Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Kamis, 11 Agustus 2011

Dokter Berjiwa Petani

dr. Kornelius Kodi Mete
BAKTI  sebagai dokter tak mungkin dipisahkan dari dr. Kornelius Kodi Mete dalam tugas dan jabatannya sebagai Bupati Sumba Barat Daya. Nalurinya sebagai dokter cepat terlecut manakala melihat aktivitas di puskesmas, pustu atau posyandu.

Dalam perjalanan,  saat tiba di Desa Kalembu Kaka, Kecamatan Kodi Utara, Kamis (21/7/2011), Dokter Nelis meminta sopir menghentikan kendaraan. Serombongan ibu-ibu  yang datang ke posyandu tidak kaget melihat bupatinya turun dan menghampiri mereka.

Segera terlihat perbedaan. Kalau di banyak daerah manakala seorang bupati ‘menyidak’ di lapangan, semua pada gelagapan. Suasana jadi formal dan sangat kaku. Tetapi kala itu, para ibu di posyandu Desa Kalembu Kaka sangat akrab.

Mereka berbincang-bincang dengan Dokter Nelis tak ubahnya berbincang dengan sesama ibu.  Warga masyarakat itu merasa dekat dan familiar karena bupatinya itu seorang dokter dengan jiwa seorang petani. Bukan seorang pejabat dengan  jiwa seorang raja.
Mereka kok akrab sekali, tidak ada suasana formal? “Bagaimana mau formal, semua itu pasien saya. Mereka warga saya. Begitu toh jadi bupati, mengapa jadi terlalu formal?” sergahnya.

Buah hati pasangan Wilhelmus  Wora Kaka dan Paulina Dengi Walu yang lahir di  Karosi, Kodi, 3 Mei 1963 ini lulus Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta tahun 1990.

Tugas pertamanya  sebagai dokter adalah Kepala Puskesmas Lahihuruk, Kecamatan Wanokaka, Sumba Barat. Tugas  ini diembannya dengan penuh tanggung jawab hingga meraih predikat dokter puskesmas teladan.
Dari Wanokaka, penggemar bola kaki dan badminton ini pindah tugas menjadi  Kepala Puskesmas Puu Weri, Kecamatan Loli, Sumba Barat, tahun 1994-1997.  ‘Habitat’-nya di kebun menariknya untuk mengurus kebun di Kodi di sela-sela tugasnya sebagai kepala puskesmas.

Tahun 1997 - 2000, dia pindah ke Rote menjadi Direktur RSUD Ba’a. Jiwanya sebagai petani tidak lekang. Sawah di Rote digarapnya. Dari  Rote, Dokter Nelis kembali ke Sumba Barat menjadi Direktur RSUD Waikabubak tahun 2000. Namanya dikenal banyak pasien dari kampung dan desa saat dia menjadi direktur di  rumah sakit ini.

Pasien yang tidak mampu bayar, disuruhnya mencabut rumput dan membersihkan halaman rumah sakit sebagai ganti ongkos pengobatan. Saat sebagai Direktur RSUD Waikabubak ini, Dokter Nelis menerima piagam dari Presiden Susilo Bambang  Yudhoyono tanggal 22 Desember 2004 karena rumah sakit yang dipimpinnya itu mengukir predikat Rumah Sakit Sayang Ibu dan Anak Terbaik di NTT.

Tak heran, saat maju berpasangan dengan Bupati Julius Pote Leba dalam Pemilu Kada  Sumba Barat tahun 2005, pasangan ini mendulang suara sangat banyak mendekati setengah pemilih.  Tahun 2008, suami dari  Margaretha Tatik Wuryaningsih ini mundur dari Wakil Bupati dan mencalonkan diri sebagai Bupati Sumba Barat Daya.

Jalan terbuka baginya. Dia yakin, investasi yang ditanam selama menjadi dokter, menjadi direktur rumah sakit dan selama menjadi orang baik akan berbuah manis.  Berduet dengan calon wakil bupati, Jacob Malo Bulu, B.Sc, pasangan yang tenar dengan sebutan Paket Petani ini mendulang 45,93  persen suara pemilih. Jumlah yang hampir mencapai setengah pemilih kabupaten baru itu.

Kesahajaan penampilan Dokter Nelis sebetulnya merupakan pengejawantahan pendekatan actor oriented dan bukannya structure-oriented dari seorang pemimpin.

Seorang pemimpin yang menggunakan pendekatan actor oriented akan melihat masyarakat itu sebagai kumpulan orang yang bertindak dan berbuat. Kata kuncinya adalah aksi. Sebaliknya pemimpin yang menggunakan pendekatan structure-oriented akan cenderung melihat  masyarakat bukan sebagai kumpulan individu yang bertindak dan berbuat dengan aksinya,  melainkan sebagai struktur  yang terbentuk oleh sistem. Kata kuncinya adalah sistem.

Dengan penampilannya ala petani, Dokter Nelis sebetulnya juga ingin menegaskan satu hal yang substansial dari seorang pemimpin, yakni mengabdi. Dia sadar apa pun profesi, apa pun jabatan, itu hanya cara melayani masyarakat. Dan karena itu, jabatan sebagai bupati adalah panggilan  untuk mengabdi.

Bupati, karena itu juga, tidak dimaknainya sebagai sebuah status atau jabatan yang terberi, tetapi sebaliknya sebagai jabatan dalam sebuah proses menjadi. Seperti juga tidak ada hidup yang ‘jadi’, yang adalah sebuah ‘proses menjadi’. Menjadi bupati baginya adalah sebuah proses meniti panggilan untuk mengabdi masyarakat Sumba Barat Daya.


Penulis :Tony Kleden
Sumber : Pos Kupang

Comments
1 Comments

1 komentar:

Lina mengatakan...

Senag bisa menjadi warga anda Pak Nelis. GBU

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD