Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Minggu, 14 Agustus 2011

Membangun Sumba Berbasis Kekuatan Petani dan Nelayan

Oleh
Frans Umbu Datta**)
Pendahuluan
 “ Membangun Sumba berbasis kekuatan petani dan nelayan”. Judul tulisan ini sesungguhnya adalah sebuah pertanyaan kritis, apakah diujung kata-kata ini hendak diberi tanda tanya ataupun tidak, ia tetap merupakan ungkapan yang bermakna reflektif. Judul ini semakin relevan dijadikan pertanyaan sehubungan dengan momentum Pesta Emas SMU Katolik Anda Luri di Waingapu Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Pertanyaan reflektif ini harus bisa melahirkan pikiran-pikiran kritis prospektif dan konstruktif.  Membangun Sumba tidak identik dengan hanya sekedar bangun dari tidur atau mati surinya orang Sumba, yang ketika  mereka akan merayakan hari ulang tahun almamaternya mengingat bahwa mereka adalah orang Sumba lalu mendadak sontak mau menulis buku tentang Sumba. Melalui momentum  ini  justru orang Sumba harus bangkit dan berubah menjadi penduduk (petani dan nelayan) yang maju dan mandiri secara ekonomi berbasis pertanian lahan kering dalam arti luas (peternakan, tanaman pangan, dan lain-lain), perikanan dan kelautan, kawasan pantai dan pesisir  dan sumberdaya alam daratan dan laut lainnya dengan pola pengelolaan yang berkelanjutan. Agar judul tulisan ini makin jelas maknanya, kita perlu mencoba menjawab atau setidaknya mengenali sederetan pertanyaan kritis yang terus mengitari judul ini seperti yang akan diungkapkan di bawah ini.
Apa ada petani atau nelayan di Sumba?
            Secara definisi, boleh dikatakan hampir tidak ada penduduk Sumba yang layak disebut petani. Petani semestinya adalah primary producers, orang-orang yang menekuni pertanian selama hidupnya untuk memenuhi tidak saja kebutuhan perutnya dan keluarganya tetapi terutama menjadi backbone dari sistim produksi pertanian yang sustainable mendukung kehidupan banyak orang yang bekerja pada sektor lainnya untuk tetap bertahan dan produktif. Dari definisi singkat ini, keluarga kita di perdesaan Sumba hanyalah subsistent farmers, working and living just for the sake of their own stomach
Selanjutnya, orang Sumba yang hidup secara subsisten dari kegiatan melaut dengan perahu serba sederhana, dengan keterampilan dan teknologi serta peralatan penangkapan ikan yang turun-temurun tidak berubah bentuk, ukuran dan kapasitas bahkan bisa disebut masih primitif. Ukuran perahunya sangat kecil (dari bahan berupa potongan/gelondongan pohon besar yang dilubangi), tidak dapat melaut lebih dari 2 kilometer dari garis pantai, ikan yang dapat ditangkapnya adalah dari spesies yang hampir sama dari waktu ke waktu dan dalam jumlah yang hanya cukup untuk kebutuhan sendiri, dan seterusnya. Dengan ciri dan cara melaut seperti ini dari dahulu hingga sekarang bahkan nanti untuk batas waktu yang masih sulit diramalkan, dapatkah orang-orang ini dikategorikan sebagai the true fishermen?. Tentu saja tidak, lalu kapan mereka dapat disebut nelayan sesungguhnya, only time can tell us when.
Berapa banyak petani  dan nelayan Sumba dan seperti apa profilnya?
Kalau petani subsisten Sumba itu kita hitung, mereka akan membentuk 75% dari penduduk pulau Sumba yang kini berjumlah lebih dari 500.000 jiwa. Mereka ini umumnya berpendidikan tertinggi tidak tamat SMP bahkan mayoritasnya adalah tidak tamat SD. Kita tahu dengan latar belakang pendidikan seperti ini bakal tidak akan ada perubahan dalam sistim pertanian di Sumba. Merekapun sangat jarang dilibatkan dalam pelatihan-pelatihan keterampilan bertani. Pendidikan keterampilan bertani sangat perlu agar mereka dapat memiliki wawasan bertani wirausaha walaupun untuk beberapa kawasan di Sumba Barat Daya dan Sumba Barat misalnya, lahan pertanian yang dimiliki sudah sulit untuk diperluas karena warisan leluhur ini hanya itu saja.  Memperluas lahan bertani ke lahan tetangga berarti malapetaka, perang tanding akan terjadi, korban jiwa sia-siapun tidak terelakkan.Produktivitas lahan garapan yang sudah sempit ini semakin menurun karena degradasi kesuburan yang cukup serius sejalan dengan waktu, jika tanpa input sarana produksi yang memadai, tidak akan dapat diharapkan mampu menyediakan kebutuhan pangan minimal petani dan keluarganya apalagi dijual kepada orang lain. Jadi intensifikasi pertanian di lahan seperti ini juga membutuhkan input yang lebih besar sehingga menjadu usahatani yang tidak efisien.  
Profil nelayan pun tidaklah jauh berbeda dari sahabatnya  yang bekerja di daratan. Jumlah orang Sumba yang dapat disebut nelayan sebenarnya sangatlah kecil, mayoritas penduduk Sumba yang melaut adalah penduduk migran dari provinsi atau kabupaten lain.  Orang Sumba asli bukanlah tipikal pelaut, bahkan mayoritas orang Sumba tidak dapat berenang, karena umumnya tidak merasa perlu belajar berenang karena kehidupan sehari-harinya tidak sering bersentuhan dengan air yang dalam dan volume air yang besar.  Mereka juga berpendidikan sangat rendah sementara sentuhan pelatihan keterampilan  melaut secara sengaja, terarah dan teratur hingga mandiri  dari pemerintah daerah sangatlah terbatas jika ada. Konsekuensi logis dari melaut secara tradisional ialah produktivitas sulit diukur karena hasil tangkapan tidak teratur jumlah dan frekuensi perolehannya serta tidak konsisten kualitasnya, layak hanya untuk kebutuhan subsisten. Jadi jangan diharapkan membangun Sumba dengan kekuatan nelayan minimal untuk saat ini.
Apa peran pertanian dan perikanan kelautan dalam membangun bangsa?
Aga kita dapat sedikit saja lebih mendalami perjalanan sejarah pertanian dan perikanan kelautan di Indonesia, mari kita tanyai diri kita apa peran atau fungsi utama pertanian dan perikanan kelautan atau lebih tepatnya apa yang kita dapatkan sebagai bangsa bila pertanian dan perikanan kelautan di majukan terus. Semua orang yang belajar sedikit saja tentang bidang-bidang ilmu ini, pasti cukup memahami apa peran dari sektor primer ini bagi pembangunan dan kelangsungan bangsa. Ada empat fungsi  fundamental pertanian dan perikanan kelautan yang patut kita ingat yaitu (a) mencukupi pangan dalam dalam negeri, (b) penyediaan lapangan kerja dan berusaha, (c) penyediaan bahan baku industri, dan (d) sebagai penghasil devisa bagi negara. Apakah keempat fungsi ini telah berjalan sebagaimana mestinya. Bagian yang keempat tidak akan dibahas  karena sudah dengan sendirinya yang tiga yang pertama berjaland engan baik maka sector ini akan menjadi sumber devisa negara yang amat penting karena sustainable selama masih ada petani dan nelayan dan selama masih sumberdaya alam pertanian dan laut serta pesisir. 
Dari sisi penyediaan pangan saja rasanya belum tercukupi, khususnya di Sumba, kurang gizi  bahkan gizi buruk masih dijumpai di kalangan masyarakat. Beras masih harus diimpor dari daerah lain padahal sebagian Sumba sangat potensil menghasilkan beras minimal untuk konsumsi internal penduduk Sumba. Jagung dan ubi-ubian yang sangat cocok dengan alam Sumba dan sedemkian beraneka ragam jenisnya  tidak tersedia dalam jumlah yang seimbang dengan kebutuhan agar terhindar dari kerawanan pangan yang bersifat laten di beberapa kawasan di daerah ini. Rencana umum tata ruang  yang telah dibuat perlu ditegaskan dan diimplementasikan termasuk di dalamnya kebijakan pewilayahan komoditi  bersama masyarakat agar kantong-kantong produksi beras, jagung, ubi-ubian dan kacang-kacangan kembali menjadi komoditas penyedia karbohidrat dan protein yang cukup bahkan masih dapat dipasarkan kelebihan produksinya.
Jika dikaji dari aspek penyediaan lapangan kerja dan lapangan berusaha, maka sesungguhnya mayoritas angkatan kerja (hingga 70% dari total angkatan kerja) di pulau Sumba bekerja tetap/bekerja sambilan sebagai petani/peternak. Namun sekali lagi saya tekankan bahwa jumlah tenaga kerja yang terserap oleh sektor pertanian yang sedemkian banyak ini mencerminkan setidaknya dua kondisi obyektif. Pertama, tidak tersedianya alternatif pekerjaan di desa bagi unskilled labours sebagai akibat dari masih rendahnya pendidikan formal rata-rata penduduk Sumba yaitu kelas V SD, ditambah lagi dengan sangat minimnya kesempatan mengikuti pelatihan keterampilan bertani. Tenaga penyuluh pertanian terpadu telah lama hilang. Kini baru disadari bahwa peranan mereka sangat besar dan strategis bagi pertumbuhan dan perkembangan kawasan pertanian dari sekedar agraris menjadi kawasan pertumbuhan agribisnis. Baru tahun lalu dimulai kembali adanya perekrutan tenaga penyuluh pertanian sejak mereka dihalau dari ladang dan sawah oleh kekuatan euforia demokrasi  masa reformasi. Kekuatan reformasi ini cenderung pada awalnya menilai dan merasa bahwa segala sesuatu yang berbau orde baru itu harus dihapus termasuk kelompok tani pembaca dan pemirsa, dan hal-hal positip lainnya yang berhubungan dengan pertanian ketika itu. Kedua, yang kontras dengan yang pertama ialah menguatnya arus urbanisasi penduduk/orang muda tanpa keterampilan apapun yang kemudian menjadi beban sosial dan ekonomi masyarakat perkotaan. Hal ini adalah dampak dari monotonnya jenis usaha dan aktivitas pertanian dan kegiatan produksi dan pemasaran berbasis pertanian/peternakan dan sangat terbatasnya produktivitas lahan pertanian di kawasan perdesaan sehingga di nilai kurang menjanjikan masa depan yang lebih baik bagi petani muda untuk bertahan di desa melanjutkan jejak dan karir ayah ibunya di desa sebagai petani subsisten. Arus urbanisasi kaum muda tani tidak terampil bertani maupun tidak terampil menjadi tenaga kerja bangunan dan buru pelabuhan di kawasan perkotaan juga mempunyai dampak yang sangat besar pada kurang terkelolanya lahan pertanian terutama di kawasan-kawasan yang masih jarang penduduknya. Petani-petani tua mulai kehilangan kekuatan fisik dan semangat bekerja.  Konsekuensinya  adalah semakin luasnya lahan tidur dan lahan marginal karena tidak terurus. Hal lain yang mungkin ada hubungannya adalah makin sempit dan tidak berkualitasnya lahan pertanian yang tersedia. Rendahnya produktivitas lahan pertanian/peternakan menciutkan hati pemuda tani untuk bertahan di desa.
 Yang paling lamban pertumbuhannya dalam sektor pertanian adalah aktivitas  produksi pertanian yang berorientasi pada penyediaan produk-produk pertanian menjadi bahan baku industri (industri menengah, industri kecil bahkan industri berskala rumah tangga sekalipun). Sebagai contoh sederhana, hingga kini pisang, kakao, kelapa,  ubi-ubian, kacang mente, kacang tanah, kulit hewan, ikan segar, dan banyak lagi komoditas potensial lainnya dari sektor pertanian/peternakan dan perikanan kelautan masih dijual gelondongan ke daerah lain dengan harga yang sangat murah pada tingkat petani dan hanya memperkaya para tengkulak. Para tengkulak justru tidak banyak yang berinvestasi untuk mendorong kemajuan industri kecil lokal karena jika industri kecil lokal berkembang, keuntungan menjual gelondongan keluar daerah akan tertutup atau minimal terbatas sehingga mengurangi keuntungan para tengkulak ini.  Keuntungan maksimal dari produksi pertanian dan peternakan lebih banyak dinikmati para tengkulak yang tidak jarang berkolusi dengan aparat agar semua proses transportasi produk tersebut keluar dari Sumba lancar dan aman. Mereka pada saat yang sama selain menekan atau memperkecil dayasaing dan dayatawar petani/peternak, mereka juga mematikan kemandirian perekonomian lokal yang kesehariaannya kemudian sangat bergantung pada yang disediakan toko-toko para pedagang.  Beberapa contoh konkrit dapat saya suguhkan menjadi pengenak kisah ini. Pisang dari Sumba Barat Daya dan Sumba Barat disebut pisang Bali ketika ketika dijual di sana dengan harga beberapa kali lipat dari harganya ketika dibeli dari petani di daerah asalnya tadi. Ketergantungan pada minyak goreng bermerek (Bimoli, dan lain-lain) dari luar semestinya disikapi dengan semangat pemberdayaan sumberdaya alam lokal melalui dirangsangnya produksi minyak goreng berkualitas setara dengan membangun industri kecil pembuatan minyak goreng berbahan baku kopra yang cukup tersedia. Industri rumah tangga pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) juga semestinya cukup potensial di Sumba. Di Waikabubak pernah ada pabrik tapioka yang cukup besar namun itulah kisah manis awal pertumbuhan industri  kecil berbasis ubikayu di Sumba. Kini kita senang mendengar cerita tentang hal ini tetapi tidak banyak orang memiliki kepekaan telinga dan hati terutama mereka yang memilih untuk menjadi pelayan rakyat jarang mau mendengarkan dengan hati keluhan hati rakyatnya. Hati mereka semestinya menangis menyaksikan banyak mobil mewah berseliweran di jalanan dan dimiliki oleh orang yang tidak memiliki lahan pertanian dan juga tidak menggarap lahan pertanian sementara penduduk asli Sumba memiliki lahan pertanian yang cukup tetapi tergusur secara ekonomi dan pendidikan.
Bila petani/masyarakat kita lebih rajin dan lebih ulet sedikit saja, dan mau belajar terus untuk berubah, dengan sentuhan permodalan pemerintah daerah, mereka niscaya akan lebih baik, kasus gizi buruk akan hilang, kematian ibu dan anak di bawah umur satu tahun dan lima tahun akan menurun tajam bahkan tidak ada lagi. Kejadian-kejadian luar biasa seperti ini menampar wajah kita semua agar bergerak dengan tulus menyikapi keadaan ini. Kita saksikan kebiasaan yang sedang berlangsung di kalangan petani di Sumba. Petani menjual padinya kepada tengkulak ketika masih menguning di sawah dengan harga sangat murah tanpa memberi nilai pada sarana produksi yang digunakannya seperti pupuk (jika ada dan digunakan), waktu petani (jarang diberi nilai ekonomi sehingga tidak dihitung sebagai faktor produksi yang sangat penting), tenaga kerja petani yang juga jarang dihitung (berapa rupiah per jam, bekerja berapa jam dalam sehari, perbulan, per musim tanam dan sebagainya) karena petani tidak menerima upah harian secara riil dari aktivitas bertaninya karena memang pertanian tanaman pangan tidak dapat seperti itu kecuali mereka (petani) pemilik sawah yang menggunakan buruh tani harian. Contoh konkrit yang sering saya sampaikan pada banyak kesempatan berdialog dengan pemerintah daerah bagaimana kita ini, apakah mungkin sapi Sumba Ongole dijual dalam bentuk daging segar, dendeng, abon, tas kulit, pupuk organik cair ke luar daerah dan dalam daerah sendiri sehingga menambah nilai ekonomi seekor sapi dan mempekerjakan tenaga kerja setempat melalui terdorongnya industri kecil dan industri rumah tangga. Industri rumah tangga seperti ini akan bertumbuh menjadi industri tahan krisis yang berkesinambungan karena bertumbuh di atas basis komoditas lokal dan tenaga kerja lokal. Sebaliknya, pengantarpuluan sapi hidup ke pulau Jawa, puluhan ribu ekor per tahun, akan secara relatif  menyebabkan 2/3 dari dari nilai ekonomis seekor sapi telah menjadi capital flight ke luar daerah meliputi jeroan (bakso,kikil, sop, dan lain-lain masakan), kulit, tanduk, bulu, isi jeroan,tulang) menjadi nilai tambah bagi para pengolah (processor) di pulau Jawa. Semestinya itulah yang menjadi capital gain bagi daerah dan masyarakat setempat  di luar harga daging seekor sapi yang sebagian besar harganya harus kembali pemilik sapi. Apa istilah yang cocok untuk penambahan nilai ekonomi produk pertanian/peternakan dan perikanan kelautan di atas? Sederhananya kita sebut saja agribisnis, namun dapatkah agribisnis dimulai dan ekonomis dilakukan di Sumba?
Prinsip dan Strategi pengembangan agribisnis di Sumba
  Apa yang saya ceritakan di atas bukan semata-mata cerita buram tentang petani/peternak dan pertanian/peternakan serta nelayan dan perikanan/kelautan di Sumba tetapi sekaligus merupakan tampilan berbagai peluang usaha yang sangat menggiurkan bagi kaum Sumba yang berniat maju dan sejahtera.     Masih ada harapan besar bahkan jaminan kesejahteraan pasti tiba di depan pintu rumah dan pintu hati setiap orang Sumba bila Sumba dikelola oleh orang yang tepat, dapat dukungan masyarakat secara cepat, biaya dan dana pendukung dalam jumlah yang memadai, dan yang paling penting dan mendesak adalah mengubah cara pandang kita pada petani/peternak dan nelayan dan membuat petani/nelayan mengubah cara pandangnya pada kita dan pada dirinya sendiri serta pada sumberdaya alam yang ada padanya. A total change of attitude sangat diperlukan oleh semua lini yang prihatin dengan Sumba dan orang-orang yang tinggal di sana.
Sumba memiliki potensi yang besar menjadi daerah yang minimal bisa self-sustained secara ekonomi sehingga intervensi atau bantuan pemerintah akan lebih banyak diberikan pada penyediaan dan pemeliharaan infrastruktur dan pengembangan sektor jasa dan sektor industri kecil menengah yang butuh modal besar. Industrialisasi pertanian di daerah ini haruslah local resource-based seperti disinggung di atas, jika tidak akan menjadi usaha yang tidak efisien dan tidak ekonomis sehingga tidak akan sustainable. Karena itu di bawah ini saya meringkas pernyataan sejumlah narasumber, beberapa hal penting/prinsip dalam pengembangan agribisnis antara lain:
(a)  Perlu pemahaman bahwa agribisnis adalah suatu sistem yang merangkai kegiatan-kegiatan  prapanen, panen,  pascapanen dan pemasaran. Setiap subsistem ini saling mempengaruhi sehingga tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain
(b)  Berorientasi pasar (market oriented) yaitu menempatkan pendekatan supply - demand sebagai pertimbangan utama,
(c)  Menerapkan konsep pembangunan yang berkesinambungan (sustainable development), yaitu dengan memperhitungkan kesinambungan supply-demand dan produksi jangka panjang
(d)  Keterkaitan sistem produksi dan pendukung perlu dijaga dan diseimbangkan, seperti :
·         Penyediaan input produksi (benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja),
·         Kredit perbankan
·         Unit-unit industri pengolahan
·         Lembaga pemasaran
·         Lembaga penelitian dan pengembangan untuk menciptakan dan mengembangkan teknologi usahatani yang mutakhir

(e)   Dukungan sistem informasi dan tersedianya data yang akurat, mudah didapat, terpercaya setiap waktu mengenai produksi, permintaan dan harga.
Agribisnis mempunyai spektrum penanggung jawab dan pelaksana yang cukup luas sehingga pengembangan agribisnis tidak hanya tanggung jawab sektor pertanian semata-mata tetapi akan merupakan interaksi harmonis dan sinergis antardepartemen yang terkait bersama masyarakat. Dari pemahaman ini maka yang paling pertama harus lebih dahulu mengubah mindsetnya justru adalah pemerintah sehingga ego sektoral tidak boleh mengatasi kepentingan yang lebih luas dan besar dampaknya bagi kesejahteraan masyarakat di daerah.  Kemudian masyarakat dan petani/peternak/nelayan secara khusus wajib mengubah mindsetnya.
Apakah pemerintah perlu ditanya mengapa masih seperti ini pertanian dan perikanan kelautan kita di Sumba?
Sambil memandang perwajahan petani/peternak/nelayan Sumba, sejumlah pertanyaan kritis dapat dialamatkan kepada pemerintah sehubungan pertanian, perikanan kelautan dan pengelolaan daerah pesisir pantai, petani dan nelayan.
Pertama, apakah pertanian kita di Sumba sudah farmer and fishermen driven and oriented? Sayang sekali jawabannya adalah belum karena umumnya masih dalam tataran kebijakan. Kita masih menunggu kebijakan yang berorienntasi petani/peternak/nelayan dan implementasinya terutama yang mengarah kepada meningkatnya minat para petani dan nelayan meningkatkan produktivitasnya. Keadaan ini diperburuk oleh efek samping (negative short-term impact) dari otonomi daerah dimana kepentingan partai politik pemenang pilkada di daerah lebih diperioritaskan daripada kepentingan pemajuan/penguatan/pemberdayaan/penyejahteraan petani/peternak/nelayan. Kepentingan suksesi kepemimpinan umumnya mendominasi kebijakan kepala daerah yang membuat kegiatan yang orientasinya “how to get the second term of power and domination”. Pemerintah daerah umumnya kekurangan kepemimpinam (lacking true leadership) untuk menjadi pendamping dan pembina serta guru masyarakat sehingga, dalam hal ini petani/nelayan dapat menjadi basis pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Sudah terbukti berulang-ulang bahwa incumbent yang sukses membuat perubahan berorientasi petani dan nelayan selalu unggul dalam pilkada karena mereka yang diperhatikan akan menjadi konstituen politik yang militan mendukung calon-calon kepala daerah yang memperhatikan kepentingan dasar rakyatnya dan karena telah menikmati hasil kerjanya secara nyata. Selanjutnya, dengan kualitas sumberdaya manusia petani dan nelayan seperti sekarang ini, masih cukup sulit untuk meramalkan terjadinya transformasi sistem pertanian subsisten menuju pertanian mandiri berbasis petani/nelayan yang mandiri pula.  Dari sudut pandang ini, dapat dikatakan bahwa peningkatan kapasitas petani/peternak/nelayan adalah hal mutlak mendasari upaya-upaya lainnya.
Kedua, seberapa besarnyakah investasi pemerintah di bidang pertanian?
Retorika peningkatan produktivitas petani dan nelayan sudah sangat sering kita dengarkan tetapi kenyataannya petani dan nelayan kita dari tahun ke tahun justru mengalami suatu “downturn” dengan indikator sederhana yang mudah dilihat seperti malnutririon (kwashiorkor dan marasmus), persentase kematian ibu dan anak yang masih sangat tinggi. Investasi di sektor pertanian dan perikanan kelautan di Sumba sangat kecil jika ada dan sering tidak berkelanjutan baik karena kekurangan modal, kemauan dan ketulusan budi pelayan masyarakat. Investasi secara serius dan dalam jumlah yang signifikan diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang cukup berarti di bidang pertanian lahan kering, perikanan dan kelautan.   
Langkah-langkah  nyata
Dari pemaparan di atas, di bawah ini saya mengemukakan beberapa langkah konkrit yang perlu diambil untuk menguatkan petani dan nelayan di Sumba.
Beberapa langkah konkrit yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut:
(a)  Peningkatan kapasitas angkatan kerja di sektor pertanian/peternakan/perikanan kelautan.
(b)  Perlunya investasi (selain capacity building) baik pada hulu maupun pada hilir penyelenggaraan pertanian/peternakan/perikanan dan kelautan.
(c)  Penciptaan ataupun implementasi kebijakan pemerintah/pemerintah daerah yang pro petani dan pertanian, pro nelayan dan perikanan kelautan
(d)  Kebijakan yang dimaksud dan implementasinya, harus diorientasikan pada menurunkan bahkan membatasi mobilisasi/urbanisasi pemuda tani ke daerah perkotaan karena desa kembali menjadi tempat menyelenggarakan kehidupan yang lebih menjanjikan daripada berangkat ke kota menjadi kondektur angkutan kota, pendorong gerobak (buruh bagasi), dan lain-lain yang memperburuk wajah kawasan perkotaan.
(e)    Reorientasi  pertanian dan perikanan kelautan dari sekedar subsisten menuju market-oriented, supply-demand driven terutama sekali menjadi farm and farmer-driven serta fisheries/marines resources driven
(f)   Perlu mendalami dan memahami profil petani/peternak/nelayan dan ketenagakerjaan di Sumba.
(g)  Membangun dan memelihara sinergi antar-sektor pembangunan yang saling complementary beneficial bagi semua yang terlibat dalam suatu aktivitas dalam hal ini agribisnis.
(h)  Perlu diciptakan suatu database management system atau sistem informasi berupa decision support system yang mendukung agribisnis komoditas tersebut termasuk instalasi berbagai infrastruktur penunjang mobilisasi produk.
(i)    Perlu ada dukungan perbankan yang memberikan kredit lunak tanpa agunan bagi petani/peternak/nelayan dengan bunga yang jauh lebih kecil dari suku bunga saat ini; untuk meningkatkan kepercayaan bank pada petani/peternak dan nelayan, pemerintah daerahlah fasilitatornya.
Penutup
Dari pemaparan di atas jelaslah bagi kita beberapa kondisi obyektif yang dapat kita catat tentang petani dan nelayan di Sumba adalah sebagai berikut:
(1)   Petani/peternak/nelayan  di Sumba masih subsisten dan tentu saja belum market-oriented dan belum merupakan pertanian yang resource-driven dan agribisnis tidak dapat dilaksanakan dengan pola pertanian dan perikanan seperti saat ini.
(2)  Dengan kualitas sumberdaya manusia petani dan nelayan seperti sekarang ini, masih cukup sulit untuk meramalkan terjadinya transformasi sistem pertanian subsisten menuju pertanian mandiri berbasis petani/nelayan yang mandiri pula tetapi kemauan dan kerjakeras semua pihak bersama petani dan nelayan akan mengubah persepsi.
(3)  Secara kasat mata seolah-olah pertanian/peternakan/perikanan kelautan di Sumba masih tradisional sehingga masih banyak sekali sentuhan teknologi dan kemauan yang kuat untuk berubah pada diri petani/peternak/nelayan, pada diri pemerintah dan pemerhati petani/peternak/nelayan.
(4)  Perlu ada keberanian mengambil resiko jika memang ingin mengubah diri dengan cara mengambil kebijakan-kebijakan yang tidak menentang aturan yang ada tetapi memotong jalur birokrasi yang menghambat pertumbuhan ekonomi berbasis agribisnis komoditas pertanian peternakan dan perikanan kelautan dengan misalnya membangun industri kecil yang dapat menambah nilai ekonomi komoditas tersebut dan kesempatan kerja baru dapat terbuka dan secara ekonomi menjanjikan di daerah.
(5)  Pengembangan supra dan infrastruktur pendukung yang memadai adalah esensial menuju pertanian dan perikanan kelautan yang mandiri dan petani/nelayan mandiri.
(6)  Pertanian/peternakan/perikanan kelautan sangat potensial menyerap tenaga kerja pemuda tani/nelayan jika di desa ada pusat-pusat pertumbuhan ekonomi selanjutnya dapat menekan arus urbanisasi tenaga muda tidak terampil ke kawasan kota
(7)  Para petani/peternak/nelayan akan mendorong putra/putrinya lebih di kirimkan ke perguruan tinggi ilmu-ilmu pertanian/peternakan/perikanan/kelautan yang dewasa ini mengalami kelesuan/kekurangan mahasiswa.  Orang tua kurang tertarik mengirimkan anaknya kuliah pada fakultas atau pendidikan tinggi yang terkait dengan sektor pertanian dan perikanan kelautan. Keadaan ini disebabkan oleh ketidakmampuan mereka membaca tanda-tanda jaman bahwa ketersediaan pangan dunia sedang berkurang sementara sektor pertanian belum maksimal menghasilkan pangan yang dibutuhkan apalagi jika dikaitkan dengan pemanasan global dan bencana alam. Kesenjangan ini semestinya diisi dengan peningkatan kapasitas petani melalui pendidikan tinggi yang melahirkan petani mandiri karena berwawasan luas  dan berjiwa wirausaha yang kuat.  

*)    Kontribusi pada buku yang ditulis dalam rangka Pesta Emas SMU Katolik Anda Luri di Waingapu  Oktober 2009.
**) Gurubesar Biokimia Nutrisi pada Fakultas Peternakan  dan Rektor Universitas Nusa Cendana di Kupang.
***)Disajikan ulang pada seminar  pengembangan Sumba Tengah 3-5Pebruari 2010.
 
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD