Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Selasa, 27 September 2011

Kendalikan Harga Jambu Mete


Para petani yang menjual biji jambu mete di Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), meminta pemerintah mengendalikan harga jambu mete. Menurunnya harga jual di tingkat petani lebih banyak merugikan petani.
Pantauan Pos Kupang di beberapa toko dan usaha dagang tempat penampungan jambu mete, harga jual di tingkat petani cenderung menurun. Awal pekan lalu, harganya mencapai Rp 12.000/kg, sedangkan pada hari Sabtu (24/9/2011) turun menjadi Rp 10.000/kg.
“Memang kelihatannya banyak uang kalau kita pergi timbang, tetapi kalau mau hitung semua dengan tenaga penyiangan, ongkos tenaga untuk pilih, sebenarnya kita tidak banyak untungnya,” kata Tako Geli Bebe, seorang petani jambu mete di Desa Rama Dana, Kecamatan Loura, Sumba Barat Daya, di rumahnya, Sabtu (24/9/2011).
Didampingi istrinya, Ny. Lince Geli, petani yang punya dua ribu pohon jambu mete ini mengeluhkan harga yang cepat sekali menurun. “Orang China yang beli bilang harga di India turun, jadi di sini juga turun,” kata Ny. Lince.
Menurut Tako Geli, pemerintah semestinya mempunyai otoritas mengatur harga jambu mete. Jika tidak bisa diatur, kata Tako Geli, maka pihak swasta yang justru mendapat penghasilan lebih banyak ketimbang petani pemilik jambu mete.
“Kita punya jambu, yang atur harga bukan kita tetapi pengumpul. Makanya yang kaya bukan kita, kita tetap miskin sementara mereka tambah kaya,” kata Tako Geli.
Peraih Kalpataru tingkat Kabupaten Sumba Barat tahun 2003 dan tingkat Propinsi NTT tahun 2004  ini belum melihat niat pemerintah mengatur harga jambu mete pada setiap kali musim panen.
“Saya belum melihat pemerintah membantu masyarakat dengan mengatur harga jambu mete. Kalau pemerintah bisa mengatur harga, kita juga akan senang menanam dan kerja. Kalau harga turun dan bisa diatur, kita petani tidak ada semangat dan motivasi kerja,” katanya.
Seorang petani dari Kodi saat ditemui di depan Toko Sinar Terang usai menimbang jambu metenya juga mengeluhkan hal yang sama. Dengan bahasa Indonesia tertatih-tatih, petani itu mengatakan, “Saya dapat 71 kg tadi, satu kg Rp 10 ribu,” kata petani itu.
Dua hari sebelumnya, harga jambu mete yang dilepas petani masih Rp 11.500/kg. Tako Geli membayangkan jika ada Koperasi Unit Desa (KUD) yang menampung seluruh hasil jambu mete petani, maka harganya bisa stabil dan tidak gampang menurun.
“Yang main ini kan wiraswasta, tergantung dia sudah harganya. Kita ikut saja. Kalau ada KUD yang tampung kita bisa bernafas lega. Yang kita harapkan ada standar harga,” kata Tako Geli. Istrinya, Ny. Lince, menambahkan, “Kalau ada KUD, kita senang karena semua akan timbang di sana. Kalau tidak kita yang susah.”

Sumber : Pos Kupang
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD