Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Minggu, 31 Juli 2011

PELATIHAN PENGELOLAAN UPPO DI SBD

Perbaikan kesuburan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas lahan pertanian dalam rangka mendukung peningkatan  produktivitas baik pada subsektor perkebunan,tanaman pangan maupun holtikultura. Salah satu cara yang dapat dilakukan  untuk meningkatkan kesuburan  pada lahan pertanian adalah dengan mengembalikan sisa tanam kedalam lapisan tanah sebagai bahan organik serta tidak membakarnya atau membawa sisa tanam keluar dari areal pertanian.

Usaha lain  dalam memperbaiki kesuburan lahan pertanian  dapat ditempuh  melalui perberian pupuk organik  yang berasal dari bahan organik berupa limbah pertanian seperti limbah panen (jerami dan lainnya) serta limbah peternakan (kotordup.an hewan), untuk meningkatkan  kwalitas  dan nilai  tambah  produk pertanian,efisiensi dalam usaha tani,peningkatan kualitas aspek kesehatan serta terpeliharanya lingkungan
 
Hal inilah yang mendorong Dinas Perkebunan  Kabupaten Sumba Barat Daya untuk digelarnya  pelatihan  pengolahan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO),pada Kelompok Tani”Mere Kehe” yang beranggotakan 35 orang  di Desa Matakapore,Kecamatan  Kodi Bangedo bulan Juni lalu dengan menghadirkan instruktur/narasumber dari instansi terkait yaitu Dinas Perkebunan,Dinas Peternakan,Dinas Pertambangan dan Energi, serta Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluh Pertanian Kabupaten Sumba Barat Daya.

Bupati Sumba Barat Daya, dr. Kornelius Kodi Mete, membuka acara tersebut sekaligus menyerahkan asset sebagai kelengkapan  unit pegolah pupuk organik dalam bentuk Rumah kompos sederhana, Bak fermentasi, peralatan dan  satu unit mesin serta satu unit kendaraan roda tiga, Kandang sapi komunal dan 35 ekor sapi (31 ekor betina dan 4 ekor jantan).
Hal ini menjadi sistem yang tak dapat dilepas pisahkan dari satu kesatuan,untuk menghasilakan sebuah produk yang  cepat dan berkwalitas.

Kaitan dengan itu,menurut Bara K,Philipus.S.Sos. selaku Kepala Bidang Perlindungan Tanaman Perkebunan pada Dinas Perkebunan SBD, sekaligus sebagai Ketua Panitia Pelaksanan kegiatan tersebut dalam laporannya mengatakan “proses pembuatan  pupuk organik dari bahan baku limbah panen dan limbah peternakan apabila dilakukan secara alami memerlukan waktu cukup lama yaitu sekitar 1-2 bulan, bahkan lebih. Apabila proses tersebut menggunakan alat  bantu berupa Alat Pengolah Pupuk Organik yang berfungsi sebagai pemecah  dan penghancur  bahan organik, maka waktu pengomposan menjadi lebih pendek  yaitu sekitar 2-3 minggu. Oleh karena itu dalam skala kelompok tani atau gapoktan, diperlukan  unit pengolah pupuk organik (UPPO) yang berupa, bangunan rumah kompos untuk penempatan mesin  Alat Pengolah Pupuk Organik (APPO), bak fermentasi, dilengkapi dengan alat  pengangkut  kendaraan bermotor roda tiga agar lebih efisien, serta hewan ternak untuk memenuhi bahan baku pupuk organik dari ternak”.

Bupati Sumba Barat Daya,dr. Kornelius Kodi Mete, dalam sambutannya mengharapkan agarkelompok tani yang mengikuti latihan betul mencurahkan pikiran dan perhatiannya untuk memperoleh pengetahuan yang banyak dan selanjutnya dapat diterapkan  dalam kelompok. Peralatan yang diberikan dengan segala kelengkapannya sebagai modal usaha agar dapat dipelihara sebaik-baiknya untuk peningkatan kesejahteraan anggota kelompok.

Kemudian lanjutnya, sapi yang akan diberikan sejumlah 35 ekor. kotorannya selain untuk pemupukan juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan biogas, makanya dalam pelatihan ini melibatkan Dinas Pertambangan dan Energi untuk memberikan ilmu tentang bagaimana memanfaatkan kotoran ternak untuk biogas dalam kehidupan Rumah Tangga.

Acara tersebut dihadiri oleh  Kadis  perkebunan Jhon Octavianus, Kepala Badan Ketahanan Pangan Jacobus Bulu, Kadis Pekerjaan Umum Nyoman Agus, Kabag Humas Setda SBD  Lukas Ng. Gaddi, Sekretaris Dinas Perhubungan,Komunikasi dan Informatika Jhon Tende, Camat Kodi Bangedo Wily Mali serta aparat desa dan  para tokoh masyarakat Desa Mata Kapore.


Sumber : Humas Setda Kabupaten Sumba Barat Daya

Sabtu, 30 Juli 2011

Sopir Demo Tuntut Penertiban Trayek

                                                          POS KUPANG/TONY KLEDEN
PARKIR ? Bus-bus ini diparkir rapi para pengemudi di areal parkir Kantor Bupati SBD, Kamis (28/7/2011)
Tidak puas dengan trayek yang tidak jelas, belasan sopir dan pemilik angkutan di Sumba Barat Daya mendatangi Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) SBD, Kamis (28/7/2011). Mereka meminta pemerintah menertibkan pengemudi yang suka melanggar trayek karena menurunkan omset pengemudi yang beroperasi pada jalur yang benar sesuai izin trayek.

Para sopir dan pemilik angkutan diterima Sekretaris Dishubkominfo, John Tende, S.H mewakili Kadis Dishubkominfo, Drs. Johanes Ngongo Ngindi, yang bertugas di luar daerah. Mereka tertib dan memarkir kendaraan di areal parkir kompleks kantor Bupati SBD. Dalam dialog dengan para sopir dan pengusaha angkutan, Jhon Tende didampingi Kapolsek Loura, AKP Teguh, dan Kanit Lantas Loura, Bripka Lalu Rastra Wirawan.

Koordinator para sopir, Daniel Umbu Pati, membeberkan sejumlah ketimpangan yang terjadi. Dia mengeluhkan angkutan dari Kodi yang tidak hanya memuat penumpang sampai Waitabula, tetapi juga hingga ke Waikabubak.

“Kami ini trayek apa namanya? Angkutan kota, angkutan pedesaan, atau apa? Angkutan dari Kodi masuk sampai Waikabubak. Ini sangat merugikan kami,” kata Umbu Pati, pengemudi bus Sensasi.
Umbu Pati meminta ketegasan pemerintah mengenai trayek angkutan Kodi. “Kami tidak ingin terjadi bentrokan fisik di lapangan. Kami minta pemerintah tertibkan angkutan yang langgar trayek,” tegas Umbu Pati.

Berto Setu, pengemudi bus Atlantik, trayek Waikabubak-Waitabula, juga mengeluhkan angkutan Kodi yang suka melanggar trayek. Setu juga menanyakan lokasi terminal milik Pemkab SBD. “Terminal itu ada di mana sebenarnya?” tanya Setu.

Sekretaris Dishubkominfo, John Tende, menyambut baik semua protes dan keluhan dari para sopir dan pemilik angkutan. “Ini masukan baik dan berharga buat kami. Dengan peristiwa hari ini kami sangat bersyukur karena dapat mendorong kami untuk berpikir lebih keras lagi untuk membangun SBD ini?” kata John Tende.
Tende mengatakan, dalam koordinasi dengan polisi dari Polsek Loura akan menertibkan sopir-sopir bandel yang suka lari lewat trayek.

Kapolsek Loura, AKP Teguh, meminta para sopir agar tegas terhadap para penumpang yang suka bandel dengan naik duduk di atap bus. “Menurut undang-undang, sopir yang bertanggung jawab. Kalo ada kecelakaan, sopir yang bertanggung jawab. Karena Anda harus tegas terhadap penumpang,” kata Teguh.



Sumber : Pos Kupang 

Jumat, 29 Juli 2011

Merpati Batal Berangkat dari Tambolaka, Penumpang Marah

Ilustrasi
Pesawat Merpati Nusantara Air Line foker 50 yang berkapasitas sekitar 60 seat batal berangkat dari Bandara Tambolaka, Sumba Barat Daya ke Kupang, Nusa Tenggara Timur, Kamis (28/7). Sebagian penumpang yang telah memiliki tiket penerbangan lanjutan ke sejumlah kota kecewa atas peristiwa ini.

Pembatalan itu dilakukan secara mendadak sehingga sejumlah agenda kerja dan perjalanan para calon penumpang menjadi terbengkalai. Pihak Merpati Nusantara Air Line di nilai tidak memiliki schedule penerbangan yang jelas untuk penerbangan antara kabupaten dalam provinsi.

Munaf Aminah (38) salah satu calon penumpang Merpati menghubungi Kompas dari Tambolaka, Kamis (28/7/2011) mengatakan, sangat kecewa atas tindakan pembatalan itu. Merpati sendiri tidak memberi alasan yang jelas atas pembatalan itu.

Meski Merpati bersedia menyediakan penginapan dan akomodasi, tetapi sejumlah kerugian akibat pembatalan itu tidak bisa tergantikan. Rencana pertemuan d engan sejumlah rekanan kerja di Kupang, tidak terlaksana. Demikian pula jadwal kegiatan lainnya.

"Saya kecewa berat. Hari ini harus ke Kupang, malam nanti mempresentasikan bisnis saya kepada sejumlah konsumen di Kupang, dan esok paginya melanjutkan perjalanan ke Bandung. Tiket pesawat Kupang-Bandung sudah dibeli sehingga pembatalan ini sangat merugikan saya," kata Aminah.

Ia minta agar pembatalan penerbangan seperti ini perlu diatasi pihak pengelola penerbangan sehingga tidak merugikan konsumen. Jika ada pembatalan, semestinya disampaikan sehari sebelumnya. Pembatalan yang mendadak, sangat merugikan kegiatan bisnis atau ekonomi masyarakat terutama para investor atau pengusaha.

Achmat Yanto calon penumpang lain mengatakan, perjalanan lanjutan, dari Kupang-Surabaya, sore itu dengan terpaksa dibatalkan. Tetapi pihak Merpati berjanji akan mengupayakan tiket keberangkatan ke Surabaya.

Kita tunggu esok setelah sampai di Bandara Kupang. Apakah mereka menanggung tiket Lion Air ke Surabaya yang dibatalkan itu atau tidak, kata Yanto.

Staf Kantor Merpati Cabang Waikabubak, Sumba Barat, Richard mengatakan, pihak Merpati Tambolaka juga tidak tahu alasan pembatalan itu. Ia hanya ditugaskan menangani 38 calon penumpang Merpati dari Tambolaka-Kupang yang batal berangkat . Kapasitas penumpang seharusnya 60 orang.

"Kami hanya dihubungi manajemen Merpati Kupang menyiapkan penginapan dan akomodasi bagi para calon penumpang Merpati yang batal berangkat. Ke-38 calon penumpang itu kami sudah antar ke salah satu hotel di Tambola ka. Rencananya esok, Jumat, 29 Juli 2011 mereka akan diberangkatkan ke Kupang," kata Richard.

Sehari sebelumnya, Rabu (27/7/2011) pesawat Merpati juga batal berangkat dari Labuan Bajo ke Maumere karena ban pesawat robek setelah menabrak lampu lintasan bandara.

Pesawat Merpati jenis AVIC MA 60 itu dari Denpasar membawa sekitar 50 penumpang itu, setelah landing di ujung bandara, tiba-tiba badan pesawat berbelok arah ke sisi kanan sampai keluar dari lintasan utama saat hendak memutar badan pesawat.

Meski badan pesawat tidak mengalami gangguan, tetapi 45 calon penumpang dari Labuan Bajo tujuan Maumere pun batal diberangkatkan. Mereka baru diberangkatkan keesokan harinya.


Sumber : Pos Kupang

PAD SBD 2010 Lampaui Target

 Realisasi pencapaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) tahun anggaran 2010 melampaui target. Dari target senilai Rp 10,1 miliar, realisasi mencapai Rp 11,8 miliar (116,98 persen).

Capaian-capaian target pendapatan berikut realisasi anggaran tahun 2010 ini disampaikan Bupati SBD, dr. Kornelius Kodi Mete, dalam pidato pengantar Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Bupati SBD Akhir TA 2010 pada rapat paripurna I DPRD SBD, Senin (25/7/2011).
Rapat ini dipimpin Wakil Ketua  DPRD, Gerson Tanggu Dendo, S.H, didampingi Ketua DPRD SBD, Yosep Malo Lende. Hadir Sekda SBD, Antonius Umbu Sasa, dan para pimpinan SKPD setempat.


Bupati Kodi Mete menguraikan, dari hasil perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah TA 2010, diketahui bahwa realisasi pendapatan melampaui target. Realisasi mencapai Rp 352.523.390.911 dari target sebesar Rp 342.851.804.903 atau 102,82 persen.

Selain PAD yang melampaui target,  dua item pendapatan, yaitu dana perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah, juga melampaui target. Dana perimbangan ditargetkan Rp 295.434.583.458, realisasi mencapai Rp 300.599.854.950 (101,75 persen). Termasuk dalam dana perimbangan adalah  bagi hasil pajak dan bukan pajak ditargetkan sebesar Rp 14.995.683.766, realisasi mencapai  Rp 20.248.

415.292 (139,09 persen), dana alokasi umum (DAU) direncanakan sebesar Rp 238.819.451.000, realisasi mencapai Rp 238.819. 451.000 (100 persen), dan dana alokasi khusus (DAK) direncanakan sebesar Rp 41.378.000.000 terealisasi sebesar Rp 41. 378.000.000 (100 persen).

Sedangkan lain-lain pendapatan yang sah ditargetkan sebesar Rp 37.300.786.084, realisasi sebesar Rp 40.079.815.019 (107,45 persen). Termasuk dalam item pendapatan ini adalah dana bagi hasil pajak propinsi direncanakan sebesar Rp 3.254.454.684, terealisasi Rp 3.083.908.619 (94,76 persen), dana penyesuaian direncanakan Rp 32.269.931.400 realisasi mencapai Rp 35.219.506.400 (109,14 persen), dan pendapatan lainnya berupa bantuan keuangan dari pemerintah propinsi direncanakan sebesar Rp 1.776. 400.000 terealisasi sebesar Rp 1.776.400.000 (100 persen).

Bupati Kodi Mete  menjelaskan, dalam  melaksanakan optimalisasi pendapatan daerah tahun 2010 ditemukan sejumlah masalah yang berkaitan dengan kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan daerah, yaitu masalah pemanfaatan sumber-sumber pendapatan daerah belum dimanfaatkan secara optimal.


Sumber : Pos Kupang

Jualan di Jalan Supaya Laku

POS KUPANG/TONY KLEDEN
MELUBER KE JALAN ? Para penjual hasil bumi, seperti 
sayur, ubi, pisang, sirih menggelar jualan mereka di sisi 
ruas jalan umum di luar Pasar Radamata, Tambolaka, 
Sumba Barat Daya, seperti dalam gambar yang diambil, 
Senin (25/7/2011) pagi.
Para pedagang kecil yang menjual sayur-sayuran, ubi-ubian, jagung, pisang meluber ke ruas jalan umum di Pasar Radamata, Tambolaka.  Mereka mengaku menjajakan jualan mereka hingga ke jalan supaya lebih cepat laku.

Pasar ini merupakan pasar utama di Tambolaka saat ini. Pemerintah telah menyiapkan los-los pasar, meja-meja  jualan di tempat yang sebenarnya.  Tetapi para pedagang sayur-sayuran lari ke pinggir jalan menjajakan jualan mereka di situ.

Ny. Lusia Mete dan Matius Radubila, dua penjual sayur, kepada Pos Kupang, Senin (25/6/2011), mengatakan,  pilihan menjajakan jualan di pinggir jalan merupakan pilihan yang  terpaksa. “Kalau jual di dalam, tidak laku, tidak ada pembeli. Daripada tidak laku, kami jual di sini,” kata Ny. Lusia.
Ibu rumah tangga asal Desa Mbukubero, Kecamatan Kodi Utara ini, menjelaskan, sebelumnya dia menjual di dalam pasar dan punya meja jualan.

Tetapi sejak lima bulan lalu, dia keluar dan menggelar jualannya di pinggir jalan. Hasil bumi jualannya seperti pisang, ubi, sayur-sayuran, tembakau, sirih, lombok, kelapa, kata Ny. Lusia, lebih cepat laku diincar pembeli jika dijual di dalam los pasar.
Sebagaimana disaksikan, ruas jalan di samping mulut gang masuk ke Hotel Sinar Tambolaka itu padat dengan para penjual hasil bumi. Mereka hanya menguasai sisi utara jalan yang langsung berbatasan dengan  areal pasar.

Ny. Lusia dan Matius menjelaskan, saat awal-awal mereka menggelar jualan di situ, aparat Sat Pol PP mengusir dan menghalau mereka untuk kembali masuk ke pasar.
“Tetapi karena kami sampaikan ke bupati, kami boleh menjual di sini. Bisa lihat khan, kami jual di sini tetapi tetap bersih, tidak kotor. Kami juga hanya mencari uang untuk hidup,” kata Ny. Lusia.

Matius menambahkan, setiap hari mereka dipungut retribusi Rp 1.000. Tiap pagi petugas bagi karcis. Nanti siang mereka datang ambil uang. Retribusi yang ditarik dari para pedagang kecil itu berdasarkan Perda Nomor 18 Tahun 2008. “Petugas dari Dispenda yang datang ambil uang nanti,” kata Matius.


Sumber : Pos Kupang

DeMAM di SBD : Alokasi Dana Tidak Utuh

Pengalokasian dana program Desa Mandiri Anggur Merah (DeMAM) ada yang tidak utuh. Di Desa Weepangali, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), dari dana yang dialokasikan Rp 250 juta, yang masuk ke rekening Desa Weepangali hanya Rp 248 juta lebih.

“Kita harus buat lagi proposal untuk sekitar Rp 1 juta lebih guna menggenapkan dananya menjadi Rp 250 juta,” kata Kepala Desa Weepangali, John Gheli, kepada Pos Kupang, Jumat (22/7/2011).

Kekurangan dana itu,  jelas Gheli, tidak hanya pada Desa Weepangali. Ada desa  yang hanya dapat Rp 200 juta.  Sisa Rp 50 juta belum dicairkan. “Dalam rapat kami juga tanyakan ini kepada Bappeda dan orang bank, tetapi mereka juga tidak tahu mengapa masih kurang,” kata Gheli.

Pendamping Kelompok Masyarakat (PKM) Desa Weepangali, Maria Tuty Holinda Bai, S.E, ditanya Pos Kupang tentang kekurangan dana ini menjelaskan, kekurangan itu terjadi akibat kesalahan pengetikan di tingkat kelompok, bukan dipotong dari propinsi. A

rtinya, dana Rp 250 juta itu benar-benar dialokasikan untuk setiap desa yang berhak mendapatkannya. “Kami sudah bikin proposal tambahan untuk ajukan lagi dana yang sisa itu, sehingga jadi genap Rp 250 juta,” kata Tuty.

Tuty mengatakan, dana senilai Rp 250 juta untuk setiap desa itu sudah masuk ke rekening desa. “Dana itu akan dikirim lagi ke rekening ketua kelompok, sekarang bank akan turun ke desa-desa dan membuka rekening para ketua kelompok,” jelasnya.
Jika semua urusan administrasi beres, kata  Tuty, dana bantuan itu akan cair akhir Juli atau awal  Agustus mendatang.

Saat ini 15 KT DeMAM di Desa Weepangali, Kecamatan Loura, sedang bersiap-siap menerima kucuran dana. Para ketua kelompok di desa ini diminta segera membereskan Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk membuka rekening kelompok guna pencairan dana.

Ketua Kelompok Tani  Radda Kua, salah satu  dari 15 kelompok tani di desa ini, Adolf  Bobo,  kepada Pos Kupang di rumahnya, Jumat (22/7/2011), mengatakan, pendamping PKM Desa Weepangali, Maria Tuty Holinda Bai, S.E,  panjang lebar menjelaskan kepada semua  anggota Kelompok Tani Desa Mandiri Anggur Merah Weepangali  tentang segala ihwal terkait pemanfaatan dan peruntukan dana yang akan segera dicairkan.

Bobo mengatakan, sebagai masyarakat desa pihaknya sangat mendukung program Pemda NTT ini. “Kita di kelompok sudah berjanji akan mengelola dana ini dengan penuh tanggung jawab,” kata Bobo.

Kepala Desa Weepangali, John Gheli, membenarkan apa yang dikemukakan  Adolf Bobo. Menurut Gheli, saat ini para ketua kelompok diminta segera menyiapkan KTP-nya untuk kepentingan pencairan dana. Sekarang bank lagi keliling bagi rekening kepada para ketua kelompok, kata Gheli.



Sumber : Pos Kupang

Kamis, 28 Juli 2011

Kejurda Tinju di Tambolaka : SBD Pimpin Raihan Medali

POS-KUPANG.COM/TONY KLEDEN
Petinju Sumba Barat Daya, E Zadra (kiri) 
meraih medali emas setelah mengalahkan 
Yuliana Ina (Sumba Timur) pada pertandingan 
di Stadion Galatama, Tambolaka, Rabu (27/7/2011).
Tuan rumah Sumba Barat Daya (SBD) unggul sementara dengan mengumpulkan enam medali emas dan tiga perak dalam kejurda tinju amatir di Stadion Galatama Tambolaka, SBD. Pada pertandingan Rabu (27/7/2011) malam, tuan menambah lima emas dan dua perak dari perolehan sebelumnya satu emas dan satu perak.

Pada pertandingan beberapa partai final Rabu malam, dua petinju perempuan SBD, Meriana Padaka dan E Zadra tampil kesetanan. Didukung ratusan penontonnya, kedua petinju yang tampil di kelas 46 kg youth girls dan 48 kg youth girls itu memukul lawan-lawannya. Zadra bahkan menang dengan RSC karena lawannya Yuliana Ina dari Sumba Timur tidak bisa melanjutkan pertandingan.

Pada kategori 40 kg youth boys, petinju tuan rumah, SB Komba, bahkan cuma butuh waktu dua menit pada ronde pertama untuk mendulang emas setelah mengkanvaskan lawannya, Gideon Aunga dari TTU.  Pada Selasa malam, SBD meraih satu emas melalui Dorsina Naslewan dan Sarinto Lende meraih perak setelah kalah dari petinju TTS, Vetti Radja. Pada partai keempat, petinju tuan rumah, Helmi do Santos kalah dari petinju TTU, Ito Fallo.

Kota Kupang berada di urutan kedua dengan tiga emas yang direbut Yohanis Puay yang mengalahkan Rikcy Mella dari Belu di kelas 44 kg youth boys. Emas lainnya disumbang Lucky Hari yang mengalahkan Frengky Rohi dari Alor. Emas terakhir disumbang Dominikus Lassa yang mengkanvaskan Rifan di kelas 52 kg.

TTS di posisi ketiga dengan dua emas yang disumbangkan Vetti Radja dan Yani Benu yang mengalahkan Melkianus Dulle dari Sumba Timur. Dengan beberapa lagi di partai final malam ini, tuan rumah diyakini bisa merebut gelar juara umum.

Kamis malam nanti akan dipertandingkan beberapa partai final lagi sebelum ditutup. Kejurda ini hanya diikuti petinju dari seluruh kab/kota di daratan Timor, Sumba, Alor dan Sabu Raijua. Petinju dari kabupaten di daratan Flores tidak ada yg ikut ambil bagian.


Sumber : Pos Kupang

Rabu, 27 Juli 2011

Kejurda Tinju di Tambolaka : SBD dan TTS Bagi gelar

Dua petinju perempuan, Dorsina N Naslewan dari Sumba Barat Daya (SBD) dan Vetti Radja dari SoE-TTS meraih juara pada kejurda tinju amatir se-NTT yang digelar di Tambolaka, SBD, Selasa (26/7/2011) malam. Dorsina yang tampil di kelas 42 kg youth girl menang angka atas Anisa Mau dari Belu. Sedangkan Vetti Radja menang RSC atas Sarinto Lende dari SBD.

Partai final kedua petinju perempuan ini menyedot warga Tambolaka dan sekitarnya yang memang haus hiburan. Partai antara Dorsina vs Naslewan, menyajikan teknik bertinju yg baik.  Dalam pertarungan empat ronde, Dorsina tampil dominan dan memimpin perolehan angka.

Sedangkan pada partai Vetti dan Sarinto di kelas 44 kg youth girl berlangsung kurang berimbang. Wasit Jacob Haning terpaksa menghentikan pertarungan karena Sarinto tidak bisa mengimbangi lawannya dari TTS itu.

Sedangkan partai lain baru menyelesaikan babak seminal semalam. Babak final akan berlangsung hari ini dan besok. Dua partai final  perempuan akan mempertemukan Yulita Fouk dari Belu melawan Mariana Kore dari Sumba Timur di kelas 54 kg elite woman dan Yuliana Nausai dari TTU melawan Debora Lalangpuling dari Alor di kelas 60 kg elite women.

Di final putra kelas 49 kg elite man akan berhadapan antara Lehi Mabilani (Alor) melawan Lukas Lede Pote (SBD). Di kelas 52 kg elite man akan mempertemukan Erens Neolaka (Kota Kupang) melawan Philipus Lede Malo (SBD). Kelas 56 kg elite man, Semuel Bria (Belu) vs Semuel Kabubu (Sumba Barat). Kelas 60 kg elite man, Leksi Tisel dari Kabupaten Kupang melawan Yansen Hebi dari Kota Kupang.

Empat malam kejurda tinju amatir ini yang digelar di Stadion Galatama Tambolaka ini menjadi hiburan buat warga. Ratusan warga memenuhi arena. Sekda SBD, Antonius Umbu Sasa dan sejumlah pejabat SBD dan Sumba Barat juga langsung menonton.


Sumber : Pos Kupang

Kultur Sumba, Nyanyian Syair Pencipta

POS KUPANG/TONY KLEDEN
GEDUNG KEMBAR ? 
Gedung kembar prototipe rumah adat Sumba ini 
menjadi ikon rumah budaya yang 
akan diresmikan Oktober mendatang. 
Gambar diambil, Kamis (14/7/2011) petang.
BERMINAT pada khazanah budaya bukan hal yang luar biasa. Banyak sekali orang berminat dan mengagumi kekhasan budaya di banyak tempat. Tetapi setelah berminat, menaruh kekaguman lalu menjadi pelestari , itu tidak banyak orang. Hanya satu dua orang saja.

Salah seorang dari sedikit orang yang tergerak tangannya dan terpanggil hatinya melestarikan khazanah budaya berikut nilai-nilai yang terkandung di dalamnya itu adalah Pater Robert Ramone, CSsR.  Ketika  dikontak melalui sms untuk ngobrol-ngobrol, rohaniwan Katolik dari Kodi, Sumba Barat Daya ini langsung menelepon. Di sela-sela waktunya yang mepet dihimpit agenda kerja,   pastor yang baru dipermandikan saat sudah berumur 16 tahun ini, menerima Pos Kupang di Lembaga  Studi dan Pelestarian Budaya Sumba, Tambolaka - dia sering  menyebutnya ‘rumah  budaya’ —  Kamis (14/7/2011) rembang petang.

Rumah  budaya itu belum tuntas dibangun. Sejak Maret 2010 lalu, di atas lahan tiga hektar milik tarekat CSsR  (Conggregatio Sanctisimi Redemptoris)  itu, Pater Robert berpeluh  dan terlibat penuh di antara para tukang untuk membangun. Ada dua bangunan kembar yang menjadi gedung utama. Tentu saja mengambil prototipe rumah adat Sumba bergaya panggung. Yang satu untuk kantor,  yang satu lagi untuk galeri. Ruang antara di kedua gedung itu bakal jadi panggung manakala ada pentas. Banyak yang mengkritik karena menggunakan konstruksi beton. Rumah adat Sumba tidak menggunakan semen dan besi beton. “Tetapi semangat saya adalah promosi. Saya ingin promosi  ke seluruh dunia agar  Sumba dikenal. Itu obsesi utama saya. Sumba harus dikenal semua orang. Karena itu saya tidak bangun rumah adat Sumba, tetapi prototipe rumah adat,” katanya menjawab kritikan itu.

Rencananya tanggal 25 Oktober tahun ini, rumah  budaya itu diresmikan. “Sudah sekitar 50 orang dari  luar Sumba yang telah mendaftarkan diri untuk menghadiri acara peresmian nanti,” kata pria berkacamata minus kelahiran 29 Agustus 1962 dan ditahbiskan menjadi imam, 25 Agustus 1992 ini.

Tentang khazanah budaya dan kultur Sumba secara umum, Pater Robert paham sangat baik. Matanya berbinar-binar.  Suara baritonnya yakin, bersemangat. Kata-katanya kuat bermakna. Ceritanya runut dan lancar.  Budaya Sumba dengan semua  ornamentasinya diungkapnya secara plastis sekaligus eksemplaris.   Orang jadi paham, khazanah budaya Sumba memang padat dengan simbolisme.  Simbolisme itu mewujud dari seluruh rancang bangun rumah adat  dan  motif kain tenun ikatnya. “Budaya Sumba secara umum sama. Intinya marapu. Yang berbeda cuma spesifikasi-spesifikasinya,” kata Pater Robert.

Dia sengaja menegaskan hal itu seolah memberitahu seluruh masyarakat Sumba dari ujung barat hingga ujung timur, dari pesisir utara hingga pesisir selatan dan juga pemerintah di empat kabupaten saat ini bahwa rumah budaya yang dibangunnya bukan eksklusif Sumba Barat Daya, apalagi bernuansa agama Katolik. Dia utuh untuk seluruh Sumba. Inklusif. Terbuka untuk semua orang Sumba, dari agama apa saja. “Kebetulan dia ada di Sumba Barat Daya. Tetapi ini rumah  budaya  Sumba, bukan  Sumba Barat Daya,” tegasnya.

Ditanya tentang perhatian pemerintah di seluruh daratan Sumba, Pater Robert mengakui belum semua memberi  perhatian penuh. Padahal, dia sudah menjelaskan kepada semua bupati di Sumba. Pemerintah kabupaten  yang sudah menyumbang dana baru Pemkab Sumba Barat Daya dan Sumba Barat. Pemkab Sumba Barat Daya sudah menyumbang Rp 100 juta, Sumba Barat Rp 25 juta. Sumba Tengah dan Sumba Timur belum menyumbang.

Rumah budaya ini, jelas Pater Robert, dibangun sebagai sumbangan tarekat CSsR untuk Sumba.  Sumbangan itulah yang menjadi gagasan awalnya. Selama 19 tahun bekerja sebagai pastor di Sumba, Pater Robert menemukan sesuatu dalam refleksinya sekian lama, bahkan sejak tarekat CSsR lebih dari setengah abad berkarya di Sumba, yakni bahwa sentuhan budaya, kultur masih diabaikan. “Kita memang agak mengabaikan kultur dalam pewartaan kita. Karena itu, saya pikir rumah budaya ini bisa menjadi sumbangan tarekat untuk Sumba di bidang pewartaan. Bagi saya, kultur itu adalah syair indah dari Tuhan. Saya ingin menyanyikan syair itu dan berharap semua orang juga bisa menyanyikannya,” urainya.

Bagi Pater Robert, syair kultur itu mengatasi  agama, melintasi suku dan bangsa, menerobos etnis, bahkan mendobrak sekat ego pribadi. Itu sebabnya, dia mati-matian dan bekerja penuh semangat mewujudkan mimpinya membangun rumah  budaya itu. Dia ingin agar di rumah budaya itu, orang tidak cuma berdiri di pinggir dan mulai mengagumi budaya Sumba. Lebih jauh dari itu, dia ingin agar semua orang masuk ke rumah ini dan kemudian mengenal, mencintai dan terutama  memahami kultur Sumba. “Kalau sudah paham  kultur, segala soal akan jadi mudah diselesaikan,” katanya yakin.

Dalam keyakinannya, kata Pater Robert, kultur itu sebuah faktisitas yang lokal. Karena itu dia harus dihargai. Tidak bisa orang bilang kultur itu buruk, tidak baik dan karena itu tidak perlu dihargai.  Lokalitas Sumba itulah yang mendorongnya untuk terus berteriak dan berkampanye tentang Sumba. Teriakannya tidak mesti dari mimbar atau  altar gereja saja. Melalui usaha dan upayanya, Pater Robert sebetulnya juga ingin melihat pewartaan dari sisi lain, sisi kultur itu. Dia ingin keluar dari rumah  kencananya karena tak betah hidup tenang intra muros di antara tembok-tembok biara dan bahkan agamanya. Dia mau tampil sebagai seorang pengembara kelana, yang bisa berkelana ke mana-mana, berjumpa dengan budaya apa saja dan di mana pun. “Saya sudah keliling Indonesia. Irian, Nias, Kalimantan, Flores, Solor,” katanya.

Dalam pengembaraan itulah, dia mendokumentasikan khazanah budaya melalui jepretan tangannya menghasilkan foto-foto dengan sudut pandang  sangat kuat dan mampu mengalirkan kisah panjang dari lembaran foto itu. Di Tambolaka dan sekitarnya, foto-foto hasil karyanya terpampang di banyak rumah dan kantor.  Kartu pos dengan latar belakang budaya Sumba menyebar ke seluruh pelosok, bahkan menembus hingga ke benua tua, Eropa. Semua usaha ini, sekali lagi, untuk memperkenalkan Sumba ke seluruh dunia.

Atas perhatian, kepedulian, bakti dan pengorbanannya, orang Sumba mesti menyebut Pater Robert sebagai dokumentator budaya Sumba. Pater Robert  tidak ingin suatu hari kelak orang Sumba mesti terbang ke luar negeri hanya untuk mencari dan mempelajari budaya Sumba. “Saya ingin agar orang Sumba itu bangga dengan budayanya,” tegasnya.

Bangga dengan budaya sendiri, sebagaimana yang disuarakan Pater Robert, dalam arti tertentu adalah tahu sejarah. Sejarah adalah sebuah alamat, ke mana orang tahu jalan kembali setelah berkelana ke mana-mana. Orang yang tak kenal sejarahnya, tak kenal sumber identitasnya, akan lupa diri. Dan seorang yang mengabaikan tempat tumbuh dan berkembang, yaitu sejarahnya, tak tahu ilmu bumi  hidupnya dan mudah lupa daratan.  Tetapi sejarah itu juga tidak hanya diterima sebagai   kata benda, sebagai  Gabe (terberi) saja, tetapi juga Aufgabe (tugas yang diperankan).

Melalui usahanya membangun rumah adat itu, Pater Robert pada galibnya mengingatkan semua orang bahwa hidup tak akan ada nilainya tanpa tradisi. Suatu tradisi harus ada karena kesadaran dan kehidupan manusia tak bisa berangkat dari titik nol. Tradisi menjadi kesadaran kolektif, yaitu kesadaran manusia tentang dirinya.

Pusat dokumentasi Sumba itu, kalau boleh menyebut predikat lain untuk rumah  budaya itu, akan diresmikan 24 Oktober mendatang.   Rumah budaya itu telah menghabiskan banyak dana dari sumbangan para pihak yang peduli dan menaruh perhatian.  Tetapi sesungguhnya rumah  budaya itu dibangun tidak terutama dengan uang, tetapi dengan kekuatan fisik, kekuatan intelektual, dan juga kekuatan jiwa yang dimiliki seorang  pengembara kelana yang terus dan terus  mendulang kekayaan kultur bumi Sumba, merenda nilai-nilainya,  menenun khazanah budayanya  menjadi suatu kekuatan kultural  untuk masyarakat  Sumba hari ini dan kelak.

Sumber : Pos Kupang

Pantai megalitikum di ujung barat Sumba

Sumba barat daya menunjukkan keindahannya melalui Kampung Ratenggaro. Kampung ini istimewa karena terletak pada sebuah tebing di tepi pantai Ratewoyo. Posisinya menghadap ke lautan lepas dengan ombak yang besar memecah karang. Lurus ke depan, tak ada lagi daratan hingga tiba di Afrika.
Kampung ini semula terletak di tanjung yang letaknya tepat di tepi pantai. Namun abrasi dan pasang laut menyebabkan air masuk ke rumah, sehingga penduduk memutuskan untuk memindahkan  kampung ke tebing yang lebih tinggi.

Pada bekas kampung di tepi pantai masih tersisa kumpulan kubur batu megalitikum. Bentuknya berbeda dengan kubur batu lempengan bertiang seperti di kota Waikabubak. Kubur batu yang ada di sini terbuat dari batu utuh dengan tinggi lebih dari dua meter dan dihiasi tulisan serta gambar kuno.

Duduk di samping kubur batu kuno menyaksikan pantai cantik dengan ombak berdebur, saya mengerti kenapa Sumba begitu dipuja akan kekayaan budaya dan kecantikan alamnya. Pantai berpasir putih lembut diapit karang dan tebing tinggi mengingatkan saya pada Tanah Lot di Bali. Tentu saja, pantai ini jauh lebih indah dan sangat sepi. Sayangnya saya datang saat mendung sehingga tak bisa menyaksikan senja.

Di pantai itu saya bertemu dengan bapak tua bernama Thomas yang memainkan alat musik tradisional yang terbuat dari kayu. Petikan dawainya menambah suasana magis yang rasa rasakan di tempat itu. Kelelahan akibat perjalanan dengan motor selama dua jam langsung hilang.

Kampung tersebut terletak di daerah Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya. Kodi ada di ujung barat pulau Sumba. Tempat ini berjarak sekitar 80 kilometer dari kota tempat saya menginap, Waikabubak. Dilihat di peta jalan ini agak memutar, tapi inilah jalan yang kondisinya paling baik.

Kali ini saya diantar oleh pemandu bernama Timoteus Pingge, penduduk asli Sumba. Meskipun dia bilang jalan yang kami lewati kondisinya paling baik, tetap saja kami harus melewati kubangan dan jalan berlubang. Sepanjang perjalanan kami bertemu rombongan anak-anak sekolah yang tersenyum ramah dan menyapa setiap pengendara yang berpapasan dengan mereka. “Siang ibu, siang bapa,” kata mereka. Awan mendung menggantung sehingga beberapa kali kami harus berteduh dari hujan.

Sawah, rumah di tepi jalan dengan kubur batu di halaman, jurang dan hutan menjadi suguhan yang menakjubkan untuk mata sepanjang perjalanan. Sebelum berangkat, kami membeli oleh-oleh penduduk desa. Rokok untuk bapak-bapak, sirih pinang untuk para ibu dan permen untuk anak-anak.

Tinggal di daerah yang begitu cantik tak banyak berpengaruh terhadap kesejahteraan warga kampung. Hanya segelitir dari mereka yang mencari penghidupan dari laut. Apalagi, kampung ini hanya terdiri atas lima rumah adat. Kebakaran yang terjadi empat tahun lalu membakar nyaris seluruh rumah di kampung. Dari 13 rumah, hanya satu yang selamat.

Kampung adat Sumba memang punya risiko kebakaran yang tinggi. Atap rumah yang terbuat dari ilalang mudah terbakar pada musim kemarau. Api menjalar terbawa angin, sehingga kebakaran biasanya memusnahkan seluruh rumah di kawasan.

Membangun ulang rumah adat tidak murah. Warga kampung bercerita bahwa sebuah rumah membutuhkan empat tiang utama agar tetap tegak berdiri. "Satu kayu harganya sama dengan seekor kerbau besar," kata para penghuni kampung. Itu baru biaya untuk tiang utama, belum menghitung biaya untuk membangun dinding, lantai dan atap. Selain biaya yang mahal, bahan-bahan yang semula mudah didapat dari hutan kini semakin sulit dicari.

Selanjutnya saya mengunjungi Kampung Paronabaroro. Kondisi kampung di daerah ini berbeda dengan kampung yang saya jelajahi di kota Waikabubak sebelumnya. Letaknya yang terpencil membuat kampung ini masih sangat sederhana.  Kepercayaan Marapu masih dipegang erat oleh para penghuninya.

Perempuan tua mengenakan kain tanpa penutup dada. Pria dan wanita mengunyah sirih pinang yang membuat ludah mereka berwarna merah kesumba. Kebiasaan ini dimulai sejak umur belasan dan membuat bibir nampak merah seakan memakai gincu. Kuda tertambat di samping rumah sebagai lambang status sosial keluarga.

Jalan masuk menuju kampung ini berupa jalan setapak sepanjang kira-kira 4 kilometer. Pada bagian depan kampung terdapat tanah lapang penuh kubur batu yang lebih baru. Sebagian sudah dimodifikasi dengan menggunakan semen, bukan lagi batu utuh.

Kubur batu dengan usia lebih tua terletak di bagian tengah kampung. Kompleks kubur batu mengelilingi sebuah altar tempat pelaksanan upacara adat. Tak sembarang orang boleh menginjakkan kaki ke tempat yang dianggap keramat itu.

Listrik baru saja masuk di kawasan ini pada akhir bulan Januari. Sumber listrik berasal dari genset yang bahan bakarnya diisi dengan cara patungan dengan beberapa kampung di sekitar. Untuk menghemat biaya, mereka hanya menggunakannya pada malam hari.


Sumber  : http://lubang-kecil.blogspot.com/2011/02/pantai-megalitikum-di-ujung-barat-sumba.html


Senin, 25 Juli 2011

Mahasiswa Prancis Kembali Bangun Bak Penampungan Air Di SBD

12 Mahasiswa/i Prancis saat weekend di pantai Mananga Aba


Setelah 2010 tahun lalu 14 mahasiswa asal prancis datang dan membangun bak penampungan air di desa waimangura dan kabala dana, tahun 2011 ini kembali perkumpulan mahasiswa yang tergabung dalam Solidari'Terre di Lyon, Prancis mengirimkan 12 mahasiswa untuk membangun bak air.

12 Mahasiswa prancis tersebut kali ini membangun bak penampungan air di beberapa desa di Bina Tana, Wewewa. Sejak awal juli mereka sudah mulai membangun bak penampungan air bahkan mereka terkadang memilih tidur di kampong tempat membangin bak air agar lebih dekat dengan warga desa.
Mahasiswa Prancis sedang membuat campuran untuk Bak Penampungan Air


Eloïse Raillard ketua group ini mengatakan, tahun ini mereka kembali ke Sumba Barat Daya karena ebrdasarkan evaluasi tim yang pertama tahun lalu,air masih menjadi masalah bagi warga di kabupaten ini.
12 mahasiswa tersebut adalah, Eloïse Raillard, Baptiste Le Fur, Paul Mondollot, Stanislas Genty, Isabelle Lavie, Guyonneau, Jeremy Vion, Edouard Toulemonde, Mathilde Brunco, Constance Macret, Laurence Hileret, Philippine Poussot

Ditanya soal dana utuk membangun bak penampungan air ini, Eloïse menjelaskan bahwa mereka melakukan dengan mencari dana di berbagai tempat termasuk di Mall, selain itu mereka juga mengirimkan proposal ke beberapa perusahaan dan menjelaskan tentang rencana kerja mereka.

Di Sumba Barat Daya, mereka di fasilitasi oleh Yayasan Harapan Sumba. Lewat Staff nya Niko Wathu,  Moripanet Online memperoleh iniformasi bahwa kedatangan mahasiswa prancis ini sebagai kerja sosial mereka yang merupakan bagian dari tugas mereka sebagai mahasiswa di Prancis.

Niko menjelaskan, Mahasiswa Prancis ini berada di Sumba selama satu bulan dan akhir bulan juli mereka akan kembali ke prancis. Selama berada di sumba mereka ikut berkerja membangun bak penampungan air.
Niko berharap, Tahun depan mereka dapat mengimkan mahasiswa lainnya untuk membantu warga di Sumba Barat Daya. (snd)
Berfoto bersama warga desa di depan salah  satu bak penampungan air yang telah rampung

SBD pukul KO Sumba Timur

Stadion Galatama,  Tambolaka, Sumba Barat Daya (SBD) dua malam ini ramai dengan penonton. Hal tersebut karena SBD menjadi tuan rumah Kejurda Tinju Amatir se-NTT.

Kejurda tinju  yang dibuka Wakil Bupati SBD, Jacob Malo Bulu ini digelar oleh Pertina NTT dan diikuti 114 petinju dari 11 kabupaten. Kabupaten yang ikut ambil bagian yaitu seluruh kabupaten di daratan Timor, Sabu, Alor dan seluruh kabupaten di daratan Sumba. Sayangnya Kabupaten di daratan Flores tidak satu pun mengirimkan wakilnya.

pantauan Moripanet Online malam Pada Sabtu (23/7/2011) malam, dari sembilan partai babak penyisihan, lima petinju dipukul KO dan satu menang RSC. Sangat terlihat teknik bertinju para petinju pemula  hanya ngotot pada ronde pertama dari tiga ronde pertandingan. Pada ronde kedua dan ketiga, banyak dari antara mereka sudah ngos-ngosan karena kehabisan stamina.

Petinju tuan rumah, SBD, Philipus Lede Malo dan Lukas Lede Pote, melaju ke babak selanjutnya. Philipus Lede Malo yang bermain di kelas 52 kg elite man, memukul KO Norfen Tedju dari Sumba Timur.

dari partai yang tampil, partai kelima yang mempertemukan Marten Bonbala dari Kota Kupang VS Erens Neolaka dari Kab. Kupang menjadi pertandingan yang menarik karena Berbeda dengan partai sebelumnya  yang terdiri dari petinju-petinju pemula, Bonbala dan Neolaka menyuguhkan teknik bertinju yang jauh lebih baik. Bonbala yang dilatih Hermensen Balo tampil lebih baik dan menang angka mutlak dari Neolaka.

Pertandingan hari Minggu (24/7/2011) malam, dari 13 partai yang dipertandingkan, lima petinju menang RSC dan empat menang KO.  Satu partai perempuan  yang mempertemukan Marselina M Ina dari SBD VS Debora H Lalang Puling dari Alor tidak digelar karena petinju dari Alor tidak hadir.

Partai paling seru adalah antara petinju tuan rumah Mance Lotalapu VS David Seridjalla dari  Sumba Tengah.  Mance yang kehabisan tenaga karena menforsir tenaga di dua ronde pertama kehabisan tenaga di ronde ketiga, Mance pun menjadi sasaran pukulan David. David pun dinyatakan menang RSC oleh wasit setelah Menjelang akhir pertandingan Mance jatuh. (snd)

Minggu, 24 Juli 2011

SBD dalam gambar pekan ini

Dalam Sepekan beberapa hal berhasil terekam kamera Moripanet Online.  Berikut kami hadirkan geliat pembangunan jalan negara di SBD.


Pelebaran Jalan di Pukapaka

Jalan Watu Kanggorok juga dilebarkan

Watu Kanggorok yang semakin lebar


Jalan baru di buat untuk meminimalisir tikungan di Watu Kanggorok

Jalan Waitabula - Waimangura



Jalan di Waimangura yang sedang dilebarkan



Photo by : Moripanet Online

Pertama di NTT : Terminal Tipe B Akan Dibangun di Tambolaka

Sebuah terminal  angkutan darat tipe B akan dibangun di Tambolaka, Ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Terminal seluas 20.000 meter persegi ini akan menjadi terminal Tipe B pertama di NTT.  Saat ini Pemda  SBD tengah menunggu jawaban dari Kementerian Perhubungan di Jakarta.

Bupati SBD, dr. Kornelius  Kodi Mete, membenarkan rencana pembangunan terminal itu kepada Pos Kupang di ruang kerjanya,  Kamis  (21/7/2011). Ketika memberi penjelasan, Kodi Mete didampingi Kabag Humas Pemda SBD, Drs. Lukas Gaddi, dan Sekretaris Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) SBD, John Tende, S.H.

Bupati Kodi Mete mengatakan, terminal itu merupakan terminal  angkutan antar kota dalam wilayah  propinsi (AKAP) dan antar kota antar propinsi yang menghubungkan lalu lintas angkutan antar kabupaten se-daratan Sumba dan antar  propinsi melalui penyeberangan angkutan laut Sape (NTB) - Waikelo (SBD-NTT).  Terminal ini, jelas Kodi Mete, akan dibangun di  Desa Weepangali, Kecamatan Loura.

Pemda SBD, jelas Kodi Mete, sudah mengajukan dana senilai Rp 15 miliar kepada Kementerian Perhubungan di Jakarta. “Rencana  pembangunan terminal ini sudah dibahas dalam musrenbang propinsi,” tegasnya.

Jika jadi dibangun nanti, jelas Kodi Mete, terminal ini menjadi terminal Tipe B pertama di NTT. Satu-satunya terminal Tipe A di NTT adalah terminal di perbatasan Belu (NTT) dengan Timor Leste, yang nyatanya belum dimanfaatkan secara optimal. Sedangkan terminal lain di NTT adalah Tipe C.

Terminal di Tambolaka ini merupakan Tipe B karena selain menghubungkan lalu lintas angkutan antar kota dalam wilayah propinsi,  juga menghubungkan  lalu lintas antar kota antar propinsi. Pemda SBD melihat ke depan akan terjadi lonjakan arus penumpang dari dan ke Sape (NTB) melalui Pelabuhan Feri Waikelo di SBD. Total dana yang diajukan, kata Kodi Mete, senilai Rp 15 miliar.

Kapal Cepat
Masih terkait sektor angkutan, Bupati Kodi Mete juga mengutarakan rencana pemda setempat mengoperasikan satu armada kapal cepat yang menghubungkan Waikelo dengan Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Kapal  cepat itu akan ‘menangkap’ para wisatawan yang kembali ke Bali atau Jakarta tetapi tidak bisa melalui Labuan Bajo karena kapasitas armada penerbangan yang terbatas.  Dengan kapal cepat  itu, jarak Waikelo-Labuan Bajo bisa ditempuh dalam waktu dua jam.

“Pelabuhan udara di Labuan Bajo sudah sulit dikembangkan untuk pesawat-pesawat besar. Kita bisa alihkan para penumpang yang tidak bisa terbang melalui Labuan Bajo untuk terbang melalui Bandara Tambolaka. Karena bandara di sini bisa  didarati pesawat berbadan lebar seperti boeing,” kata mantan Wakil Bupati  Sumba Barat ini.

Sumber : Pos Kupang
Penulis : TONNY KLEDEN

Sabtu, 23 Juli 2011

Angkot, Peluang yang Terabaikan

MESKI derap pembangunan terlihat  cepat dan pesat dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten  pemekaran lain di NTT, Kota Tambolaka, Ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya, sejauh ini belum memiliki moda transportasi dalam kota (Angkot).

Sejak resmi berpisah dari kabupaten induk, Sumba Barat, 22 Mei 2007 lalu, Tambolaka mengandalkan ojek sebagai  andalan transportasi dalam kota. Ojek juga masih bebas‘beroperasi tanpa ada pangkalan-pangkalan dengan kawasan operasi  yang ditentukan.

Menurut Sekretaris Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten SBD, John Tende, S.H, di Tambolaka, Kamis (21/7/2011),  moda angkutan  darat di SBD berupa bemo dan minibus hanya menghubungkan Tambolaka dengan daerah-daerah di luar kota seperti Tambolaka-Kodi dan  Tambolaka-Waikabubak, Ibukota Kabupaten Sumba Barat.  “Ada sekitar  50-an unit bemo dan minibus,” kata Tende.

Transportasi dalam kota di Tambolaka, sebagaimana disaksikan, memang hanya ojek. Bemo dan minibus yang  ada beroperasi ke luar kota.  Di mana-mana ojek berseliweran. Tarifnya jauh dekat Rp 2.000.  Kondisi seperti ini  menyulitkan  para pendatang dan atau tamu dari luar yang ingin berkelana di Tambolaka dan mau menyaksikan tempat-tempat bersejarah atau  obyek-obyek wisata.

Tentang moda transportasi dalam kota, mantan wartawan Pos Kupang ini mengatakan, “Ini peluang bisnis yang belum dilirik  para pengusaha. Kita harapkan agar ada pengusaha yang berinvestasi di bidang angkutan kota,” katanya.
Menyangkut pengaturan ojek, Tende mengatakan, saat ini Dishubkominfo setempat sedang melakukan sosialisasi untuk menata para tukang ojek agar menjadi lebih teratur, tertib dengan area operasi yang terfokus.

Tende juga mengatakan, Dishubkominfo setempat juga berkoordinasi dengan lantas Polsek  Loura untuk memberikan penyuluhan dan pembekalan kepada para pengojek menyangkut tertib berlalu lintas. “Karena banyak yang belum punya SIM, kita akan bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk memberikan penyuluhan mengenai etika berlalu lintas,  dan    memberikan mereka SIM,” kata Tende.

Sumber : Pos Kupang
Penulis : TONNY KLEDEN

Jumat, 22 Juli 2011

Bunda Maria Perkokoh Iman Umat

Kehadiran patung Bunda Maria  harus bisa memperkokoh  iman umat Katolik. Karena itu kehadiran patung dan gua Bunda Maria di Stasi Weepaneru, Paroki Kererobo, Sumba Barat Daya, harus menguatkan iman umat.

Sentilan itu dikemukakan Uskup Keuskupan Weetabula, Mgr. Dr. Edmun Woga, CSsR,  dalam kotbahnya pada perayaan ekaristi pemberkatan patung  dan gua  Maria di  Stasi Weepaneru, Paroki Kererobo, Sumba Barat Daya (SBD), Sabtu (16/7/2011).

“Mestinya umat di Weepaneru ini berterima kasih karena dengan patung  Bunda Maria ini, jalan ke sini dibuka dan bahkan telah ada pengerasan. Kehadiran patung Bunda Maria harus bisa mengeraskan  iman umat di sini,” kata Uskup Edmun membuat paralelisme.
Pemberkatan patung dan gua alam itu dihadiri ribuan umat dari stasi setempat dan umat dari paroki pusat dan sekitarnya. 
Umat dari lingkungan-lingkungan ikut berpartisipasi menyukseskan acara ini. Umat dari jauh bahkan sudah bermalam sehari sebelumnya. B upati SBD, dr. Kornelius Kodi Mete, Sekda SBD, Drs. Anton Umbu Sasa, dan sejumlah pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) SBD juga hadir dalam  ritual rohani itu.

Sebagaimana  disaksikan Pos Kupang, ruas jalan baru dibuka sepanjang kurang lebih 750 meter menuju patung dan gua Bunda Maria. Meski baru merupakan pengerasan, sarana jalan itu, kata Uskup Edmun, sangat membantu warga setempat.
“Sekarang tidak perlu lagi pikul hasil kebun jauh-jauh. Kendaraan akan masuk. Berbahagialah dan berterima kasihlah kepada Bunda Maria karena jalan sudah masuk ke sini,” kata Uskup Edmon.

Uniknya, gua Maria itu tidak berada di atas tanah pada ketinggian, seperti kebanyakan gua  Maria. Gua ini merupakan gua alam dan berada di bawah permukaan tanah, sekitar lima meter. Karena itu disebut katakombe.

Sumber : Pos Kupang
Penulis : TONNY KLEDEN

Rabu, 20 Juli 2011

80 Persen Warga Tambolaka Beli Air Tangki

 Air bersih masih menjadi masalah serius bagi warga di Tambolaka, Ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Diperkirakan sekitar 70-80 persen warga Tambolaka membeli air dari tangki. Harganya pun mencekik, mencapai Rp 80 ribu/tangki.

“Air masih menjadi masalah serius bagi warga di sini. Sumba Barat Daya memang semakin maju, tetapi air masih sangat susah,” kata Markus Tamo Ama, Manajer Hotel Sinar Tambolaka, kepada Pos Kupang di Tambolaka, Jumat (15/7/2011). Kesulitan akan air bersih juga dikemukakan sejumlah warga Tambolaka ketika ditemui di Pasar Inpres Tambolaka, Sabtu (16/7/2011).

Markus mengatakan,  seharusnya air bersih merupakan prioritas pembangunan. “Boleh bangun yang  lain seperti  jalan raya, jembatan, gedung, tetapi air itu vital bagi masyarakat. Kalau listrik tidak ada, warga masih bisa cari alternatif lain, tetapi kalau air tidak ada, itu sangat susah bagi warga,” tutur Markus.

Karena  susah, kata Markus, harga air bersih pun meroket.  Satu tangki ukuran lima ribu liter dijual  Rp 80 ribu.  Warga yang tidak mempunyai bak penampung di rumah, kata Markus, lebih menderita lagi. Karena mereka mesti membeli air dengan ukuran drum.  “Drum minyak tanah, satu drum lima ribu rupiah,  drum aspal, satu drum empat ribu rupiah,” kata Markus.

Pemilik Hotel Sinar Tambolaka, kata Markus, menangkap  peluang bisnis itu dengan terlibat bisnis air bersih menggunakan teknologi sumur bor.  “Bayangkan, satu hari bisa 40 tangki keluar. Ke mana saja air itu? Pasti kebutuhan warga sangat  tinggi,” kata Markus. Di Tambolaka, kata Markus, ada dua sumur bor yang menyiapkan air bersih untuk dijual kepada warga.

Markus mengatakan, warga yang tidak memiliki drum paling  menderita. Soalnya, mereka harus membeli dengan takaran jerigen. Satu  jerigen lima liter dijual seribu rupiah. Sebagaimana disaksikan Pos Kupang di jalan umum di Tambolaka, telah menjadi pemandangan biasa kalau anak-anak kecil usia sekolah menenteng jerigen ukuran lima liter. “Mereka itu cari air, bukan cari minyak tanah,” kata John Lado, seorang tukang ojek.

PDAM Belum Ada

Kesulitan air bersih itu juga dibenarkan Kabag Humas SBD, Lukas  Gaddi. “Memang air bersih masih menjadi masalah di SBD, tetapi hanya di beberapa tempat saja,” kata Gaddi di ruang kerjanya, Jumat (15/7/2011).

Menurut Gaddi, sejauh ini Pemda SBD belum membentuk instansi pengelola air bersih semisal Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) seperti di kabupaten lain. Rancangan peraturan daerahnya, kata Gaddi, telah ada. “Mungkin bulan Oktober nanti dibahas,” tambahnya.

Gaddi menyebut, mata air di sekitar Tambolaka yang bisa dimanfaatkan yakni Mata Air Weemasa di Kecamatan Wewewa Barat. “Saat ini CV  Sonofa Mandiri sedang kerja pasang jaringan perpipaan. Bulan Oktober diperkirakan sudah bisa didistribusikan kepada warga,” kata Gaddi.

Meski belum ada PDAM, kata Gaddi, Pro Air, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM),  mencoba mengatasi masalah air bersih.  Menurut keterangan yang diperoleh, Pro  Air hanya menangani masalah air di desa-desa, bukan di Tambolaka.

Sumber air paling dekat untuk warga Tambolaka, kata Gaddi, adalah Sumber Air Puutimu di Desa Watulambara, Kecamatan Wewewa Barat. Saat ini juga sedang dibangun jaringan perpipaan memanfaatkan air dari sumber ini.

Sumber : Pos Kupang
Penulis : TONNY KLEDEN

Selasa, 19 Juli 2011

Tentara, Polisi dan Umat Gotong Royong di Masjid

Personel TNI, polisi, brimob dan umat terlibat dalam kerja bakti di Masjid Al Fala, Tambolaka, Sumba Barat Daya, Minggu (17/7/2011) pagi
Kebersamaan dan solidaritas antarumat beragama di Tambolaka diperlihatkan melalui aksi gotong-royong dan kerja bakti di Masjid Agung Al Falah, Tambolaka, Minggu (17/7/2011) pagi. Kerja bakti ini melibatkan personil  TNI dari Koramil 1613/02 Laratama, Sumba Barat Daya, Polsek  Loura, Brimob Kompi D Sumba Barat Daya dan  umat setempat.

Danramil  1613/02 Laratama, Kapten (Inf) Suyono, Kapolsek  Loura, AKP Teguh, Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al Falah,  Hasan Saleh Ambar, dan Koordinator  Pembangunan, Haji Bandi Wibowo, terlibat langsung dalam kerja bakti itu.

Sebagaimana disaksikan Pos Kupang, kemarin, para personel polisi, tentara,  brimob dan warga umat semangat bekerja menguruk tanah di depan dan belakang masjid. Di halaman depan masjid, tanah diratakan, sedangkan di belakang masjid tanah ditimbun di lokasi pembangunan yang direncanakan sebagai tempat mengaji dan pertemuan.

“Kita sama-sama kerja bakti. Nanti setiap hari Minggu akan ada kerja bakti. Sudah dua minggu ini kita jalani,” kata Kapten Suyono dibenarkan Hasan Saleh dan Haji Bandi Wibowo.
Hasan Saleh dan Haji Bandi mengatakan, perluasan masjid itu merupakan swadaya umat dan juga sumbangan para donatur.  “Selalu saja ada  yang menyumbang untuk pembangunan,” kata Haji Bandi.

Hasan Saleh mengatakan, kerja bakti itu tidak cuma melibatkan  umat Islam. Umat beragama Katolik dan Protestan juga terlibat aktif. “Di Koramil yang beragama Islam hanya dua orang, termasuk saya,” kata Kapten Suyono.
Personel TNI di Koramil ada 14  orang, sedangkan personil polisi di Polsek Loura 28 orang.

Menurut Hasan Saleh, luas Masjid Al Fala itu agak sulit diperluas lagi. Mengantisipasi bertambahnya umat dan kemajuan kota ke depan, pihak panitia sedang memikirkan rencana pembangunan masjid raya di tempat lain dengan halaman yang lebih luas lagi. Dari pengamatan Pos Kupang, lokasi masjid ini terkepung di tengah rumah penduduk. Perluasan bangunan sudah tidak memungkinkan lagi.

Sumber : Pos Kupang
Penulis : TONNY KLEDEN

Senin, 18 Juli 2011

Tekan Perampokan dan Pencurian : Perampok Jadi Satpol PP

"Banyak perampok dan pencuri didekati untuk diajak meninggalkan kebiasaan buruk itu." -- Pater Mikael Keraf --

Program Desa Aman dari Bupati Sumba Barat Daya (SBD), dr. Kornelius Kodi Mete untuk menekan perampokan dan pencurian di SBD sebenarnya sudah baik. Salah satu langkahnya adalah merekrut para komandan perampok dan atau pencuri untuk menjadi anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

“Sebenarnya sudah sangat signifikan dan bermanfaat program bupati itu,” kata Direktur Yayasan Donders Waitabula, SBD, Pater Mikael Keraf, CssR kepada Pos Kupang di Tambolaka, Jumat (15/7/2011).

Yayasan Donders merupakan yayasan di bawah asuhan Tarekat CSsR (Congretio Sanctissimi Redemptoris). Yayasan ini bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat desa dengan program antara lain penyadaran para perampok dan pencuri.

Pater Keraf mengatakan hal itu ketika dimintai penilaiannya tentang kasus-kasus perampokan ternak di SBD. Aksi perampokan kerap menelan korban jiwa seperti yang terjadi di Kampung Wanokaka. Kecamatan Wewewa Timur, SBD, Kamis (14/7/2011). Dalam aksi perampokan itu, nyawa Philipus Pote Panda, pemilik ternak yang dicuri, tewas tertembus tombak para perampok.

Pater Mikael menilai, Program Desa Aman sebagai salah satu dari empat isu strategis Pemkab SBD sudah baik dan sangat strategis menekan aksi perampokan ternak dan pencurian yang kerap disertai tindak kekerasan. Banyak perampok dan pencuri didekati untuk diajak meninggalkan kebiasaan buruk itu. “Salah satunya adalah merekrut para komandan perampok dan pencuri itu menjadi Satpol PP,” kata Keraf.

Bupati Kodi Mete yang dihubungi melalui handphonenya, Jumat petang, mengakui baru mengetahui aksi perampokan berdarah itu dari wartawan Pos Kupang.
“Saya baru turun dari pesawat. Baru dengar nih,” ujarnya.
Kodi Mete mengatakan, Program Desa Aman ada dampaknya. “Tetapi kalau menghapus sama sekali perampok dan pencuri di Sumba, saya kira tidak bisalah. Butuh waktu sangat lama,” katanya.

Saat mencanangkan Program Desa Aman, pihaknya bersama aparat pemerintah sampai di tingkat paling bawah terus melakukan pendekatan dan mencari jalan untuk menekan aksi perampokan ternak itu. “Aparat desa itu selalu kita kumpulkan, kita bahas dan diskusikan apa penyebabnya dan bagaimana menyelesaikannya. Prinsipnya kita terus berupaya menyadarkan masyarakat agar tidak lagi terlibat dalam aksi perampokan dan pencurian,” paparnya.

Pengakuan Diri

Ditanyai pengalaman dan pengamatannya tentang motif para perampok, Pater Mikael Keraf mengatakan ada beragam motif. Dia menyebut pengakuan diri sebagai motif paling utama. “Merampok dan mencuri itu masih menjadi salah bentuk pengakuan diri. Siapa mencuri lebih banyak dan bisa masuk ke kampung yg dijaga ketat, dia dianggap jagoan dan bisa menjadi komandan,” kata rohaniwan Katolik asal Lamalera, Lembata ini.

Dari pengalamannya menyadarkan para perampok, Pater keraf mengetahui baik kalau para perampok itu sangat terlatih dan piawai. “Para komandannya itu sangat ahli dalam strategi. Kemampuan mereka mengorganisir para anggotanya juga luar biasa. Mereka itu punya peta jalan dan tahu gua-gua. Mereka tahu kalau curi di kampung ini mesti jalan ikut mana,” tuturnya.

Motif kedua, sebutnya, adalah mencoba ilmu gaib (black magic). Pater Keraf menyebut satu wilayah di SBD yang sangat terkenal dengann ilmu gaibnya. Para perampok itu membutuhkan ‘arena’ untuk menguji ilmunya. “Kalau sudah kebal, luka tombak atau tembak, langsung sembuh hanya dibasuh dengan air,” katanya.
Motif ketiga, desakan ekonomi. Para perampok dan pencuri umumnya miskin, tidak ada yang kaya. Sudah begitu, katanya, anak mereka juga banyak, bisa sampai sembilan orang.

“Tentu mereka harus makan. Kalau tidak ada makanan di rumah, ya, terpaksa curi. Para istri itu tahu bahwa barang-barang curian itu ‘panas’. Pelihara pasti terkena penyakit, tanam susah tumbuh. Tetapi karena tidak ada bahan makanan, ya, terpaksa terima saja barang-barang ‘panas’ itu,” katanya.

Motif keempat, aksi perampokan dan pencurian itu ditunjang oleh adanya penadah. “Jadi ada unsur bisnisnya. Hewan-hewan curian itu kemudian dijual kepada penadah, baik di Sumba maupun di luar Sumba,” katanya.

Sumber : Pos Kupang
Penulis : TONY KLEDEN

Jumat, 15 Juli 2011

DAPATKAH MATA AIR WEEMASA NAIK?

Bupati SBD survei air Weemasa di Desa Marokota
Letak geogarfis  Desa Marokota dan desa-desa lainya seperti Desa Menne Ate, Desa Reda Pada, di Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, yang berada di puncak bukit membuat daerah ini sungguh mengalami kesulitan sumber air bersih. Khusus untuk Desa Marokota hal yang sangat wajar para nenek moyang waktu itu memberikan nama”Marokota” yang menurut bahasa setempat berarti “Kering”.

Pada  musim hujan, umumnya masyarakat di desa ini mengandalkan hujan untuk pemenuhan kebutuhan air minumnya, demikian sebaliknya pada musim kemarau bagi masyarakat yang mempunyai kemampuan ekonomi yang memadai dapat membeli air tengki 5000 liter seharga Rp 200.000, sampai Rp.300.000 per tengki. Sedangkan bagi masyarakat ekonomi lemah harus menempuh perjalanan tempat yang cukup jauh untuk mendapatkan sumber mata air .Salah satu sumber air andalan dari masyarakat di desa ini adalah Mata air Weemasa yang berada di kaki bukit dan jauh  dari pemukiman penduduk. Kondisi yang  sangat memprihatinkan bagi wilayah ini menarik perhatian dari beberapa  investor dari luar yang berkecimpung dalam penyediaan air bersih, termasuk salah satunya adalah CV.Mitra Sunova Mandiri.

CV. Mitra Sunova Mandiri, sudah berulang kali melakukan kajian  teknis, kemungkinan penggunaan Teknologi Tepat Guna(Hydram Pump) untuk mengangkat sumber air ini dari kaki bukit kepuncak setinggi 154 meter.

Menurut direktyur CV.Mitra Sunova Mandiri,Anton Niron ,EMT, dalam acara presentase hasil kajiannya terhadap sumber air tersebut menunjukan hasil yang positif artinya sumber ini dapat diangkat kepuncak dengan menggunakan  Sistem Hydram Pump, kendati ketinggian sampai dengan 154 meter.

“Banyak pihak meragukan mata air Weemasa bisa diangkat kepuncak  ketinggian 154 meter dengan menggunakan sistim Hydram Pump” ungkap Niron. Tetapi dengan keyakinan yang sangat kuat dari hasil kajiannya, Niron menyatakan,siap mengganti kerugian masyarakat bila sumber air ini tidak berhasil diangkat dengan menggunakan sistem hydram pump,” janji Niron saat itu.
Tekad Niron inilah yang meyakinkan masyarakat dan aparat desa Marokota untuk berjuang  dengan kemampuan swadaya, akan mengumpulkan uang guna membiayai proyek ini dengan menerima beban biaya sebesar Rp.300.000 /kepala keluarga dari total kurang lebih  1000 kk di desa marokota.

Bupati Sumba Barat Daya, dr. Kornedlius Kodi Mete, dalam arahannya belum memberikan keterangan apakah air berhasil dialirkan atau tidak. Dan jika berhasil sumber air ini dialirkan maka saya mengucapkan apresiasi  bagi masyarakat di desa ini  dan pihak CV.Mitra Sunova Mandiri karena telah mendukung salah  satu program membangun desa dari Kabupaten Sumba Barat Daya yaitu “desa berair”. Tentu dalam situasi ini menurut dr. Kornelius, masyarakat tidak bisa berpangku tangan menerima air mengalir tetapi selalu dibangun kerjasama yang baik dengan CV.Mitra Sunova Mandiri, agar proses ini dapat berlangsung dengan baik”,tuturnya.

Kaitan  dengan dana swadaya yang dikumpulkan oleh masyarakat  untuk membiayai kegiatan ini, seorang tokoh masyarakat didesa ini, Martinus Laka Zangga, memberikan komentar bahwa “Masyarakat sangat setuju dengan adanya upaya untuk mengangkat sumber itu. Persoalan biaya yang dibebankan bagi masing-masing keluarga pasti akan menyetujuinya karena penyetorannya juga dapat dilakukan dengan cara mencicil”.ungkapnya.

Kemudian lanjut Martinus,” masyarakat sudah pandai melakukan perhitungan artinya biaya yang dikeluarkan pada satu musim panas, untuk pembelian air  minum dengan mengunakan Jasa Truk tengki air minum jauh lebih besar jika dibandingkan dengan beban Rp.300.000, yang dibebani bagi setiap KK untuk usaha mengalirkan air ini”,tuturnya

Sumber : Siaran Pers Bagian Humas setda Kabupaten Sumba Barat Daya

PENYERAHAN SPPT DAN PBB TAHUN 2011 di KECAMATAN WEWEWA BARAT

Pembayaran SPPT dan PBB sebagai faktor pendukung pembangunan dan merupakan kewajiban setiap warga masyarakat Kabupaten Sumba Barat Daya

arahan tersebut disampaikan Kadis Keuangan Drs.Cyprianus Nono pada acara penyerahan SPPT dan PBB dikecamatan Wewewa Barat yang dihadiri oleh Camat Wewewa Barat Drs.Petrus Ngongo Malo, para kepala desa, Sekretaris Desa, Kepala Dusun se Kecamatan Wewewa Barat.

Cyprianus menghimbau kepala seluruh kepala desa, sekdes, kepala dusun yang hadir untuk mampu memberikan pemahaman yang baik kepada seluruh warga Desa untuk mengerti tanggung jawabnya membayarkan pajak kepada negara sehingga dalam proses pembayaran pajak oleh masyarakat dapat berjalan sesuai rencana dan tidak mendapatkan kendala serta tunggakan dan pada akhirnya bisa mencapai target yang ditetapkan.

Total pajak bumi dan bangunan untuk kecamatan Wewewa Barat mencapai Rp. 192.729.251 dan para kepala desa diharapkan mampu menyelesaikan tanggung jawabnya dalam proses pemungutan pajak.dan atas hasil musyawarah seluruh kades se kec.wewewa barat melakukan koreksi seluruh data wajib pajak sampai tanggal 10 mei 2011 dan menyepakati tanggal 31 agustus 2011 sebagai batas akhir pemasukan pajak ke Bank NTT sebagai bank mitra pemerintah dalam mewujudkan pembangunan dikab. Sumba Barat Daya,Cypri Nono Menambahkan bantuan kendaraan Operasional Desa pada tahun ini sedang diproses terdapat 47 Unit motor untuk Kec.Wewewa Barat yang akan diserahkan kepada para Kepala Desa sehingga bisa membantu aparat desa untuk menyentuh lapisan masyarakat yang belum tersentuh.

Hal yang sama pihak Camat Wewewa Barat, Drs Petrus Ngongo Lede,dengan tegas menginstruksikan kepada seluruh Kepala Desa, Sekretaris Desa, Dusun dan Kaur serta seluruh aparatur didesa yang menangani pemungutan pajak tersebut supaya benar benar menepati janji batasan pemasukan pajak kepada daerah yang merupakan komitmen bersama dalam mensukseskan kegiatan tersebut serta meminimalisir segala tunggakan pajak dan kendala yang mungkin terjadi sehingga sehingga proses pembayaran pajak bisa berjalan dengan baik sesuai harapan yang pada akhirnya demi kesejahteraan bersama seluruh warga masyarakat kabupaten sumba barat daya khususnya masyarakat Kecamatan Wewewa Barat. 


Sumber : Siaran Pers Bagian Humas setda Kabupaten Sumba Barat Daya

PEMEKARAN WEWEWA TIMUR UNTUK MENDEKATKAN PELAYANAN PADA MASYARAKAT

Kondisi Kecamatan  Wewewa Timur,yang memiliki luas wilayah 249,55m2 atau  sepertiga dari luas Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), dengan penduduk sebesar 53,995 jiwa yang tersebar pada 20 desa, tidak efektif lagi  menjadi  satu wilayah kecamatan,karena beban seorang camat dengan kondisi wilayah  seperti ini dalam melaksankan tugas pelayanan   pemerintahan,pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan menjadi sangat berat dan sulit serta berdampak pada proses pencapaian  kesejahteraan masyarakat. karena itu, muncul pemikiran dari berbagai pihak untuk memekarkan kecamatan ini  menjadi dua wilayah administratif, yakni Kecamatan Wewewa Timur dan  Kecamatan Wewewa Tengah,sehingga dengan  demikian,rentang kedali pelayanan  dalam tugas pemerintahan,pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan lebih dekat

Hal tersebut disampaikan Asisten Administrasi Pembangunan dan Kesejahteraan Sosial, Setda Kabupaten Sumba Barat Daya, Imanuel Horo,SH. pada acara sosialisasi rencana pemekaran Kecamatan Wewewa Tengah, beberapa waktu lalu di  Aula kantor Kecamatan WewewaTimur.

Menurut Imanuel, sesuai PP Nomor 19/2008 tentang Kecamatan yakni pembentukan, penyatuan dan penghapusan kecamatan mengisyaratkan  3 (tiga) aspek penting   untuk pemekaran wilayah kecamatan yakni: pertama;Aspek Administratif,mencakupi  antara lain; dukungan dari Badan Perwakilan Desa (BPD), dan Surat Keputusan Kepala Desa, bagi wilayah desa yang bergabung,Rekomendasi  Gubernur. kedua; Aspek fisik wilayah (aspek tata ruang) tersedianya lokasi yang cukup luas, adanya sarana prasarana pemerintah, cakupan wilayah desa yang bergabung minimal 10 desa. ketiga;Aspek teknis,jumlah penduduk,rentang kendali menjangkau wilayah cakupan, aktifitas ekonomi, serta sarana dan prasarana pemerintah listrik dan air minum,dll.

Ketiga aspek ini, lanjut Imanuel secara kasat mata hampir sudah dipenuhi oleh wilayah kecamatan yang rencana akan dimekarkan. Dan aspek yang paling penting adalah”hati”,apakah kita bersedia atau tidak untuk menerima pemekaran tersebut? tegas Imanuel.

Diakui oleh camat Wewewa Timur, M.Christian Taka, dalam acara itu. bahwa ide rencana pemekaran Kecamatan ini sudah ada sebelum pemekaran Kabupaten Sumba Barat Daya menjadi daerah otonom sendiri, bahkan panitianya sudah terbentuk dan bekerja sampai pada penentuan wilayah desa cakupan serta penentuan lokasi calon  ibu kota kecamatan yang baru, namun hal ini terkendala karena adanya kebijakan pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk penanguhan sementara pemekaran wilayah kecamatan, desa karena lebih terkonsentrasi pada pemekaran Kabupaten Sumba Barat waktu itu.
Taka mengakui, selaku Camat cukup menemui banyak kendala dalam pelaksanaan tugas, sehubungan dengan luas wilayah kecamatan  yang terdiri dari 20 desa. Dan jika niat untuk pemekaran ini  terwujud, maka kerja seorang camat akan lebih ringan serta rentang kendali pelaksanaan tugas pemerintahan, pembangunan serta pelayanan kemasyarakatan pasti lebih dekat,yang berdampak pada kesejahteraan”, tuturnya.

Disisi lain menurut Taka, berdasarkan aturan yang baru yakni PP nomor 19/2008, tentang pemekaran kecamatan mengisyaratkan 10 wilayah desa cakupan, kaitan dengan hal tersebut diatas maka ke-sepuluh desa yang bergabung agar membangun komitmen bersama, untuk menelorkan sebuah keputusan yang terbaik, karena pada prinsipnya pemekaran bukan pemisahan tetapi pembagian berdasarkan wilayah adminstatif untuk mendekatkan rentang kendali pelayanan”,tegas Taka.

    Dalam acara tersebut yang dihadiri oleh  17 orang  kepala desa serta  ketua Badan Per wakilan Desa (BPD) pada masing-masing desa, pada babak dialogis cukup memberikan tangapan yang sangat positif terhadap rencana tersebut dan merekomendasikan  kepada tim kabupaten  untuk tetap melakukan kajian-kajian teknis dan akademik untuk mewujudkan sebuah hasil yang baik.
Sumber : Siaran Pers Bagian Humas setda Kabupaten Sumba Barat Daya

Minggu, 10 Juli 2011

Stuba dan Rencana Pengembangan Tebu di SBD

STUDI banding (stuba) yang dilakukan 75 warga Kecamatan Kodi Utara, Kodi dan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama pendamping dari unsur pemerintah, ke lokasi perkebunan tebu serta pabrik gula milik PT Gunung Madu Plantations, di Desa Gunung Batin, Kabupaten Lampung Tengah, Propinsi Lampung, diharapkan membawa nilai tambah bagi upaya memacu peningkatan perekonomian masyarakat dan daerah setempat.
Awasan ini perlu dikemukakan di sini mengingat “demam” studi banding seakan sudah menjadi trend namun “pelajaran” yang diperoleh di tempat studi banding tidak pernah dipraktekkan untuk kemajuan daerah.

Studi banding oleh tim dari SBD itu dilaksanakan pada hari Kamis-Sabtu 16-18 Juni 2011,  dipimpin Wakil Bupati SBD, Jack Malo Bulu. Turut serta dalam rombongan, sejumlah elemen  masyarakat, di antaranya 46 orang kepala desa di wilayah Kodi, para camat dan sekretaris camat, juga tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda dan tim pendamping, termasuk unsur pers.

Kehadiran berbagai elemen dari Kabupaten SBD ini  diharapkan bisa  meniru apa yang mereka lihat di perkebunan tebu maupun pabrik gula.
Kabar yang kita peroleh dari sana adalah bahwa PT Anugerah Rezeki Nusantara  (ARN) membutuhkan lahan seluas 25.000 hektar, atau minimal 20.000 ha untuk menjadi lahan inti milik perusahaan guna pengembangan tebu di SBD.

Jika  pemerintah dan masyarakat SBD menyediakan lahan seluas yang dibutuhkan itu, maka ARN langsung mengembangkan tebu dan mendirikan pabrik gula.
Pertanyaannya adalah apakah lahan seluas itu mampu disediakan masyarakat dan pemerintah SBD? Inilah yang harus dikaji dan dimatangkan pemerintah SBD sebelum “mempersilahkan” perusahaan tersebut melakukan investasi skala besar di tanah SBD.

Investasi, sesuai pengalaman selama ini, begitu didambakan, bahkan “didewakan” sehingga kepentingan masyarakat luas dinomorduakan. Akibatnya pelaksanaan investasi tidak semulus yang diharapkan tetapi menuai kendala. Tidak sedikit investor yang hengkang dari daerah karena terjadi pro dan kontra di daerah terkait investasi yang membutuhkan lahan yang luas.

Pengalaman di beberapa daerah, investasi awalnya berjalan mulus, namun di tengah jalan menjadi tersendat-senda dan menuai masalah. Masyarakat memrotes lahannya yang “dicaplok”, menuntut ganti rugi, sampai menagih janji-janji yang belum ditepati investor maupun pemerintah daerah.

Pengalaman-pengalaman seperti ini hendaknya menjadi pelajaran bagi masyarakat dan pemerintah SBD untuk menimbang, mengkaji sebelum memutuskan penyediaan lahan sedemikian luas untuk pengembangan tebu dan pabrik gula.
Sebagai kabupaten yang masih baru, SBD tentu harus menata wilayahnya melalui tata ruang wilayah sesuai peruntukannya.

Misalnya, lahan untuk perkebunan, lahan untuk peternakan, pertanian, kehutanan, wilayah tangkapan air dan lain-lain kebutuhan, termasuk lahan untuk “cadangan” bagi pemukiman warga di saat penduduk semakin bertambah.
Saat ini, penduduk di SBD belum padat. Masih banyak “ruang kosong” yang perlu diberdayakan, dioptimalkan demi kemajuan daerah.

Akan tetapi perkembangan ke depan, lima tahun, 10 tahun, 20 tahun dan seterusnya harus masuk dalam hitungan, di saat ada tawaran investasi yang membutuhkan lahan yang luas. Karena itu patokannya adalah RTRW (rencana tata ruang wilayah) daerah. Dengan begitu, penetapan RTRW menjadi sangat strategis dan penting. Sebab dia akan menjadi acuan utama pemanfaatan lahan-lahan di suatu daerah, terlebih untuk investasi jangka panjang.

Kecuali itu, studi banding yang dilakukan pemerintah SBD ini boleh dibilang agak “kreatif” karena melibatkan para kepala desa dan tokoh-tokoh masyarakat dalam jumlah relatif banyak. Harapan kita, tudi banding ini benar-benar dimanfaatkan untuk studi, yaitu belajar kelebihan di daerah lain untuk diterapkan di daerah sendiri. Semoga saja studi banding tak sekadar mengajak para warga dan kades jalan-jalan untuk  mendapat uang jalan.

Sumber : Pos Kupang

Jumat, 08 Juli 2011

Harapan Baru pada Listrik Sehen

Dahlan Iskan
Inilah perjalanan jauh untuk melihat 100 rumah yang menggunakan Lampu Sehen. Itu adalah listrik tenaga matahari model baru untuk sistem kelistrikan kepulauan. Desa itu terpencil nun di ujung barat daya Pulau Sumba, NTT.

Sudah lima bulan penduduk menggunakan Lampu Sehen. Sampai saya ke sana pekan lalu, tidak ada keluhan, tidak ada lampu yang mati dan tidak ada instalasi yang rusak. Itu mengisyaratkan bahwa target ambisius setahun menaikkan ratio elektrifikasi di NTT dari 31 persen menjadi 70 persen pun bisa dicapai.

Setahun ini sudah tiga kali saya ke NTT. Banyaknya orang yang mengatakan "mustahil elektrifikasi NTT bisa mencapai 70 persen akhir tahun ini" membuat saya sering ke sana. Apalagi saya juga terikat sumpah harus mewujudkan proyek listrik panas bumi (geotermal) Ulumbu (Ruteng) yang sangat lama macet itu.
 Perjalanan panjang kali ini saya mulai dari Kupang. Dari bandara, malam itu saya langsung ke proyek PLTU Kupang yang lama tersendat. Saya kaget, gubernur dan wakil gubernur menyambut di bandara. Pasangan kepala daerah yang sangat rukun tersebut (di banyak daerah terjadi "perang dingin") memang sangat merindukan listrik NTT maju.

Pagi-pagi kami sudah terbang ke Kecamatan Kangae, Sikka, Flores. Itulah kecamatan pertama di Indonesia yang seluruh pelanggan listriknya menggunakan sistem prabayar, sehingga mendapatkan rekor Muri. Sampai-sampai, Wakil Bupati Sikka dr Wera Damianus merasa iri. "Kampung kelahiran saya sendiri sampai hari ini belum berlistrik," katanya.

Dia bercerita, betapa menderitanya penduduk Pulau Palue, tempat kelahirannya tersebut. Bukan hanya tidak ada listrik, tapi juga tidak ada sumber air. Sudah dicoba dibor, tidak pernah berhasil. Penduduk sepenuhnya bersandar pada air hujan. Padahal di sana lebih sering kemarau. Untuk itu, tiap rumah harus punya paling tidak tiga pohon pisang. Dari pokok pohon pisang yang dilubangi itulah air untuk minum dan masak didapat. Pisang pun menjadi simbol kehidupan di Palue. "Kalau ada perjaka yang minta kawin, biasanya ditanya: Memangnya sudah mampu menanam berapa pohon pisang?" tuturnya.

Setelah mendengar itu, saya bertekad Pulau Palue harus berlistrik akhir tahun ini.
Dari Kangae, saya langsung ke Sumba, sebuah pulau yang besarnya tiga kali Bali, tapi penduduknya amat jarang. Lebih banyak jumlah kudanya.

Mendarat di Kota Waingapu, kami langsung menelusuri jalan darat menuju Waitabula/Tambolaka di pantai barat Sumba. Perjalanan itu sebenarnya bisa ditempuh enam jam. Namun, kami harus membelok dulu memasuki padang savanna yang luas di tengah pulau. Saya ingin tahu lokasi pembangkit listrik tenaga air yang segera dibangun.

Pencarian lokasi itu ternyata tidak mudah. Kami sempat tersesat. Di padang savanna tersebut tanda untuk sebuah lokasi hanyalah bukit dan rumput. Padahal bentuk bukit dan jenis rumputnya mirip semua. Padahal entah berapa bukit yang harus dilampaui. Sesekali memang terlihat penunggang kuda sandel yang kepalanya timbul tenggelam di sela-sela rumput di kejauhan. Namun, karena kudanya terus berlari, tidak bisa juga dipakai patokan arah. Begitu lamanya mencari jalan memutar itu sehingga ketika senja tiba kami masih di savanna.

Diam-diam saya mensyukuri ketersesatan itu. Bisa menikmati senja yang menakjubkan. Sejauh mata memandang, hanya ada savanna. Tidak terlihat satu pun kampung atau bangunan. Berada di tengah-tengah savanna tersebut, saya merasa seperti berada di pedalaman Irlandia. Sama sekali tidak menyangka ini di pedalaman Sumba! Apalagi udaranya sekitar 18 derajat Celsius! Alangkah sejuknya!

Keindahan itu meningkat menjadi ketakjuban manakala dari kaki langit yang cerah tersebut menyembul bulan yang kebetulan lagi purnama. Begitu menornya. Seperti wajah Malinda Dee di pentas peragaan kebaya! Uh! Tersesat yang menyenangkan. Tidak menyangka sore itu saya bisa menikmati alam seasli-aslinya. Savanna yang seperti penuh misteri. Goyangan rumputnya. Bayangan bukitnya. Temaram cahaya purnamanya. Menyatu di keluasan cakrawala bumi manusia yang langka!
 
Ada yang membuat saya lebih bersyukur. Saya baru terhindar dari cedera. Setengah jam sebelum memasuki savanna itu, mobil yang saya kemudikan menabrak mobil di depan. Ringsek. Harus diderek kembali ke Waingapu. Sebenarnya saya sudah mencoba mengerem sekuat tenaga. Tapi, kecepatan mobil berbanding jaraknya tidak memadai lagi. Aspalnya pun dilapisi debu tebal dari bukit kapur yang sedang dibongkar di tebing jalan. Kapur itulah yang membuat ban tidak bisa mencengkeram aspal dengan sempurna. Saya juga tidak mungkin membanting setir mobil ke kiri karena akan menabrak tebing.
 
Saya menyadari kesalahan saya. Saya tidak tarik rem tangan. Refleks itu tidak muncul. Mungkin sudah lelah karena sudah hampir dua jam mengemudi. Mobil di depan saya itu terhenti mendadak karena menabrak truk dari arah depan. Dua mobil ringsek.
 
Pukul 22.00 kami baru tiba di kota kecil Waikabubak, Sumba Barat. Namun tidak bisa segera beristirahat. Hotel sederhana di situ lagi penuh. Harus mencari kota kecil berikutnya yang jaraknya sekitar sejam. Sekalian mencapai tujuan akhir perjalanan malam itu: Tambulaka.
 
Bagi yang merasa baru sekali ini mendengar nama Tambolaka, baiknya ingat peristiwa Adam Air. Pesawat dengan lebih dari 200 penumpang yang tersesat dan kehilangan arah tersebut akhirnya bisa mendarat di suatu daerah terpencil. Ya Tambolaka itulah yang dimaksud. Waktu itu sang pilot sebenarnya hanya ingin mendarat darurat di pantai pasir putih yang panjang entah di pulau apa. Tapi, begitu mendekati pantai, terlihatlah ada bandara kecil. Itulah Bandara Tambulaka.
 
Salah satu desa pengguna Lampu Sehen yang sedang kami promosikan berada di 10 km dari bandara tersebut. Nama Sehen (super ekonomi hemat energi) diciptakan PLN karena sistem itu memang belum ada namanya. Sehen-lah yang mengakhiri riwayat hidup lampu petromaks di desa itu. Dan kelak di seluruh Sumba bahkan di banyak pulau Indonesia.
 
Dengan Lampu Sehen, masing-masing rumah seperti memiliki pembangkit listriknya sendiri-sendiri, memiliki trafonya sendiri-sendiri, dan memiliki jaringan kabelnya sendiri-sendiri. Dengan Sehen, tidak ada lagi lampu mati karena travo meledak, karena kabel penyulang terganggu, atau karena tiang listrik roboh. Dengan Lampu Sehen juga tidak ada pencurian listrik, tidak ada pembaca meter, dan tidak ada tagihan yang salah.
 
Dengan Lampu Sehen, Desa Karuni langsung berubah. Desa asli dengan budaya Sumba yang unik itu tidak lagi gelap gulita. Rumah-rumahnya tetap rumah panggung dengan dinding kayu dan atap daun rumbia, tapi ada peralatan modern di atas atapnya. Sebuah panel kecil yang kalau siang menyerap tenaga matahari. Tidak perlu baterai khusus karena alat penyimpan listriknya sudah ada di dalam bola lampu itu sendiri.
 Setiap rumah mendapat jatah tiga bola lampu. Masing-masing 220 lumen. Istilah "lumen" tersebut harus mulai dihafal karena untuk tenaga surya tidak menggunakan satuan watt. Tingkat terang 220 lumen hampir setara dengan 40 watt. Sangat terang.
 Tiap-tiap bola lampu dilengkapi benang penarik untuk on/off. Benang penarik itu juga berfungsi untuk mengubah lumen. Mereka menyalakan lampu tersebut mulai pukul 17.00 dengan menarik benang sekali tarikan. Pada pukul 23.00 atau menjelang tidur, mereka menarik benang sekali atau dua kali lagi untuk mengurangi terangnya cahaya sekaligus menghemat setrumnya.
 
Yang membuat penduduk senang-senang-geli, bola lampu tersebut bisa dipetik dari tempatnya untuk dibawa ke mana-mana dalam keadaan menyala. Di sinilah serunya. Setiap ada perhelatan di desa itu, tidak perlu lagi menyewa genset seperti dulu. Cukuplah masing-masing undangan membawa lampunya sendiri-sendiri untuk kemudian dicantelkan di mana saja di lokasi perhelatan. Kalau ada 50 undangan yang datang dan masing-masing membawa satu Sehen, terangnya bukan main.
 
Sudah lima bulan Lampu Sehen berfungsi dengan baik. Menyenangkan. Ini tidak akan sama dengan proyek yang pernah dikembangkan di beberapa kementerian yang kemudian menimbulkan perkara korupsi itu. Lampu Sehen tersebut tetap milik PLN, diurus oleh orang PLN, dirawat oleh PLN, dan ditagih oleh PLN. Tidak akan terjadi penduduk bisa menjual Lampu Sehen-nya.
 
Masih ada plus yang lain. Di setiap "desa Sehen", PLN memberikan satu set TV berbasis tenaga surya 21 inci. Berikut parabolanya. TV itu diletakkan di plaza, eh gubuk, terbuka di depan rumah pak RT. Malam itu teman-teman PLN sempat nonton TV bersama penduduk yang ternyata sangat menyenangi sinetron. Mereka juga ketagihan film India. Maklum, meski di desa yang begitu jauh, mereka bisa menonton 28 channel dengan kualitas gambar yang sempurna.
 
Hanya, menonton sinetron atau film India sebenarnya terserah selera pak RT karena pak RT-lah yang memegang remote control-nya.
 
Sumber : Cendrawasih Pos

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD