Member Of

Member Of

Like Untuk Bergabung

Rabu, 23 November 2011

Pemkab SBD Tolak Usulan Niron


Jalan, pola pikir dan model pendekatan para anggota Pokja Alumni ATMI Solo membantu masyarakat sangat berbeda dengan pemerintah. Kalau pemerintah, pendekatannya lebih cenderung pada proyek, maka para lulusan lembaga pendidikan milik tarekat Serikat Jesuit (SJ) ini benar-benar menggunakan pendekatan pemberdayaan.

Masyarakat mesti menyadari kemampuan dan potensi mereka dan menggunakan potensi itu untuk mandiri.

Ketika PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) masuk di desa-desa, listrik tenaga surya (PLTS) juga menjadi salah satu bidikan PNPM. Di Desa Redapada, Kecamatan Wewewa Barat, Sumba Barat Daya (SBD), petugas PNPM juga menawarkan kepada masyarakat listrik tenaga surya, padahal Pokja Alumni ATMI Solo sudah masuk dan menawarkan PLTS di desa ini.

"Petugas PNPM menawarkan PLTS dengan kualifikasi yang lebih rendah dari yang sudah diperkenalkan Pokja Alumni ATMI. PNPM menjual tiga mata lampu, tanpa cas (charge) HP, sakral tali dengan harga R p 4 juta/paket. Yang kita punya, harganya Rp 3 juta/paket, dengan cas HP dan sakral remote control," jelas Anton Niron, EMT, salah seorang alumnus ATMI Solo kepada Pos Kupang di Tambolaka, Senin (21/11/2011).

Kita minta agar kita yang adakan perangkat itu dengan harga yang lebih murah, tetapi pemerintah tidak mau. Tidak apa-apa. Tetapi kita berbeda karena kita terus melakukan pendampinan kepada masyarakat. Yang utama dari Pokja ATMI adalah pendampingan kepada masyarakat bagaimana merawat perangkat PLTS itu," jelas Anton Niron.

Niron tidak mengerti dan selalu bertanya mengapa pemerintah terus melakukan tender untuk PLTS. "Yang selalu menjadi pertanyaan kami, mengapa tender PLTS terus dilakukan?" katanya heran.

Sebagai orang teknik, Niron dan teman-temannya di Pokja ATMI Solo yakin bahwa perangkat PLTS itu tidak perlu ditender berulang-ulang karena bisa dirawat, diperbaiki kalau rusak. Niron menduga pikiran seperti ini tidak ada dalam otak pemerintah. Itu sebabnya, tender harus terus dilakukan untuk menggantikan perangkat yang rusak.

"Bekas-bekas perangkat PLTS lama seperti kaca (panel) kita beli dan perbaiki lagi," kata lulusan ATMI Solo tahun 1986 ini.




Sumber : Pos Kupang

Hore!! Air Weemasa Segera Mengalir

Tidak lama lagi air dari Mata Air Weemasa di Desa Marokota, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), dinaikkan dan dialirkan ke enam desa di sekitar mata air itu.

Pekan lalu sudah dilakukan ujicoba menaikkan air ke bak penampung di Desa Marokota. Diperkirakan awal Januari 2012, air sudah bisa dialirkan ke enam desa tersebut.

Awal tahun 1990-an air dari mata air ini sudah dinaikkan oleh Pater Wilfried Lienesch, CSsR, ke Desa Marokota menggunakan energi listrik tenaga surya. Setahun lebih air berjalan normal dan warga tidak perlu bersusah payah menuruni lembah mengambil air.

Mata air ini terletak di lembah di antara dua bukit dengan kemiringan sekitar 70 derajat menuju Desa Marokota.

Menurut informasi yang diperoleh, perangkat listrik tenaga surya ini dicopot satu demi satu oleh oknum warga yang tidak puas sehingga air tidak bisa naik lagi ke Desa Marokota. Warga Marokota kembali harus menuruni lembah mengambil air atau membeli air tangki dengan harga melangit.

Sejak Juni tahun ini, CV Mitra Sunopa Mandiri, pimpinan Anton Niron, EMT, kembali menaikkan air ini menggunakan teknologi hidran. Teknologi hidran tidak menggunakan energi listrik.

Teknologi ini sudah mulai digunakan di sejumlah tempat di NTT untuk menaikkan air dari lembah ke tempat yang lebih tinggi dengan sistem air tolak air. Enam desa yang akan dilayani nanti yakni Desa Redepada, Marokota, Mene Ate, Weekombak, Wali Ate dan Kalembu Weri.

Disaksikan Pos-Kupang.Com di Mata Air Weemasa, Senin (21/11/2011), para pekerja dari CV Mitra Sunopa Mandiri bersama beberapa warga setempat, termasuk Kepala Desa Redepada, Lende Bili, sibuk bekerja. Air dari mata air yang mengalir sepanjang saat itu telah dibendung dan ditampung ke sebuah bak besar.

Dari bak ini, air dialirkan lagi ke bak lain sekitar 20 meter di mana ditempatkan dua pompa hidran dalam bak. Dari bak ini air kemudian saling menendang dan dialirkan melalui pipa menuju bak penampung di Desa Marokota di ketinggian dengan jarak sekitar 500 meter.

Kepala Desa Redepada, Lende Bili, sangat antusias dengan proyek swadaya murni dari masyarakat ini. Bili menjelaskan, dana untuk pembangunan ini dikumpulkan dari 4.841 kepala keluarga (KK) di enam desa.



Sumber : Pos Kupang

Tahap pertama pada tahun pertama mereka mengumpulkan Rp 100.000/KK. Pada tahun kedua dan ketiga, mereka mengumpulkan lagi Rp 200.000/KK tetapi dengan cara mencicil setiap bulan Rp 21.000/KK. Dana tahap awal yang terkumpul baru sekitar 30 persen.

Kades Lende Bili mengatakan, meski tidak meminta bantuan pemerintah, sejauh ini Pemkab SBD sudah menyumbang 40 batang pipa ukuran 4 dim. "Pak bupati dua kali datang ke sini. Pertama waktu survai awal, kedua waktu seremoni adat untuk memulai kerja," kata Bili, jebolan AMK (sekarang STIM) Kupang.

Selasa, 22 November 2011

Enam Desa di Sumba Bayar Listrik Pakai Kemiri dan Jahe


Sebuah terobosan pro rakyat pedesaan digebrak alumni Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Solo. Membentuk Pokja Alumni ATMI, hasil bumi masyarakat enam desa di Kecamatan Wewewa Barat, Sumba Barat Daya (SBD), yakni kemiri dan jahe, dibarter dengan lampu listrik tenaga matahari dan air bersih.

Enam desa itu adalah Desa Redepada, Marokota, Mene Ate, Weekombak, Wali Ate dan Kalembu Weri. Desa-desa di Wewewa Barat ini terkenal dengan hasil bumi, terutama kemiri dan jahe.

Karena masyarakat tersebut belum mendapat layanan listrik dari PLN dan kesulitan mendapat air bersih, Pokja Alumni ATMI membentuk pokja-pokja di masyarakat dan menawarkan listrik tenaga surya sebagaimana telah banyak dilakukan di desa-desa pedalaman NTT.

"Tetapi kami sadar bahwa harga lampu tenaga surya itu mahal bagi masyarakat. Karena itu masyarakat menjual kemiri dan jahe mereka kepada kami dan mendapat lampu listrik. Terobosan ini kan sangat membantu masyarakat. Mereka mendapat listrik, tetapi membayar dengan hasil kebun mereka sendiri," jelas Anton Niron, EMT, salah seorang alumnus ATMI Solo kepada Pos Kupang di Tambolaka, Senin (21/11/2011).

Niron menjelaskan, terobosan yang mereka lakukan di SBD ini lahir dari sejumlah pertanyaan penting tentang kesiapan masyarakat menggunakan listrik tenaga surya (PLTS), kemampuan mereka membeli perangkat PLTS, pengetahuan dan keterampilan mereka merawat dan memperbaikinya kalau mengalami gangguan atau rusak.

Tahun 2010 Pemkab SBD melalui dana ADD membeli lima unit PLTS setiap desa di 87 desa. Harga yang ditawarkan pemerintah kepada masyarakat untuk PLTS ini, jelas Niron, adalah Rp 3.850.000/paket. Lampu yang ditawarkan pemerintah melalui proyek ini sudah mirip dengan hasil rancangan Pokja Alumni ATMI.

Tetapi harganya itu terlalu mahal untuk masyarakat di desa. Lampu portabel sudah baik, tetapi saklarnya gunakan tali sehingga kalau masyarakat tidak hati-hati tali putus dan harus bongkar lagi. Karena itu kita tawarkan lampu yang sama tetapi dengan saklar remote control sehingga familiar dengan tangan masyarakat, juga bisa untuk cas (charge) HP.

"Kalau PLTS dari pemerintah tidak bisa cas HP. Kita sadar masyarakat perlu cas HP di desa-desa, sehingga kita rancang juga. Lalu harganya juga lebih murah, yakni Rp 2.850.000/paket untuk empat mata lampu. Kalau dua mata lampu dengan cas HP harganya Rp 1.750.000/paket," jelas Niron.

Niron mengatakan, harga yang lebih murah itu pun bisa dibayar menggunakan hasil kebun, yakni kemiri dan jahe. "Mereka tidak perlu bayar dengan uang tunai. Mereka membelinya dengan kemiri dan jahe yang mereka jual kepada kita. Harganya juga tidak murah. Kemiri kita beli dengan Rp 18.000/kg dan jahe Rp 9.000/kg. Jadi konsep mandirikan masyarakat itu benar-benar kita lakukan," kata Niron.



Sumber : Pos Kupang

Jumat, 18 November 2011

PKB-SBD DIKUKUHKAN

Moripanet, Kupang --Bunyi gong dan pekikan Kabara serta Pakkalaka mengiringi para penari yang tampil di Gedung Olaharaga  (GOR) FLOBAMORA Oepoi Kupang (17/11/2011).  Acara yang kental dengan budaya Sumba Barat Daya ini mearik perhatian warga kota kupang yang melintas di depan GOR

Acara yang dimulai pukul 6 sore  tersebut dihadiri Gubernur NTT Drs Frans Lebu raya, , Wakil Walikota Kupang Daniel Hurek. Ratusan warga Sumba Barat Daya dengan menggunakan Kalambo dan pawee (pakaian adat sumba) ikut hadir memeriahkan dan menyaksikan pelantikan pengurus PANGUYUBAN KELUARGA BESAR SUMBA BARAT DAYA(PKBSBD) Kota Kupang masa bhakti 2011 - 2016.

Gubernur dalam sambutannya meminta PKBSBD Kupang bisa membangun kebersamaan dan saling mendorong untuk berpartisipasi dalam pembangunan NTT khususnya SBD  degan membangun SDM salah satunya dengan memberikan beasiswa bagi pelajar asal SBD dan juga mendukung gerakan pulang kampung

Pelantikan Drs, Thobias Ngongo Bulu sebagai Ketua PKBSBD dan pengurusnya ini berlangsung hingga pukul 22.00 WITA  yang diakhiri dengan foto bersama para pengurus PKBSBD yang baru. (snd)


Tunggakan Listrik di Sumba Barat Daya 70 Persen


alam sebulan tunggakan rekening listrik dari pelanggan mencapai 70 persen. Kondisi ini sangat mengganggu kelancaran operasional PLN sebagai sebuah badan usaha layanan publik.

"Rekening kita dalam sebulan itu kan mestinya sekitar Rp 400 juta. Tetapi yang tertunggak sekitar. Rp 320 juta. Mau apa dengan kondisi seperti ini?" keluh Kepala PLN Ranting Weetabula, Sumba Barat Daya (SBD), Blasius Gani, kepada Pos Kupang, Kamis (17/11/2011).

Menurut Gani, tunggakan itu sudah merupakan masalah lama. Dia mengaku daya beli masyarakat masih rendah, sehingga lebih banyak memaklumi saja. "Kita bingung juga, mau maju bagaimana dengan kondisi masyarakat seperti ini," keluhnya.

Saat ini, jelas Gani,  jumlah pelanggan listrik PLN di SBD hanya enam ribu. "Jumlah itu bukan sedikit, tetapi sangat sedikit. Sudah begitu, para pelanggan juga lebih banyak menunggak," katanya.

Petugas PLN, kata Gani, serba salah. Kalau ditagih dan belum dibayar, petugas juga mesti  toleran dengan masyarakat. "Kadang-kadang kita juga dilempari. Mau memberikan pelayanan terbaik, tetapi tidak didukung dengan kontribusi susah juga," katanya

Penulis : TONY KLEDEN
Sumber : POS KUPANG

Rabu, 16 November 2011

Tahun 2013, SBD Bebas Frambusia


Tahun 2013, Kabupaten Sumba Barat (SBD) bebas dari penyakit frambusia. Terkait dengan itu perilaku hidup bersih dan sehat mesti menjadi perilaku hidup sehari-hari.

Membebaskan SBD dari penyakit frambusia menjadi tekad yang dicanangkan Pemkab SBD dalam acara peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-47 dan Hari Pahlawan ke-66. Acara peringatan hari kesehatan dan hari pahlawan tingkat kabupaten ini digelar di Lapangan Sepakbola Walandimu, Kodi Bangedo, Sabtu (12/11/2011).  Acara ini dihadiri para kader posyandu, kader desa, penyuluh kesehatan, paramedis, pimpinan dinas, tokoh masyarakat, tokoh agama dan warga setempat.

Setelah apel bendera, pencanangan SBD bebas frambusia tahun 2013 ditandai dengan imunisasi anti frambusia oleh Bupati SBD, dr. Kornelius Kodi Mete. Menyusul setelahnya dilakukan imunisasi kepada warga yang menderita frambusia. Para dokter dan petugas medis siaga di tenda khusus yang dibangun untuk pelayanan imunisasi frambusia.

Seorang staf Dinas Kesehatan SBD ditanya tentang data penderita frambusia di SBD hanya menyebut cukup banyak penderita. Dia lupa seperti apa gambaran penderita frambusia di SBD, tetapi dia memastikan penderitanya cukup banyak.

Disaksikan Pos Kupang pada acara peringatan Hari Kesehatan dan Hari Pahlawan di Walandimu itu, anak-anak di kawasan ini  yang kaki dan tangannya terlihat banyak koreng.  Badan mereka terlihat kurang terawat, kotor dan terkesan sudah berhari-hari tidak mandi. Beberapa di antara anak-anak itu mendapat layanan imunisasi antiframbusia dari petugas medis.

Pada peringatan Hari Kesehatan itu, Bupati Kodi Mete dan Wakil Bupati, Jakob Malo Bulu, menyerahkan dua unit mobil puskesmas keliling untuk Puskesmas Panenggo Ede, Kecamatan Kodi Bangedo, dan Puskesmas Watu Kawula, Kecamatan Loura.

Penyerahan mobil dinas ini dilakukan secara simbolis dengan menyerahkan kunci mobil kepada dua staf di puskesmas ini. Bupati berharap agar kendaraan dinas ini bisa difungsikan dengan baik untuk melayani warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan.


Penulis : TONY KLEDEN
Sumber : POS KUPANG

Selasa, 15 November 2011

Padi yang Tak Boleh Dimakan di Sumba


Pulau Sumba merupakan salah satu pulau yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terkenal akan berbagai macam aset wisata. Aset wisata yang umumnya dikenal di belahan dunia yakni kebudayaan Marapu dan Tradisi Pasola.

Selain Budaya yang atraktif dan eksotik itu, masyarakat juga memiliki kearifan lokal yang khas dalam mengatur kehidupan mereka. Salah satu kearifan yang dihidupi oleh masyarakat di pulau yang terkenal dengan kuda Sumba tersebut yakni teknik menyimpan benih padi yang memiliki keunikan tersendiri.

Warga desa Bondo Kodi, kecamatan Kodi, kabupaten Sumba Barat Daya memiliki cara tersendiri dalam menyimpan benih padi yang ditaruh pada semacam kantung yang terbuat dari anyaman pandan dan kemudian diikat dengan tali serta digantung. Pandan memang banyak di tempat ini dan bahan yang sama digunakan warga untuk membuat tikar.

Karung pandan itu hanya digunakan untuk menyimpan benih bukan semacam tempat bagi persediaan makanan bagi masyarakat Sumba Barat Daya. Benih tersebut yang nantinya akan ditanam pada saat musim hujan datang.

Uniknya sekali padi diniatkan untuk menjadi benih yang dimasukan ke dalam kantung dan digantung di langit-langit rumah maka setelah itu, padi itu tidak lagi bias
dimakan termasuk saat paceklik. Padi yang disimpan itu pamali untuk dimakan dan hanya boleh untuk benih.
Tradisi menyimpan benih ini, semacam satu bentuk kearifan yang sangat kuat dihidupi masyarakat terutama masyarakat Sumba barat Daya yang hingga kini masih menjunjung adat-istiadat dan tradisinya.

Dalam kesederhanaan kehidupan mereka, tetap ada pemikiran untuk bersiap agar tidak kekurangan pangan di masa depan. Sumba, sebagaimana kebanyakan wilayah NTT lainnya memang kadang tidak beruntung. Kekeringan yang sudah menjadi ciri khas tanah ini tak jarang menimbulkan kesulitan bagi masyarakat untuk memperoleh bahan pangan.

Beberapa tempat bahkan sering dilanda kelaparan. Namun, tradisi seperti di atas menunjukkan bahwa masyarakat Sumba sudah sangat berkawan dengan alamnya, sekeras apa pun alam yang mereka tempati. Jika tak percaya datanglah sesekali ke Sumba untuk membuktikannya sekalian menikmati padang-padang yang eksotik dan juga pantai-pantainya yang indah. Salam dari Sumba



Sumber : Komhukum

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD