Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Minggu, 02 Oktober 2011

Aloysius Bulu Malo, Potret Perjuangan Seorang Guru


Sepasang mata anak manusia menerawang di antara reng atap rumahnya yang tak berplafon. Plafon itu dihiasi sarang laba-laba berwarna hitam diterpa asap dapur. Tatapan itu seakan menghantarnya ke peziarahan masa silam dan impiann masa depan menembus seng atap rumah yang sudah karatan dimakan usia. Sejenak kemudian kedua mata itu beralih pandangan ke dinding bambu ruang tamu. Pada dinding reot itu tergantung sebuah salib Tuhan Yesus pemberian seorang misionaris Eropa. Selama beberapa menit tatapan itu tidak beralih dari salib yang berhias daun palma yang diperoleh dari upacara Minggu Palma atau minggu daun-daun tahun lalu.
Sepasang mata yang sudah rabun itu adalah milik Aloysius Bulu Malo (66 thn), seorang pensiunan guru SD asal Paroki Kristus Raja Waimangura, Sumba Barat-NTT. Kepada Yesus yang bergantung di salib, Guru Alo, demikian ia disapa seakan ingin menyerahkan jejak-jejak peziarahan dan impiannya yang entah kapan akan ia tuntaskan. Usianya belum terbilang uzur namun penyakit yang diseritanya menyebabkan kondisi badannya lemah dan banyak tak berdaya.
Sejak delapan tahun lalu ia menderita sebuah penyakit yang tak kunjung sembuh. Disekujur lehernya tumbuh benjolan-benjolan yang menyebabkan kepalanya pusing, tidak bisa menelan makanan karena di dalam kerongkongannya juga tumbuh benjolan itu. Belum lagi benjolan di luar menggencet kerongkonannya. Oleh dokter mahkluk ini di vonis sebagai tumor ganas. Upaya pengobatan sudah dia lakukan. Bahkan guru Alo harus merelakan lehernya disayat-sayat pisau dokter bedah beberapa kali. Namun tidak lama setelah dioperasi, tumbuh lagi benjolan dengan karakter yang sama.
Dokter yang merawatnya menganjurkan untuk berobat ke Rumah Sakit besar di Pulau Jawa, tetapi karena situasi perekonomian yang tidak memungkinkan, ia sepertinya tidak menghiraukan anjuran itu. Penyembuhan alternative kemudian ditempuhnya.
Selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, Guru Alo dengan ditemani isterinya Theresia Bela (58 thn) harus rela meninggalkan rumah dan pekerjaan untuk berobat di rumah orang yang dipercaya bisa menyembuhkan. Sudah silih berganti orang yang menangani penyakitnya. Biaya yang dikeluarkan pun untuk ukuran Guru Alo sudah sangat besar. Upaya ini pun tidak juga menyudahi gerayangan penyakit itu. Kini guru Alo ditemani istrinya dan dua putrinya terus mengonsumsi obat-obatan tradisional dengan harapan kesembuhan akan segera tiba. Harapan ini selalu dibawanya dalam doa kepada Yesus yang ia yakini paling tahu apa yang terbaik bagi dirinya.

Mencintai Profesi Guru
Sepenggal cerita ini baru merupakan satu sisi perjuangan hidup guru Alo. Mungkin, secara kebetulan penderitaan atau lebih tepat perjuangan tersebut ia alami dalam profesinya sebagai guru, sebuah profesi yang sangat ia cintai “Sangat kebetulan saya menderita penyakit ini dan tidak mampu mengobatinya dalam profesi saya sebagai guru. Saya sangat mencintai profesi ini,” ungkapnya bersemangat seolah melupakan sakitnya ketika disinggung profesi yang secara materi tidak menjamin kesejahteraan itu.
Pengalaman kurang memuaskan selama menjadi guru tidak menyebabkan ia kapok pada jalur “Pahlawan tanpa Tanda Jasa” ini. Dari pernikahannya dengan Theresia Bela, mereka dikaruniai 10 orang anak : 4 laki-laki dan 6 perempuan. Uniknya, enam anaknya ia sekolahkan menjadi guru. Yang lain ada yang jadi wartawan, pegawai swasta dan pegawai kantor pemerintah. Ketika ditanya mengapa mau sebagian anaknya ia sekolahkan menjadi guru, kakek dari 12 cucu ini mengatakan, “Supaya tidak percuma saya disekolahkan dawa kaka (misionaris Eropa). Saya beruntung disekolahkan, maka saya harus membalasnya dengan juga mendidik calon guru untuk mendidik orang-orang lain di sekitar sini.”
Niatnya untuk ambil bagian dalam pendidikan bagi masyarakat di sekitarnya—yang memang tingkat pendidikannya masih rendah—telah ia buktikan. Bahkan karena begitu besarnya niat ini, ketika putranya yang ke 2 menyelesaikan studinya pada IKIP SAnata Darma Yogyakarta 1983 (kemudian jadi universitas) dan ingin bekerja di Jakarta, dengan bijaksana dan sedikit memaksa ia katakan, “Nak, kamu lihat sendiri orang-orang di sini. Mereka masih membutuhkan pengetahuan dan tenagamu. Di Jawa kan sudah terlalu banyak orang pintar. Kembali saja ke kampung untuk mendidik saudara-saudara kita.” Mendengar itu, sang putra mengurungkan niatnya walau sudah mendapat tawaran bekerja pada sebuah SMU Swasta terkemuka di Jakarta. Hingga kini anaknya ini mengajar di sebuah SMA Katolik di Sumba.
Kalau dihitung-hitung, gaji Guru Alo tidak mungkin cukup membiayai hidup keluarga, menyekolahkan anak apalagi ia harus keluar masuk rumah sakit. Tidak hanya itu, gajinya yang kurang dari cukup itu kerap kali mengalami pemotongan yang tidak jelas alasannya.
Lantas apa kiatnya? Selain bekerja sebagai guru, bersama istrinya Guru Alo menggarap sebidang kebun yang ditanami padi, jagung, singkong, talas dan bermacam-macam kebutuhan dapur. Dengan begitu ia dapat mengirit pengeluaran untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Ia juga tidak segan-segan ikut kerja kelompok bersama para petani setempat.
Selain itu Guru Alo menerapkan “sistem estafet” pada anak-anaknya. Maksudnya, anak pertama diserahi tanggung jawab atau diajak untuk menanggung sebagian biaya studi bagi adiknya. Sistem yang sama ia terapkan kepada anaknya yang kedua, ketiga dan seterusnya. “Saya sudah menerapkan semacam gerakan orang tua asuh,” ungkapnya bangga “Kalau tidak mencoba berbagai cara, pasti ada anak saya yang tidak sekolah dan in merupakan dosa besar yang harus saya tanggung. Mereka adalah buah kasih Allah yang harus saya pertanggung-jawabkan kualitasnya di hadapan Allah,” ungkap pencinta tanaman ini.
Memang, pepatah kuno yang mengatakan life is a struggle (hidup adalah sebuah perjuangan) sangat tepat bagi Guru Alo. Betapa tidak? Dengan mata telanjang dapat kita saksikan banyak orang seusianya yang perjuangannya enteng-enteng saja namun bisa mengendarai mobil mewah, memiliki rumah luks dengan peralatan canggih.
Bila Guru Alo membandingkan dirinya tanpa refleksi, bisa jadi ia patah semangat. Sekali lagi, karena banyak orang tidak bekerja keras namun berpenghidupan makmur. Melihat dunia sekitarnya, Guru Alo bercermin pada Firman Allah yang mengatakan “RancanganKu bukanlah rangcanganmu.” “Firman ini kekuatan saya,” ungkapnya sambil menatap foto wisuda anaknya.

Tidak Menuntut Lebih
Satu lagi kisah menarik nan memilukan terukir dan tak terlupakan dalam hidup Guru Alo. Waktu itu tahun 1960 an. Pada sekitar tahun itu Sumba menjadi langganan kelaparan. Yang terparah adalah tahun 1963. Sebuah bencana dahsyat menghantam Sumba dengan sangat dahsyat. Pertanian tidak menghasilkan, ditambah lagi dengan merebaknya serangan hama belalang. Sangat sulit mendapatkan makanan. Jangankan beras, ubi-ubian menjadi barang langka.
Masyarakat merelakan ternaknya ditukar dengan makanan, walau hanya untuk mendapatkan beberapa kilogram padi atau jagung. Tidak terkecuali keluarga guru Alo. Meski demikian Guru Alo tetap setia menjalankan tugasnya, mengajar.
Pada suatu hari ketika pulang dari sekolah istrinya memberitahukan bahwa persediaan makanan telah habis dan kedua anak mereka tampak lemas. Dengan perut yang juga kelaparan ia mengambil parangnya dan sebatang linggis lalu berjalan menuju ke sebuah hutan sekitar 2 km dari rumahnya. Dalam perjalanan ia berdoa katanya,”Tuhan beri aku rejeki hari ini. Aku tidak menuntut lebih, cukupkanlah diriku dengan beberapa buah ubi hutan,” ungkapnya penuh harap.
Ketika tiba di hutan yang dituju, setelah mencari-cari, ia menengadahkan wajahnya ke atas pepohonan. Setelah beberapa lama ia menemukan utas ubi hutan yang disebut engala meranggas di pohon nangka. Hatinya gembira karena dengan itu ia dapat menyelamatkan anak-anaknya. Guru Alo lalu mulai menggali. Engala adalah jenis ubi yang umbinya panjang dan menukik ke dalam tanah. Setelah menggali cukup dalam dia belum menemukan ujungnya. Mau dipatahkan, sayang. Guru Alo terus menggali namun ujung ubi itu tidak muncul juga.
Kemudian ia menggambil seutas tali hutan, diikatkan pada pergelangan kakinya kemudian dikaitkan pada dahan pohon untuk menahan tubuhnya ketika menggali. Kepala dan bahunya tenggelam dalam tanah. “Jika saja tali itu putus maka saya pasti terkubur dengan kepala terbalik dan sulit ditemukan,” kenangnya haru. Akhirnya ubi itu ia peroleh utuh.
Sementara ia mengumpulkan hasil galiannya, gerimis turun. Tiba-tiba terdengar guntur bergemuruh, kilat sabung-menyabung dan sekonyong-konyong sebuah petir menyambar sebuah tebing batu yang hanya beberapa meter dari tempatnya ia duduk. Tebing itu terbelah.
Guru Alo hanya mengurut dada kemudian bergegas pulang. Sesampai di rumah ia hanya mengatakan, “Syukur kepada Allah. . . .!”. Sambil meneteskan air mata ia memeluk anak-anaknya.
Sejumlah tantangan telah Guru Alo lewati dengan jiwa besar. Karenanya, walau dalam keadaan sakit ia merasakan kepuasannya yang tak terhingga. Dalam kondisi sulit ia setia pada tugas profesinya dan sukses menyekolahkan anak-anaknya. Lebih jauh dari itu, matanya selalu tertuju pada Salib. Ya, di balik penderitaan dan perjuangannya tersimpan kebahagiaan.
Guru Alo sudah meninggal pada 16 Januari 2001 karena penyakit yang disebutkan di atas. Beristirahatlah dikau di Surga baka.

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD