Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Sabtu, 01 Oktober 2011

Pembangunan Selayaknya dari Desa


Pembangunan selayaknya dimulai dari desa, bukan dari kota. Karena itu di desa dibutuhkan aktor-aktor pembangunan yang handal dan tangguh membangun desa. Jika desa kuat, kecamatan kuat, kecamatan kuat kabupaten kuat, kabupaten kuat propinsi kuat dan propinsi kuat negara dengan sendirinya akan menjadi kuat.

Demikian benang merah yang bisa ditarik pada pembukaan acara seminar tiga hari tentang kemandirian desa di Aula Seruni Konventu Redemptoris Tambolaka, Kamis (29/9/2011).
Seminar ini berlangsung tiga hari terhitung sejak Kamis sampai Sabtu (1/10/2011). Benang merah ini dapat disebut sebagai alasan mengapa digelar seminar bertajuk ‘Mengagas Desa Mandiri menuju Sumba Barat Daya Mandiri’ ini.

Seminar ini difasilitasi ACCESS (Australian Community Development and Civil Strengthening Scheme), Yayasan Donders Waitabula dan Pemda Sumba Barat Daya (SBD). Hadir sebagai peserta pada seminar ini bintang desa,para kepala desa dari 52 desa sasaran program, para camat, anggota DPRD SBD, para pegiat LSM, aktivis sosial kemasyarakatan dan para undangan lainnya.

Tampil beberapa pembicara dalam seminar ini, yakni Bupati SBD, dr. Kornelius Kodi Mete, pakar otonomi desa dari Yogyakarta, Sutoro Eko, anggota DPRD Sumba Barat Agus Malana, di SBD, Direktris Yayasan Bahtera, Martha Rambu Bangi, dan kader posyandu Ny. Cornelia. Kodi Mete membedah topik ‘Kebijakan Pemerintah Kabupaten dalam Pemerintah Desa’, Sutoro Eko membedah ‘Konsep, Metodologi dan Praktik bagi Kemandirian Desa’, Agus Malana lebih banyak membagi pengalamannya tentang kerja sama pemda dan organisasi kemasyarakatan dalam mendorong kemandirian desa. Sedangkan Martha Rambu Bangi, yang juga Direktris Yayasan Bahtera, menceritakan pengalaman dan praktek cerdas dalam menggunakan pendekatan berbasis kekuatan untuk penguatan kader pembangunan desa dan pemerintahan desa.

Seminar yang disebut sebagai pertemuan apresiatif kabupaten ini digelar untuk menggali pengalaman suskes para aktor yang telah bekerja untuk kemajuan masyarakat dan mengenali inovasi-inovasi atau gagasan baru untuk mewujudkan kemandirian desa dan pembangunan di SBD. Juga untuk menemukan rahasia-rahasia sukses yang benar-benar dihargai dan merancang bangunan ideal menuju harapan menggagas desa mandiri di SBD.

Ferdy Rondong, Koordinator ACCESS Provinsi NTT, membuka wawasan dengan mengajak para peserta mengubah paradigma pembangunan, dari kota ke desa. “Kita semua yang ada di sini punya kemampuan, punya potensi, punya bakat-bakat yang luar biasa untuk mengubah paradigma pembangunan yang telah terjadi selama ini. Mari kita membangun dari desa, sebab di desa ada nilai, ada kapasitas lokal, ada potensi yang bisa digali dan disumbangkan untuk pembangunan,” kata Rondong.

Bupati Kodi Mete menyentil sikap para sarjana dan tamatan sekolah sekarang yang terkesan enggan ke desa. “Setelah tamat sarjana atau SLTA ke kantor bupati cari kerja, tidak mau lagi ke desa. Karena itu kita mesti mengkreasi agar desa bisa menciptakan lapangan kerja sendiri bagi para sarjana dan tamatan sekolah lanjutan,” kata Kodi Mete.

Anggota DPRD Sumba Barat, Agus Malana, menggugah para peserta untuk coba melihat potensi-potensi di desa untuk kepentingan pembangunan. Dia menyebut kesepakatan bersama antara DPRD dengan pemda setempat untuk pengelolaan sumber daya alam (SDA).
“Kami sepakat bersama agar sumber daya alam itu dikelola secara berkelanjutan, artinya bukan hanya kita nikmati sekarang, tetapi juga sampai anak cucu kita nanti. Karena itu ketika ada investor yang datang ingin menginvestasi pertambangan di Sumba Barat, kita sepakat menolaknya dan mengatakan bahwa sumber daya alam kita kelola secara berkelanjutan,” jelas Agus.
Dia juga menyebut keseriusan DPRD Sumba Barat merancang perda inisiatif untuk kepentingan masyarakat, yakni Perda Kesehatan Ibu dan Anak. “Karena itu jangan malu-malu datang dan belajar di Sumba Barat,” sentil Agus.

Sutoro Eko, pakar otonomi desa, mengatakan bahwa pengembangan desa mandiri itu bukanlah pembangunan yang digerakkan oleh uang semata. “Memang pengembangan desa mandiri jelas membutuhkan uang untuk membiayai segala kebutuhan dan proyek. Uang sangat penting dan vital, tetapi dia bukan segala-galanya dan yang paling utama.
Yang paling utama itu adalah semangat,” kata Eko.
Eko juga mengritik pembangunan dengan pendekatan dari atas (top down). “Dari penelitian yang kami lakukan, pembangunan dari atas itu lebih banyak gagalnya daripada pembangunan dari bawah,” kata Eko.


Penulis : TONNY KLEDEN
Sumber : POS KUPANG
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD