Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Kamis, 07 Juni 2012

PLTS Tercanggih Di Pulau Terpencil

Seorang petugas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) memeriksa secara rutin Tegangan Modul Surya
Ribuan modul surya berdiri berjajar dengan rapih menghadap terik sinar matahari di lahan seluas dua hektare di Desa Billa Cenge, sebuah desa terpencil di Pulau Sumba.
            
Di jalan masuk lahan tersebut berdiri dua bangunan, bangunan yang satu berisi 20 "combiner box" penuh dengan kabel yang setiap box-nya mengendalikan 228 unit modul, masing-masing berkapasitas daya 25 kW.
            
Sedangkan bangunan lainnya merupakan ruang kontrol dimana suatu teknologi pengoperasian sistem tenaga listrik yang dinamakan "Smart Micro Grid" rancangan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) diujicobakan.
             
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Bila Cenge, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu menurut Kepala BPPT Marzan A Iskandar, memang yang terbesar di Indonesia. Berbeda dengan PLTS lainnya di tanah air, kapasitas daya total PLTS di Bila Cenge ini mencapai 500 KWp dan mampu mengalirkan listrik untuk sebanyak 1.000 rumah dengan daya 500 Watt per rumah.
           
Marzan bersama Menteri Riset dan Teknologi Gusti M. Hatta baru saja meresmikan demo "Plant Smart Micro Grid" di Bila Cenge, Pulau Sumba pada Sabtu dan Minggu (2-3/6). 
      
Selain terbesar, lanjut Marzan, PLTS yang terhubung ke sistem jaringan tegangan menengah 20 kV milik PLN di pulau terpencil itu juga tercanggih dan yang pertama menggunakan teknologi "Smart Micro Grid".
           
"Smart Micro Grid ini pendekatan baru untuk mengoperasikan sistem tenaga listrik yang memanfaatkan teknologi komunikasi, komputer, dan cyber dalam menyalurkan energi listrik," katanya.
            
Dari Desa Bila Cenge inilah 15 unit pembangkit listrik di Sumba yakni dua pembangkit listrik tenaga diesel di Kota Waikabubak sebanyak 7 unit dan di Kota Waitabula 4 unit, serta pembangkit mikrohidro di Desa Lokomboro 3 unit diintegrasikan. 
     
"Pengendalian smart grid Sumba dilakukan oleh master controller yang terpasang di Bila Cenge bersama remote terminal unit  (RTU) yang terpasang di setiap sistem pembangkit tersebut," tambah Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material (TIEM), Unggul Priyanto.
         
Komunikasi data antara master controller dengan seluruh slave controller (RTU) dilakukan melalui bantuan VSAT (satelit)  berhubung kontur wilayah Sumba yang berbukit-bukit, ujarnya.
           
Setiap RTU dilengkapi dengan sensor yang digunakan untuk membaca parameter kelistrikan di setiap pembangkit seperti tegangan, arus serta frekuensi, kemudian RTU mengirimkan data tersebut ke master controller untuk diolah dan dianalisis sebagai dasar dari pengambilan keputusan.
           
"Namun pada kondisi  emergency RTU akan mengambil alih fungsi kendali setiap pembangkit," katanya sambil menambahkan bahwa fasilitas PLTS ini juga bisa dikontrol dari Jakarta.
            
Menurut Marzan, smart grid ini menjadi pilot percontohan yang mampu mengintegrasikan berbagai energi terbarukan seperti energi surya, mikro hidro, angin, biomassa dan lain-lain yang sangat fluktuatif ke dalam suatu sistem kelistrikan.
           
"Di masa depan, masyarakat atau swasta bukan saja membeli listrik, tapi  juga bisa menghasilkan dan menjual listriknya ke PLN. Teknologi smart grid ini juga mampu mengaturnya. Ini solusi tepat pada era semakin meningkatnya pemanfaatan berbagai energi terbarukan," katanya.
           
Tugas BPPT, ujarnya, adalah mengkaji teknologi yang bisa dimanfaatkan masyarakat, dan Sumba Barat Daya menjadi lokasi terpilih untuk mengujicoba  PLTS dengan teknologi sel surya terbaru "thin film" serta pemanfaatan smart micro grid.

   
Bangga
      
Sementara itu, Bupati Sumba Barat Daya, Kornelius Kodi Mete menyatakan merasa bangga fasilitas PLTS terbesar dengan sistem pengoperasian yang canggih ini dibangun di wilayahnya yang terpencil dengan tingkat kelistrikan masih tergolong rendah (di NTT rasio kelistrikan baru 29,1 persen).
          
"Kami hidup di pulau yang jauh dari pusat dan rumah-rumah di Sumba memang berpencar-pencar, kami maklum jika PLN kesulitan melistriki kami sehingga banyak penduduk kami tak menikmati listrik. Namun kami punya banyak potensi energi alternatif khususnya energi surya yang bisa dikembangkan," katanya.
          
Selama ini, ujarnya, pemanfaatan energi terbarukan di Sumba bagian barat dalam skala menengah baru terbatas pada pembangkit listrik tenaga mikrohidro di Lokomboro berkapasitas 2,3 MW, dengan tambahan PLTS di Bila Cenge sebesar 500 kW.
          
Ia mengatakan,  bahwa pihaknya bersama bupati-bupati lain di Sumba sudah berkomitmen akan menjadikan Sumba sebagai ikon energi terbarukan terkait dengan potensi energi terbarukannya yang cukup besar.
           
"Kami berharap nantinya daerah kami bisa tetap terang tanpa bahan bakar solar, dengan potensi energi alternatif  yang besar ini," kata Bupati.
          
Ia juga menawarkan  lahan seluas 80 ha kepada Dirut PLN Nur Pamudji yang juga hadir pada peresmian itu untuk dibangunkan pembangkit listrik tenaga biomassa.
          
Bupati menawarkan lahannya untuk menjawab Nur Pamudji yang saat itu meminta kepada pemerintah daerah kepulauan menyewakan lahannya minimal 100 hektare selama 10-20 tahun kepada PLN agar pihaknya bisa menanam kayu-kayuan untuk dijadikan bahan baku pembangkit listrik tenaga biomassa berkapasitas 3 MW.
          
Untuk mencapai target 37 ribu rumah bercahaya di Sumba pada akhir 2012 Nur Pamudji juga menawarkan modul surya dengan tiga bohlam lampu sehargaRp35 ribu per bulan kepada masyarakat Sumba yang masih diliputi kegelapan.
          
"Meski bukan listrik, dan sebatas lebih terang jika malam, namun diharapkan masyarakat dapat merasakan manfaatnya karena bisa melakukan kegiatan hingga malam," katanya.
           
Sejak adanya penawaran paket modul surya dan tiga bohlam lampu di Sumba Barat Daya pada awal 2012, sudah sekitar 18.500 rumah bisa mendapat penerangan lampu, terang Bupati Kornelius.
          
Namun masyarakat kepulauan tidak hanya butuh penerangan lampu, masyarakat juga butuh listrik, karena itu fasilitas PLTS dan pembangkit
listrik energi terbarukan lainnya, tampaknya, memang perlu terus ditambah dan ditambah.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD