Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Jumat, 19 Agustus 2011

Mulai Menikmati Hasil Pemekaran


”Kalau Sumba Barat Daya tidak dimekarkan, kami tidak mungkin menikmati hidup seperti ini. Sampai tahun 2007, kami di wilayah Kodi sulit mendapatkan air bersih, listrik, dan makan sehari-hari pun susah. Sekarang, semuanya sudah tersedia,” kata Obet Ranggamone, Kepala Urusan Pemerintahan Desa Atadelo, Kecamatan Kodi, Jumat (15/7). 

Apa yang dikatakan Obet memang benar. Kini, warga di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) sudah bisa menikmati air bersih meski dalam satu desa hanya tersedia 1-3 sumur. Namun, airnya tetap tersedia sepanjang musim kemarau, dibandingkan dengan situasi sebelum pemekaran yang sangat sulit menikmati air bersih sepanjang tahun.

Sumur yang tersedia di setiap desa masih terbatas sehingga terkadang warga harus antre di sumur itu sampai larut malam. Di Desa Atedalo, misalnya, terdapat dua sumur, yang digunakan oleh sekitar 68 kepala keluarga atau sekitar 421 jiwa.

Sumba Barat Daya dimekarkan dari kabupaten induk, Sumba Barat, tahun 2007. Sebelum pemekaran, listrik hanya ada di pusat kecamatan, tetapi tidak semua warga di kecamatan itu kebagian listrik. Sebagian besar warga hidup dalam kegelapan, apalagi di kampung dan desa. Bahkan, listrik menyala pun hanya selama pukul 18.00-pukul 22.00 Wita.

Subsidi pemda
Setelah pemekaran, seluruh warga kecamatan menikmati listrik selama 24 jam, kecuali desa-desa terpencil hanya menikmati listrik selama 12 jam dari pukul 18.00-06.00 Wita. Listrik dari PT PLN tersebut hanya melayani permukiman warga desa/kelurahan yang terkonsentrasi dalam satu wilayah.

Khusus rumah warga terpencar, pemerintah setempat menyediakan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Kapasitas listrik tenaga surya hanya bisa mencukupi kebutuhan tiga bola lampu. PLN menyediakan alat colokan untuk mengecas telepon seluler karena saat ini di desa dan kampung-kampung pun masyarakat sudah menggunakannya.

Sekitar 20 mesin generator desa disediakan pemda, dijaga dan dirawat secara bergilir oleh warga desa yang dibagi dalam beberapa kelompok. Kelompok ini juga menanggung biaya bahan bakar minyak (bbm) untuk mengoperasikan mesin generator itu setiap hari.

”Pemasangan meteran PLN di rumah-rumah ditanggung pemda, nilainya Rp 3 juta-Rp 5 juta, tergantung besaran Kwh. Masyarakat mencicil biaya meteran itu ke pemda melalui camat setempat,” tutur Obet.

Jumlah penduduk SBD sebanyak 278.955 jiwa (2010) tersebar di delapan kecamatan, 96 desa/kelurahan. Dari jumlah 96 desa/kelurahan ini, sekitar 25 persen atau 24 desa teraliri listrik PLN, 20 desa dapat bantuan generator listrik dari pemda, dan 52 desa masih menggunakan PLTS, tetapi tidak merata bagi semua rumah penduduk, sebagian rumah masih gelap.

Kepala Desa Bondokodi, Kecamatan Kodi Besar, SBD, Hermanus Ulle mengatakan, ketersediaan listrik saat ini sangat membantu warga. Warga bisa melakukan sejumlah usaha, seperti usaha pompa ban kendaraan di jalan-jalan, menenun sampai larut malam, membuat es, memelihara ayam, membuat kue, dan anak-anak sekolah bisa belajar pada malam hari.

”Akses jalan dari desa dan kampung ke pusat kecamatan dan kabupaten pun makin lancar. Sebelum pemekaran, dari Kodi Besar ke Tambolaka (ibu kota Kabupaten SBD) ditempuh hampir dua jam, sekarang hanya 30 menit,” tutur Ulle.

Program strategis
Asisten III Sekda SBD Martin Bullu mengatakan, tahun 2009 pemda meluncurkan empat program strategis, yakni desa bercahaya (terang), desa cukup pangan, desa berair, dan desa trantip (tenteram dan tertib). Setelah dua tahun diluncurkan, sudah sekitar 40 persen warga menikmati hasil dari program itu. Masih ada sejumlah kekurangan, tetapi pemda terus bergerak mengarah ke kesejahteraan masyarakat.

Program air bersih, misalnya, pemkab bekerja sama dengan program Pro Air dari Jerman mengadakan pemipaan, melakukan pengeboran sumur, menarik air dari sumber di dataran rendah ke permukiman penduduk, dan memperbaiki saluran yang rusak. Pemkab juga membangun perusahaan daerah air minum (PDAM) dengan menarik air dari sumber mata air di Wejewa Barat, sekitar tujuh kilometer dari Tambolaka.
Gangguan trantip termasuk pencurian turun drastis dalam tiga tahun terakhir. Para preman, kepala pencuri, dan anak buahnya yang dikenal meresahkan masyarakat di data oleh para kepala desa kemudian diangkat jadi satuan polisi pamong praja (Satpol PP).

Jika ada pencurian di desa, Satpol PP sudah mengetahui pelaku dan menciduknya. Pencuri kemudian membuat surat pernyataan tak mencuri lagi dan mengembalikan barang hasil curian ke pemilik. Jika perbuatan serupa diulangi, mereka diproses secara hukum.

Sebelum pemekaran, kasus gizi buruk yang ditangani Rumah Sakit Katolik ”Caritas”, Waitabula, 457 kasus (2005), kini hanya 12 kasus (2010). Masyarakat berlomba membentuk kelompok kerja melalui program ”Godgol” (gerakan koperasi olah desa dan gerakan koperasi olah lahan). Pemkab menyuntik uang pangkal kepada setiap kelompok tani senilai Rp 3 juta.

Sosialisasi empat program itu dimulai dari tingkat desa sampai kabupaten melalui tim Godgol di setiap desa oleh para PNS yang direkrut dari desa itu. Sekitar 100 PNS disebar ke delapan kecamatan.
Mereka membentuk kelompok tani, mengajak masyarakat turun ke ladang (sawah), membantu masyarakat bentuk koperasi simpan pinjam, mengarahkan orangtua menyekolahkan anak, dan mengajak warga menjadi petugas satpam di desa masing-masing.

”Masyarakat yang masuk kategori pencuri didata kemudian dipanggil Satpol PP dan dibina. Paling penting, mereka diberi pemahaman bahwa mencuri itu merusak seluruh tatanan rasa aman dan tenteram masyarakat,” kata Bullu.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi SBD Sakarias Natara mengatakan, PLN sedang mengembangkan energi terbarukan berupa PLTH (air) dengan kapasitas 5,5 MW, bekerja sama dengan BPPT untuk membangun PLTS berskala besar yang langsung disambungkan ke PLN. Pemkab SBD juga melakukan kerja sama dengan PLN dan konsorsium 20 negara Eropa yang berkedudukan di Belanda untuk menjadikan Sumba sebagai ikon pulau energi baru terbarukan, termasuk di dalamnya memanfaatkan kotoran ternak sebagai ganti kompor minyak tanah.

Tanpa mengesampingkan sejumlah kekurangan, Kabupaten Sumba Barat Daya telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakatnya. Moga-moga segala kekurangan dibenahi sehingga daerah ini pun tumbuh lebih maju lagi.



Sumber : Kompas
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD