Member Of

Member Of

Like Untuk Bergabung

Jumat, 30 Maret 2012

‘Ditodong’ RS, Dirjen BUK Janjikan RS Pratama

Direktur Jenderal  Bina Upaya Kesehatan (Dirjen BUK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Supriyantoro menjanjikan Rumah Sakit  (RS) Pratama untuk Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).


“Saya akan carikan jalan, paling tidak rumah sakit kecil dulu,” kata Supriyantoro, dalam sambutan acara “Serah Terima Aset Hasil Kegiatan Penyediaan Air Minum Pedesaan (ProAir) dan Pencanangan Komitmen menuju Eliminasi Malaria, Eliminasi Filariasis, serta Eradikasi Frambusia” di Kodi Utara, Sumba Barat Daya, NTT, akhir pekan lalu.

Pada acara yang seharusnya dihadiri Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih tersebut, Bupati Sumba Barat Daya Kornelius Kodi Mete tidak menyia-siakan kesempatan untuk meminta rumah sakit daerah kepada Dirjen BUK yang bertanggung jawab atas rumah sakit dan puskemas di seluruh Indonesia itu.

Di Sumba Barat Daya yang berpenduduk 290.000 jiwa, hanya ada satu rumah sakit swasta, Karitas, di Weetabula. Mete menyatakan rakyat sudah memberikan tanah untuk digunakan membangun rumah sakit tanpa ganti rugi sepeser pun. “Rakyat sudah beri gratis 16 hektare, nyaris ditarik kembali,” katanya.

Dalam sambutan Menkes yang dibacakan Supriyantoro, dikatakan penyediaan air minum yang layak serta pengendalian berbagai penyakit menular adalah dua dari delapan target Millenium Development Goal (MDGs) yang harus dicapai sebelum 2015.

Karena itu, upaya penyehatan lingkungan adalah kegiatan yang mendukung pengendalian penyakit menular dan tidak menular, sebagai bagian dari pengendalian faktor risiko penyakit dan lingkungan. Tersedianya sarana air minum, sarana sanitasi dasar, dan adanya perilaku yang higienis akan memberi dampak terhadap peningkatan derajat kesehatan.

Menkes menyampaikan apresiasinya atas komitmen kuat dan dukungan dari Pemerintah Provinsi NTT beserta jajarannya untuk mempercepat pencapaian eliminasi malaria melalui akselerasi berbagai kegiatan, seperti penemuan penderita dengan konfirmasi laboratorium, pengobatan penderita dengan menggunakan obat antimalaria ACT (Artemisinin Baset Combination Therapy), pengendalian vector, dan pelaksanaan surveillance atau pengawasan.

Disebutkan pula, Hari Malaria Sedunia diperingati setiap 25 April di seluruh dunia yang ditujukan untuk meningkatkan upaya pengendalian malaria menuju eliminasi.

Pengendalian malaria yang intensif akan berkontribusi pada pencapaian target MDGs dan program nasional lain, seperti penurunan angka kematian ibu, angka kematian anak, angka kejadian anemia, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia menjadi cerdas dan berprestasi.

Selain eliminasi malaria dan filarial atau kaki gajah, eradikasi frambusia atau kusta juga prioritas regional di antara penyakit yang terabaikan (neglected tropical disease). Indonesia merupakan "penyumbang" kasus frambusia.

Sebanyak 18 dari 33 provinsi melaporkan adanya kasus frambusia dalam lima tahun terakhir. Lima provinsi di antaranya daerah endemik yang tinggi, yaitu NTT, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua, dan Papua Barat. Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah untuk mencapai eradikasi frambusia pada 2020, yakni penyediaan air bersih, upaya edukasi, dan pengobatan penderita.

Christina Widaningrum, Kepala Subdirektorat Pengendalian Kusta dan Frambusia dari Direktorat Pengendalian Penyakit Menular Langsung mengatakan jumlah penderita frambusia di NTT merupakan yang terbesar saat ini, dan karenanya Kemenkes memberikan perhatian penuh untuk menghapuskannya.

“Permasalahan di NTT adalah kurangnya air bersih, di daerah kantong frambusia,” kata Menkes dalam pidato tertulisnya. Untuk mencapai sasaran pembangunan nasional diperlukan kerja sama dan sinergi penuh seluruh sektor terkait, kemitraan strategis di pusat dan daerah, serta dukungan di seluruh lapisan masyarakat.

ProAir yang dilaksanakan dengan kerja sama pemerintah Jerman merupakan sanitasi lingkungan dan penyediaan air bersih berbasis komunitas. Dalam program tersebut, masyarakat diberdayakan, tidak saja untuk menyediakan, tetapi juga memeliharanya.

Direktur Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Drh Wilfried Hasiholan Purba menyatakan pengelolaan air berbasis masyarakat, yang kemudian berimbas pada berbagai upaya penghapusan penyakit di Sumba Barat Daya, serta berdampak positif bagi perekonomian rakyat itulah yang membuat proyek tersebut dikunjungi Menkes.

“Proyek tersebut bisa menjadi contoh bagi proyek-proyek serupa di seluruh Tanah Air,” katanya kepada wartawan.



Sumber : sinarharapan.co.id

Rabu, 28 Maret 2012

BADAI "KERISPATIH", KABANI KODI YANG JADI HITS MAKER

Badai Kerispatih
Sebagai seorang hit maker, Badai personel dari Kerispatih sangat dikenal di blantika musik Indonesia namun Tidak banyak yang mengetahui bahwa Badai kerispatih ternyata keturunan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT.

Doadibadai Hollo begitu nama lengkapnya dan lebih akrab disapa Badai . Ia lahir di Jakarta, Indonesia, 14 Januari 1978;  kibordis dari grup band Kerispatih.  Badai sendiri merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara  yaitu Badai sendiri, Leo, Grace, dan Yohanna, mereka lahir dari ayah Alm H.R. Hollo yang merupakan putra daerah Kodi Sumba Barat Daya dan Ibunya Barnest Helena.


Pada tahun 1983 hingga 1993, ia menggali ilmu di TK, SD dan SMP Tarakanita. Sedangkan untuk masa SMA-nya, ia menggali ilmunya di SMA PSKD I Jakarta. Setelah lulus SMA, ia memutuskan untuk mengambil perguruan tinggi pada Jurusan Teknik Mesin yang telah diselesaikannya pada tahun 2000. Badai menyelesaikan pendidikannya di Universitas Trisakti Jakarta.


Setelah menyelesaikan pendidikan resmi, ia pun menempuh pendidikan dalam bidang musik yang telah direncanakannya pada Indonesia Music Institute, Jakarta Timur dalam Professional Program 2th, Faculty of Keyboards pada 2000-2004.

Tak hanya pendidikan formal yang ditempuhnya, Badai pernah sering mengikuti beberapa kursus, di antaranya adalah Yamaha Electone (1984-1985), Indra Lesmana Jazz Workshop (1986-1990), dan Jazz Course with Krishna Siregar (2002-2003).

Pria yang dikenal sebagai musisi, penulis lagu dan arrangger ini memiliki tinggi badan 165 cm dan berat 68 kg. Dengan hobi travelling dan bermusiknya, Badai mampu mendapatkan inspirasi terbesar yang digunakannya untuk mencipta lagu dan meniti karir di dunia musik.

 

Perjalanan karir

Badai yang takut terbang dan memiliki sifat tempramental yang tinggi sudah dikenal publik sejak kiprahnya bersama grup band Kerispatih, band yang telah membesarkan namanya. Ia pun menjadi pentolan dan motor band tersebut dan juga Sammy, sang vokalis yang tersangkut kasus narkoba. Badai juga pernah menggantikan posisi Sammy untuk menjadi vokalis sementara.

Pada awal 2010, ia pun berniat untuk melakukan karir solo dan ia pun juga telah membantu musisi-musisi lainnya di Indonesia, yaitu dengan menjadi penulis lagu, pengaransemen, dan juga produser. Beberapa musisi di antaranya adalah Audy Item dan Nindy.

Ternyata, Kerispatih belum cukup memuaskan bagi Badai. Pada Juni 2010, ia membentuk project band miliknya yang bernama Brand New Storm yang beranggotakan rekan bandnya sendiri, Arief (gitar), Enwil (vokal), Deva (drum), Eltrino (bass), dan ia sendiri memegang posisi keyboard serta piano. Band tersebut berkonsentrasi pada rock vintage.
Sebulan kemudian, Badai juga diminta untuk membantu grup vokal pendatang baru bernama Z5. Ia menjadi music director dan menuliskan lagu untuk mereka yang berjudul Cuma Sekali Mencinta.

Pada awal 2010, Badai mengaku bahwa dirinya berniat bersolo karir, seperti niat yang dimilikinya sejak 2008. Dengan materi lagu yang sudah ada, juga 10 lagu baru, Badai ingin mengembangkan karirnya di dunia musik.


Selain Kerispatih dan solo karir, Badai banyak membantu kiprah musisi-musisi lain di Indonesia, dengan menjadi penulis lagu, arranger, juga produser. Beberapa dianyatara mereka adalah Audi Item dan Nindy.

Kerispatih rupanya tidak cukup memuaskan Badai. Terbukti, pada Juni 2010, Badai mempublikasikan band barunya Brandnewstorm dengan personel Badai (keyboard), Arief (gitaris Kerispatih), Enwil (mantan vokalis band Aladin), Deva (mantan drummer band Pilot), Eltrino (bassis). Secara makna Brandnewstorm berarti 'Badai Baru' dengan membawa genre rock vintage.

Pada Juli 2010, Badai juga dikabarkan akan membantu grup vokal pendatang baru Z5. Badai akan menjadi music director sekaligus menuliskan satu lagu untuk mereka, yang berjudul Cuma Sekali Mencinta.

 


Profil Badai “Kerispatih””


 

Doadibadai Hollo

Laki-Laki Jakarta, 14 Januari 1978


Agama : Kristen Protestan

Orang tua 

Ayah  : H.R. Hollo (alm)
Ibu     : Barnest Helena

Hobby: Travelling, bermusik

Makanan Favorit: Telor Ceplok, Indomie, Nasi Goreng, Sop Buntut

Minuman Favorit: Air Putih

Tinggi Badan : 165 cm

Berat Badan : 68 kg

Pendidikan :
1. 1983 – 1984 : Tarakanita II Kindergarten, Jakarta
2. 1984 – 1990 : Tarakanita II Elementary, Jakarta
3. 1990 – 1993 : Tarakanita I Junior High School , Jakarta
4. 1993 – 1996 : PSKD I Senior High School, Jakarta
5. 1996 – 2000 : S-1 Mechanical Engineering Trisakti University, Jakarta
6. 2000 – 2004 : Indonesia Music Institute, Jakarta Timur
Professional Program 2th, Faculty of Keyboards

Non Formal :
1. 1984 – 1985 : Yamaha Electone
2. 1986 – 1990 : Indra Lesmana Jazz Workshop, Jakarta
3. 2002 – 2003 : Jazz Course with Khrisna Siregar, Chic’s Music Jakarta

Pengalaman : -
Motto Hidup : Night is Better!

Badai Uses :
- Yamaha Motif XS 8 (Endorse)
- Roland RD 700
- Amplifier Roland KB 300

Paling Ingin Ketemu dengan Siapa : David Foster

Binatang yang Paling Disukai : Anjing

Binatang yang Tak Disukai : Tikus

Buah yang Disukai : Melon, Semangka, Jeruk

Band Legenda Favorit : The Beatles, Chicago, Toto

Band Sekarang Favorit : Dave Matthews Band, Doughtry

Keyboardist Favorit : David Foster, David Benoit

Gitaris Favorit : John Meyer

Bassis Favorit : Nazman East

Drummer Favorit : Vinnie Colatuta

Vokalis Cewek Favorit : Andrea “The Corrs”

Vokalis Cowok Favorit : Robbie Williams

Film Favorit : If Only

Serial TV Favorit : Office Boy (OB)

Aktor / Aktris Favorit : Mel Gibson, Debra Messing, Warkop DKI

Model Favorit : Mariana Renata, Indah Kalalo

Tempat Santai Favorit : Rumah

Mobil Gacoan : Jeep CJ 7

Minggu, 25 Maret 2012

Kedua Belah Pihak Mau Berdamai

Perseteruan Mahasiswa Usai Laga Sepakbola

Milkianus Lende
Milkianus Lende alias Milki, 24 tahun, indekos di Jalan Raya Bareng Tenes, korban penganiayaan enam orang tak dikenal, kemarin kembali mendatangi Polsekta Klojen. Kepada petugas, Milki yang datang ke Polsekta Klojen bersama teman-temannya meminta petugas untuk profesional dalam bertindak. Tidak hanya menyelidiki, petugas juga harus menangkap seluruh pelaku, yang sudah membuat dirinya mengalami cidera.

“Jelas saya menuntut, dan tidak akan menarik laporan penganiayaan yang sudah saya buat. Para pelakunya harus ditangkap, dan diproses sesuai prosedur hukum,’’ kata Milki yang mengatakan jika dirinya merupakan korban salah sasaran.

Seperti diberitakan Malang Post, Milki menjadi korban pengeroyokan para mahasiswa di duga asal Flores. Dugaan para pelaku merupakan mahasiswa asal Flores, karena sore hari sebelumnya memang ada masalah. Menurut informasi, Kamis sore lalu dua kubu mahasiswa asal Flores dan asal Sumba Barat Daya mengadakan pertandingan sepak bola di stadion luar Gajayana. Tidak jelas sebabnya, wasit menghentikan pertandingan, lantaran kondisi lapangan sudah tidak kondusif. Seluruh pemain berikut dengan suporter pun terpaksa dipulangkan, karena kondisi lapangan kian memanas.

“Saat itu saya tidak ikut bermain, dan tidak tahu kejadian di lapangan bagaimana,’’ kata Milki yang mengaku berasal dari Desa Omba Rade, Kecamatan Wewewa Timur, Sumba Barat Daya.Hingga kemudian, malam harinya enam orang tak dikenal datang dan mengeroyok dirinya, hingga akhirnya korban mengalami luka-luka.

Kapolsekta Klojen Kompol Kartono pun langsung melakukan tindakan. Tidak hanya melakukan penyelidikan, dan menangkap pelaku, tapi pihak Polsekta Klojen juga langsung melakukan pemanggilan terhadap kedua kubu yang ikut bertanding. Menurut Kapolsekta, perseteruan antara mahasiswa seharusnya tidak perlu terjadi. Namun begitu, agar kasus ini tidak berlarut-larut, kemarin pihak Polsekta Klojen pun melakukan pemanggilan terhadap perwakilan mahasiswa asal Sumba dan mahasiswa asal Flores.

Kedua belah pihak  akhirnya mau  saling memaafkan dan tidak akan mengulangi perbuatan dengan saling serang. “Alhamdulillah, perseteruan sudah selesai dan kedua belah pihak mau berdamai,’’ katanya singkat. 

Sumber :  malang-post.com

Sabtu, 24 Maret 2012

Dermaga Feri Waikelo Rusak Diterjang Gelombang

Dermaga pelabuhan feri Waikelo, Sumba Barat Daya, ambruk diterjang gelombang
Dermaga feri Waikelo di Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dilaporkan rusak akibat diterjang gelombang.

Kepala Bidang Perhubungan Darat, Dinas Perhubungan Provinsi Nusa Tenggara Timor, Simon Tokan, yang dikonfirmasi di Kupang Selasa mengaku telah menerima laporan tersebut dan kerusakan itu terjadi sekitar dua pekan lalu.

"Kami sudah menerima laporan bahwa dermaga Waikelo rusak diterjang gelombang tetapi belum diketahui persis kondisi dermaga itu karena kami baru akan turun ke lokasi," kata Simon Tokan.

Dia mengatakan, rencananya tim akan turun ke lokasi pada Rabu (1/2) untuk melihat langsung kondisi dermaga tersebut.

Sementara ini, kata dia, kapal feri yang menggunakan dermaga itu tidak bisa sandar karena pintu kapal tidak bisa diturunkan.

Simon mengakui, dermaga itu belum diserahkan pengelolaannya kepada Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya.

"Kami masih turun ke lokasi untuk koordinasi dengan pengusaha yang mengerjakan dermaga untuk dilakukan perbaikan, sebelum diserahkan. Kami tidak mungkin menyerahkan barang dalam kondisi rusak," katanya.

Artinya, apapun kerusakan, akan dilakukan perbaikan untuk segera diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah kabupaten, katanya. 


Sumber : ANTARA News

Kepala Mahasiswa Budi Utomo Ditusuk : Korban Asal Sumba Barat Daya

Milkianus Lende alias Milki, 24 tahun, kos di Jalan Raya Bareng Tenes, Kamis (22/3) malam dilarikan ke IRD RSSA Malang. Mahasiswa IKIP Budi Utomo ini mengalami luka tusuk di kepalanya, setelah dikeroyok enam orang, tak jauh dari rumah kosnya. Hingga berita ini ditulis, pemuda asal  Desa Omba Rade, Kecamatan Wewewa Timur, Sumba Barat Daya ini masih menjalani perawatan intensif. Kasusnya sendiri, hingga kemarin masih dalam penyelidikan anggota gabungan Polsekta Klojen dan Polres Malang Kota.

Meski polisi enggan memberikan keterangan sepatah katapun, namun informasi yang didapat Malang Post, polisi berhasil mengamankan satu pelakunya. Yakni Richardus Tosa, 23 tahun, tinggal di Perumahan Istana Bunga Dewandaru Malang.  Kapolres Malang Kota, AKBP Teddy Minahasa Putra meski tidak mengelak adanya peristiwa ini namun dia enggan memberikan keterangan. “Langsung ke Kasat Intel saja,’’ katanya. Sementara itu, Sumber Malang Post di Polres Malang Kota yang wanti-wanti dirahasiakan namanya menjelaskan, penusukan terhadap mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia itu berawal saat dia dan dua temannya, Andreas Dapa Ole Ate, 23 tahun dan Agus Tinus Bulu Dari, 25 tahun, nongkrong di warung kopi tidak jauh dari tempat kos. Saat itulah, datang Richardus dan lima temannya. Kepada Milki salah satu pelaku menanyakan asal korban. “Kamu asalnya mana?,’’ tanya pelaku.  Saat itu Milki yang merasa tidak memiliki masalah mengatakan jika dirinya berasal dari Sumba.

Apes, seiring jawaban itu terlontar, satu pelaku langsung melayangkan pukulan. Milki yang tidak siap dengan pukulan tersebut, langsung terjatuh. Hal ini juga membuat pelaku beringas. Mereka memukuli dan menendang Milky. Terakhir, seorang pelaku menusuk kepala pemuda ini. Tak menghiraukan rasa sakit di kepalanya, Milki dan dua temannya menyelamatkan diri ke Mapolsekta Klojen. Polisi yang mendapat laporan, membawa Milki ke RSSA Malang.  “Dari hasil penyelidikan, kami berhasil mengamankan satu pelaku dan saat ini diamankan di Polsekta Klojen,” lanjut sumber ini.

Lalu apa yang menjadi penyebab pengeroyokan itu terjadi? Dugaan kuat dipicu dari pertandingan sepakbola antar mahasiswa, yang digelar di stadion luar Gajayana, sore sebelumnya. Saat itu yang bertanding adalah mahasiswa asal Flores dan mahasiswa asal Sumba.  Pertandingan itu, berujung salam paham dan wasit memilih menghentikan pertandingan. “Kejadiannya ada dua kali, pertama terjadi sekitar pukul 19.00, kedua pukul 03.00 tadi. Gantian mahasiswa dari Sumba yang mendatangi base mahasiswa Flores. Tapi yang kedua tidak ada korban karena keburu diketahui petugas, sehingga mereka diminta pulang ke rumah masing-masing,” pungkasnya.


Sumber : malang-post.com

Kamis, 22 Maret 2012

PROGRAM ANGGUR MERAH UNTUK KEADILAN

Untuk mengetahui dari dekat keberhasilan dan kemajuan pelaksanaan Program Desa / Kelurahan Mandiri Anggur Merah yang merupakan program unggulan Pemerintah Provinsi NTT sejak tahun 2011 dengan mengalokir dana Rp 250 juta untuk usaha ekonomi produktif, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi NTT mengunjungi Desa Wee Pangali Kecamatan Laura Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Sabtu (17/3). “Program Desa Mandiri Anggur Merah adalah untuk keadilan bukan pemerataan. Artinya, program ini dimaksudkan untuk mengentaskan masyarakat miskin di daerah ini agar mereka tidak lagi miskin,” tandas Sekda di Aula Kantor Desa Wee Pangali.

Sekda NTT, Frans Salem, SH, M.Si pose bareng para PKM di Desa Wee Pangali di depan Kantor Desa usai tatap muka bersama masyarakat penerima dana Anggur Merah, Sabtu (17/3). (Foto : Verry Guru/Humas Setda NTT)


Menurut Sekda, ketika tidur ia bermimpi bahwa hidup ini indah. Tapi kata dia, ketika bangun dari tidur ternyata hidup ini sebuah perjuangan. “Karena itu, kehidupan yang baik itu harus diusahakan dan diperjuangkan. Kita jangan tunggu orang lain datang untuk buat hidup kita jadi baik. Pemerintah Provinsi NTT hanya memfasilitasi pemberian dana Anggur Merah agar dana tersebut dapat dilipatgandakan lalu disetor kembali pinjamannya dan keuntungan usaha produktif yang berasal dari pinjaman dana Anggur Merah harus bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” jelas Sekda.

Dana Anggur Merah, sebut Sekda, merupakan dana hibah yang tidak akan diambil kembali oleh pemerintah. “Uang ini tidak dikembalikan. Karena itu, saya harap di dalam kelompok masyarakat ini harus ada koperasi. Sehingga kalau ada kesulitan uang datang pinjam di koperasi,” pinta mantan Kadis Sosial Provinsi NTT.

Sekda juga meminta kepada para Pendamping Kelompok Masyarakat (PKM) untuk mengecek dengan baik data anak-anak sekolah yang berasal dari keluarga penerima dana Anggur Merah. “Anak-anak penerima manfaat dana Anggur Merah harus bisa dapat bea siswa. Sehingga dana Anggur Merah tidak dipakai untuk membayar uang sekolah anak-anak,” kata Sekda dan menegaskan, “Orang tua harus perhatikan pendidikan anak-anak. Kalau kita sudah pintar, minimal orang tidak akan datang tipu kita.”

Sebelumnya Kepala Desa Wee Pangali, Yohanes Geli dalam laporannya mengatakan, pihaknya telah membentuk 15 kelompok usaha dalam masyarakat yang meliputi 13 kelompok ternak babi dan 2 kelompok ternak kambing. “Memang sejak awal program ini banyak mendapat tantangan dan hambatan dari masyarakat. Tetapi akhirnya masyarakat menerima program ini dengan suka cita dan mereka telah bersepakat untuk mengembalikan pinjaman dana Anggur Merah,” jelas Kades Geli.

Terhadap usaha masyarakat yang bergerek di sektor peternakan ini, Sekda Frans Salem menyambut gembira. “Saya setuju dengan usaha ternak babi dan kambing. Karena hal ini sejalan dengan tekad Pemerintah Provinsi NTT yang menjadikan NTT sebagai Provinsi Ternak. Ternak untuk masyarakat NTT juga untuk orang Sumba tidak hanya soal ekonomi tetapi soal martabat atau harga diri keluarga atau masyarakat itu sendiri,” tandas Sekda.

Sedangkan Sekda SBD, Drs. A. Toni Umbu Zaza, M.Si yang mendampingi Sekda Frans Salem mengatakan, selama ini pemerintah telah memberikan perhatian kepada masyarakat dengan berbagai program agar bisa keluar dari jeratan kemiskinan. “Selama ini pemerintah telah memberi banyak bantuan melalui program-program seperti dana Anggur Merah, PNPM Mandiri, dana BOS, PUAP, Raskin dan sebagainya. Karena itu, saya berharap agar masyarakat yang memperoleh dana ini harus bekerja keras dan bertanggungjawab. Sehingga kehidupan kita bisa lebih baik di masa yang akan datang,” pinta Umbu Zaza.


Sumber : suryainside.com

Rabu, 21 Maret 2012

Badai Lua Hancurkan Kapal Motor di Perairan Kodi

Sebuah kapal motor asal Binjai, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/3/2012), sekitar pukul 16.30 pecah dihantam gelombang di perairan Kodi.

Kepala BPBD Kabupaten Sumba Barat Daya, Daud L Umbu Moto, mengatakan, peristiwa itu terjadi saat kapal  berusaha menepi di setelah beberapa malam terombang ambing diamuk gelombang.

Dalam peristiwa itu, tiga awak tewas. Sedangkan nakhodanya, Erwin, selamat. Tiga korban tewas, masing-masing Muliadi, Bahar dan Sabir.

Ia menuturkan, dalam kasus itu, perahu motor naas itu sedang dalam perjalanan dari Binjai tujuan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk menangkap ikan. 

Ketika mereka hendak memasuki perairan Lombok Timur, tiba-tiba diterjang cuaca buruk. Saat itulah perahu motor itu hanyut terbawa arus dan tiga awak perahu itu tewas.

Hingga saat ini, baru dua korban yang ditemukanm yaitu Bahar dan Sabir. Bahar terdampar di pantai Tosi, Kecamatan Kodi, dan Sabir di pinggir Pantai Marapu, Desa Waimaringi, Kecamatan Kodi Bangedo.

Saat ini, korban sudah dimakamkan di Pero, Kecamatan Kodi, Senin 19/3/2012) sore. Sementara korban selamat atas nama Erwin, ditampung paguyuban Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) di Waikabubak.

Sekretaris Peguyuban KKSS Sumba Barat, Ahmad Sidig, saat ditemui Pos-Kupang.Com di kediamannya, Selasa (20/3/2012), mengatakan, KKSS juga menampung 7 nelayan asal Binjai, yang terdampar di Pantai Lamboya, Sabtu (17/3/2012) sekitar pukul 03.00 dini hari.

Berdasarkan surat keterangan perjalanan, kapal motor Ardila 02 itu bertolak dari Binjai menuju Lombok Timur, untuk menangkap ikan. Sesampai perairan Lombok Timur justru mereka mendapat musibah angin kencang dan hujan deras.

Gelombang sangat tinggi hingga nakhoda tidak bisa mengendalikan kapal motor. Lima hari lima malam mereka bergulat di laut. Akibat hantaman gelombang besar, bodi kapal bocor. Karena itu, selama lima malam itu, mereka berjuang mengeluarkan air dari kapal. 

Namun, naas tiba terjadi ketika kapal itu pecah dihantam hantaman gelombang besar. Mereka pun melompat menyelamatkan diri masing-masing dan semua ABK selamat. 

Mendapat informasi bahwa ada nelayan Sulsel yang terdampar, Ahmad ke Lamboya menjemput keenam nelayan itu untuk ditampung di rumahnya.


Sumber : Pos Kupang

POTENSI PARIWISATA DI SBD OPTIMIS MENYAINGI BALI

Bupati Sumba Barat Daya,
dr. Kornelis K. Mete
Sumba yang dikenal kaya akan keindahan alam dan Budaya, salah satunya adalah budaya Pasola dan merupakan ritual adat peninggalan leluhur sejak dahulu kala. Acara ini boleh diikuti oleh siapa saja dengan bermodalkan keberanian dan ketangkasan dalam memacu kuda tunggangannya.

Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Cornelius Kodi Mete mengatakan bahwa Pasola bukan saja merupakan perhelatan antara peserta pasola dalam mengadu ketangkasan tetapi juga merupakan penjiwaan akan nuansa kebersamaan antar sesama dan roh leluhur orang Sumba Barat Daya.

Pasola memang ada di Sumba tetapi tidak semua kabupaten di Sumba memiliki Pasola, Pasola hanya ada di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Sumba Barat. Dengan demikian Pasola diharapkan agar terus terpilihara hingga anak cucu kita. Tutur Kodi Mete dalam acara pembukaan Festival Pasola Wainyapu-Kodi Balaghar.

Lebih lanjut Kodi Mete mengatakan bahwa Festival budaya juga diharapkan agar jangan menunggu waktu menjelang Pasola baru diadakan, festival budaya boleh diadakan kapan saja dengan maksud untuk menggali kemampuan generasi muda mengenal budaya sendiri, sehingga budaya orang Sumba tidak di telan waktu dan digilas oleh perubahan zaman modernitas.

“Potensi Pariwisata Sumba Barat Daya juga sangat menjanjikan dan diharapkan potensi ini berkontribusi bagi Sumba khususnya SBD dan diharapkan pula suatu saat SBD akan menyaingi Bali. Di Bali ada pantai KUTA kami di SBD ada Pantai KITA”. Ungkap Cornelius Kodi Mete.

Hal senada disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Frans Salem bahwa Sumba memang terkenal dengan upacara adat Pasola, namun Pasola itu hanya ada di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Kabupaten Sumba Barat.

“SBD memang kaya Potensi, dengan kekayaan potensi ini bisa saja suatu saat nanti akan benar-benar menyaingi pulau Bali. SBD sudah memiliki Bandara Udara Tambolaka yang dapat didarati pesawat tipe Boing. Bandara udara Tambolaka merupakan Bandara terpanjang dan terluas kedua di NTT setelah Bandara Udara El Tari Kupang”. Tambah Frans Salem.

Dikatakan pula bahwa Panorama SBD sangat menarik dengan keindahan pantai berpasir putih bersih yaitu PANTAI KITA. Maka dengan kehadiran beberapa mentri dan organisasi Hivos dapat membantu kita membawa informasi tentang keindahan alam Sumba dan Budayanya. Tandas Sekda Provinsi NTT.

Dalam acara pembukaan Festival Budaya Pasola-Wainyapu itu turut dihadiri oleh para tamu dari kementrian ESDM dan Kementrian Kesehantan RI serta Organisasi Pemerintah Belanda (Hivos) dan juga Sekda Provinsi NTT.



Sumber : suryainside.com

DATARAN RENDAH SBD POTENSIAL KELAPA, TEBU, KAPAS DAN TEMBAKAU

Jambu mente bukan lagi yang dulu merupakan tanaman perkebunan unggulan petani, karena saat ini permintaan mente dari luar sudah tak ada lagi serta usia mente yang tidak mendukung lagi dalam memberi kontribusi perbaikan taraf hidup masyarakat.

Saat dikonfirmasi Kepala Dinas Perkebunan Sumba Barat Daya, Ir. Jhon Oktavianus, M.M, mengatakan bahwa Petani perkebunan di dataran rendah Sumba Barat Daya (SBD) kini mulai beralih sebagai petani kebun Tebu, Kapas dan Tembakau serta Kelapa. “Petani bukan lagi mengidolakan Jambu Mente”. Tandasnya saat dikunjungi wartawan media ini diruang kerjanya, Rabu (14/3/2012).

Petani dataran rendah saat ini, lanjut Kadis Perkebunan mulai berminat untuk lebih memelihara Kelapa karena Kelapa banyak manfaatnya sekalipun tidak ada investor yang siap teken MoU, sedangkan Tebu sudah ada siap menyediakan benih dan membangun perusahaan serta akan merekrut tenaga kerja dari Putra-putri SBD.

Hanya saja pihak investor untuk Tebu saat ini masih mencari tahu luas wilayah perkebunan, wilayah perkebunan Tebu yang dibutuhkan untuk Perusahaan Mini adalah 7000 Ha sedangkan perusahaan skala standar adalah 15.000 Ha.

“Kapas dan Tembakau sedang digalakkan karena menjanjikan keuntungan dan sangat cocok dengan daerah kita khususnya daerah rendah seperti wilayah Kodi secara keseluruhan dan daerah Laura, Wejewa Selatan, Wejewa Timur, serta Wejawa Utara bagian utara”. Jelas Jhon Oktavianus, namun sekarang tambahnya, yang menjadi masalah bagi perkebunan kita adalah air, kita kurang kreatif menyediakan air, harusnya perlu terinspirasi dengan daerah lain yang membuat Embung untuk mengairi perkebunan kita.

Selanjutnya ketersediaan benih Tembakau dan Kapas yang sangat minim, kita juga sedang berusaha untuk memenuhi kebutuhan benih, dan untuk saat ini benih yang tersedia dan telah terealisasi di petani perkebunan baru mencapai 30%. Pungkas Jhon Oktavianus.

Dirinya juga mengakui hal ini sebagai kekurangan yang menjadi kekuatan sebagai daerah baru dan memiliki skala prioritas yaitu pembangunan sarana dan prasarana jalan, Penataan Ekonomi dan pendapatan masyarakat serta penataan Birokrasi pemerintahan di SBD. Tandas Kadis Perkebunan SBD, Jhon Oktavianus. 


Sumber : suryainside.com

Selasa, 20 Maret 2012

CERITA RAKYAT : ASAL MULA PADI DI WEWEWA

TAGGOBA adalah kampong pertama bagi orang wewewa sesudah turun dari gunung YAWILA karena air laut yang pernah menggenangi pulau sumba menurut cerita para Datuk.
Dalam kampong ini hidup sebuah keluarga yang terdiri dari suami istri,dengan seorang putra yang dimanjakan oleh mereka. Anak itu biasa di panggil “WADHA” oleh kawan-kawannya.

Walaupun sudah menjadi pemudah tangguh,ia masih merengek manja meminta apa saja yang di kehendaki hatinya. Pada suatu hari a meminta kepada orang tuanya sejenis ubi yang biasa di sebut “LOLO ANA MESA”. Ubi sejenis ini sangat sulit ditemukan sebab tumbuhan ini jarang tumbuh,kecuali dihutan belantara. Karena kecewa dia memukul kedua orang tuanya malahan ia mengancam akan memukul mereka lebih hebat lagi apabila permintaanya tidak di penuhi atau dikabulkan. Karena takut dan rasa tersinggung,kedua orang tua itu melarikan diri menghilang menyembunyikan diri jauh ketengah hutan yang tidak pernah di datangi manusia. Disanalah mereka tinggal lama. Tempat itu mereka namakan “ BODA TILU” yang artinya bukit tengah.

Sepeninggal mereka,Tagobba ditimpah musim kemarau panjang yang lamanya tujuh tahun. Akan tetapi bagi kedua orang tua Wadha hujan turun teratur setiap tahun. Mereka merambah hutan itu,membuka ladang untuk menanam sayur dan ubi-ubian.

Pada suatu hari mereka menemukan sejenis tumbuhan asing yang tumbuh di atas sebatang kayu yang terdiri dari dua butir. Mereka membawah pulang tumbuhan itu dengan hati senang bercampur takut. Mereka memperoleh petunjuk melalui mimpi sehingga mereka mengetahui tumbuhan itu bernama padi yang harus di tanam di tanah berlumpur (sawah). Nama lengkap padi itu “ PARE NE`E”,artinya padi yang dilumpur. 
Setelah panen mereka masak beberapa biji beras saja,ternyata bertambah banyak. Cukup untuk di makan 2 orang sampai kenyang.

Pada suatu hari dari kampong Tagobba berburulah 2 orang yaitu bapak bersama anaknya bernama Yogara dan Jandara. Karena seharian berburuh tanpa hasil,semakin jauhlah mereka menjelajahi hutan itu. Tak di sangka,mereka bertemu dengan kedua suami istri yang menghilang beberapa tahun yang silam. Mereka dilayani minuman yang mereka sebut “WE`E KADU” yang artinya air tanduk.

Sekembalinya mereka di rumah sendiri,mereka menggaruk tanduk kerbau untuk diminum karena ingin minum kembali air tanduk seperti yang didapat dari suami istri di hutan. Ternyata air itu hitam dan berbauh tengik. Mereka kembali ke hutan untuk memintah petunjuk lengkap. Mereka ditertawai penuh kelucuan. Diperlihatkanlah kepada mereka segenggam padi sambil diberi tahukan bahwa inilah yang dimaksud dengan nama tanduk.

Atas informasi dari Yogara dan Jandara, Wadha kembali memanggil kedua orangtuanya berpesta merayakan perdamaian dengan orangtuanya. Dalam pesta inilah padi yang turut dibawa itu diperkenalkan kepada keluarga dan handaitolan yang hadir. Padi itu ditumbuk lalu dimasak dijadikan bububr dan nasi lalu dibagi-agikan. Sejak itu masyarakat menanam padi. Karena selain dijadikan bubur yang mereka namakan “bobora” ,juga dapat dijadika nasi yang digumpalkan ditangan lalu dimasukan kemulut untuk dimakan, yang mereka namakan “Dopola”.

Sampai sekarang bagi orang sumba atau orang Wewewa masih menggunakan cara makan seperti itu, yakni telapak tangan dibahasahi terlebih dahulu baru menggenggam untuk membulatkan nasi tersebut supaya lengket ditelapak tangan.


Di Terjemahkan dari bahasa wewewa
 PARE PATABOKA

Tagobba wanno ulu ata wewewa mba burru wali kabundukana yawila oro we‘e mbonnu apenne liddage ata ullu. Ne wanno ndana amoripa buĆ¹ umma awalina ole umma , mawinne,mono kabana.na anada ademmana kaghulani WADHA ollena.  

Waige babua mane baya takka napalesepo ba appako pa denggina monno pabei atena.apaka ia loddo na ndenggi  mbarra inna amana lu,a.Patekkida  Ademmana lolo ana mesa.Na lua lu”a  na susa batabbokaya  oronawe  na lu’u ndukka piage, kadaghudana,oro badai na paluyi inna mono amana  mono napaka’a wekkina  mba ndayakoni  pabei ate na.oro mbama ndauta  a mate ghidda inna monno amana akedu monno amaurri wekkina  ne tillu kadaghu  ndappa kako pengguda ata,ne kadaghu ndana niawe padau madoi ghaida, ne kadaghu  apagarage “BODA TILLU” ba louso kadaghuna,tagobba adukki bage merratana amalou ndukki pittu ndou  mbage ghidda inna mono amana wadga na mburru urra  ia ndou-ia ndou,ghidda amaghomawe monno apaduage oma padou to ndaka  rowe mono lua. 

Ne apaka ia loddona ghidda ata a etaya  na apagaina ruta amoripa  ne pola ghasu ndeta  aduada mbolo ,mbage awali magheghera ate monno  ama ndauta  mba ghinddiyi na ruta,mbage akolena lara papalolonda ne kanaganippi ndana  nyawe kopandde na ruta  mbagara na pare ,patodaka  ne tana aparamona(pamba) ngara malouna na pare “PARE NE’E”patodaka ramodana,mbage mba makeni ,mba ge apa ti’ina pirra bolo wesana  mbage naluage  na tutuwe  mba ga’age nduada ata ndukki ba mbekuta.

Ne apaka ia loddona wali wano taggoba akalola  a nduada ata pa ama monno ana na  a gharana YOGARA monno JANDARA.oro ne ia loddo aka lola nda kolekina a marro mbana ge ne kadaghu,nda panddekige mba tabbokayi ghidda apa mawinne oleummana a ndada wali pirra ndou ponghe  amalewata mba.mbage a yandi pa enu a ngarana “we’e kadu”.

Mbage a waliyi umma ndouda ,a ka’u kadu karambo ka enu oro a mbeina enu wali we’e kadu a linnana pa koleda wali mbarada ghiddi apama winne mono ole ummana ne’e kadaghu ndana

Mbage awaliyi kadaghu ndana ndenggi lara louso,mbage a mandita langho takka mbage apamagewaladi ghunggu pare monno apalolondi mba niawe a gara kadu oro panewe parenggeda  wali mbara YOGARA monno JANDARA, WADHA na kako ka ghulladi ama monno inna na ne’e kadaghu ndana noka teba kapamoda mbalina kaku paka ia ndenggadi inna mono amagu linnage.Ne teba niawe pare panginddi ka pandeni pa ama monno ole ndadi,na pare a be’eya monno apati’ini arawige ga’a ndakke monno ga’a pambaghi-mbaghida.ndukkige ata ba todakana pare monno ekana ba rawina ga’a ndakke papa ngarada bobora,monno rawige ga’a padopola patamage ngadana nga’a ge papangarada bopola.

Ndukki nebalinnawe  ata sumba /ata wewewa awaipoge ga’a alinnana ga’a padopola.




Sumber :                                

Kegiatan Community Outreach di SD Weekombaka II, Sumba barat Daya

Peningkatan akses pendidikan adalah salaah satu kegiatan di Decentralized Basic Education Project ( DBEP ) di Nusa Tenggara Timur. Tujuannya adalah meningkatkan Angka Partisipasi Kasar pendidikan dasar. Kegiatannya berupa Community Outreach dan pemberian beasiswa. Berikut kita ikuti liputan community out reach di SD Katolik Weekombaka II, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT.


Minggu, 18 Maret 2012

Limbah Pasar Hewan Menyengat Hidung

Ceceran serta aliran limbah yang bersumber dari pasar hewan di Jalan Tambolaka, Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur,  menyengat hidung.
Selain itu, keberadaan pasar yang berdampingan dengan pasar tradisional itu terasa mengganggu pemandangan, karena berlokasi di pusat kota, tepatnya di seberang jalan di depan Kantor BNI Tambolaka atau Hotel Sinar Tambolaka.

"Mungkin baik kalau keberadaan pasar itu, terutama pasar hewan, segera dibenahi atau dipindahkan ke tepi luar kota. Bau limbahnya sangat menusuk hidungm. Padahal Tambolaka adalah satu dari dua pintu masuk Sumba melalui penerbangan, selain Waingapu di Kabupaten Sumba Timur," tutur John, pejabat dari Kantor Gubernut NTT yang sedang bertugas di Sumba, Sabtu (17/3/2012) pagi.

Khusus pasar hewan di Tambolaka, berlangsung setiap Sabtu dan Rabu. Berbagai jenis hewan terjual di tempat itu, seperti kerbau, kuda, sapi, kambing dan babi. Waktu efektif pasar berlangsung sejak pagi hingga sekitar pukul 11.00 Wita.

"Hewan jualan kami, kalau belum laku dibawa pulang lagi ke rumah dan nanti kembali lagi jualan di sini pada hari pasar berikutnya," kata Darius Ngongo, ketika sedang berjualan dua ekor kerbau miliknya di pasar itu, Sabtu pagi.

Pedagang perantara asal Kecamatan Wewewa Barat  itu mengatakan, pernah mendengar lokasi pasar akan dipindahkan ke luar kota. "Saya dengar bangunannya sudah ada, namun kami belum tahu mengapa kegiatan pasar belun juga dipindahkan," tuturnya.

Ia setuju lokasi pasar segera dipindahkan, karena pasar yang sekarang dinilainya terlalu sempit dan lokasinya yang mengganggu kenyamanan serta kesibukan warga kota.

Sumber :Kompas

Sabtu, 17 Maret 2012

Energi Biogas Dikembangkan di Sumba

Bangunan pendukung pengolahan biogas di Tambolaka, Sumba Barat Daya, NTT, Sabtu (17/3/2012).
Pemanfaatan energi biogas berbahan baku utama kotoran hewan, seperti babi dan sapi, mulai dikembangkan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, sejak awal Maret lalu.

Upaya itu dipelopori Hivos, institut kemanusiaan untuk kerja sama pembangunan internasional yang didukung SNV (Organisasi Pembangunan Belanda) bekerja sama dengan LSM Donders, di Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Koordinator Hivos Perwakilan NTT, Adrianus Lagur di Tambolaka, Sabtu (17/3/2012) malam menjelaskan, di Sumba kegiatan yang lazim disebut program biogas ruman atau Biru itu di Sumba sudah dibangun di 22 titik. Rinciannya,  masing masing 13 titik di Kabupaten Sumba Timur dan 9 titik lainnya di Sumba Barat Daya.

Khusus di Sumba Barat Daya, satu di antaranya di kediaman Agustinus Detha Rehi di We'elonda, Kecamatan Kota Tambolaka. "Sudak sekitar dua minggu kami memanfaatkan gas dari program Biru ini, untuk kebutuhan memasak dan juga pnerangan di rumah," jelas Wilhelmina Leu, istri Agustinus Detha Rehi di kediamannya, Sabtu petang.

Menyusul kehadiran gas tersebut, keluarga Agustinus praktis tidak lagi membeli minyak tanah untuk kebutuhan memasak di rumah.

Wilhelmina menjelaskan, sebelum biogas datang, setiap hari keluarganya menghabiskan sedikitnya 4 liter minyak tanah per hari atau kurang lebih 120 liter per bulan. Itu berarti kebutuhan bulanan minyak tanah keluarga tersebut setara Rp 720.000.

"Dengan biogas ini, kami bisa menghemat Rp 720.000 per bulan karena tidak lagi membutuhkan minyak tanah untuk memasak di dapur," jelas Ibu Wilhelmina.

Teknisi Hivos NTT, Yoga Siga Kole, meyakinkan program Biru sangat ramah lingkungan dan bermanfaat ganda. Selain gasnya untuk kebutuhan memasak dan penerangan di rumah, limbah olahan langsung menjadi pupuk organik mutu tinggi.

Program Biru di Sumba rata rata berbahan baku utama kotoran babi. Sejauh ini pembangunan infrasrtukur pendukungnya berbiaya sekitar Rp 9 juta, 60 persen di antaranya subsidi Hivos dan 30 persen lainnya swadaya keluarga peserta.


Sumber : Kompas .com

Cuaca Ektsrem, Pelabuhan Sape Bima Ditutup

Angin kencang yang disertai hujan di wilayah Kabupaten Dompu dan Bima, membuat Pelabuhan Sape diututup. Tingginya gelombang dan kecepatan angin diatas 50 km per jam menyebabkan terputusnya transportasi penghubung antara Pulau Sumbawa NTB dengan NTT. 
Nelayan di Kabupaten Dompu pun tidak berani melaut lantaran cuaca ekstrem.

PT Angkutan Sungai Danau dan Penyerangan (ASDP), Ferry Indonesia cabang pelabuhan Sape Bima menutup jalur penyebrangan dari Pulau Sumbawa NTB menuju
Pulau Bajo dan Waikelo Sumba Barat Daya,  NTT, sejak Kamis (15/3). Cuaca ekstrem yang melanda perairan wilayah Indonesia timur sejak tiga hari terakhir, penyebab ditutupnya pelabuhan tersebut.

Pimpinan cabang ASDP Ferry Indonesia, Jumono kepada RRI, Jumat (16/3) mengatakan, sejak ditutup, antrian panjang terjadi di Pelabuhan Ujung Timur Pulau Sumbawa tersebut. Tercatat ada 79 kendaraan truk besar (TB), 17 truk sedang (TS) dan 10 kendaraan kecil mengantri untuk disebrangkan. ASDP belum berani memastikan kapan pengantri tersebut akan disebrangkan.

Dari laporan BMKG Bandar Udara Salahuddin Bima, prakiraan cuaca yang diterima ASDP Sape kondisinya naik turun. Kecepatan angin antara 50 sampai 60 km per jam, sementara tinggi gelombang diwilayah perairan tersebut mencapai 6 hingga 7 meter.

“Penutupannya belum kita pastikan karena ini faktor alam, kecepatan angin berubah-ubah karena setiap hari BMKG Bima melakukan pemberitahuan. Tapi tinggi gelombang mencapai 6 sampai 7 meter,” katanya.

Sementara itu, di Kabupaten Dompu dilaporkan banyak pohon tumbang dipinggir jalan akibat angin kencang. Hingga kini belum dilaporkan adanya korban jiwa akibat angin kencang tersebut, namun banyak dilaporkan rumah warga mengalami kerusakan. Bahkan di kecamatan Kilo, terdapat 3 rumah roboh diterjang angin.

Nelayan di daerah ini, juga tidak berani melaut lantaran angin kencang. Pantauan RRI dibeberapa lokasi, nelayan terlihat hanya menambatkan perahunya. Menurut Hairul Hiasa, warga kecamatan Kilo, cuaca angin kencang ini jauh lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya.

Jika tahun sebelumnya, nelayan masih berani melaut meski hanya berjarak 100 meter dari bibir pantai, saat ini tak satupun nelayan yang berani. Tinggi gelombang di teluk sanggar kecamatan Kilo, mencapai 6 meter.

“Sudah tiga hari ini terus-terusan hujan angin besar sejak tiga tahun terkahir ini, saat ini yang paling besar. Pokoknya selama ini tidak pernah terjadi,” katanya.

Sementara itu, akibat cuaca ekstrem tersebut menyebabkan kelangkaan ikan di pasar-pasar tradisonal. Harga ikan tawar yang biasanya  jauh dibawah harga ikan laut, kini melambung tinggi.

Harga ikan Nila di Pasar Bawah Dompu mencapai Rp 40 ribu per kg, yang sebelumnya hanya mencapai Rp 25 ribu per kg. Naiknya ikan tawar yang sebelumnya kurang diminati warga Dompu, lantaran pasokan ikan laut ke daerah ini langka.

Pemilihan ikan tawar didaerah ini, lantaran warga di daerah ini tidak memiliki pilihan lain. Warga didaerah ini enggan mengkomsusmi daging ayam, lantaran takut terinfeksi virus H5N1, yang saat ini melanda Kabupaten Bima.


Sumber : rri.co.id

Orang Sumba Pelihara Sapi Panen Energi

Perkembangan dunia dan tuntutan globalisasi membawa dampak terhadap makin meningkatnya permintaan energi yang membuat semakin menipisnya energi yang bersumber dari fosil.

“Karena itu, potensi sumber daya energi terbarukan yang ada di Pulau Sumba dan khususnya di Sumba Barat Daya merupakan jalan keluar terbaru bagi Provinsi NTT untuk mengatasi persoalan energi dan meninggalkan ketergantungan energi fosil. Kalau di Timor orang tanam jagung panen sapi maka di Sumba orang pelihara sapi panen energi terbarukan,” tandas Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L. Foenay, M.Si dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekda Provinsi NTT, Fransiskus Salem, SH, M.Si saat membuka Seminar dan Lokakarya Penyusunan Kerangka Peta Jalan (Road Map) dan Pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Sumba Iconic Island 2012-2025 di Aula Kantor Bupati Sumba Barat Daya, Kamis (15/3/12).

Wagub mengaku, optimis dengan ketersediaan sumber daya energi terbarukan yang ada di Pulau Sumba. “Dengan potensi energi terbarukan yang kita miliki, mari dari Sumba kita bangun Indonesia dan dari Sumba kita bangun masyarakat dunia. Secara perlahan kita tinggalkan ketergantungan terhadap energi fosil,” pinta Wagub.


Menurut Wagub, hingga kini ratio elektrivitas di Provinsi NTT masih berkisar antara 30 % - 40 % dari target 85 % di tahun 2015. “Ratio yang seperti ini tentu berdampak pada geliat ekonomi masyarakat yang belum optimal. Karena itu, kita perlu beralih dari energi fosil ke energi terbarukan,” jelas Wagub.

Wagub meminta kepada seluruh perserta seminar dan lokakarya untuk memperhatikan empat (4) serius yakni serius bekerja sama untuk mengembangkan potensi yang ada di masing-masing wilayah, serius mensinergikan program-program yang ada dengan RPJMD masing-masing kabupaten, serius untuk menyukseskan peta jalan dan serius untuk mendukung pembentukan Satgas Sumba Iconic Island bagi NTT, Indonesia dan masyarakat dunia.

Di tempat yang sama, Direktur Bio Energi Kementerian ESDM RI, Maritje Hutapea menjelaskan, program energi terbarukan merupakan hal yang sangat bagus dan menjanjikan kesehjateraan masyarakat yang ada di Pulau Sumba. “Meski kesejahteraan dan kemakmuran sesungguhnya ditentukan oleh masyarakat itu sendiri, tetapi kami dari pihak Kementerian ESDM sangat berkepentingan untuk mendukung Road Map dan Satgas Sumba Iconic Island,” kata Hutapea.

Menurut dia, Pulau Sumba dipilih oleh Kementerian ESDM RI sebagai pilot project energi terbarukan, karena Pulau Sumba memiliki potensi energi terbarukan yang luar biasa dan akses masyarakat terhadap energi masih sangat rendah. “Saat ini energi telah menjadi kebutuhan yang utama dari masyarakat. Saya berharap dengan energi yang ada masyarakat bisa menggunakan energi tersebut untuk hal-hal yang produktif tidak hanya untuk yang konsumtif semata,” pinta Hutapea.

Sementara itu, Direktur HIVOS, Mr. Eco Matser mengatakan, Pulau Sumba memiliki potensi energi terbarukan yang luar biasa antara lain : angin, air, matahari, biogas dan biomasa. “Energi terbarukan sesungguhnya lebih disasarkan kepada masyarakat di daerah terpencil karena sumber daya energi terbarukan tersedia secara alamiah. Saya berharap Pulau Sumba dapat memberikan contoh kasus untuk mengusahakan energi terbarukan dan mengurangi dampak terhadap perubahan iklim,” tandas Matser dan menambahkan, “energi bukan tujuan tetapi untuk membantu masyarakat dalam hal urusan masak, transportasi dan penerangan di waktu malam hari.”

Sedangkan Bupati Sumba Barat Daya, dr. Kornelius Kodi Mete menuturkan, upaya menemukan potensi energi terbarukan di Pulau Sumba sejalan dengan empat (4) Program Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya yakni Membangun Mulai Dari Desa : Desa Berair, Desa Bercahaya, Desa Berkecukupan Pangan, Desa Aman dan Tertib.

Ikut hadir dalam acara tersebut, Kadis Pertmbangang dan Energi Provinsi NTT, Ir. Dany Suhadi, Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi NTT, Ir. Nico Bala Nuhan, Kepala Biro Hukum Setda NTT, John Hawula, SH, M.Si, Wakil Bupati Sumba Barat Reko Deta, Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Jack Malo Bulu serta sejumlah pejabat yang berasal dari Sumba Timur, Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya.

Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Kementerian ESDM RI, Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya, Bank BNI Sumba Barat Daya, PLN Cabang Sumba Barat Daya, BPPT dan HIVOS. HIVOS merupakan organisasi Pemerintah Belanda yang bekerja untuk pembangunan khususnya akses masyarakat terhadap sumber daya energi.



Sumber : sergapntt.com

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD