sederhana, hanya bangunan yang sudah berdindingkan semen dengan ventilasi sangat terbuka lantaran memang pembangunannya belum usai.
Sembari menanti kunjungan anak-anak yang sedari awal sudah ingin sekali memetik jajanan dari pohon, saya berbagi tulisan ini.

Saya hanya melakukan apa yang dapat saya lakukan karena bagi saya profesi dokter tidak hanya melayani semua orang tanpa memandang status keagamaan melainkan profesi ini dapat menjembatani berbagai macam kebuntuan.

Terima kasih kepada para malaikat kecil yang sudah membantu. Ini pertama kalinya mereka membuat kue walau mungkin boleh jadi pembuatan kue dalam seumur hidup mereka. Saya mungkin tidak menemani mereka selamanya tapi saya hanya berharap apa yang sebentar ini dapat diterima baik oleh semuanya. Semoga pohon natal pertama di klinik ini dan kue manis ini dapat sekadar mengisi hati mereka dalam damai natal.
Damai natal untuk semua.

Avis,dr
Ketika bahagia adalah melihat orang di sekitar kita bahagia karena keberadaan kita
dr. Hafiidhaturrahmah namun akrab disapa Avis, lulusan FK Univ Jenderal Soedirman. Saya menjalani setahun pengabdian meneliti malaria di Desa Umbu Ngedo, Kodi, Sumba Barat Daya (NTT) bersama Eijkman's Institute. Saat ini tergabung dalam Pencerah Nusantara Angkatan Pertama dan bertugas di Desa Ngempit Pasuruan.
Sumber : Kompasiana
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD