Member Of

Member Of

Like Untuk Bergabung

Rabu, 28 Desember 2011

PENGUKUHAN PENGURUS IKAS KUPANG : GUBERNUR POTONG KERBAU, WALIKOTA KUPANG TIKAM BABI

Walikota kupang saat menikam babi adat (Kiri) dan Gubernur NTT saat akan memotong kerbau adat (Kanan) dalam acara pengukuhan badan pengurus IKAS Kupang di Arena Pameran Fatululi Kupang (28/11/2011)

Kupang, MO ------- Pengukuhan badan pengurus baru Ikatan Keluarga Asal Sumba (IKAS) Kupang masa bakti 2011  - 2016 sekaligus Natal bersama warga sumba se-Kota Kupang di Arena Pameran Fatululi Kupang Rabu (27/12/2011) berlangsung dengan nuansa sumba yang kental.

Ke’de dari warga sumba dari empat Kabupaten yang terbagi dalam rayon berdasarkan 6 kecamatan di kota kupang dengan menggotong babi diiringi pekikan payawou dan Pakalaka masuk dengan tarian dan di terima oleh Panitia selaku tuan rumah mengawali seluruh rangkaian acara.

Tarian Kataga Putra dan Putri dari sumba Tengah yang tergabung dalam sanggar Pasola menyambut kedatangan Gubernur dan Wakil Gubernur beserta Muspida di Arena Fatululi dan pengalungan kain oleh Ketua IKAS terpilih Prof. Ir Frans Umbu Data, M. App.Sc.,Ph.D.

Meskipun sempat diguyur hujan deras namun acara berlangsung dengan lancar, Lantunan syair adat dengan bahasa daerah Kodi menjadi pembuka acara pengukukan badan pengurus IKAS masa bakti 2011 – 2016. Gubernur NTT, DRS Frans Lebu Raya dan Walikota Kupang, Drs Daniel Adoe Selaku Pelindung Kemudian sebelum menandatangani berita acara didaulat untuk menyembelih hewan adat. Walikota Kupang Menikam babi dan Gubernur NTT memotong kerbau.

Dalam sambutannya Gubernur NTT berharap agar IKAS kupang tidak menjadi paguyuban yang ekskusif dan primordial namun sesungguhnya untuk menggalang kebersamaan supaya Sumba menunjukan jati dirinya bersama-sama dengan komponen masyarakat lain di daerah ini untuk Membangun daerah ini lebih maju.

Sementara itu Ketua IKAS Kupang terpilih dalam sambutannya mengatakan bawah kehadiran IKAS sebagai wahana ekspresi nilai-nilai budaya dan kearifan lokal serta kekayaan intelektual Sumba yang sangat luhur dan bernilai tinggi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budaya nasional yang patut dipelihara dan dijaga sebagai identitas bangsa Indonesia ditengah-tengah arus Gobalisasi multi dimensi sehingga tidak dihanyutkan oleh tawaran nilai-nilai baru yang tidak sesuai dengan akar budaya yang di jaga leluhur turun temurun


Hadir dalam acara pengukukan pengurus IKAS ini, Gubernur NTT Frans Lebu Raya, Wakil Gubernur Esthon Foenay, Ketua DPRD Prop.NTT, Mel Adoe, Walikota Kupang Daniel Adoe, Wakil Bupati Sumba Tengah Umbu Dondu, Wakil Bupati Sumba Barat Daya Jacobus Malo Bulu serta undangan lainnya baik dari SKPD Propinsi & Kota kupang, OKP maupun Perwakilan dari berbagai agama. (snd)

IKAS KUPANG RAYAKAN NATAL BERSAMA DAN KUKUHKAN PENGURUS

Penyalaan lilin dalam Natal bersama IKAS Kupang
Kupang, MO ----- Ribuan warga kota kupang asal sumba yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Asal Sumba (IKAS) Kupang, sejak pagi sudah berada di arena pameran Fatululi Kupang Rabu (27/12/2011) untuk mengikuti perayaan natal bersama IKAS Kupang sekaligus pengukuhan badan pengurus baru IKAS Kupang untuk masa bakti 2011 – 2016.

Acara diawali dengan Ke’de dari warga sumba yang terbagi dalam rayon berdasarkan 6 kecamatan di kota kupang. Dengan berpakaian adapt lengkap diiringi pekikan payawou dan Pakalaka setiap rayon  masuk dengan tarian dan di terima oleh Panitia selaku tuan rumah.

Acara kemudian dilanjutkan dengan ibadah Natal Oikumene yang dipimpin Romo Dr. Herman Punda Panda, Pr dan Pdt. Apliana Soli Padaka Boboy Kalegotana, S.Si. 
Romo Herman Punda Panda dalam khotbahnya merujuk pada tema Natal Nasional PGI dan KWI yakni bangsa yang berjalan dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.

"Ada realitas kegelapan, kemiskinan terutama akibat ketidakadilan, realitas kekerasan, realitas kecenderungan penyeragaman yang mengancam kerukunan termasuk produk hukum dan peraturan, realitas korupsi, realitas penegakan hukum yang maosh lemah dan realitas pengrusakan lingkungan. Kita masih termasuk bangsa yang berjalan dalam kegelapan, kita haru brani mengatakan bahwa bangsa Indonesia yang berjalan dalam kegelapan semoga melihat terang yang besar dengan natal tahun ini," ujarnya

Hadir dalam perayaan Natal IKAS 2011 ini Gubernur NTT Frans Lebu Raya, Wakil Gubernur Esthon Foenay, Ketua DPRD Prop.NTT, Mel Adoe, Walikota Kupang Daniel Adoe, Wakil Bupati Sumba Tengah Umbu Dondu, Wakil Bupati Sumba Barat Daya Jacobus Malo Bulu serta undangan lainnya baik dari SKPD Propinsi & Kota kupang, OKP maupun Perwakilan dari berbagai agama.

Meskipun sempat diguyur hujan, Ibadah natal tetap berjalan lancar dan Khidmat. Setelah Ibadah Natal berakhir dilanjutkan dengan pengukuhan badan pengurus baru IKAS Kupang untuk masa bakti 2011 – 2016 oleh Gubernur NTT, Drs Frans Lebu Raya dan ditandai dengan penyembelihan Kerbau dan penikaman Babi. (snd)

Jumat, 16 Desember 2011

Bupati Sumba Barat Daya : Kami Perlu Dukungan dan Kerjasama dar BPKP

Dalam lanjutan lawatannya ke Pulau Sumba, pada tanggal 13 Desember 2011 Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Nusa Tenggara Timur Bonardo Hutauruk menyempatkan diri singgah di Kabupaten Sumba Barat Daya. Kepala Perwakilan BPKP Bonardo Hutauruk disambut dengan hangat oleh Bupati Sumba Barat Daya Kornelius Kodi Mete yang didampingi oleh Wakil Bupati dan Sekretaris Daerah Kabupaten Sumba Barat Daya. Kunjungan Kepala Perwakilan BPKP Provinsi NTT ini selain untuk menjalin tali silaturahmi dengan jajaran pemerintah daerah, juga dimaksudkan untuk melakukan perpanjangan MoU dengan Pemkab Sumba Barat Daya yang telah habis masa berlakunya.

Bertempat di ruang rapat Bupati Sumba Barat Daya, telah dilakukan prosesi penandatanganan MoU Kerja Sama antara Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya dengan Perwakilan BPKP Provinsi Nusa Tenggara Timur tentang Penerapan Tata Kelola Pemerintahan dan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik di  Kabupaten Sumba Barat Daya.  Sebelum penandatanganan MoU ini dilakukan, Kepala Perwakilan BPKP  Provinsi NTT Bonardo Hutauruk diminta untuk memberikan sambutan dan arahan. Dalam sambutan dan arahannya Kepala Perwakilan BPKP antara lain menyatakan bahwa meskipun telah memperoleh opini WDP untuk tahun buku 2010, diharapkan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya mencanangkan target opini WTP paling lambat pada tahun 2013 untuk tahun buku 2012 sesuai target yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. Untuk dapat memperoleh opini WTP,  Kepala Perwakilan BPKP Provinsi NTT menekankan bahwa selain terkait kesesuaian penyajian laporan keuangan dengan Standar Akuntansi Pemerintah,  pemerintah daerah juga harus membangun sistem pengendalian intern yang memadai. Selanjutnya Bupati Sumba Barat Daya Kornelius Kodi Mete memberikan sambutan yang intinya mengharapkan dukungan dan kerja sama dari Perwakilan BPKP Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk melakukan pembenahan khususnya terkait dengan pengelolaan keuangan daerah.
Penandatanganan MoU ini disaksikan oleh Wakil Bupati, Sekretaris Daerah dan beberapa Kepala SKPD di lingkungan pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya. Hadir pula dalam acara ini Kepala Bidang APD mendampingi Kepala Perwakilan BPKP Provinsi NTT. Usai penandatanganan MoU, dilanjutkan dengan serah terima dokumen MoU secara bergantian oleh masing-masing pihak. MoU yang baru ini diharapkan dapat menjadi dasar pelaksanaan kegiatan-kegiatan Perwakilan BPKP pada pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya pada masa-masa berikutnya. 

Dengan dilakukannya serah terima dokumen MoU ini, maka berakhir pula prosesi penandatanganan MoU Kerja Sama antara Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya dengan Perwakilan BPKP Provinsi NTT.


Sumber : HUMAS NTT


Selasa, 13 Desember 2011

BUPATI SBD DAN PATER ROBERT TERIMA PENGHARGAAN

Bupati SBD (Ketiga dari kanan) dan P. Robert Ramone (Ketiga dari kiri)
diantara para penerima penerima penghargaan dari CSR di Ubud, Bali (10/11/2011)

Bupati Sumba Barat Daya (SBD), dr. Kornelis Kodi Mete dan P. Robert Ramone CSsR menerima penghargaan dalam forum CSR For Indonesia Sustainability Summit & Award 2011 di Royal Pita Mahal, Ubud - Bali yang diserahkan oleh La tofi Pendiri CSR (10/11/2011)

dr. Kornelis dinilai menjadikan Sumba Barat Daya sebagai episentrum kemajuan di Pulau Sumba dan sebagai pemimpin yang berhasil memimpin Sumba Barat Daya sebagai kabupaten baru yang dimekarkan. Kemajuan yang dapat dicapai dapat dilihat dari pembangunan sarana dan prasarana (infrastruktur) yang cukup pesat.

Sedangkan, Pater Robert direktur Lembaga Studi & Pelestarian Budaya Sumba dinilai berhasil menginpirasi pembangunan industri pariwisata Sumba khususnya dan NTT pada umumnya.

Selain dua putra terbaik SBD ini ada juga tokoh dan lembaga lain mendapatkan penghargaan serupa. Mereka antara lain Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Bupati Gianyar, yang menjadikan Ubud sebagai destinasi wisata ramah lingkungan; Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan YANG DINILAI Berhasil mengatasi persoalan kesehatan, pendidikan, dan lingkungan, dengan bekerja sama dengan perusahaan melalui CSR. Pola kemitraan Jawa Barat dengan perusahaan mulai banyak ditiru oleh daerah-daerah lain untuk mengembangkan kondisi kesejahteraan masyarakatnya; Wasis Pramono, Manajer CSR dan PKBL PTPN X Berhasil menggalang dana PKBL dari banyak perusahaan negara untuk kemudian disalurkan kepada petani tebu. Hasilnya, tidak ada kredit macet; selain itu, Lisa Tirto Utomo, Pembina Yayasan Tirto Utomo dan Troy Pantouw, Direktur Komunikasi Danone Aqua, juga mendapatkan penghargaan serupa. 

Sementara itu di Royal Pita Mahal, Ubud - Bali dari tanggal 8-10 Desember 2011, Pater Robert juga mengadakan pameran foto yang bertema "Surga di Sumba". Foto-foto yang di pamerkan merupakan hasil karya para photogarapher: Arbain Rambey (Redaktur foto Koran Kompas), Asfarinal (Redaktur jaringan kota tua Indonesia), Yori Antar (fotographer dan Asitek), La Tofi (pendiri the La Tofi School of CSR dan rdaktur majalah Bisnis), Sonny Sandjaya Photographer) dan P. Robert Ramone, C.Ss.R (direktur Lembaga Studi & Pelestarian Budaya Sumba; photographer). Foto-foto yang dipamerkan menampilkan Sumba dari sudut arsitektur, budaya, landscape dll. Beberapa foto juga dilelang dan hasil lelang akan digunakan untuk pemberantasan malaria di SBD. (snd)

Bupati Sumba Barat Daya dr Kornelis K. Mete, Bapak Ndara Tanggu
bersama La Tofi menyaksikan pameran foto
di halaman hotel Royal Pita Mahal Resort di Ubud-Bali,
8-10 Desember 2011


Sumber Foto : P. Robert Ramone

Senin, 12 Desember 2011

Listrik Ganggu Rapat Paripurna Dewan

Sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumba Barat Daya (SBD), Sabtu (10/12/2012) siang, terganggu karena listrik yang mati hidup. Peralatan sound system (pengeras suara) dalam ruangan tidak bisa berfungsi maksimal karena mesti menyesuaikan diri dengan aliran listrik.

Dalam hitungan Pos-Kupang.Com, empat kali listrik mati hidup. Sesaat sebelum rapat dengan agenda jawaban pemerintah atas laporan komisi-komisi itu listrik juga padam. Setelah listrik menyala rapat dibuka Wakil Ketua DPRD SBD, Gerson Tanggu Dendo.

Ketika Bupati SBD, dr. Kornelius Kodi Mete, mulai membacakan jawaban pemerintah, listrik padam lagi. Di meja pimpinan rapat selain Gerson yang memimpin rapat, hadir juga Ketua Dewan, Yosef Malo Lende dan Bupati Kodi Mete.

Kalau listrik padam dan pengeras suara tidak berfungsi, Bupati Kodi Mete mesti membacakan jawaban pemerintah dengan volume suara yang lebih keras. Jawaban pemerintah itu dibacakan bergantian antara Bupati Kodi Mete dan Sekda SBD, Drs. Anton Umbu Zaza, M.Si.

Di kursi para anggota Dewan banyak anggota Dewan tidak hadir rapat. Kepada Pos Kupang, Gerson Tanggu Dendo mengatakan, ada 18 dari 30 anggota Dewan yang menandatangani presensi (daftar hadir). "Yang lain minta izin karena ada kedukaan dan urusan keluarga," kata Gerson.

Listrik mati hidup saat sidang Dewan bukan baru terjadi pertama kali ini sejak DPRD SBD menggunakan kantor baru di kompleks perkantoran di Kadula. Pada beberapa rapat sebelumnya, listrik juga mati hidup. Kondisi ini sangat mengganggu kelancaran dan kenyamanan jalannya sidang Dewan.

Kepala PLN Ranting Weetabula, Blasius Gani, tidak bisa diminta konfirmasinya. Beberapa kali telepon genggamnya dikontak, Sabtu dan Minggu (11/12/2011), tetapi tidak tersambung.

Sebelumnya Gani mengakui listrik yang mati hidup itu banyak kali disebabkan terputusnya jaringan listrik akibat pohon tumbang. Dia mengakui, petugas PLN agak hati-hati ketika berhadapan dengan warga yang pohonnya tumbang menimpa jaringan listrik.

Bupati Kodi Mete dalam jawaban pemerintah menguraikan dan menjelaskan satu demi satu pertanyaan yang diajukan tiga komisi di Dewan. Sekitar satu jam jawaban pemerintah itu dibacakan Kodi Mete diselingi satu kali dibacakan oleh Sekda SBD, A Umbu Zaza.

Salah satu hal penting yang dijelaskan pemerintah adalah proses pemekaran tiga kecamatan baru yang ditanyakan Komisi A. Kepada anggota Dewan, Kodi Mete mengatakan, saat ini usulan pemekaran Kecamatan Wewewa Tengah, Kecamatan Kodi Balaghar dan Kecamatan Kota Tambolaka telah disampaikan pemerintah kepada pemerintah provinsi untuk mendapat rekomendasi Gubernur NTT.

"Saat ini rekomendasi dimaksud sedang dalam proses untuk ditandatangani oleh Bapak Gubernur NTT," tegas Kodi Mete dalam jawaban pemerintah.

Komisi A juga mempertanyakan kualifikasi pendidikan camat dan sekretaris camat (Sekcam) telah sesuai dengan profesinya. Kodi Mete menjelaskan, hingga saat ini Pemda SBD belum memiliki sumber daya manusia yang mempunyai kualifikasi yang sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku sehingga belum semua camat berasal dari latar belakang ilmu pemerintahan.

"Dan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan kewilayahan tersebut, maka perlu dilakukan bimbingan teknis bagi camat dan sekcam sebagaimana yang telah diprogramkan pada tahun anggaran 2012," kata Kodi Mete.


Sumber : Pos Kupang

Jumat, 09 Desember 2011

Petir Mengamuk, 17 Rumah di Loura Jadi Abu

Hujan deras disertai amukan petir menghanguskan rumah-rumah adat di Desa Totok, Kecamatan Loura, Sumba Barat Daya (SBD), Selasa (6/11/2011) petang. Sebanyak 17 unit rumah di perkampungan yang telah ditetapkan sebagai situs bersejarah ini rata tanah, hanya menyisakan abu.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Tetapi hampir semua harta benda, termasuk benda-benda pusaka warisan turun temurun, ludes terbakar tanpa sisa. Yang masih terlihat cuma beberapa tiang utama rumah ini.

Warga yang menghuni perkampungan ini sementara tinggal di bawah tenda yang diberikan pemerintah. Hingga Rabu (7/12/2011) siang, bara api masih menjilat beberapa tiang utama rumah yang telah menghitam.

Menurut keterangan yang diperoleh Pos Kupang di perkampungan ini, Rabu siang, hari Selasa siang saat kejadian hujan deras mengguyur kawasan perkampungan ini. Tak dinyana di tengah hujan deras itu, petir menyambar rumah Mandeta Toko, rumah yang dianggap paling keramat di perkampungan ini.

Dari  sambaran petir ini muncul api yang langsung membesar dan menghanguskan rumah ini. Dari rumah ini api kemudian menggilir semua rumah di perkampungan ini. Hanya tertinggal satu unit rumah yang terletak di luar pagar yang membentengi 17 rumah yang ada.

Warga setempat mengakui kebakaran mulai terjadi sekitar pukul 14.30 Wita. Petir sambar dari atas menara, turun ke bawah. "Setelah satu selesai terbakar, pindah lagi ke rumah di sebelahnya, juga dari menara. Semua rumah terbakar dari menara," tutur Lukas Dairo Bulu, mantan Kepala Desa Totok.

Lukas menuturkan, semua warga tidak mengerti dan merasa sangat aneh dengan cara api menyambar dan membakar rumah-rumah itu. "Aneh, karena api itu selalu membakar dari menara dan turun ke bawah," tutur Lukas.

Kepala Desa Totok, Frans Seingo Bani, juga membenarkan cara api membakar rumah-rumah itu yang mereka nilai sangat aneh. Frans dan warganya sepertinya  juga tidak percaya dengan api warna biru yang membakar satu demi satu rumah-rumah di perkampungan yang dikelilingi pagar batu alam itu.

"Warna apinya biru. Satu rumah habis, baru pindah lagi ke rumah di sebelah. Semuanya selalu dari menara baru turun ke bawah," kata Frans.

Lukas dan Frans mengaku, warga tidak bisa berbuat banyak menyelamatkan rumah-rumah yang selurunya beratap alang itu. Meskipun hujan lebat, jelas keduanya, api sangat cepat menghanguskan semua  yang ada dan membakar dengan cara yang menurut mereka tidak masuk akal.

"Hujan deras, tapi api terus membakar dan menghanguskan semua yang ada dalam rumah," kata Lukas.

Menurut keterangan yang diperoleh, jarak antar rumah sangat dekat. Bahkan tirisan air setiap rumah saling bersentuhan.  Ke-17 unit rumah di perkampungan ini dibangun membentuk segi empat. Di bagian tengah terdapat halaman kecil dengan  batu-batu kubur yang sudah ratusan tahun usianya.

Dari pemantauan Pos-Kupang.Com,  hujan deras hari itu turun hampir merata di Tambolaka dan kawasan di sekitarnya. Perkampungan Totok terletak sekitar 20 km barat daya Kota Tambolaka. Tidak mudah menjangkau perkampungan ini, karena letaknya di perbukitan dan persis di puncak salah satu bukit.

Ruas jalan dari persimpangan Karuni menuju kampung ini  tidak mulus.  Sekitar satu kilometer memasuki perkampungan ini kondisi jalan sangat sempit jelek. Butuh waktu hampir satu jam menuju perkampungan ini.



Sumber : Pos Kupang

Selasa, 06 Desember 2011

Tidak Mau Miskin, Kurangi Pesta!!


Jika tidak ingin terus hidup miskin maka warga NTT, khususnya masyarakat Sumba Barat Daya (SBD) harus mengurangi menggelar pesta atau hajatan. Karena pesta menyedot banyak anggaran.

Demikian saran Bupati Sumba Barat Daya (SBD), dr. Kornelius Kodi Mete, dalam arahannya di hadapan lebih dari 400 unsur pimpinan di pemerintahan di seluruh SBD, Senin (5/12/2011).

Hadir semua pimpinan SKPD, para asisten, camat, kepala bagian, kepala desa/lurah, sekretaris desa, fasilitator desa, para kapolsek dan danramil.

Rapat  'akbar'  yang digelar Bagian Tata Pemerintahan Setda SBD ini untuk melihat seluruh kegiatan dan penyelenggaraan pemerintahan selama tahun 2011 dari semua aspek dan dimensinya.

Bupati Kodi Mete menggugah semua yang hadir, terutama para kepala desa untuk mengimbau masyarakat untuk mengurangi pesta. Kodi Mete mengatakan, sebenarnya pesta tidak perlu dilarang karena telah menjadi bagian dari kehidupan sosial budaya masyarakat Sumba secara umum.

"Bolehlah bikin pesta karena itu juga menjadi bagian dari kehidupan sosial budaya kita. Saya mau tanya, boleh pesta atau tidak? Ada yang bilang boleh, yang lain bilang tidak boleh. Saya punya jawaban, kepada yang bilang boleh saya larang, kepada yang bilang tidak boleh saya bilang boleh, tetapi siapkan argumentasinya," kata Kornelius.

Menurut Kornelius, pesta tetap boleh saja diselenggarakan asal diimbangi dengan kerja keras, kerja tuntas dan kerja cerdas.

"Saya kira kita sepakat pesta boleh asal kerja juga keras, kerja tuntas dan kerja cerdas. Kalau  tidak kerja, mengapa perlu pesta? Kalau tidak mau miskin tidak perlu bikin pesta yang berlebihan," Jelas Kodi Mete.

Di daratan Sumba secara umum, pesta seperti pesta adat, kenduri/kedukaan dan pembelisan membutuhkan banyak sekali ternak untuk dibantai. Kerbau dan babi adalah dua jenis ternak yang 'wajib' dibantai dalam jumlah yang banyak.

Jumlah ternak yang dibantai tergantung dari status sosial dan kedudukan seseorang dalam masyarakat.

Kepala Bagian Tata Pemerintahan Setda SBD, Drs. Nobertus Dus, menjelaskan, rapat evaluasi ini bermaksud melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan.

"Dewasa ini masyarakat sipil selalu kritis menyoroti kinerja penyelenggaraan pemerintahan termasuk pemerintahan daerah. Karena itu perlu dilakukan evaluasi kinerja penyelenggaraan pemerintahan sebagai feedback dalam upaya peningkatkan kinerjanya di masa akan datang," kata Dus.


Sumber : Pos Kupang

Kamis, 01 Desember 2011

Polisi Mesti Serius Ungkap Pembunuhan


Penegakan hukum secara profesional dan serius sebetulnya bisa mengatasi kasus-kasus kekerasan dan tindak kejahatan yang terjadi di masyarakat. Aparat kepolisian diharapkan serius memroses para pelaku guna meredam tindak kejahatan dan aksi kriminal.


Harapan ini dikemukakan Camat Loura, Sumba Barat Daya, Drs. Lukas Ngongo Gaddi, di ruang kerjanya, Selasa (29/11/2011). Lukas mengatakan itu setelah melihat dan mencermati kasus-kasus kekerasan dan pembunuhan yang sangat sering terjadi di beberapa tempat di SBD.


Sejak dua pekan lalu, Lukas siaga penuh di lapangan menyusul ketegangan yang terjadi di antara dua kelompok warganya di Desa Lete Konda. Ketegangan itu nyaris berlanjut pada perang tanding akibat perseteruan lama.
Sebelumnya, Kepala Desa Lete Konda, Yohanes Ama Koni, dibunuh pada 12 Maret 2011. Sejauh ini kasus tersebut masih dalam penyelidikan pihak kepolisian.


Lukas Gaddi mengatakan, kasus-kasus kekerasan bahkan pembunuhan bisa diredam jika ada kepastian hukum. Kepastian hukum itu, jelas Lukas, artinya pada pihak yang bersalah karena terlibat dalam suatu aksi kekerasan diproses menurut aturan hukum yang berlaku. “Jika tidak ada kepastian hukum, warga juga merasa tidak adil,” kata Lukas.


Dia melihat penegakan hukum cenderung lemah diterapkan sehingga dalam banyak kasus kekerasan dan tindak kriminal para pelaku jarang ditemukan dan diproses hukum. Dia berharap aparat keamanan bisa bertindak cepat, profesional dan serius sehingga semua mereka yang terlibat dalam kasus kriminal mendapat hukuman yang setimpal.

“Harapan kita jelas, yakni agar aparat kepolisian lebih profesional dan serius mengungkap kasus-kasus kriminal di sini. Kalau tidak ada pelaku yang ditangkap, kasus-kasus ini akan mengundang dendam pihak korban.

Begitu seterusnya, sehingga sulit sekali mencegahnya. Kuncinya adalah keseriusan dan profesionalisme polisi mengungkap setiap kasus kriminal sehingga ada kepastian hukum bagi keluarga korban. Jika tidak akan muncul dendam dari keluarga korban,” jelas mantan Kabag Humas Setda SBD yang dilantik menjadi Camat Loura 19 Oktober 2011 ini.

Sumber : Pos Kupang

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD