Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Jumat, 30 September 2011

SBD Belum Rawan Pangan


Sejauh ini Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) sebagai wilayah belum terkategori daerah rawan pangan. Yang mungkin ada adalah rumah tangga rawan pangan, yang dialami satu dua keluarga.  Saat ini pemerintah sedang melakukan survai dan pendataan ke semua desa di SBD untuk memastikan kondisi rawan pangan di kabupaten baru ini.

Dari pemantauan Pos Kupang di sejumlah desa di kecamatan-kecamatan di SBD, masyarakat masih mempunyai stok  pangan.  Daerah SBD sangat kontras dengan Sumba Tengah dan Sumba Timur. Empat kecamatan di Wewewa merupakan daerah subur dengan banyak tanaman pangan seperti pisang, ubi, sayur-sayuran. Sawah juga banyak terdapat di kawasan Wewewa. Sedangkan Kodi  yang terdiri dari tiga kecamatan adalah pemasok pisang hingga ke luar daerah.  Kodi juga merupakan penghasil jambu mete paling banyak di SBD.

Bupati SBD, dr. Kornelius Kodi Mete, dalam rapat dengan para pimpinan SKPD setempat di aula Kantor Bupati, Rabu (28/9/2011), menegaskan, sebagai daerah Kabupaten Sumba Barat Daya belum terkategori daerah rawan pangan. “Sebagai wilayah, SBD tidak rawan pangan, mungkin yang ada adalah rumah tangga rawan pangan,” kata Kodi Mete.

Rapat itu beragendakan identifikasi permasalahan desa dalam konteks Gerakan Operasi Olah Desa dan Gerakan Operasi Olah Lahan (GOOD dan GOOL). GOOD dan GOOL merupakan strategi pemerintah memaksimalkan lahan-lahan tidur sehingga berguna bagi masyarakat. Pola yang dipakai dari strategi ini adalah para pimpinan SKPD menjadi pembina di setiap  desa dengan tugas yang telah diatur.

Kepada para pimpinan SKPD, para camat yang hadir, juga para tokoh masyarakat, Bupati Kodi Mete meminta segera menginformasikan kepada pemerintah jika terjadi rawan pangan di mana saja di SBD. Pada  pagi hari ketika membuka pelatihan keterampilan tenun ikat di  Aula Konventu Tambolaka, Kodi Mete juga meminta para ibu menginformasikan jika ada rawan pangan di desa-desa. “Lapor dan beri informasi kepada pemerintah, baik itu kepala desa, camat  juga PPL (petugas penyuluh lapangan) di desa,” pinta Kodi Mete.

Kodi Mete mengatakan, jika terjadi rawan pangan di tingkat rumah tangga pemerintah akan mengintervensi dengan memberikan beras. Dia menyebut 100 ton beras yang siap mengatasi rumah tangga yang mengalami rawan pangan. Tetapi pendekatannya adalah intervensi keterikatan.

“Artinya, pemerintah beri beras dengan syarat masyarakat harus mengolah kebun. Setelah lahan siap, pemerintah siapkan bibit. Kalau tidak ada keterikatan seperti itu maka masyarakat tetap akan miskin. Dan itu tidak akan menyelesaikan masalah dan setiap tahun berulang terus,” kata Kodi Mete.

Tentang warga yang menggali iwi, Kodi Mete mengatakan, iwi itu merupakan ubi yang punya nilai gizi tinggi. “Kalau sekarang mereka masuk hutan  menggalinya itu karena sekarang ini musimnya untuk menggali. Kalau terlambat menggali atau menggali ketika hujan sudah turun, ubinya rusak. Bila perlu semua iwi itu digali dan dijadikan bahan makanan. Mereka menggalinya bukan karena mereka tidak ada bahan makanan lagi,” kata Kodi Mete.
Kepala Badan Ketahanan Pangan Daerah, Ir. John Lory Riti, ditanya usai rapat itu juga membenarkan sejauh ini SBD belum terkategori rawan pangan. “Seperti yang pak bupati kemukakan tadi, kita belum rawan pangan. Sekarang tim ke desa-desa dan mengidentifikasi semua desa untuk mengecek seperti apa kondisi pangan masyarakat dengan merujuk pada kriteria-kriteria rawan pangan,”  kata Riti.

Dalam rapat kemarin juga dibagikan formulir kepada para pimpinan SKPD yang masuk dalam tim GOOD dan GOOL untuk mengidentifikasi rumah tangga di setiap desa untuk melihat kondisi pangan warga. Dari  hasil identifikasi itu baru bisa diketahui seperti apa kondisi rawan pangan di Sumba Barat Daya.

Siapkan Bibit
Untuk menyongsong musim tanam tahun ini, Pemda SBD telah menyiapkan bibit padi, baik padi sawah maupun padi ladang, bibit jagung dan  kacang hijau. Bibit jagung disiapkan 109 ton, padi ladang 125 ton, padi sawah 125 ton.  Bibit-bibit ini disiapkan Dinas Pertanian dan siap didrop kepada para  petani.
Dalam rapat kemarin, Camat Wewewa Selatan, Cristo Tarru Bani, S.IP, meminta agar para PPL tidak hanya datang dan membagi bibit begitu saja kepada masyarakat. “PPL  jangan hanya datang bagi bibit kepada masyarakat tanpa cek dulu lahan warga. Kalau tidak ada lahan, bibit itu tidak ada gunanya karena mereka tidak tanam,” kata Bani.




Penulis : TONNY KLEDEN
Sumber : POS KUPANG
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD