Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Sabtu, 20 Agustus 2011

Sekaranglah Saatnya Masuk Surga


Dokter Kornelius Kodi Mete

MEWAWANCARAI  Bupati Sumba Barat Daya (SBD), dr. Kornelius Kodi Mete, ibarat mengobrol  dengan kawan dekat. Sangat cair. Berhadapan dengan orang baru sekalipun,  Dokter Nelis, panggilan akrabnya, tidak menarik  jarak dengan lawan bicaranya. Dia akan tertawa ngakak, terbahak-bahak kalau ada  yang lucu.

Penampilannya apa adanya. Bersahaja.
Berpakaian juga tidak seperti seorang bupati dengan banyak aksesoris di badan seperti jam tangan  emas bertaburan berlian, cincin emas bermata batu-batuan mahal. Di tengah orang kampung, banyak orang tidak bisa membedakan mana bupati dan mana pimpinan dinas.

Hari Kamis (21/7/2011), ketika berada di salah satu desa di Kodi, seorang bapak tua menuntun kuda sandlenya di pinggir jalan. Mobil dinas ED 1 SBD yang melaju perlahan disuruhnya berhenti. Dokter Nelis turun dari mobil dan mendekati bapak tua itu. “Mau bawa ke mana?” Bapak tua itu menunjuk ke arah depan. Ketika sadar dan tahu orang yang menyapanya adalah bupati, bapak tua itu tergagap-gagap dan spontan memberi hormat.  Dia  tidak menduga seorang bupati tampil begitu sederhana.

“Jadi bupati itu khan hanya  untuk tanda tangan saja toh, urus administrasi. Untuk apa  jaga wibawa yang hanya untuk menjauhkan masyarakat? Jadi pemimpin itu  untuk masyarakat.  Mau cari apa  lagi?” kata Dokter Nelis kepada Pos Kupang di Kodi,  Kamis (21/7/2011). Dokter Nelis ke Kodi, hari itu ingin melihat kebun dan tanamannya. Tidak ada anggota Sat Pol PP yang mengawal seperti di tempat lain, yang bahkan mesti dengan mobil patroli  polisi  yang meraung-raung membelah kesunyian desa dan mengganggu kenyamanan warga.

Dengan sikap dan pembawaannya itu, Dokter Nelis sebenarnya ingin mendobrak kelaziman, bahkan  apa yang  ditradisikan, bahwa bupati itu raja yang harus disembah, bahwa pejabat itu status sosial yang sangat bergengsi dan karena itu harus ditarik jarak dengan masyarakat biasa.
Dia ingin mengatakan, pejabat itu tempatnya di masyarakat, bukan mengagendakan dan atau mencari  peluang di Jakarta dan kota-kota besar lain di Tanah Air untuk menghadiri seminar ini dan itu, menerima piagam penghargaan ini dan itu.  Dia terbilang bupati yang jarang ke luar daerah jika tidak ada urusan yang urgen.
Bahkan kalau ke Jakarta, bisa langsung kembali dalam sehari kalau segala urusan tuntas. Dia bukan tipe petualang.

Jejak langkahnya setiap hari adalah kantor, rumah, desa dan kebun.  Saban petang, selepas jam kantor, Dokter Nelis pasti ke kebun. Jika memungkinkan dan kondisinya mengharuskan, pagi buta dia juga ke kebun. Setelah itu baru balik ke rumah menyiapkan diri dan bergegas ke kantor.
Dia ke kebun bukan sekadar melihat atau mengawasi seperti seorang mandor. Sebaliknya dia memang turun ke kebun  mencangkul, menggembur, menanam dan menyiangi.  Persis seperti seorang petani.  Kecintaannya pada kebun dan petani dinyatakan dengan menyebut pasangannya sebagai Paket Petani saat bertarung pada Pemilu Kada  SBD tahun 2008 lalu.

Kepada wartawan  Pos Kupang, Tony Kleden, Dokter Nelis banyak bercerita tentang masyarakat Sumba Barat Daya, tentang pola  pendekatan pemerintahannya, tentang hobinya berkebun, sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Bagaimana Anda memaknai jabatan bupati pada diri Anda?
Jadi bupati itu merupakan kepercayaan, panggilan, tanggung jawab.  Itu tanggung jawab,  kepercayaan untuk berbuat baik, mengabdi orang supaya jadi lebih baik, lebih maju. Nah, untuk mencapai itu, berbagai gaya kita pilih.  Tetapi jangan pilih gaya-gaya yang sulit. Pilih yang gampang saja sehingga masyarakat  menjadi dekat.  Orang itu harus dihargai sebagai manusia. Nah,  untuk itu syaratnya harus ada damai. Setelah ada damai, kita usahakan lagi supaya semua orang bisa terlibat dalam pembangunan.

Di Sumba ini status sosial masih sangat penting. Ada yang berstatus umbu. Bagaimana Anda membawa diri dalam situasi seperti  itu?
Saya bukan umbu, bukan raja.   Ha ha ha ha.  Masyarakat di SBD ini lebih banyak bukan umbu. Siapa pemilih terbanyak? Pemilih terbanyak khan rakyat biasa.

Mengapa mesti  dipikir?
Tetapi di tempat lain, jabatan seperti bupati menjadi sangat bergengsi, sehingga orang ingin tampil sebagai raja saja..
Mereka lain, dengan budaya lain. Mereka dibentuk dengan budaya lain khan? Saya tampil apa adanya, tampil dengan diri saya sendiri yang begini ini.

Apa program prioritas Anda membangun SBD?
Saya ingin orang SBD ini sehat, punya pendidikan yang baik,  cukup makan, hidup bisa aman.  Itu  khan kebutuhan dasar. Kira-kira mana yang masyarakat bisa terlibat langsung memenuhi kebutuhan dasar ini. Semua kebutuhan itu kemudian dikemas dalam empat isu  strategis, yakni Desa Berair, Desa Bercahaya, Desa Berkecukupan Pangan dan Desa Aman dan Tertib. Mayarakat ternyata bisa, tanpa kita bikin proyek.

Bila dievaluasi, sudah sejauh mana  hasilnya sejak dilantik jadi bupati?
Menurut saya, tidak terlalu jauh berbeda dengan target-target dalam RPJM (rencana pembangunan jangka menengah). Saya tidak katakan semua sudah melampaui target, tapi sudah lumayan. Sudah banyak yang melampaui target. Mengapa bisa? Karena masyarakat sungguh-sungguh terlibat langsung. Misalnya masalah cukup air. Masyarakat dengan swadaya sendiri memenuhi kebutuhan air. Begitu juga dengan desa bercahaya. Desa tertib dan aman, ya, orang mulai sadar bahwa ganggu orang itu tidak baik.

Anda sudah bertugas di Rote, juga di Sumba Barat. Sekarang jadi Bupati SBD. Anda lihat perbedaan mendasar apa antara masyarakat di tempat lain dengan di SBD?
Kultur beda membuat orang  juga berbeda. Itu normal.  Tetapi pemimpin itu  harus berpikir dan bekerja untuk membawa masyarakat ke mana. Ke arah yang baik  toh? Kita coba lihat di masyarakat itu, mana yang bisa gampang kita masuk dan melakukan pendekatan yang cocok.  Masyarakat tidak bisa kita dekati dengan pendekatan kurikulum. Apa yang bisa mereka pikirkan dan capai, itulah yang mungkin bisa kita buat untuk mereka.

Anda kok santai dan enteng saja menghadapi pekerjaan. Mungkin Anda bupati yang paling santai menghadapi tugas yang tentu saja tidak ringan...
Mau dibilang ringan juga tidak, berat juga tidak. Kalau bilang berat, hadapinya nanti malah jadi sakit.

Apakah karena Anda seorang dokter? Apakah Anda merasa ada manfaatnya ilmu kedokteran membantu Anda  sebagai seorang bupati?
Ya, dokter itu khan diajari mendiagnosa, mengumpulkan simptom-simptom, melihat kesimpulan, kemudian merancang apa terapinya. Bagaimana jalan keluarnya. Kalau diagnosanya belum pas, diagnosa tambahan apa yang harus dicari lagi? Tetapi kalau dikatakan politik, ya politik juga. Tetapi politik yang dimaknai sungguh-sungguh. Kalau dalam pelaksanaan jelek, ya itu karena banyak orang ditindas. Sekarang  jangan lagi. Atau gunakan pendekatan kekuasaan atau militer dan paksa masyarakat untuk maju, saya pikir banyak masyarakat akan meninggalkan kita. Seperti dalam pemilu kada kali lalu itu rakyat terpisah,   dukung ini dukung itu. Itu karena karena proses politik. Tetapi setelah selesai, mari kita bergabung lagi, bahu membahu membangun masyarakat. Jangan lagi membawa perbedaan politik ke dalam kehidupan sehari-hari dengan misalnya menyebarkan isu ini dan itu. Itu tidak produktif dan hanya merusakkan sendi-sendi kehidupan kita. Jangan berpisah lagi. Kalau kita berpisah karena  politik, ongkosnya besar dan dampaknya luas sekali.

Dibanding dengan kabupaten-kabupaten pemekaran di NTT, SBD sepertinya sangat pesat majunya. Apakah karena sudah ada pra kondisi yang baik atau karena ada faktor lain?
Saya tidak mengatakan bahwa di sini lebih cepat dari kabupaten pemekaran lain. Tetapi saya harus mengatakan bahwa pemekaran di sini karena rakyat sungguh-sungguh menginginkan. Dan begitu mekar, mereka sungguh-sungguh tahu mengapa kita mau mekar.
Mereka tahu bahwa mekar itu supaya hidup menjadi lebih baik. Karena itu mereka mau berkorban. Berkorban hartanya, bahkan berkorban meninggalkan perilakunya yang jahat. Nah, kita dorong terus agar masyarakat ini terus maju bertahap. Saya selalu katakan,  kalau mau masuk surga jangan nanti, mengapa tidak masuk surga sekarang? Mengapa harus tunggu mati dulu? Sekarang saatnya masuk surga. Jangan tunggu mati baru masuk surga.

Anda senang berkebun.  Tidak  capek?
Mana ada pekerjaan yang tidak capek? Tetapi kalau kerja itu dinikmati, maka jadinya enak dan enjoy.

Konon, kebun  Anda banyak hasilnya, di rumah tidak perlu beli beras..
Yang pasti berkebun itu menghambat   orang jadi pencuri.  Hahahaha...  Sebab makanan sudah ada, jagung ada, beras ada. Kenapa curi lagi?

Konsumsi suplemen tambahan sehingga tetap kuat?
Oh, tidak. Jus saja saya. Makan banyak sayur-sayuran. Tidak ada extra fooding. Makan apa adanya.

Anda memang tunjukkan contoh kepada masyarakat, jarang dilakukan pemimpin lain..
Kalau kita kampanyekan ketahanan pangan, ya kita juga mesti tunjukkan  bagaimana ketahanan pangan keluarga di rumah. Tanam lombok, tanam sayur,  ubi dan lain-lain.

Apakah semangat berkebun ini warisan dari keluarga?
Kami itu sejak dari sekolah sudah tanam sayur untuk dijual cari uang. Di SMP, saya sudah tanam sayur, sebagian untuk makan, yang lain untuk dijual. Di SMA, tanam sayur lagi. Sayur dijual di asrama, makan bersama, dapat  uang lagi.

Kalau sibuk  berkebun, Anda tidur berapa jam sih sehari?
Yaa. kalau bisa enam jam. Tetapi kalau ke luar daerah khan tidurnya banyak waktu toh. Tidak ada tamu. Hahahaha...

Waktu kuliah di Yogyakarta, terlibat organisasi kemahasiswaan?
Saya aktif di beberapa organisasi. Di antaranya Ketua Keluarga Besar Sumba (KBS). Juga anggota GMNI, tetapi tidak terlalu aktif.  Juga terlibat dalam organisasi keagamaan. *
 
Penulis : tony kleden
 Sumber : Pos Kupang Cetak
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD