Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Jumat, 09 September 2011

Pekikan Payaghau Resmikan SMKN 2 Wewewa Selatan


Siswi SMKN 2 Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya, menari pada acara peresmian pemekaran sekolah ini, Rabu (7/9/2011).
Pekikan khas pria Sumba payaghau disambut pekikan khas perempuan pakalaka menandai peresmian lepasnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri II Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) dari SMKN 1 Wewewa Barat, Rabu (7/9/2011).

Tiga jurusan penting diusung sekolah ini, yakni teknik perkayuan, teknik batu beton dan teknik furniture (meubel). Berbeda kebiasaan peresmian sebuah gedung yang ditandai dengan pengguntingan pita, pihak panitia memilih pekikan khas Sumba payaghau (laki-laki) disambut pakalaka oleh puluhan perempuan yang hadir.n Dua pekikan ini telah menjadi pekikan yang sangat khas dan mencirikan Sumba di tengah ciri khas budaya lain.

Peresmian ini dihadiri Bupati SBD, dr. Kornelius Kodi Mete, Kepala Dinas PPO SBD, Drs. Yeremias Wunda Lero, Ketua DPRD SBD, Yosef Malo Lende, para pimpinan SKPD, anggota Dewan, orangtua murid, para guru dan para pelajar sekolah itu.

Sekolah kejuruan ini adalah pemekaran dari SMKN 1 Wewewa Selatan yang berdiri tahun 2004 lalu, tepatnya 17 Juni 2004. Karena banyak siswa, SMKN 1 Wewewa Selatan ini kemudian membuka cabang lagi di Lolo Ramo. Dengan demikian sekolah ini menempati dua lokasi berbeda, yang satu di Waimangura (sekarang menjadi SMKN 1 Wewewa Selatan) dan lokasi yang satu lagi di Lolo Ramo (SMKN 2 sekarang). Dengan berdiri sendiri, maka SMKN 2 menjadi sekolah otonom dengan pengelola berbeda.

Kepala Bidang Sekolah Menengah dan Kejuruan Dinas PPO SBD, Drs. Anton Mete Raya, dalam laporannya memaparkan profil sekolah ini. SMKN 2 Wewewa Selatan ini, kata Anton, mekar karena ingin menjawabi kebutuhan dan tantangan pembangunan daerah setempat. Dengan membuka jurusan perkayuan, furniture dan batu beton, sekolah ini ingin menghasilkan lulusan yang bisa menjawabi kebutuhan masyarakat.
Tentang guru, Anton merincikan ada 281 siswa yang sekarang menimba ilmu dan keterampilan di sekolah ini. Mereka menempati sembilan rombongan belajar. Sedangkan sekolah ‘induk’ jumlah siswa justru lebih sedikit, yakni 244 orang yang tertampung di delapan rombongan belajar. Sekolah kejuruan ini juga dilengkapi dengan ruang praktek jurusan perkayuan dan jurusan furniture lengkap dengan peralatan dan mesin praktek.

“Kehadiran SMK di Sumba Barat Daya merupakan langkah strategis mendukung visi dan misi pemerintah di sini,” kata Anton.
Bupati SBD, dr. Kornelius Kodi Mete, dalam sambutannya menantang sekolah ini untuk tidak hanya meluluskan siswa, tetapi juga meluluskan siswa yang bermutu.
“Kita buka sekolah khan untuk meluluskan anak-anak. Tetapi jangan asal lulus, yang palinh penting adalah lulusan yang bermutu,” kata Kodi Mete.

Dia menyatakan salut juga atas tekad dan kemauan para pihak, terutama kepala sekolah, untuk memekarkan sekolah ini. “Aneh ya, kepala sekolah mau mekarkan sekolahnya. Sebab kalau sekolah mekar, artinya kepala sekolah kehilangan banyak. Kehilangan ucapan selamat dari anak sekolah, ucapan terima kasih terima kasih dari para lulusan,” kata Kodi Mete.

Kodi Mete juga menyatakan terima kasih kepada pemilik tanah yang memberikan tanahnya untuk dibangun gedung sekolah. “Saya tahu waktu dibangun masyarakat di sini secara sukarela menyerahkan tanahnya kepada pemerintah tanpa meminta ganti rugi,” kata Kodi Mete.

Penulis : TONY KLEDEN
Sumber : POS KUPANG

Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD