Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Selasa, 22 November 2011

Enam Desa di Sumba Bayar Listrik Pakai Kemiri dan Jahe


Sebuah terobosan pro rakyat pedesaan digebrak alumni Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Solo. Membentuk Pokja Alumni ATMI, hasil bumi masyarakat enam desa di Kecamatan Wewewa Barat, Sumba Barat Daya (SBD), yakni kemiri dan jahe, dibarter dengan lampu listrik tenaga matahari dan air bersih.

Enam desa itu adalah Desa Redepada, Marokota, Mene Ate, Weekombak, Wali Ate dan Kalembu Weri. Desa-desa di Wewewa Barat ini terkenal dengan hasil bumi, terutama kemiri dan jahe.

Karena masyarakat tersebut belum mendapat layanan listrik dari PLN dan kesulitan mendapat air bersih, Pokja Alumni ATMI membentuk pokja-pokja di masyarakat dan menawarkan listrik tenaga surya sebagaimana telah banyak dilakukan di desa-desa pedalaman NTT.

"Tetapi kami sadar bahwa harga lampu tenaga surya itu mahal bagi masyarakat. Karena itu masyarakat menjual kemiri dan jahe mereka kepada kami dan mendapat lampu listrik. Terobosan ini kan sangat membantu masyarakat. Mereka mendapat listrik, tetapi membayar dengan hasil kebun mereka sendiri," jelas Anton Niron, EMT, salah seorang alumnus ATMI Solo kepada Pos Kupang di Tambolaka, Senin (21/11/2011).

Niron menjelaskan, terobosan yang mereka lakukan di SBD ini lahir dari sejumlah pertanyaan penting tentang kesiapan masyarakat menggunakan listrik tenaga surya (PLTS), kemampuan mereka membeli perangkat PLTS, pengetahuan dan keterampilan mereka merawat dan memperbaikinya kalau mengalami gangguan atau rusak.

Tahun 2010 Pemkab SBD melalui dana ADD membeli lima unit PLTS setiap desa di 87 desa. Harga yang ditawarkan pemerintah kepada masyarakat untuk PLTS ini, jelas Niron, adalah Rp 3.850.000/paket. Lampu yang ditawarkan pemerintah melalui proyek ini sudah mirip dengan hasil rancangan Pokja Alumni ATMI.

Tetapi harganya itu terlalu mahal untuk masyarakat di desa. Lampu portabel sudah baik, tetapi saklarnya gunakan tali sehingga kalau masyarakat tidak hati-hati tali putus dan harus bongkar lagi. Karena itu kita tawarkan lampu yang sama tetapi dengan saklar remote control sehingga familiar dengan tangan masyarakat, juga bisa untuk cas (charge) HP.

"Kalau PLTS dari pemerintah tidak bisa cas HP. Kita sadar masyarakat perlu cas HP di desa-desa, sehingga kita rancang juga. Lalu harganya juga lebih murah, yakni Rp 2.850.000/paket untuk empat mata lampu. Kalau dua mata lampu dengan cas HP harganya Rp 1.750.000/paket," jelas Niron.

Niron mengatakan, harga yang lebih murah itu pun bisa dibayar menggunakan hasil kebun, yakni kemiri dan jahe. "Mereka tidak perlu bayar dengan uang tunai. Mereka membelinya dengan kemiri dan jahe yang mereka jual kepada kita. Harganya juga tidak murah. Kemiri kita beli dengan Rp 18.000/kg dan jahe Rp 9.000/kg. Jadi konsep mandirikan masyarakat itu benar-benar kita lakukan," kata Niron.



Sumber : Pos Kupang
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD