Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Jumat, 30 Maret 2012

‘Ditodong’ RS, Dirjen BUK Janjikan RS Pratama

Direktur Jenderal  Bina Upaya Kesehatan (Dirjen BUK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Supriyantoro menjanjikan Rumah Sakit  (RS) Pratama untuk Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).


“Saya akan carikan jalan, paling tidak rumah sakit kecil dulu,” kata Supriyantoro, dalam sambutan acara “Serah Terima Aset Hasil Kegiatan Penyediaan Air Minum Pedesaan (ProAir) dan Pencanangan Komitmen menuju Eliminasi Malaria, Eliminasi Filariasis, serta Eradikasi Frambusia” di Kodi Utara, Sumba Barat Daya, NTT, akhir pekan lalu.

Pada acara yang seharusnya dihadiri Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih tersebut, Bupati Sumba Barat Daya Kornelius Kodi Mete tidak menyia-siakan kesempatan untuk meminta rumah sakit daerah kepada Dirjen BUK yang bertanggung jawab atas rumah sakit dan puskemas di seluruh Indonesia itu.

Di Sumba Barat Daya yang berpenduduk 290.000 jiwa, hanya ada satu rumah sakit swasta, Karitas, di Weetabula. Mete menyatakan rakyat sudah memberikan tanah untuk digunakan membangun rumah sakit tanpa ganti rugi sepeser pun. “Rakyat sudah beri gratis 16 hektare, nyaris ditarik kembali,” katanya.

Dalam sambutan Menkes yang dibacakan Supriyantoro, dikatakan penyediaan air minum yang layak serta pengendalian berbagai penyakit menular adalah dua dari delapan target Millenium Development Goal (MDGs) yang harus dicapai sebelum 2015.

Karena itu, upaya penyehatan lingkungan adalah kegiatan yang mendukung pengendalian penyakit menular dan tidak menular, sebagai bagian dari pengendalian faktor risiko penyakit dan lingkungan. Tersedianya sarana air minum, sarana sanitasi dasar, dan adanya perilaku yang higienis akan memberi dampak terhadap peningkatan derajat kesehatan.

Menkes menyampaikan apresiasinya atas komitmen kuat dan dukungan dari Pemerintah Provinsi NTT beserta jajarannya untuk mempercepat pencapaian eliminasi malaria melalui akselerasi berbagai kegiatan, seperti penemuan penderita dengan konfirmasi laboratorium, pengobatan penderita dengan menggunakan obat antimalaria ACT (Artemisinin Baset Combination Therapy), pengendalian vector, dan pelaksanaan surveillance atau pengawasan.

Disebutkan pula, Hari Malaria Sedunia diperingati setiap 25 April di seluruh dunia yang ditujukan untuk meningkatkan upaya pengendalian malaria menuju eliminasi.

Pengendalian malaria yang intensif akan berkontribusi pada pencapaian target MDGs dan program nasional lain, seperti penurunan angka kematian ibu, angka kematian anak, angka kejadian anemia, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia menjadi cerdas dan berprestasi.

Selain eliminasi malaria dan filarial atau kaki gajah, eradikasi frambusia atau kusta juga prioritas regional di antara penyakit yang terabaikan (neglected tropical disease). Indonesia merupakan "penyumbang" kasus frambusia.

Sebanyak 18 dari 33 provinsi melaporkan adanya kasus frambusia dalam lima tahun terakhir. Lima provinsi di antaranya daerah endemik yang tinggi, yaitu NTT, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua, dan Papua Barat. Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah untuk mencapai eradikasi frambusia pada 2020, yakni penyediaan air bersih, upaya edukasi, dan pengobatan penderita.

Christina Widaningrum, Kepala Subdirektorat Pengendalian Kusta dan Frambusia dari Direktorat Pengendalian Penyakit Menular Langsung mengatakan jumlah penderita frambusia di NTT merupakan yang terbesar saat ini, dan karenanya Kemenkes memberikan perhatian penuh untuk menghapuskannya.

“Permasalahan di NTT adalah kurangnya air bersih, di daerah kantong frambusia,” kata Menkes dalam pidato tertulisnya. Untuk mencapai sasaran pembangunan nasional diperlukan kerja sama dan sinergi penuh seluruh sektor terkait, kemitraan strategis di pusat dan daerah, serta dukungan di seluruh lapisan masyarakat.

ProAir yang dilaksanakan dengan kerja sama pemerintah Jerman merupakan sanitasi lingkungan dan penyediaan air bersih berbasis komunitas. Dalam program tersebut, masyarakat diberdayakan, tidak saja untuk menyediakan, tetapi juga memeliharanya.

Direktur Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Drh Wilfried Hasiholan Purba menyatakan pengelolaan air berbasis masyarakat, yang kemudian berimbas pada berbagai upaya penghapusan penyakit di Sumba Barat Daya, serta berdampak positif bagi perekonomian rakyat itulah yang membuat proyek tersebut dikunjungi Menkes.

“Proyek tersebut bisa menjadi contoh bagi proyek-proyek serupa di seluruh Tanah Air,” katanya kepada wartawan.



Sumber : sinarharapan.co.id
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD