Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Senin, 26 November 2012

MENGENAL KONSEP KESENIAN MASYARAKAT SUMBA

Makna kesenian yang dijabarkan di sini hanya terbatas pada pengertian kesenian tradisional, yaitu kesenian yang lahir, tumbuh, berkembang, dan hidup bersama tradisi suku bangsa Sumba. Kesenian itu dalam berbagai bentuk, gaya, corak, dan ragamnya berorientasi pada:

1. KEPERCAYAAN

Hal ini tercermin dalam semua cabang kesenian, trmasuk seni kriya dan arsitektur Sumba pada umumnya. Bentuk kubur batu yang berpola dolmen adalah suatu pernyataan (manifestasi) religius dalam konteks kepercayaan Marapu. Karena bangunan kubur batu berfunsi sebagai suatu monumen peringatan bahwa kewajiban religius dengan secara saksama melaksanakan semua upacara kematian, penguburan guna mengantarkan roh ke alam Parai Marapu dengan selamat, telah dilakukan. Patung, relief, serta ornamen dengan motif yang menggambarkan roh leluhur merupakan suatu ungkapan visuil kepercayaan yang memuja arwah nenek moyang (Marapu). Demikian pula dalam segi arsitektur. Yang dinyatakan dengan membangun rumah adat yang khusus diperuntukkan sebagai tempat kediaman para Marapu sekelompok suku dan klan. Bahkan, dalam tiap rumah adat biasa yang dijadikan tempat tinggal sekelompok kekerabatan selalu dibuatkan ruang khusus untuk tempat tinggal arwah leluhur dan sanak keluarga yang telah meninggal. Ruang khusus itu terletak di atas loteng tepat di bawah wuwungan.

2. RELIGI

Bentuk bangunan kubur batu yang berpola dolmen, bentuk nisan batu yang mengingatkan pada menhir. Ornamen-ornamen geometris, pilin ganda, meander yang dipahatkan pada kubur, nisan, dan tiang utama rumah adat. Bentuk rumah panggung persegi empat panjang yang didirikan di atas tiang-tiang. Tarian-tarian yang bertema kepahlawanan. Mitos-mitos yang meriwayatkan masa lampau. Kesemua itu merupakan tradisi masa lampau. Juga cara pembuatan dan pola klasik kain tenun Sumba Timur, cara pembuatan kain dari bahan kulit kayu di Barat (yang masih dilakukan sampai tahun 40-an abad ke 20) merupakan orientasi masa lampau.

3. ADAT

Adat merupakan salah satu faktor yang menentukan warna kesenian tradisional. Dalam segala bentuk kesenian tradisional Sumba akan kita dapati atau kita rasakan nafas kehidupan adat setempat, baik kehidupan adat yang pernah ada di masa lampau maupun adat yang masih dihayati masyarakat masa kini. Contoh dalam seni kriya kain tenun Sumba (Timur) sangat disukai pola klasik dengan ornamen yang bermotifkan pohon adung, adung, tempat kepala-kepala musuh yang terpenggal ditancapkan untuk tujuan yang bersifat religius. Motif pohon adung, adung itu menggambarkan adanya adat mengayau kepala manusia pada masa lampau. Dalam seni tari ada jenis tarian perang yang selalu disertai adegan mengayau, memenggal kepala musuh juga menggambarkan adanya adat mengayau kepala manusia pada masa lampau. Dalam seni sastra juga ada saja-sajak (lirik) untuk lagu-lagu pengayauan. Dalam seni rupa kita memperoleh gambaran adat kematian, penguburan yang wajib disertai kurban kerbau, seperti yang dipahatkan pada nisan dan batu kubur. Lukisan magis pada piringan kayu di bagian atas tiang utama rumah adat menggambarkan adat meramalkan (mowulu) sesuatu peristiwa yang masih dilestarikan hingga masa kini. Demikian sedikit contoh yang membuktikan bahwa kesenian tradisional Sumba sangat erat kaitannya dengan segi adat masyarakat Sumba umumnya.

4. MATA PENCARIAN

Faktor penting lainnya yang ikut menentukan produk dari bentuk-bentuk kesenian tradisional sekelompok suku ialah mata pencarian pokok. Sekelompok suku yang masih hidup secara nomadis, bermat apencarian berburu, pasti tidak akan mempunyai cukup waktu untuk membuat kain tenun dengan ornamen rumit yang proses pembuatannya menuntut waktu lama dan tempat pembuatan yang tidak berpindah-pindah. Tidak pula punya waktu untuk memahat patung, ukiran, dan relief dengan ornamen yang rumit. Juga tidak merasa berkepentingan untuk mendirikan rumah-rumah besar lagi kokoh yang memerlukan waktu dan banyak tenaga. Mereka yang hidup dari berburu atau menangkap ikan merasa lebih akrab dengan alam dan hewan. Suara-suara hewan, gejala-gejala alam mengilhami mereka untuk menciptakan lagu serta tarian yang menirukan suara dan gerak-gerik masrgasatwa, gerak-irama pepohonan, dan ombak lautan. Maka, tidak mengherankan apabila mereka produktif dalam seni suara, sastra lisan, dan seni tari betapa pun sederhana ungkapannya. Namun adakalanya alam memakasa mereka untuk mengumpulkan sebanyak mungkin hasil buruan guna disimpan selama musim hujan yang tidak memungkinkan mereka berburu. Selama menanti hujan berakhir, mereka tinggal menetap di suatu tempat, gua-gua, atau rumah-rumah. Dan mempunyai cukup waktu untuk melukis di dinding gua, di kulit kayu, atau kulit hewan. Juga sempat untuk memahat patung, membuat anyaman, membuat alat musik, kain tenun, sehingga produk mereka bertambah dengan seni kriya. Apabila dalam perkembangannya mereka mengalihkan mata pencarian pokok ke lading-ladang untuk bercocok tanam di samping berkebun serta tidak lagi berpindah-pindah, maka mereka merasakan kebutuhan mendesak untuk mendirikan rumah-rumah yang besar, kokoh, lagi aman. Mulailah mereka mencari mengenal arsitektur. Mereka juga mulai membuat barang pecah belah dari tanah liat untuk alat memasak serta anyaman untuk menyimpan bahan sandang, alas duduk, dan tidur. Kultur agraris memberikan cukup waktu yang santai dari tahun ke tahun dengan mengadalkan hasil panen, hasil peternakan. Ini memungkinkan mereka untuk dengan tenang mengembangkan segi-segi keindahan. Mereka bisamemperkaya warna dan motif ornamen kain tenun. Memahat ornamen rumit dengan corak ragam simetris, geometris, dll.

Begitulah keempat faktor yang membentuk watak dan kesenian tradisional Sumba dari zaman purba hingga ke masa kini.

A. Seni Rupa

Seni ini lebih mencerminkan ungkapan semangat religus masyarakat tradisional Sumba dalam bentuk patung, relief, ornamen, dan lukisan.

1. Patung

Patung itu berupa patung-patung atau arca yang terbuat dari batu atau kayu. Patung-patung itu mengambarkan leluhur atau arwah nenek moyang. Patung-patung batu ada yang dibuat dengan menggunakan bahan batu utuh (monolith), tapi adapula yang menggunakan bahan batu pipih atau papan batu (slab).

Selain dari bahan-bahan batu dan kayu, ada juga patung-patung yang dibuat dari bahan logam yang dilapis mas. Patung-patung itu dibuat dalam beberapa sikap, yaitu:

    Berdiri
    Duduk
    Jongkok
    Bersimpuh

Pada umumnya patung-patung itu dibuat dalam keadaan telanjang bulat. Namun ada pula yang diberi perhiasan di dada, seperti di Wanukaka, Sumba Barat. Ada pula yang yang diberi tudung atau ikat kepala, seperti di Parai Liu, Sumba Timur. Bahkan, di Sumba Timur ada yang diberi busana lengkap dengan klewang.

Patung-patung Sumba Barat pada umumnya terbuat dari bahan batu utuh (monolith), sementara di Sumba Timur terbuat dari batu pipih atau papan batu (slab)

Gaya patung Sumba Barat tampak ekspresif dengan menitikberatkan bagian-bagian kepala, wajah, mata, mulut, dan alat kelamin. Yang terbuat dari batu pahatannya membulat pendek, tapi cukup massif.

Gaya patung Sumba Timur lebih eksotis dan terbuat dari batu pipih (slab).

Di seluruh Sumba pembuatan patung tidak pernah dikembangkan hingga menjadi produksi massal seperti di Bali. Ini sebenarnya berakar dari sikap religius masyarakat Sumba yang menilai patung sebagai perwujudan leluhur merupakan benda pamali, benda magis yang tidak boleh dibuat selain untuk tujuan religius.

2. Relief

Relief dibuat pada bagian batu nisan dan batu penutup kubur. Berupa bagian kepala dan wajah atau tubuh. Ada yang dalam sikap berdiri, duduk di atas kerbau atau kuda, dan jongkok.

3. Ornamen

Dilihat dari segi teknis penggarapan dan bahan yang digarap, ada beberapa jenis ornamen di Sumba:

a. Ornamen pahatan atau tatahan

Terutama sekali pada nisan dan batu kubur. Juga pada tiang-utama (sokoguru) rumah adat dan pada semacam mahkota serta sisir yang terbuat dari kulit pentu atau tanduk kerbau, yang hanya terdapat di Sumba Timur.

b. Ornamen tenu, sulam, dan anyaman

Ornamen tenum, sula pada kain-kain, sarung-sarung. Ornamen anyaman tas atau tempat sirih pinang (kaleku) yang lebih terbatas di Sumba Barat.

c. Ornamen barang-barang tanah liat

Ornamen pada bagian-bagian leher dan bibir periuk, tempayan, dan pasu dari tanah liat

Ada pun corak ornamen tertua ialah irama garis-garis, baik yang simetris maupun lengkung-lengkung, meander. Irama garis dan titik-titik yang membentuk lingkaran, stilisasi lidah atau percikan api, spiral, dan pilin ganda. Semua corak ornamen tertua itu masih menunjukkan tradisi gaya seni prasejarah yang sampai masa kini masih dihayati di Sumba. Dalam perkembangannya ditemukan bentuk formal yang otonom sebagai seni dekoratif yang secara kreatif diperkaya dengan motif alat perhiasan mamuli sebagai ciri khas ornamen Sumba. Hal ini disebabkan mamuli merupakan alat perhiasan tradisional yang paling berharga di seluruh Sumba.

4. Lukisan

Lukisan berupa cacah kulit tubuh yang diberi warna biru atau hitam dengan menggunakan larutan tepung arang atau larutan tepung buah kemiri yang dicampur air. Cacah kulit tubuh (tato) pada umumnya melukiskan kuda, udang, dan spi. Lukisan kudan dan udang meskipun distilisasikan namun masih tampak realistis. Lukisan api ada yang digambarkan dengan titik membentuk spiral, tapi ada pula yang berbentuk pilin ganda. Bagian tubuh yang boleh diberi lukisan hanyalah pada bagian lengan atas sampai batas pergelangan tangan dan bagian betis. Lukisan cacah kulit tubuh berfungsi magis.

Lukisan pada piringan kayu bagian tas tiang utama rumah adat yang menyangga Bandar atap membatas loteng dengan ruang dalam rumah. Lukisan berupa kuda, ayam, alat-alat perhiasan, serta meander dan bentuk-bentuk geometris. Warna lukisan itu ialah hitam, biru, merah, kuning, dan putih.

 B. Seni Kriya

Kain tenun Sumba

Bentuk seni Sumba yang terkenal di seluruh dunia adalah kain tenun Sumba. Bentuk kain tenun yang utama ialah jenis hinggi atau selimut dan lau atau selimut. Selain itu, ada pula tera atau ikat kepala dantamelingu atau kain tudung.

Kain tenun Sumba Barat berbeda dengan yang di Timur. Kain tenun Sumba Timur mempunyai kelebihan dalam ornamen dekoratif denga ornamen margasatwa yang tampak realistis. Karena itu, motif kain Sumba Timur sering disebut beragaya dinamis. Kain tenun Sumba Barat memiliki kelebihan dalam ornamen dekoratif yang lembut dengan pola geometris, sehingga sering disebut bergaya statis. Warna-warna pada ornamen kain tenun Sumba Barat dititikberatkan pada warna merah tua dan kuning tua, sedang Sumba Timur pada wrna biru campur hitam atau biru muda dan putih.

Motif kain untuk orang Sumba bermacam-macam. Motif manusia dianggap lambang panjang umur karena manusia mempunyai kelangsungan hidup dari keturunan kepada keturunan. Motif binatangseperti kerbau dianggap sebagai lambang kesuburan tanah. Motif ular melambangkan dunia bawah atau lambang air. Motif kadal melambangkan dewa langit malam. Motif binatang rayap udang melambangkan kematian dan hidup, yang tersimpul dari udang yang bertukar kulit baru. Motif kodok melambangkan curah hujan oleh kekuatan angker kodok. Motif enggang melambangkan kematian dan hidup. Motif ayam jantan melambangkan matahari. Motif-motif binatang pengaruh Hindu adalah gajah yang merupakan lambang kendaraan dewa. Motif kuda lambang kendaraan arwah menuju alam baka. Motif burung garuda lambang kendaraan Dewa Wisnu atau lambang matahari. Motif burung nuri melambangkan cinta karena burung itu dianggap membawa berita asmara.

Tenun ikat dari Sumba Timur dengan motif pohon dianggap melambangkan sesuatu tangga tempat Tuhan turun kepada manusia atau manusia naik kepada Tuhan, dari berbagai pendapat yang seragam menyimpulkan bahwa pohon hayat itu adalah lambang interaksi antara Tuhan menjenguk manusia dan manusia ditarik ke arah Tuhan. Maka sudah jelas pula bahwa awal mula motif-motif dengan nilai lambang itu diresapi oleh nilai-nilai religio-magi, sehingga sehelai sarung tenun ikat sebagai alat spiritual memperoleh nilai suci dan sakti menjadi alat spiritual dan alat magi. Dari awal timbulnya, motif-motif itu sederhana karena yang diutamakan ialah nilai spiritual dengan kekuatan rohaniah yang besar. Waktu itu belum diutamakan nilai keindahan sebagai nilai real tenunan. Jadi dari awal mula, tenunan ikat dan motif-motif dianggap mempunyai nilai suci dan sakti sehingga kesenian primitif itu menimbulkan kesan yang mengagumkan.
 

Simbol Hewan yang Berpengaruh di Masyarakat Sumba

1. Kuda

Hewan yang melambangkan ketaatan paling utama. Kuda tunggangan piliha disebut njara madewa, artinya kuda sehidup semati, yang ketaatatannya tidak terbatas di dunia saja, bahkan juga di alam baka. Itu sebabnya banyak yang berpendirian bahwa kuda kesayangan harus dikorbankan pada saat kubur majikannya hendak ditutup untuk selamanya agar bersamaan dengan lepasnya roh dari kubur, roh kuda kesayangannya telah siap mengantar roh majikannya ke Parai Marapu. Tapi, kakak kandung seorang yang menninggal berhak memelihara kuda kesayangan adiknya dengan mengganti seekor kuda jantan gagah untuk dikorbankan. Di beberapa tempat kuda kesayangan tetap dibiarkan hidup. Hanya selama beberapa hari kuda itu diikat pada nisan atau kubur majikannya untuk kemudian diambil dan dipelihara oleh kakak atau pamannya. Tapi, pada saat upacara menutup batu kubur, kuda kesayangan itu diikutsertakan dan seolah-olah akan disembilah, namun yang dikorbankan dengan sesungguhnya adalah seekor kuda jantan lainnya.

2. Anjing

Melambangkan kewaspadaan. Sebagai penunjuk jalan, penjaga, dan pemburu yang senantiasa mengikuti majikannya bila sedang berpergian atau berburu. Anjing kesayangan dinilai sebagai sahabat senasib sepenanggungan. Di Sumba Barat di sebut boga madewa. Pada umumnya anjing kesayangan yang telah memperoleh predikatbaoga madewa tidak ikut dibunuh apabila majikannya meninggal. Sebagai gantinya dikorbankan sejumlah anjing. Hanya dalam upacara-upacara religius, inisiasi, sajalah anjing boleh dikorbankan dan dagingnya dimakan untuk sesajian kehormatan ataupun selamatan.

Anjing-anjing yang dikorbankan khusus dalam adat kematian dan penguburan, menurut kepercayaan, akan mengikuti roh seseorang keParai Marapu. Di sana sebagian dihadiahkan kepada para leluhur serta anggota-anggota keluarga yang terhormat. Sebagian lagi menjadi hewan peliharaan yang bertugas sebagai penjaga setia. Tanpa memiliki anjing-anjing penjaga yang setia, roh seseorang akan mengalami kesulitan di Parai Marapau. Untuk mengenang dan menghormati boga medewa, seringkali figur anjing dipahat pada nisan kubur.

3. Kerbau

Kerbau biasa yang ikut dikorbankan di Sumba Barat sering disebutbabi dede, babi yang ditinggikan. Boleh kerbau jantan, boleh juga yang betina. Secara simbolis daging kerbau korban itu sipersembahkan kepada roh, arwah leluhur, dan sanak famili yang telah meninggal. Menurut kepercayaan, kerbau korban itu menjadi bekal makanan roh orang yang meninggal dalam perjalanan ke Parai Marapu. Setiba di Parai Marapu, daging kerbau korban itu dipergunakan untuk menjamu awah sanak keluarganya yang telah lebih dahulu berada di Parai Marapu

4. Babi

Jenis hewan ini sama saja dengan kerbau biasa yang dikorbankan, akan tetapi nilainya lebih rendah daripada kerbau. Meski demikian, korban babi merupakan satu keharusan dalam melengkapi hewan-hewan korban pada upacara kematian. Tanpa disertai babi, hewan korban dianggap masih belum lengkap.

5. Sapi

Jenis hewan ini dianggap paling rendah nilainya. Pada umumnya jarang sekali yang menyajikan korban hewan berupa sapi, karena hanya orang-orang miskin sajalah yang menyembelih sapi sebagai hewan korban. Bagi orang yang sangat miskin, cukup dengan menyajikan seekor anak sapi. Sapi merupakan hewan yang hampir tidak mempunyainilai rituil dan hanya dibenarkan untuk dijadikan hewan korban dalam segala upacara adat apabila dalam keadaan terpaksa sekali.

6. Kambing

Jenis hewan ini nilainya lebih rendah daripada babi. Pada umumnya sangat jarang dijadikan hewan korban. Hanya beberapa suku saja yang menilai kambing sama dengan babi sebagai hewan korban. Misalnya suku Gaura di Sumba Barat yang menganggap kambing jenis hewan korban yang hampir senilai dengan anjing.

7. Ayam Jantan

Jenis hewan ini berfungsi sebagai isyarat kebangkitan roh. Koko ayam jantan akan membangunkan roh orang yang meninggal pada waktunya agar bersiap untuk menempuh perjalanannya ke alam makhluk halus, Parai Marapu. Oleh karena ayam jantan itu baru disembelih di tepi kubur tatkala jenazah hendak dimasukkan ke dalam kuburannya. Di samping itu, ayam jantan mempunyai makna magis, karena menurut kepercayaan bahwa bulu-bulu ayam jantan itu akan berfungsi sebagai payung roh seseorang dalam perjalanannya ke alam makhluk halus, sehingga jenis hewan ini sering dijadikan bentuk nisan kubur, meskipun sudah distilisasi. Berbeda dengan jenis hewan lain yang disembelihdalam jumlah besar, ayam jantan yang disembelih selama upacara-upacara kematian dan penguburan hanya satu ekor.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD