Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Jumat, 04 November 2011

Ketika Sumba Hanya Bergantung Padi

Meski  Sumba di Nusa Tenggara Timur terkenal dengan lahan kering, sistem perladangan (lahan kering) di daerah itu tidak berjalan seperti wilayah lain. Warga semata-mata bergantung pada sawah tadah hujan sepanjang musim, yang memiliki keterkaitan dengan peternakan.

Sawah tadah hujan di Sumba Tengah dan Sumba Timur misalnya, tidak mengenal tanaman di pematang seperti pisang, ubi kayu, keladi, talas atau jenis tanaman lain. Selesai musim panen, lahan sawah itu tanpak kering dan tidak ditumbuhi jenis tanaman apa pun kecuali jerami padi kering.

Kepala Urusan Pembangunan Desa Umbu Rihi, Kecamatan Katikutana Kabupaten Sumba Tengah, Samuel Soke Sairo di Desa Umbu Rihi, 30 km arah timur Waikabubak, mengatakan, sistem pengolahan sawah tanpa tanaman lain, karena usai panen, saat batang jerami masih basah, langsung dimasukan ternak kerbau, kuda dan sapi. Ternak kemudian meninggalkan kotoran di sawah sebagai pupuk untuk musim tanam berikut.

Sangat jarang ditemukan hasil perkebunan (pertanian) rakyat seperti jagung, pisang, keladi, kelapa, kopi, kemiri, kakao, vanilla, nangka, mangga, dan cengkeh dalam jumlah memadai di dalam suatu areal (ladang) di Sumba Tengah dan Sumba Timur. Hanya hamparan bekas lahan sawah tadah hujan yang tidak tergarap akibat kekeringan.

Menyusuri wilayah Sumba Timur dan Sumba Tengah, jarang ditemukan pertanian lahan kering (ladang) atau perkebunan dengan berbagai jenis tanaman di dalamnya. Hanya ada hamparan padang rumput savanna yang tidak dimanfaatkan untuk perladangan (pertanian), kecuali penggembalaan.

Meski di beberapa tempat terdapat air sungai yang mengalir di sekitar lahan itu, tidak dimanfaatkan untuk menanam jenis tanaman umur pendek.

Kebiasaan seperti ini berdampak buruk terhadap ketahanan pangan masyarakat setempat. Usai panen padi, mereka tidak punya jenis pangan lagi sebagai stok terakhir, yang dipanen secara bertahap seperti umbi-umbian, pisang dan lainnya. Apalagi jika padi gagal panen, mereka sama sekali tidak punya apa-apa.

Masyarakat hanya bergantung pada beras untuk warga miskin dan proyek padat karya yang diselenggarakan pemerintah. Mereka tidak punya jenis tanaman umur panjang seperti kopi, kemiri, kelapa, jambu mete, coklat dan lainnya sebagai penyangga hidup.

Tidak heran, jika kasus rawan pangan sering melanda wilayah Sumba, terutama Sumba Timur dan Sumba Tengah. Kini, masyarakat di desa dan kecamatan terpencil di Sumba Timur mengonsumsi iwi sejenis ubi hutan yang beracun. Jenis ubi ini harus dicindang, dijemur kemudian direndam di sungai untuk mengeluarkan racunnya selama beberapa hari kemudian dijemur lagi untuk dikonsumsi.

Sumba barat

Beda dengan Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Masyarakat di dua kabupaten ini cukup kreatif menggarap lahan sawah dan ladang. Usai panen padi sawah, mereka menanam sayur-sayuran dan kacang-kacangan dengan memanfaatkan air sisa atau menggali sumur di dalam areal sawah itu.

Selain itu, mereka juga membuka pertanian ladang (lahan kering) untuk menanam jagung, umbi-umbian, pisang, dan kacang-kacangan. Kini, di dua kabupaten itu, umbi-umbian masih cukup banyak di setiap ladang milik warga.

Meski mereka mengaku, kesulitan mendapatkan beras karena daya beli terbatas, tetapi masih banyak ubi kayu di ladang. Hanya saja, anak-anak tidak suka mengonsums i ubi kayu kecuali nasi (beras). Saat beras tidak ada sama sekali, anak-anak pun mengonsumsi ubi atau keladi.

Bupati Sumba Tengah Umbu Pateduk alias Umbu Bintang mengatakan, telah menggerakan seluruh petani Sumba Tengah melalu program turun ladang (kebun), kurangi pesta dan hentikan pencurian. Program mengolah lahan kering saat ini mulai dijalankan. 

Pemkab Sumba Tengah juga kerjasama dengan sebuah yayasan yang bergerak di bidang pertanian untuk melakukan pendampingan dan bimbingan terhadap kelompok-kelo mpok petani. "Mereka diajarkan menanam jagung, singkong, sayur dan buah-buahan di lahan kering dengan menggunakan air sisa, entah itu berupa air sumur, embun atau air limbah rumah tangga," kata Pateduk.

Masyarakat juga telah diimbau untuk memelihara ternak kecil seperti ayam, dan itik, ikan air tawar dan berbagai usaha kecil menengah lainnya. Mereka tidak semata bergantung pada hasil pertanian sawah tetapi juta dari sumber-sumber lain.

Selama ini masyarakat selalu bergantung pada sawah. Mereka mulai mengolah sawah saat memasuki musim hujan (September-November), diluar itu mereka hanya duduk di rumah, membuat pesta, judi atau pencurian.

Kasus pencurian pun marak terjadi di wilayah itu, baik ternak maupun padi atau jagung. Tidak hanya 1-2 ekor ternak kerbau, sapi, kuda atau padi beberapa kwintal tetapi seluruh ternak dan makanan yang ditemukan, dibawa kabur.

Pencuri tidak tanggung-tanggung membunuh atau melukai pemilik ternak atau harta benda lain. Bahkan sebelum melakukan pencurian, mereka meminta agar pemilik ternak atau hasil pertanian agar tidak boleh keluar rumah, apalagi menegur pencuri. 

"Terkait kasus pencurian ini, kami juga telah menerapkan desa aman, bebas dari gangguan pencuri. Warga desa diwajibkan menjadi satpam di setiap desa dan lingkungannya," kata Pateduk.


Sumber : KOMPAS.com
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD