Member Of

Member Of

Like Untuk Bergabung

Minggu, 29 April 2012

Air dari Gua Hasilkan Listrik 1 MW

Direktur Operasi PLN Indonesia Timur, Vickner Sinaga kamis sore  (26/4) meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Minihodro (PLTM) di Sumba Barat Daya. Seperti apakah pembangkit tenaga air itu?

Sebuah
mata air dengan debit 5 m3 perdetik, nampak keluar dengan derasnya dari sebuah gua di tebing gunung kawasan Lokomboro, Desa Warekelada, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Air terjun di ketinggian 270 meter dari permukaan laut itu, tak disia-siakan oleh PT PLN. PT PLN, Pusat Pemeliharaan Ketenaga Listrikan (Pusharlis), Bandung, membangun PLTM di sana.
Rabu kemarin, dua unit pembangkit berkapasitas 2x500 KW itu sudah masuk jaringan PLN, yang akan menerangi rumah-rumah warga di Sumba Barat maupun Sumba Barat Daya.

Di lereng gunung yang terjang itu, Pusharlis memasang pipa besar untuk menyalurkan air ke pembangkit. Dengan pipa berdiameter 1,55 meter dengan panjang 215 meter itulah yang digunakan menggerakkan turbin sehingga bisa menghasilkan tenaga listrik sebesar 2x500 KV.

Yang menarik, pembangkit listrik minihidro yang dipasang di Lokomboro ini semuanya hasil karya putra-putri terbaik bangsa. Hanya sepuluh persen yang dibeli dari luar. "Pembangkit yang kami bangun ini 90 persen hasil karya kami sendiri. Hanya sepuluh persen yang kami beli," tutur Budi Santoso, kepala Pusharlis.

Menandai beroperasinya dua unit pembangkit listrik itulah, kemarin Direktur Operasi PLN Indonesia Timur, Vickner Sinaga datang meresmikannya.
Karena proyek ini dibangun oleh PLN sendiri, pembangunannya hanya delapan bulan, dengan biaya sekira Rp 15 miliar.

 Untuk melihat kesiapan tersebut, wartawan koran ini Rabu (25/4) berkunjung ke sana. Lokasinya 42 km dari Bandara Tambolaka, Waingapu Barat.

Meski jaraknya tak begitu jauh, namun perjalanan ditempuh lebih dari satu jama. Maklum jalan yang dilalui banyak yang sudah rusak, akibat setiap saat dilalui puluhan truk pengangkut batu yang diambil tak jauh dari lokasi proyek.

Sepanjang jalan yang dilalui nampak pepohonan yang rimbun. Ada pohon kopi, coklat, salak, durian, kemiri maupun pohon tak berproduksi lainnya. Hamparan sawah penduduk, juga terlihat di sana. "Di sini buah-buahan juga banyak seperti durian, salak, rambutan, avokat dan lain-lainnya," cerita Deki, sopir yang membawa rombongan.

Di Sumba Barat, banyak terdapat mata air yang cukup besar yang bisa digunakan untuk pengairan.

 Karena airnya yang melimpah itu pulalah, PLN sedang membangun lagi dua unit pembangkit, berkapasitas 2x200 MW. Direncanakan pada Agustus nanti sudah bisa beroperasi. Pembangkit yang sedang dibangun ini, memanfaatkan air buangan dari PLTM unit dua dan tiga.




M NASARUDDIN ISMAIL
Timorexpress

Sabtu, 28 April 2012

Sewa Ahli dari China, PLN Kembangkan Listrik Tenaga Angin di NTT

Setelah mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Minihidro di Indonesia Timur, kini PLN tengah berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin (PLTB).

Jumat, 27 April 2012

Aftur Belum Ada di Tambolaka

Salah satu kendala utama minimnya armada pesawat singgah di Bandar Udara (Bandara) Tambolaka karena bahan bakar aftur untuk pesawat belum tersedia. Selama ini, pesawat takut masuk ke Pulau Sumba, karena harus mengisi aftur di Denpasar-Bali atau di Bandara El Tari Kupang. Padahal Bandara Tambolaka merupakan pintu utama masuk ke Pulau Sumba.

Hal ini dikatakan, Bupati Sumba Barat Daya, dr.Kornelius Kodi Mete dalam sambutannya pada acara Workshop Penyiaran yang berlangsung di Aula Setda SBD, Selasa 24/4/2012).  "Saat ini bangunan Bandara Tambolaka cukup megah ditambah kelengkapan lainya karena dukungan pemerintah pusat. Namun  itu belum menjamin banyak pesawat datang ke Sumba melalui Bandara Tambolaka. Sebab faktor penghambat utama adalah  belum tersedianya aftur di Bandara Tambolaka," jelas Kodi Mete.  

Mangatasi hal itu, lanjut Kodi Mete, Pemerintah Kabupaten SBD berharap  ada dukungan pemerintah pusat untuk menghadirkan bahan bakar pesawat di Bandara Tambolaka. "Kalau sudah ada aftur, pasti semakin banyak pesawat menyinggahi Bandara Tambolaka untuk melayani masyarakat di Pulau Sumba," tambah Kodi Mete.

Menurut Kodi Mete, secara teknis Bandara Tambolaka semakin baik dibanding beberapa tahun sebelumnya.  Saat ini gedungnya semakin megah, landasan pacu semakin luas, dan berbagai kelengkapan lainnya secara bertahap dilengkapi.

Kodi Mete menambahkan, jika penerbangan ke dan dari Pulau Sumba lancar, maka pariwisata di daerah itu akan maju. Kabupaten SBD memiliki aset wisata yang layak mendatangkan uang bagi rakyat. Misalnya, objek wisata pantai yang indah membentang luas sepanjang Kodi, Pantai Manangba di  Loura, perkampungan adat, budaya pasola, pesta kematian dan beragam aset wisata lainnya.

Pemerintah katanya, beserta elemen terkait lainya telah berupaya mempromosikan objek wisata ke luar daerah. Namun, kendala transportasi udara menjadi salah satu penyebab minimnya wisatawan datang ke Pulau Sumba.


Sumber : Pos Kupang 

Sabtu, 21 April 2012

Katrina Koni Kii : Ibu Bagi Lingkungan

 “Mewariskan Hutan Cendana Bagi Anak Cucu di Pulau Sumba”

Tidak ada yang sia-sia dari sekecil apapun yang kita kerjakan jika dilandasi tujuan mulia. Pernyataan inilah yang mungkin tepat untuk menggambarkan apa yang dilakukan oleh Katrina Koni Kii. Perempuan berusia 63 tahun itu seakan tidak percaya ketika suatu hari menerima jabat tangan dan ucapan selamat dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Cipanas, pada tahun 2005. Saat itu pula ia menerima kotak kaca berisi Kalpataru, lambang dari segala upaya pelestarian lingkungan hidup di Indonesia.

Katrina Koni Kii

Katrina Koni Kii berasal dari Dusun Pokapaka, Desa Malimada, Kecamatan Wewewa Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia menerima penghargaan Kalpataru 2005 untuk kategori Perintis Lingkungan karena dinilai telah berjasa menghijaukan lahan kritis dengan tanaman kayu-kayuan, seperti cendana, lame, ello, mahoni, johar, dan kemiri.
Sumba sejak dulu dikenal sebagai penghasil cendana (Santalum album L) berkualitas prima. Tanaman itu semakin hari semakin langka karena masyarakat setempat tidak lagi berminat untuk menanamnya. Jangka waktu tanam hingga menghasilkan terlalu lama, yakni diperlukan waktu sekitar 40 tahun. Katrina memprihatinkan keadaan ini dan mulai menanamnya kembali karena dorongan hati ingin mewariskan kepada anak-anak.
Kesempatan bertemu langsung dengan Presiden dan menerima Kalpataru serta uang tunai enam juta rupiah menjadi sesuatu yang sangat istimewa bagi seorang petani miskin seperti Katrina. Karena itu, ia rela meninggalkan kampung halamannya untuk sejenak dan menempuh perjalanan yang cukup berat.
Untuk sampai ke ibu kota kecamatan diperlukan waktu dua jam berjalan kaki mendaki dan menuruni bukit, melalui jalan berbatu dan terjal. Kemudian satu jam perjalanan kendaraan untuk mencapai Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat.
Dari Waikabubak diperlukan satu jam perjalanan lagi untuk sampai ke Lapangan Terbang Tambolaka di Sumba Barat Daya. Katrina pun harus tiga kali berganti pesawat. Pertama di Bima (Nusa Tenggara Barat), kemudian Denpasar (Bali), dan Surabaya (Jawa Timur), sebelum sampai di Jakarta. Sebuah perjalanan yang melelahkan bagi Katrina, yang sehari-hari hanya berkutat di ladang. Pengalaman ini mungkin adalah pertama kalinya bagi Katrina meninggalkan kampung dan menempuh perjalanan yang begitu jauh ke ibu kota.
Dusun Pokapaka dengan penduduk sekitar 100 keluarga berada pada lahan berbukit dan berbatu sehingga rumah penduduk terpencar-pencar. Jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain bisa satu kilometer. Lahan yang berbatu sangat menyulitkan untuk mendapatkan sumber air.
Kondisi seperti itu menjadi tantangan bagi Katrina untuk membuktikan bahwa alam selalu bersahabat apabila manusia mau mengelolanya dengan baik. Ibu beranak lima itu berangkat dari niat menggarap lahan seluas sembilan hektar yang ditinggalkan mendiang suaminya pada tahun 1976. Mulailah ia menanam pohon apa saja di lahan yang terletak sekitar empat kilometer dari rumahnya itu. Ia menanam cendana supaya ada yang bisa diwariskan kepada anak dan cucunya kelak.
Mula-mula dia mendapat empat bibit pohon cendana dari petugas pertanian lapangan yang datang ke desanya. Namun, hanya dua pohon yang hidup dan berbiak sampai sekarang. Pohon tidak gampang tumbuh karena tanah di kampungnya berbatu-batu. Dua pohon cendana induk yang kini berumur hampir 30 tahun itu telah menghasilkan ratusan tunas-tunas baru.
Selain menanam tunas-tunas dari tanaman induk, Katrina juga mengambil dari pohon-pohon lain di sekitarnya. Katrina dibantu anak-anaknya telah menanam 400 pohon cendana di lahannya sendiri. Digabung dengan pohon-pohon jenis lain, jumlahnya melebihi 500 pohon.
Katrina tidak pernah mendapat penyuluhan bagaimana menanam pohon cendana. Ia hanya melakukannya dari hati dan dengan cara yang Ia pahami. Ia tidak pernah mengikuti penyuluhan yang dilakukan di balai desa, meskipun dia selalu mendapatkan undangan untuk hadir. Katrina menemukan sendiri cara-cara menanam pohon di lahan yang penuh tantangan itu. Sebelum menanam, Katrina terlebih dahulu membuat terasering sehingga dapat menampung tanah yang terbawa aliran air saat hujan. Ia membuat terasering karena kondisi lahan yang berbatu dan lapisan tanah permukaannya (top soil) tipis untuk penanaman bibit. Karena sulitnya mendapatkan air, penanaman dilakukan pada musim hujan.
Seiring makin banyaknya pohon tanaman keras yang ditanam, lahannya semakin subur. Daun-daun yang rontok menjadi humus, sedangkan akar-akarnya menahan erosi dan mencegah hilangnya top soil. Lahan yang subur di sela-sela pepohonan ditanami tanaman ladang, seperti ubi, jewawut, keladi, dan jagung yang merupakan makanan pokok bagi penduduk karena beras hanya didapat dari padi ladang atau beli di pasar.
Hasil kerja keras Katrina membuahkan hasil yang luar biasa bagi pengelolaan lahan berkelanjutan. Ia berhasil melestarikan pohon cendana yang mulai langka dan sekaligus menghijaukan bukit-bukit yang dulu gersang. Katrina memperoleh penghasilan tambahan dari tanaman semusim yang tumbuh subur.
Apa yang dihasilkan Katrina selama belasan tahun itu menginspirasi masyarakat sekitarnya. Mata mereka terbuka melihat lahan yang dulu gersang menjadi hijau. Masyarakat tidak lagi membuka ladang secara berpindah-pindah karena lahan sekitar mereka sudah subur dan mudah ditanami apa saja.
Bagi Katrina sendiri, penghargaan Kalpataru merupakan amanah untuk tetap melanjutkan upayanya melestarikan lingkungan. Tidak akan ada yang berubah, seperti biasa, Katrina ke ladang pagi dan sore. Ia akan terus mencari dan menanam bibit cendana.
Katrina berharap anak-anaknya dapat meneruskan yang telah ia rintis.Di tanah kelahirannya, sebuah dusun di atas bukit berbatu yang kini menghijau, Katrina menjadi ibu bagi ribuan pohon.



Sumber : http://jejaksangalang.blogspot.com

Rambu Meha dan Konda Ngguna, Penggerak Perempuan Sumba


Oleh Frans Sarong dan Brigitta Isworo 

Kelompok wanita tani (KWT) Tapa Walla Badi di Kambata, Desa Mbata Kapidu, Kecamatan Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, tengah naik daun. Ini seiring berbagai langkah KWT untuk meningkatkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat setempat.

Mereka berhasil menembus 16 nominasi peraih Kehati award ke-7 dari 100 peserta perseorangan/kelompok. Kelompok ini dimotori dua perempuan, Marlina Rambu Meha dan Konda Ngguna. Kehati adalah yayasan yang memberikan dukungan dan sumber daya guna memfasilitasi berbagai aktivitas, konservasi, dan penggunaan biodiversitas di Indonesia secara berkelanjutan.

Puji Sumedi dari Kehati mengatakan, penghargaan kali ini difokuskan pada ketahanan pangan. Nominasi penghargaan ini adalah perseorangan atau kelompok yang dinilai serius mengupayakan ketahanan pangan terutama mengandalkan berbagai jenis pangan lokal.

KWT Tapa Walla Badi adalah kelompok tani beranggota 21 perempuan sekaligus ibu rumah tangga. Didirikan pada tahun 2000, KWT menggeluti lima kegiatan utama, yakni usaha bersama simpan pinjam (USBP), tenun ikat, peternakan hewan kecil, arisan, dan usaha tanaman pekarangan.

Usaha KWT mampu berperan sebagai penopang ketahanan pangan keluarga. Tahun lalu, misalnya, lebih dari 140 desa/kelurahan di Sumba Timur tertimpa rawan pangan. Ketika itu, umumnya warga mengonsumsi iwi (sejenis umbi hutan). Namun, keluarga anggota KWT tak mengonsumsi iwi karena stok pangan lain masih tersedia.

“Itu karena hasil jagung dan ubi  dari kebun usaha para suami sepenuhnya untuk kebutuhan di rumah. Untuk biaya anak sekolah, kesehatan, minyak tanah, garam dapur, dan kebutuhan lain dipenuhi dari hasil usaha kami di KWT,” kata Kona Ngguna, Ketua KWT Tapa Walla Badi, di Kambata, bulan lalu.
Hal itu juga dikemukakan Kepala Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kelautan (BP3K) Kecamatan Kota Waingapu Lukas R Malo dan John Pati Ndamu dari Yayasan Pahadang Manjuru, mitra Kehati di Waingapu.

KWT juga berupaya mengatasi ketertinggalan pendidikan. Lewat kegiatan menenun, USBP, dan arisan, mereka secara teratur menyisihkan 25 persen dari penghasilan untuk tabungan biaya sekolah anak. Dari 21 anggota KWT, total tabungannya sekitar Rp 14 juta. Jumlah yang besar untuk kelompok masyarakat tertinggal di NTT.

Belakangan ini, KWT juga mengusahakan tanaman pangan lokal. Di bawah bimbingan BP3K setempat mereka mengelola lahan kering di Jara Wula (4.200 meter persegi) dan di Wailinggang (1,5 hektar). Dua kebun di Desa Mbata Kapidu itu antara lain ditanami jagung, kacang-kacangan, sorgum, jawawut, umbi-umbian, dan pisang.

Singkong mukibat, hasil persilangan antara jenis lokal dan singkong karet, juga ditanam di Jara Wula. “Dari uji coba tahun lalu, hasilnya luar biasa. dari satu pohon singkong mukibat menghasilkan sekitar 22 kg umbi segar. Bandingkan dengan singkong lokal yang hasilnya paling banyak 2 kg per pohon,” kata Lukas R Malo.

Gagal sekolah
Pencapaian KWT Tapa Walla Badi tak lepas dari peran penggerak utamanya, Marlina Rambu Meha dan Konda Ngguna, keduanya asli Sumba Timur. Masa lalu menjadi inspirasi mereka untuk memperbaiki kondisi setempat.

Rambu Meha asal Kananggar, Kecamatan Paberiwai, mengaku hingga kini menyisakan rasa kesal karena gagal menamatkan SMA akibat kesulitan biaya Tak lagi bersekolah, ia menjadi pembantu rumah tangga (PRT) keluarga Angel Paul, penggerak bidang pertanian di Sumba Timur asal Australia.

Dua tahun sebagai PRT, Rambu Meha kembali ke Kananggar dan bergabung dengan Yayasan Tana Nua. Di yayasan ini, dia belajar berorganisasi dan menikah dengan sesama anggota lembaga swadaya masyarakat, Abas Hukung. Mereka lalu menetap di Desa Mbata Kapidu.

Di sini dia merintis pembentukan KWT Tapa Walla Badi. Awalnya, ia menangkap peluang pasar kain tenunan Sumba yang saat itu sedang tinggi permintaannya. Namun, warga tak bisa memanfaatkan kesempatan itu karena terbatasnya hasil tenunan.

Di sisi lain, Konda Ngguna dan sejumlah perempuan warga kambata yang menjadi penenun sejak berusia belasan tahun tak bisa bekerja karena kesulitan bahan baku benang. Rambu Meha lalu mengajak onda Ngguna membentuk kelompok tenun. Usaha itu tidak mulus. Mereka berbenturan dengan budaya Sumba yang terkesan tak rela membiarkan kaum perempuan tampil.
“Pada prinsipnya, Ibu Konda bersedia, tetapi harus disetujui suaminya. Saya lalu mendekati suaminya. Itu pun baru direstui setelah pendekatan keempat kalinya,” cerita Rambu Meha.

KWT awalnya hanya beranggota empat perempuan. Mereka adalah Rambu Meha, Konda Ngguna, Mbitu Njola, dan Tinggi Nahu. Modal awalnya dua bantal benang.
Konda Ngguna lalu mengatur kelompok kecil ini menenun dengan mengandalkan pewarna alam, seperti mengkudu, nila, gaharu, buah kemiri, landu kaka, dan panetang. Hasilnya, empat kain kombu yang saat  itu terjual seharga Rp 150.000 per lembar atau total Rp 600.000. Hasil itu kemudian dijadikan modal lanjutan untuk membeli bahan baku, terutama benang. Usaha tenun pun terus berkembang.

Seiring waktu, anggota KWT terus bertambah hingga puluhan perempuan. Sampai kini untuk kegiatan menenun, Konda Ngguna, tetap berperan sebagai tutor bagi penenun lainnya.
“Saya sudah aktif menenun sejak tamat sekolah dasar, sekitar 30 tahun lalu,” kata Konda Ngguna, yang juga menyisakan penyesalan karena tak bisa melanjutkan sekolahnya akibat kesulitan biaya. Karena itu, sejak awal mengusahakan KWT, ia dan Rambu Meha sepakat mesti menyisihkan sebagian penghasilannya untuk tabungan anak sekolah. Selebihnya, uang yang ada digunakan untuk mengokohkan ketahanan pangan keluarga.

Aturan menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan anak sekolah itu mereka jalankan dengan disiplin. Setiap lembar kain tenunan mereka yang terjual, hasilnya langsung disisihkan 25 persen untuk tabungan anak sekolah.
“Bahkan, kalau arisan siapa pun pemenangnya, 50 persen uang itu juga untuk tabungan anak sekolah,” kata Konda.

Melihat kiprah mereka, berbagai pihak di Waingapu tak keberatan memosisikan Rambu Meha dan Konda Ngguna sebagai penggerak perempuan Sumba. Alasan mereka, perempuan Sumba umumnya amat jarang berperan aktif dalam kegiatan kelompok seperti yang mereka lakukan lewat KWT Tapa Walla Badi.

 (Kompas 6 Maret 2012)

Rabu, 11 April 2012

Ama Pandaka Tewas di Acara Syukuran Ulang Tahun

Ilustrasi
Yohanes Bulu Ngongo (49) alias Ama Pandaka, warga Desa Tema Tanah, Kecamatan Wewewa Timur tewas di kediaman Ama Adi di Desa Ndara Mane, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

Ama Pandaka tewas ditebas dengan parang tajam oleh Yohanes Malo Nono (40), Minggu (8/4/2012) sekitar pukul 02.00 WITA. Sabtu malam, berlangsung acara syukuran ulang tahun seorang anak Ama Adi.

Belum diketahui akar permasalahan hingga terjadi pembunuhan Ama Pandaka. Diduga, sebelum peristiwa mengenaskan itu, telah terjadi kesalahpahaman yang menimbulkan keributan.

Camat Wewewa Timur, Enos Eka Dede, S.Sos, yang ditemui di ruang kerjanya, Senin (9/4/2012) membenarkan telah terjadi peristiwa pembunuhan Minggu dini hari.
Menurutnya, hingga saat ini belum diketahui penyebab utama hingga menewaskan salah seorang warganya itu. Persoalan tersebut diserahkan kepada aparat kepolisian untuk mengusut hingga tuntas.

Pemerintah Kecamatanan Wewewa Timur sudah berkoordinasi dengan Kapolsek Wewewa Timur, Iptu Yohanes Keraf. Malam itu juga langsung terjun ke lokasi kejadian sesaat setelah memperoleh laporan dari warga.

Pihaknya melakukan pendekatan dengan keluarga korban maupun pelaku untuk sama-sama menahan diri, bersabar dan mempercayakan penanganan kejadian tersebut kepada aparat kepolisian.

Menurut Enos, pelaku dengan korban masih memiliki hubungan persahabatan, apalagi keduanya bertetangga.

Informasi yang diperoleh dari Kapolsek Wewewa Timur, sesaat setelah kejadian, Yohanes Malo Nono menyerahkan diri kepada polisi.


Sumber : tribunnews.com

Sabtu, 07 April 2012

Nasib Bayi Ester : Lahir Prematur, Ditinggal Ibu dan Kehilangan Kembaran

Lahir memang tak bisa memilih orang tua. Demikian halnya bayi Ester (2 bulan) harus menerima pahitnya ditinggal ibu. Lahir prematur dengan berat 1.500 gram, bayi laki-laki ini juga harus kehilangan saudara kembarnya yang pergi mendahuluinya. Bayi mungil ini sudah dua bulan lebih dirawat oleh perawat maupun dokter di Ruang Cempaka Bayi RS Sanglah. Dan selama itu pula, sang ibu tidak pernah datang untuk melihatnya.

Berdasarkan informasi, bayi Ester lahir dari ibu bernama Ester pada 20 Januari 2012 di IRD RS Sanglah. Sang ibu, Ester, mencantumkan alamat tempat tinggal di Banjar Semila Sari, Denpasar saat mendaftar di RS Sanglah. Namun, alamat KTP-nya adalah Kelena Wana, Kecamatan Laura, Sumba Barat Daya.

Ester kemudian melahirkan bayi kembar berjenis kelamin laki-laki. Karena belum diberi nama, ke-2 bayi ini diberi identitas yakni bayi Ester 1 dan Ester 2. Karena lahir prematur dan berat badan lahir rendah yaitu sekitar 1.500 gram, ke-2 bayi kemudian dirawat dalam inkubator di ruang Cempaka Bayi RS Sanglah. Sementara Ester sendiri dirawat di Bakung Timur.

Pada tanggal 25 Januari, Ester yang kondisinya sudah pulih setelah melahirkan minta izin untuk pulang. Namun setelah itu, keberadaannya tidak terlacak lagi dan ia tidak menampakkan diri kembali untuk melihat ke-2 anaknya. Ia juga tidak datang ketika bayi Ester 1 meninggal pada tanggal 26 Januari 2012. Hingga Rabu (4/4/2012) kemarin, jenazah bayi malang ini masih dititipkan di Kamar Jenazah RS Sanglah.

Kehilangan saudara kembarnya membuat bayi Ester 2 kini sebatang kara. Tidak seperti saudaranya, ia mampu bertahan dan perlahan-lahan kondisinya berangsur membaik. Berat badannya pun terus meningkat, dari 1.500 gram menjadi 2.200 gram. Meski demikian, untuk bayi umur dua bulan yang idealnya 3-4 kilogram, bayi Ester 2 tampak sangat kecil.

Ditemui di ruang Cempaka Bayi, ia tampak sehat meski badannya lebih mungil dibandingkan bayi seusianya. Dengan mata setengah mengantuk, bayi Ester 2 tampak tidak terganggu dengan kilatan sinar kamera yang memfoto dirinya. Selama dua bulan ini, ia dirawat bergantian oleh perawat maupun dokter yang bertugas di ruang Cempaka Bayi.

Pakaian serta pampers pun dibagi pengadaannya secara patungan oleh perawat atau dokter. Sementara untuk susu, bayi Ester 2 mendapatkannya dari RS Sanglah. Karena kondisinya yang membaik, bayi Ester 2 kini tidak perlu mendapatkan perawatan lagi di inkubator dan sebenarnya ia sudah boleh pulang.

Menurut Kabag Humas RS Sanglah, I Putu Putra Wisada, pihak RS telah menyurati Poltabes Denpasar untuk mencari keluarga dari bayi Ester 2. "Saat ibunya tidak muncul, pihak RS Sanglah sudah berusaha menghubungi nomor telepon yang dicantumkan namun tidak tersambung. Kami juga sudah meminta bantuan ke pihak kepolisian," ujar Wisada.

Pihak kepolisian di Poltabes Denpasar mencari ke alamat tercantum namun hasilnya nihil dan akhirnya mengontak pihak kepolisian di Sumba Barat untuk melanjutkan pencarian ibu si bayi ke alamat KTP-nya. Namun hingga sekarang masih belum mendapatkan hasil.


Sumber : Bali Post

Samuel Ngongo Lewu: Sumber Air bagi Warga Empat Desa

Samuel Ngongo Lewu (64), sejak remaja sering meneteskan air mata ketika menyaksikan padang sabana dan pohon-pohon alam di sekitarnya lenyap dilalap api. Api membakar sabana dan isinya akibat tindakan negatif warga setempat. Ia tak punya kuasa melarangnya.

OLEH FRANS SARONG

Namun, dia tidak hanya berkeluh kesah dan menyerah. Dia pun bertindak nyata dengan menanami kawasan gersang di lingkungannya. Samuel menanam berbagai jenis pohon hingga pada akhirnya membuahkan sumber air baru dari kawasan yang tadinya gersang itu, tahun 1990-an.

     "Pekerjaan saya hanya bertani. Tetapi, juga senang menanam pohon. Dengan menanam pohon, saya sampai memperoleh penghargaan secara nasional," kata Samuel yang akrab disapa Ama Pata di kampungnya di We'e Tuaka, pertengahan Maret. Dia mengungkapkan hal itu dengan perasaan bangga. Namun, kebanggaan Samuel yang paling utama adalah karena usaha penghijauan yangdilakukan ternyata menghasilkan sumber air baru.

     Sumber air baru itu pun menjadi oase dan membebaskan warga sekitar yang selama ini kesulitan mendapatkan air bersih. Kesulitan memperoleh air bersih sudah sejak lama dialami warga.

     Kampung tempat Samuel tinggal-We'e Tuaka-adalah salah satu anak kampung Desa Tenggaba Kecamatan Wewewa Tengah, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Jaraknya sekitar 32 km dari Tambolaka (kota kabupaten SBD) atau lebih kurang 22 km sebelum Waikabubak di Kabupaten Sumba Barat. Jika bepergian dari Tambolaka atau Waikabubak, jaringan jalan beraspal hotmiks hanya sampai mulut persimpangan Tenggaba. Selanjutnya, kendaraan harus menyusuri jalan beraspal tipis, berlubang-lubang, dan sempit sejauh lebih kurang 10 km hingga We'e Tuaka.

     Keluarga Samuel sebenarnya memiliki dua rumah. Rumah utamanya di tepi jalan negara Tambolaka-Waikabubak, tepatnya di sekitar persimpangan Tenggaba. Satu rumah lainnya terletak di We'e Tuaka yang lebih dikenal sebagai rumah kebun. Rumah kedua ini bermakna khusus mendekatkan mereka dengan lahan usaha yang biasa ditanami padi dan jagung, termasuk 2 hektar sawah tadah hujan.

     Sejak belasan tahun lalu, Samuel bersama keluarganya lebih sering menetap di rumah kebunnya itu. "Kalau di rumah kebun, jelas lebih banyak waktu bekerja di ladang, sawah, atau menanam pohon. Alasan lain, karena sumber air di sekitarnya mulai mengalir sepanjang tahun sejak 1990-an," kenang ayah delapan anak tersebut.

     Menariknya, sumber air di We'e Tuaka itu tidak melulu hanya menjadi andalan Samuel dan keluarganya. Mata air tersebut sekaligus menjadi andalan sebagian warga empat desa, yakni Tenggaba dan Kanelu di Kecamatan Wewewa Tengah. Dua desa tetangga lainnya adalah Totok dan We'e Nada dalam wilayah Kecamatan Loura.

     Warga merasakan pentingnya keberadaan sumber air itu. Karena itu, mereka merasa perlu menjaganya sedemikian rupa. Bahkan, belakangan ini warga membuat bak penampung air di sumber air tersebut.

Tidak serta-merta

     Kehadiran sumber air We'e Tuaka tentu saja bukan harta berharga yang tiba-tiba datang begitu saja. Siapa pun di Tenggaba dan juga warga lain di desa-desa sekitarnya mengakui, sumber air tersebut merupakan buah karya Samuel. Dialah orang yang sejak lama secara tekun menghijaukan kawasan gersang di sekitarnya dengan berbagai jenis pohon.

     Awalnya, Samuel "bermimpi" jika sawahnya yang seluas 2 hektar di We'e Tuaka suatu ketika terus digenangi air sampai puncak kemarau. Harapannya, dia bisa mengolah lahan sawahnya berproduksi atau bisa diolah 2-3 kali setahun. Dengan demikian, dia berharap penghasilannya dari sawah pun meningkat.

     Untuk mewujudkan mimpinya itu, Samuel giat menanami kawasan gersang di sekitarnya dengan pohon berbagai jenis, seperti kemiri, jati, mahoni, johar, dan meranti. Tanaman lainnya yang ditanam adalah berbagai kayu lokal, seperti lapale, ketaka, nga'a, manera, kasosa, mapedu, dan kedimbil. Samuel tidak hanya menanam jenis kayu biasa, tetapi juga berbagai jenis kayu mahal, seperti gaharu dan cendana.

     Usaha yang ditekuni sejak tahun 1970-an itu tersebar di We'e Tuaka, We'e Walu, dan Kawe Nggala, semuanya dalam wilayah Desa Tenggaba. "Luas kawasan penghijauan yang saya tanam seluruhnya sekitar 15 hektar, termasuk di dalamnya khusus ditanami cendana 3 hektar dan gaharu 2 hektar," kata Samuel mencoba merinci kawasan yang diolahnya.

     Perjuangannya yang tidak kenal lelah dan hasilnya yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar telah membuat Samuel berhasil mengoleksi penghargaan resmi dari pemerintah tingkat kabupaten hingga pusat. Sebut saja, penghargaan berupa Kalpataru Kategori Perintis Lingkungan yang diterimanya langsung dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta, 12 Juni 2006.

     Walaupun telah meraih beberapa penghargaan tersebut, terutama Kalpataru, Samuel mengaku dirinya baru menyadari jika kegiatan yang ditekuninya sejak lama bukanlah pekerjaan sia-sia, apalagi hina. Dia kini merasakan apa yang dikerjakan sungguh luhur dan mulia.

     "Sungguh, saya tidak pernah bermimpi bisa naik pesawat sampai Jakarta. Apalagi, sampai bersalaman langsung dengan Bapak Presiden di Istana Negara, Jakarta. Ternyata ini semua berkat usaha menghijaukan kawasan gersang di Tenggaba," kenangnya.

     Tentu saja kebanggaan paling dalam adalah Samuel secara tidak langsung telah menjadi sumber air bagi warga empat desa di Kecamatan Wewewa Tengah dan Loura.

     Mimpinya yang belum terwujud adalah sawahnya yang masih tadah hujan karena sumber air We'e Tuaka muncul di bagian hilirnya....

SAMUEL NGONGO LEWU

Lahir: Tenggaba, 17 Maret 1948

Pendidikan:

- SR 6 tahun di Tenggaba (1960)

- Sempat bersekolah di SMP di Waingapu, Sumba Timur, tetapi hanya 3 bulan

Istri: Lusia Dairo Luru dan Bernadete Melu Lesa

Anak-anak:

- Herman Pata

- Oktaviana

- Selviana

- Ferdinand

- Melikianus

- Adriana

- Pataki

- Yunita


Sumber : Kompas

Selasa, 03 April 2012

PENYELUNDUPAN TKW ASAL SBD dan ST KEMBALI DIGAGALKAN

Upaya Penyelundupkan TKI Digagalkan Polres Pelabuhan Tanjung Perak

Calon TKW asal Sumba, NTT saat diamankan di Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya

SURABAYA – Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya akhirnya menggagalkan rencana penyelundupan empat orang perempuan yang akan dipekerjakan di Singapura secara ilegal.

Menurut Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, AKBP Anom Wibowo, dari empat tersebut, satu diantaranya masih berusia di bawah umur.

Keempatnya adalah, Ana Menja Mainanu (31), Margaretha Ina Camo (14), dan Albina Hona Buku (31) asal Desa Mala Lha dan Desa Maliihak, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT, dan Ina Day Duka (18) asal Desa Ngarukanoro, Kecamatan Umaluwu, kabupaten Sumba Timur, NTT.

AKBP Anom Wibowo mengatakan, mereka diamankan saat turun dari KM Awu milik PT Pelni yang merapat di Pelabuhan Tanjung Perak, Minggu (01/04) sekitar pukul 05.00 pagi.

“Saat itu, keempatnya bersama dua orang pendamping yang saat ini dijadikan tersangka yakni FHW (27) asal Sumba, NTT dan VRP (41) asal Kabupaten Sumbawa Barat, NTB” ujar Anom.

Saat diperiksa, lanjut mantan Kasat Reskrim Polrestatabes Surabaya ini, para pelaku tidak dapat menunjukkan dokumen-dokumen lengkap untuk pengiriman tenaga kerja.

Kini kedua tersangka kini ditahan di Mapolres Pelabuhan Tanjung Perak, dan diancam hukuman lima tahun penjara karena dianggap melanggar UU 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri.

Sementara dari pengakuan para korban, mereka dijanjikan akan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Singapura dengan gaji sekitar 4 juta jika rupiahkan. (Bs/jto)


Sumber : http://suarakawan.com

Minggu, 01 April 2012

Pantai Ratenggaro Kodi, Masuk 10 Besar Pantai Terbaik

10 Pantai Terbaik di Indonesia 

 

INDONESIA dengan 17.504 pulaunya memegang rekor negara dengan garis pantai terpanjang di dunia versi Guinnes Book of World Record. Tapi kita sebagai WNI, kurang menjelajah pantai-pantai spektakuler itu.

Tidak adil rasanya saya hanya boleh memilih 10 pantai terbaik di Indonesia, karena banyak pantai yang bagus lainnya yang belum pernah saya kunjungi, seperti di Maluku dan Papua.
Saya juga tidak memasukkan Pulau Bali dan Pulau Belitung ke dalam daftar ini, karena sudah saya anggap sudah ‘biasa’. Maklum, saya bukan penggemar tempat komersil. Pantai selera saya harus sepi, tanpa ombak dan bisa diberenangi dengan santai.
Berikut daftarnya berdasarkan jarak dari Jakarta, bukan berdasarkan urutan tingkat kebagusan:

Pulau Gangga, Sulawesi Utara
Pulau Gangga terletak di ujung utara Pulau Sulawesi. Masuk ke dalam Kepulauan Sangihe. Sebagian besar turis ke Sulawesi Utara, pergi ke Pulau Bunaken. Tapi tak jauh dari sana terdapat Pulau Gangga yang jauh lebih cantik. Pasirnya halus berwarna putih, airnya bening, dan sepi. Pulau Gangga yang luasnya 5 hektar ini sebenarnya resor yang dikelola orang Italia. Dapat ditempuh menggunakan mobil selama 1 jam dari kota Manado dan 30 menit naik speed boat dari Desa Likupan. Lautnya nikmat diberenangi pagi-siang-sore-malam karena tak berombak. Pemandangan saat matahari terbenam sangat spektakuler. Seluruh langit berwarna oranye kemerahan terefleksi pada air laut yang menjadi keemasan.

Kep. Derawan, Kalimantan Timur

Kepulauan Derawan terletak di propinsi Kalimantan Timur dengan luas 1 juta hektar persegi di Laut Sulawesi yang terdiri dari 31 buah pulau, yaitu Pulau Derawan, Pulau Sangalaki, Pulau Kakaban, Pulau Maratua, Pulau Panjang, Pulau Samama, serta beberapa pulau kecil dan gugusan karang lainnya. Berpasir putih dan berair jernih. Untuk mencapainya dapat naik pesawat dari Balikpapan menuju Berau, lalu dilanjutkan dengan jalan darat ke Tanjung Batu selama 3 jam plus naik speed boat selama 30 menit. Kep. Derawan merupakan habitat terbesar se-Indonesia bagi spesies penyu hijau yang terancam kepunahannya. Semua pulau berpasir putih yang masih bersih dan alami. Kita pun bisa berenang di pantai bersama penyu!

Pantai Ratenggaro, Kodi, Sumba, NTT

 
Sumba, sebuah pulau hampir seluas Bali yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau ini belum terjamah pariwisata gila-gilaan sehingga masih alami. Selain tenun ikat dan kuda, alam Sumba sangat indah. Pantainya pun bagus, bersih dan sepi. Tapi favorit saya Pantai Ratenggaro yang terletak di Kabupaten Kodi, sekitar satu jam berkendara dari kota Waikabubak. Pantai berpasir putih dan laut biru ini dikelilingi tebing batu rendah dan masih tersisa kuburan batu megalitik. Uniknya lagi, pantai ini tepat berada di muara sungai yang berair biru dan beralas pasir. Air laut pun membuat lagun dengan latar belakang rumah tradisional Sumba dengan atap tinggi. Benar-benar spektakuler!

Pulau Cubadak, Sumatera Barat
Pulau Cubadak terletak di propinsi Sumatera Barat. Dari kota Padang, berjarak 2,5 jam naik mobil menuju Desa Corocok, lalu 10 menit naik speed boat. Pulau seluas 7 hektar ini pun lahan dari sebuah resor yang lagi-lagi dikelola orang Italia bernama Cubadak Paradiso Village, yang berarti “desa di surga”. Di belakang terhampar hutan dan tebing, sedang di depannya pantai berpasir putih yang dikelilingi pegunungan. Rasanya seperti tidak berada di laut, melainkan di danau dengan air berwarna emerald green dan sangat tenang. Kalau bosan berenang di pantai, bisa trekking ke hutan atau piknik di pulau lain.

Kep. Lombok Timur, NTB

Pulau Kondo, Lombok Timur
Tidak banyak yang tahu tentang Lombok Timur yang memiliki terumbu karang seluas 3.210 hektar. Dengan air laut jernih, hamparan terumbu karang dapat terlihat jelas dari atas kapal. Menengok ke depan, terhampar pemandangan kaki gunung Rinjani. Desa terdekat Labuhan Pandan, yang terletak 2 jam dari Mataram naik mobil plus 30 menit untuk mencapai kepulauan. Gili Sulat dan Gili Lawang, dua pulau terbesar di kepulauan Lombok Timur yang didominasi hutan bakau. Dengan berkano Anda dapat menyusuri hutan bakau tersebut pada saat air pasang. Pulau-pulau lainnya seperti Pulau Kondo, Gili Petagan, Gili Lampu, Gili Bidadari, dan beberapa gosong (pulau pasir tanpa tumbuhan) berpasir putih nan lembut bak tepung.

Pulau Menjangan, Bali
Banyak pantai yang bagus di Provinsi Bali, tapi yang bagus, sepi dan tidak komersil hanyalah di Pulau Menjangan. Dinamakan demikian menurut penduduk lokal karena terdapat rusa (menjangan) yang sering berenang ke sana. Termaktub ke dalam Taman Nasional Bali Barat, sebenarnya pulau ini terletak di arah barat laut Bali dan dekat Banyuwangi. Dapat ditempuh dengan 3 jam naik mobil dari Denpasar dan 30 menit naik speed boat dari Pemuteran. Pasirnya putih, airnya biru jernih, ditambah lagi terumbu karangnya yang sehat menjadikannya tempat diving dan snorkeling yang baik.

Pulau Sempu, Jawa Timur
Letaknya di provinsi Jawa Timur, sekitar 70 km dari kota Malang ke arah selatan. Pulau Sempu yang memiliki luas 877 hektar ini kawasan Cagar Alam. Yang menarik dari pulau yang satu ini, lagunnya yang indah bernama Segara Anakan. Terletak di ujung pulau, air yang masuk ke dalam kolam raksasa ini berasal dari ombak yang menghantam secara periodik melalui karang bolong, dari Samudera Hindia yang terkenal ganas. Pada sisinya terdapat hamparan pasir putih yang lembut. Air lagun tersebut jernih dengan warna yang bergradasi, mulai dari hijau tua, hijau muda, sampai biru muda, plus aman untuk direnangi karena dangkal dan airnya tidak berombak sama sekali. Dikelilingi tebing batu karang dan hutan lebat, mengingatkan saya pada film The Beach-nya Leonardo DiCaprio.

Kep. Karimunjawa, Jawa Tengah
Kepulauan Karimunjawa salah satu kecamatan dari Jepara (propinsi Jawa Tengah) yang terletak 45 mil dari Pulau Jawa. Terdiri dari 27 pulau dengan 5 pulau saja yang dihuni, termasuk Pulau Karimun Besar di mana sebagian besar penginapan berada. Karena kekayaan alamnya, sejak tahun 1986 pemerintah menetapkan Karimunjawa sebagai Taman Nasional Laut. Wajib hukumnya untuk island hopping ke pulau-pulau di sekitarnya, seperti Pulau Menjangan yang terdapat penangkaran penyu dan hiu atau snorkeling di sekitar Pulau Cemara. Kalau berkocek lebih, bisa menginap di Pulau Menyawakan yang terdapat resor yang dimiliki orang Swedia. Semua pulau di sana berpasir putih dengan warna air bergradasi biru dan alam bawah laut yang indah.

Pulau Peucang, Banten

Pantai Pulau Pecang

Peucang-Beach
Pulau Peucang terletak di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Nama ‘peucang’ sendiri artinya rusa dalam bahasa lokal, makanya di sana kita bisa melihat rusa berkeliaran. Dapat ditempuh dengan naik mobil dari Jakarta selama 6 jam menuju Sumur, lalu dilanjutkan dengan kapal selama 3 jam. Pulau Peucang luar biasa indahnya, pasirnya putih lembut dan air lautnya biru tak berombak. Satu jam berjalan kaki ke arah utara terdapat Karang Copong, sebuah karang mati besar yang berlubang (copong) dan tempat terindah untuk menikmati pemandangan saat matahari terbenam.

Kep. Seribu, Jakarta
Kepulauan Seribu salah satu favorit saya karena aksesnya paling mudah dari Jakarta. Tinggal ke Ancol atau Muara Karang, lalu naik kapal selama 2-3 jam saja. Kalau kurang dari itu, pulau-pulaunya memang kurang bersih. Tapi banyak pilihan pulau lain karena Kepulauan Seribu memiliki 110 pulau dengan luas hampir 11 kali lebih besar daripada Jakarta. Sebagian pulau dihuni penduduk, sebagian dibuat resor, sebagian lagi dibiarkan kosong tak berpenghuni. Kalau mau murah meriah, pergi lah ke Pulau Pramuka atau Pulau Tidung. Kalau punya kocek lebih, bisa tinggal di Pulau Macan, Pulau Sepa, atau Pulau Kotok yang lebih sepi. Sewalah kapal untuk island hopping ke pulau-pulau yang berpenghuni. Pasir putih dan laut biru yang tenang lumayan untuk tempat kabur sementara dari hiruk-pikuk Jakarta.

 
Teks: Trinity   Foto: Trinity & Tikky Octavia 
Sumber : Tabloid Bintang

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD