Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Selasa, 13 September 2011

Anti Kritik, Matilah Kau!



Oleh Emanuel Dapa Loka

“Kamu harus siap-siap cari pekerjaan baru sebab di sini gajimu kecil. Bulan depan nanti masa ikatan dinasmu akan selesai, jadi kamu tidak diperpanjang lagi kerja di sini,” demikian kata ketua sebuah yayasan kepada seorang karyawati yang sudah bekerja selama tujuh tahun di rumah sakit di bawah naungan yayasan tersebut sebagai tenaga adminstrasi. Sekadar informasi, meski sudah bekerja selama tujuh tahun, status sebagai pegawai tetap belum juga disandang sang karyawati. Dengan status “kontrak”, nasib—sial diberhentikan sewaktu-waktu—bisa menimpanya. Dan memang “nasib sial” itu telah benar-benar datang. Kontrak kerjanya diputus tus!

Jelas sekali, kata-kata “sebab di sini gajimu kecil” sang ketua yayasan adopsi dari tulisan berjudul “Natal, Hari Solidaritas Agung (Merenungi Nasib “Buah Hati Gereja”) yang dimuat di pada sebuah tabloid di Sumba beberapa saat sebelum pemutusan kontrak tersebut. Ketika karyawati itu meminta diberi kesempatan agar masih tetap bekerja di rumah sakit itu beberapa bulan sebelum ia mendapat pekerjaan di tempat lain, sang ketua yayasan yang juga seorang biarawati langsung menutup kemungkinan. ”Tidak bisa! Dan tidak ada alasan,” katanya tanpa ampun.

 Karena tidak mau berdebat, apalagi merasa tidak mungkin bisa menandingi sang suster yang berpendidikan dan berkerohanian yang jauh lebih tinggi, sang karyawati hanya bisa berkata, ”Kalau begitu, terima kasih suster, saya sudah diberi kesempatan bekerja selama ini di sini”. Dia pun pasrah sambil mengulum kesedihan.

Kalau saja wanita beranak dua orang ini pernah belajar tentang ajaran Konsili Vatikan II, bisa jadi dia akan bergumam, ”Beginilah nasib ’buah hati gereja’. Harus selalu menerima apa pun. Padahal kata Sacro Sanctum Concillium (dalam Gaudium et Spes), ’Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman ini adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan murid-murid Kristus’ (artikel no 1). Tapi apa yang terjadi? Kini duka dan kecemasan benar-benar hanya menjadi milik saya pribadi padahal suster itu juga murid Kristus dan jauh lebih paham ajaran konsili....”.  

Tampaknya sang biarawati sangat tersinggung dengan tulisan bernada ”kritik” tersebut yang sesungguhnya hanya ingin mendeskripsikan situasi konkret yang tengah dialami oleh  sang karyawati (dan pasti dialami karyawan/ti yang lain juga). Diungkapkan dalam tulisan tersebut bahwa terjadi beberapa kali sang karyawati sudah harus masuk rumah sakit dan diopname lagi setelah diopname. Lagi-lagi terungkap dalam tulisan yang sama bahwa sakit yang ia derita adalah akibat kurang gizi dan beban kerja yang sangat banyak. Hal ini berdasarkan informasi dokter.

 Ya, beban kerja yang ia pikul sangat tidak imbang dengan gaji yang ia peroleh. Gaji pokok yang diterima oleh ibu beranak dua ini hanya Rp414.000. Bahwa ada tunjangan lembur dan sebagainya, tentu jauh dari angka tersebut. Sementara itu, harga beras mencapai Rp8.000/kg atau gula mencapai Rp18.000/kg, belum lagi kebutuhan-kebutuhan lain yang masih bersifat sangat dasar.

Dengan gaji yang seperti itu, dia cenderung mengabaikan asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya sendiri sebab ia lebih mengutamakan kebutuhan hidup dua orang anaknya yang masih balita. “Kalau saya, masih bisa tahan-tahan. Tapi kalau anak-anak kan tidak bisa. Itu pun masih sangat kurang untuk anak-anak saya,” keluh wanita berbadan mungil itu dalam tulisan tersebut. Akibat sakitnya yang terakhir, dia kehilangan 9 kg berat badan. “Mau tidak mau, saya harus tetap bekerja untuk anak-anak saya. Apa boleh buat,” katanya pasrah.

Anti Kritik

Sastrawan Seno Gumira Ajidarma dalam epilog buku “Matinya Tukang Kritik” (Lamalera, 2006) karya Agus Noor mengatakan, dunia bertambah sempurna karena kontribusi sikap kritis. Karena itu, berlaku diktum, kritik mutlak perlu demi kemajuan zaman dan kebaikan bersama. Dengan kata lain, keberadaan kritik mutlak sebagai bagian idealitas sendiri, dan di sanalah kritik ideologi mendapat pembenaran atas kehadirannya. Lagi katanya, lenyapnya tukang kritik, bukan sukses kebudayaan, tetapi awal ketertindasan baru.

Dengan demikian, sikap kritis mengandung energi yang sangat luar biasa. Orang yang ingin maju adalah orang yang sudi mendengar dan menerima kritik. Dengan kata lain, seseorang yang anti kritik apalagi resisten terhadap kritik yang baik, harus bersiap-siap kehilangan segalanya dan “mati”. Kritik berfungsi mengingatkan seseorang atau institusi atau negara bahkan siapa saja untuk melakukan perbaikan atas kekeliruan-kekeliruan yang sempat dilakukan. Kritik berfungsi sebagai early warning sebelum sesuatu yang jauh lebih besar dan mencelakakan benar-benar datang. Dan karena itu, kritik sangat bersifat profetis!

Yang terjadi dalam “kasus” tersebut, sang ketua yayasan memang menangkap dengan cerdas orang atau karyawati yang dimaksud dalam tulisan itu (“Natal, Hari Solidaritas Agung; Merenungi Nasib “Buah Hati Gereja”, meski penulis tidak menyebut nama sang karyawai. Hanya saja, orang yang sama kehilangan kecerdasan untuk menangkap pesan di balik tulisan itu.

Kembali ke sikap anti kriti. Hanya diktator, manusia berhati nurani tumpul, yang merasa benar sendiri dan menolak kritik. Biasanya, orang semacam ini akan langsung mencari korban jika ada kritik yang mengarah pada dirinya. Mau contoh? Mantan Presiden RI, Jenderal berbintang lima Soeharto. Jangan coba-coba kritik dia! Masih ingat ungkapan nanti tak gebug? Korbannya berjatuhan di mana-mana. Sandiawan Sumardi (Romo) dan adiknya Benny Sumardi pernah merasakan itu karena ‘menyembunyikan’ Budiman Sudjatmiko dan kawan-kawan. Djatmiko dan kawan-kawan ketika itu menunjukkan sikap kritis pada rezim Soeharto. Selain itu masih sangat banyak contoh lain.

            Sekali lagi, kritik itu penting. Memang untuk menerima kritik dibutuhkan kebesaran jiwa, kefajaran pikiran dan kejernihan hati, iman, nurani. Semoga biarawati tersebut sempat membaca tulisan ini. Hidup kritik! Hidup tukang kritik!

Penulis adalah wartawan di Jakarta
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD