Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Minggu, 19 Agustus 2012

Teknologi Penyeimbang Energi Listrik ala BPPT

Sumber energi listrik di daerah terpencil memang terkadang tidak bisa diandalkan, oleh karena itu pemerintah mencoba memperkenalkan sebuah teknologi untuk mengatasinya.

Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (PTKKE BPPT) kemudian merancang sebuah teknologi agar daya listrik, khususnya di daerah-daerah terpencil agar tetap stabil. Teknologi tersebut dinamai smart microgrid.

Sejak awal berdirinya Republik Indonesia hingga tahun 2011 lalu, Desa Lombu, Kecamatan Wawewa, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, masih gelap. Tidak ada penerangan listrik di desa itu. Setiap malam hanya ada lampu minyak yang menerangi rumah-rumah warga. Penerangan jalan pun tidak ada. Setiap warga bila diundang rapat desa, wajib membawa obor.

“Rumah saya paling terang karena semua orang ke sini wajib membawa obor,” kata Kepala Desa Lombu, Lende Bulu, NTT.

Saat Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya memakai energi alternatif untuk penerangan rumah masyarakat, Desa Lombu mulai terang. Listrik tersebut bersumber dari energi surya, diesel, dan minihidro yang dijadikan satu, kemudian dialirkan ke rumah-rumah warga.

Dari 943 kepala keluarga di Desa Lombu, 351 di antaranya telah berlangganan listrik dengan membayar Rp35 ribu per bulan. Setiap rumah mendapatkan tiga lampu LED 5 watt dan satu panel surya yang dipasang di atap rumah.

Pada umumnya listrik yang bersumber dari energi baru dan terbarukan kerap tidak stabil dalam distribusi daya listriknya. Namun dengan sentuhan teknologi, lampu mati mendadak tidak pernah terjadi.

Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (PTKKE BPPT) kemudian merancang sebuah teknologi agar daya listrik tetap stabil. Teknologi tersebut dinamai smart microgrid.

Fungsi peranti tersebut untuk menyeimbangkan daya listrik yang akan disalurkan ke rumah penduduk.

Kepala Bidang Rekayasa Sistem Infrastruktur Energi dan Tenaga Listrik PTKKE BPPT, Ferdi Armansyah, di keterangan resminya menjelaskan bahwa di Kabupaten Sumba Barat Daya kini terdapat tiga sumber energi yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Sumber itu dari tenaga surya, minihidro, dan diesel.

“Semua listrik dari sumber berbeda masuk ke jaringan sistem yang sama milik PLN. Kalau semuanya masuk berbarengan akan menimbulkan masalah. Daya listriknya bisa naik turun, malah bisa menyebabkan listrik mati,” jelas Ferdi.

Ferdi mencontohkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Nusa Penida tidak berfungsi lagi karena daya listriknya sering naik turun. Berdasarkan pengalaman itulah, dalam proyek PLTS selanjutnya harus memakai smart microgrid. Ferdi menyebutkan sumber energi listrik yang berasal dari alam memang tidak stabil.

Lalu Ferdi juga mencontohkan meskipun Indonesia setiap hari disinari matahari, namun energi yang dikeluarkan tidak sama. Ada kalanya mendung atau hujan. Ketika matahari terhalang, tentu pasokan listrik yang masuk akan rendah. Demikian juga dengan teknologi listrik minihidro atau mikrohidro (PLTMH) yang berbasis sungai.

Apabila musim kemarau tiba, tidak sedikit debit air sungai menyusut. Saat krisis solar pun, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) akan bermasalah. Atas dasar itulah digunakanlah alat penyeimbang listrik sehingga bisa diatur tanpa harus merusak sistem kelistrikan.

Teknologi smart microgrid memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi, komputer, dan cyber untuk dapat mengendalikan dan mengoperasikan sistem tenaga listrik dalam menyalurkan energi listrik.

Sistem pengendaliannya terletak pada baterai yang dipasang di PLTS. Pada siang hari, baterai akan menyimpan sel surya yang nantinya dipakai pada malam hari saat matahari tidak bersinar.

Demikian juga PLTMH dan PLTD, bila menghadapi kendala seperti krisis solar dan air sungai mengering, sudah bisa diatasi dengan memakai baterai yang diisi dengan listrik.

Pengisian baterai-baterai itu dilakukan disaat alam memberikan kelimpahan. Misalnya, memasuki musim kemarau, saatnya PLTS memanen sel surya ke dalam baterai kemudian disimpan di storage dalam jumlah cukup besar. Demikian juga berlaku untuk PLTMH dan PLTD.

Operator akan memantau seberapa banyak kapasitas yang disimpan di storage dan di sumbernya secara online. Cadangan listrik itulah yang akan menjadi pemasok listrik yang terkoneksi dengan PLN ke rumah-rumah. Pemantauan secara online ini juga membantu melihat cadangan listrik secara real time.

Keberadaan PLTS di Sumba Barat Daya terbilang baru. Menteri Negara Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta telah meresmikan PLTS di Desa Billa Cenge, Kecamatan Kodi Utara, yang menggunakan smart microgrid pada 3 Juni lalu. Ikut hadir dalam peresmian itu Kepala BPPT Marzan Aziz skandar, Direktur PLN Nur Pamudji, dan Bupati Sumba Barat Daya Kornelius Kodi Mete.

PLTS di Sumba Barat Daya mempunyai kapasitas daya total 500 KWp dan langsung terhubung dengan jaringan listrik 20 Kv PLN. Ini merupakan PLTS terbesar dan pertama kali di Indonesia.

Pada kapasitas maksimum, PLTS mampu melistriki 1.000 rumah dengan suplai listrik 500 watt per rumah. Jenis sel surya yang digunakan adalah thin film (film tipis) yang terbuat dari bahan semikonduktor amorphous silicon.

Teknologi sel surya di atas menggunakan double junctions, yakni atas menggunakan thin film dan bawah memakai kristalin film, yang memiliki konversi efisiensi 9%-10%.




Sumber : inilah.com
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD